Setelah kejadian tadi, kini mereka berada di playground tempat bermain anak yang berada di mall terbesar di Jakarta. Banyak pengunjung yang memperhatikan mereka dengan tatapan yang berbeda, ada yang menatapnya prihatin, kasian, dan jijik saat melihat pria yang duduk di kursi roda.
Namun, Xavier yang menjadi pusat perhatian hanya mengabaikan tatapan semua orang. Fitur wajahnya yang tampan sangat datar dan dingin, dengan aura yang tidak mudah didekati oleh orang.
"Ibu…" teriak shaka tersenyum bahagia, sembari melambaikan tanganya ke arah ibu dan ayahnya yang duduk tidak jauh darinya.
Sebelum dia pulang dari rumahnya, Keira terlebih dahulu meminta David untuk menjemput Shaka dari sekolahnya.
Dan untuk menghilangkan kekesalannya, Keira membawa mereka untuk bersenang-senang di sini.
Keira membalas lambaian tangan Shaka seraya tersenyum lebar.
"Hati-hati sayang,"teriak Keira memperingat Shaka.
Melihat mereka bermain dengan sangat gembira, Keira dan Xavier yang duduk tidak jauh hanya mengawasi mereka saja. Dan untuk pertama kalinya, Xavier bisa melihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka.
Wajah yang selalu dingin itu akhirnya melunak sedikit saat melihat mereka bahagia. Tatapannya yang dalam beralih melirik wanita di sampingnya dengan lembut.
Merasakan tatapan panas dari pihak lain menempel di tubuhnya, Keira perlahan menoleh ke samping dan bertemu dengan mata dalam dan lembut suaminya. Ditatap seperti ini, membuat Keira sangat gugup.
"A-ada apa." Mendengar suaranya sendiri yang gugup, Keira buru-buru memalingkan mukanya ke samping, sangat malu.
Xavier hanya terkekeh pelan melihat wajah malu istrinya, tangannya yang besar menggenggam tangan mungil istrinya, lalu menempelkan di bibir tipisnya dan menciumnya dengan lembut dan penuh kasih.
"Terima kasih." Suaranya yang rendah dan serak terdengar magnetis.
Matanya yang gelap dan dalam seperti jurang maut tanpa ujung, menyembunyikan sifat posesif dan paranoidnya membuat siapa saja yang melihatnya akan terjebak tanpa bisa menemukan jalan keluar.
Merasakan benda kenyal dan lembut menyentuh punggung tangannya, Keira dengan cepat menarik lengannya dari genggaman Xavier, wajahnya yang cantik memerah seperti kepiting rebus.
"A-apa yang kamu lakukan! dasar tidak tahu malu,"ucap Keira sangat malu, dia kemudian melihat sekelilingnya dengan gugup, takut seseorang akan melihat ke arah mereka. Namun semua kekhawatirannya tidak perlu, karena semua pengunjung sangat sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Setelah menghela napas lega, Keira
mengalihkan perhatiannya pada Xavier. Matanya yang indah dan mempesona terlihat sangat marah ketika menatap pria tampan di sampingnya.
"Ini tempat umum, bagaimana kalau ada yang lihat? Hah,"
Keira tidak tau apa yang terjadi dengan Xavier, kenapa kepribadiannya berubah. Terlihat sangat lembut dan manis, sangat berbeda jauh dengan waktu pertama kali bertemu.
"Tidak papa, mereka hanya akan mengabaikannya,"bisik Xavier di telinga Keira. Karena jaraknya sangat dekat, Xavier bisa melihat wajah istrinya yang lembut dan putih tanpa pori-pori yang terlihat.
Keira mengusap telinganya yang terasa geli, lalu memelototi suaminya dengan mata bulatnya yang indah. Pipinya yang bersih dihiasi rona merah yang samar.
"Dasar pria tua,"ucap Keira dengan wajah yang memerah malu, lalu memalingkan mukanya dengan cepat, tidak ingin memperhatikan pria di sampingnya.
Xavier tertawa puas setelah menggoda Keira, dia kemudian mengambil tangan mungil istrinya dan menggenggamnya erat.Sambil menatap pemandangan di depan yang dipenuhi oleh tawa anak-anak yang tersenyum bahagia, membuat hati Xavier sedikit rileks.
"Untuk yang tadi, terima kasih sudah membelaku,"ucap Xavier tulus seraya mengusap lembut punggung tangan Keira.
"Tidak papa, aku hanya tidak suka orang lain menghinamu. Serasa dirinya adalah yang paling sempurna,"jawab Keira acuh tak acuh.
Mendengar jawaban dari Keira, Xavier menarik sudut bibirnya ke atas, tatapannya saat melihat Keira lebih lembut dan penuh perhatian dari sebelumnya.
"Ini pertama kalinya seseorang berdiri di depanku membelaku, dan melindungiku. Terima kasih, sayang."
"Ya, ya, ya aku tau… tapi bisakah kamu tidak menyebutku dengan sebutan itu."
Keira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa canggung sekaligus malu ketika mendengar Xavier memanggilnya dengan sebutan yang mesra seperti itu.
"Sebutan apa?"tanya Xavier polos berpura-pura tidak mengerti.
"I-itu yang kamu panggil aku!"
"Emang Mas panggil kamu apa?"tanya Xavier seraya mengulum senyumnya yang akan terbit. Dia ingin melihat wajah malu istrinya yang terlihat lucu.
Melihat tampang Xavier yang berpura-pura tidak tahu, Keira menggertakan giginya kesal.
"Jangan berpura-pura bodoh! Pokoknya aku gak mau kamu memanggilku seperti itu! Geli tahu."
"Iya sayang."
"Aku udah bilang jangan panggil aku sayang!" Keira mendelik ke arah Xavier dengan tidak puas.
"Iya honey,"goda Xavier semakin gencar, sekarang kesenangan dia adalah menggoda istrinya dan melihat wajahnya tersipu.
"Mas!" Keira yang terlanjur kesal langsung menggigit lengan Xavier dengan kuat hingga membuat Xavier mendesis kesakitan.
"Sakitkan,"ucap Keira setelah melepas gigitannya lalu menatap Xavier dengan sombong.
"Makannya jangan buat aku kesal, kalau gak aku gigit."
Xavier memperhatikan bekas gigitan kecil di tangannya dengan ekspresi gelap, lalu ke arah istrinya yang angkuh. Dengan senyum seringai dia perlahan mendekati Keira.
"Tidak papa, kamu bisa menggigitku di mana saja sepuasnya. Tapi tunggu sampai rumah oke,"bisik Xavier ambigu di telinga Keira, lalu mencium cuping telinganya yang memerah sebelum menjauh.
Perilakunya yang tiba-tiba membuat Keira tercengang sekaligus malu, tangannya yang ramping langsung mengusap telinganya yang terasa panas, yang masih meninggalkan jejak sentuhan lembut bibirnya.
"Apa maksud menggigit sepuasnya, apa dia suka kekerasan!"
Takut Xavier akan berbuat sesuatu yang tak terduga lagi seperti barusan, Keira buru-buru menjauhkan dirinya dari Xavier.
"Dasar pria gila, bisa-bisanya dia mencari kesempatan dalam kesempitan,"gumam Keira rendah, sambil mengipasi wajahnya yang terasa panas karena ulahnya.
Xavier yang melihat seluruh proses cara Keira menjauhinya dan memarahinya, hanya terkekeh lucu.
Istri kecilnya benar-benar lucu, membuat aku ingin menguncinya di kamar dan mengaguminya sendiri.
"Ibu, Ayah!" Teriakan Shaka langsung membuyarkan pikiran Xavier yang melenceng terhadap istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
Bila nak panas ni.Madih slow
2024-11-01
0
Qaisaa Nazarudin
Menurut ku Keira terlalu lebay, cuman di genggam dan di cium tangan aja udah kayak kepergok berciuman di depan umum, padahal udah halal juga ngapain takut ada yg melihat..
2023-12-16
2
Nic
hayolo tuan Xavier
2023-10-11
1