Bab 11

Villa keluarga Oliver. 

Adam menyambut kedatangan Keira dan Xavier dengan senyum bahagia, sepertinya dia benar-benar menantikan kepulangan putri dan menantunya. 

"Tuan Xavier, selamat datang,"sambut Adam dengan senyum hangat di wajah tuanya. 

Xavier hanya mengangguk rendah hati sambil tersenyum tipis, lalu berkata, "Ayah mertua, panggil saja Xavier."

"Hahaha, baik kalau begitu aku tidak akan sopan."

"Ngomong-ngomong, siapa ini?" Adam melirik pria muda yang seumuran dengan putranya. 

"Dia William, adiknya Xavier,"jawab Keira memperkenalkan William pada ayahnya. 

"Oh William, berarti kamu kenal Asher anaknya Om,"tanya Adam saat melihat seragam yang dikenakannya sama dengan putranya. 

"Iya Om." William mengangguk sopan ketika mendengar pertanyaan dari pria paruh baya di depannya. 

Adam menepuk bahu William, ingin berbicara bagaimana kelakuan putranya saat di sekolah. 

"Apa Ash-"

Melihat ayahnya akan berbicara lagi, Keira buru-buru menghentikannya. 

"Ayah ayo kita masuk."

"Ah iya benar, ayo kita masuk." Adam memimpin mereka untuk masuk ke dalam. 

Melihat ayah masuk, Ella segera bangkit dari sofa dan bertanya, "Ayah apa kakakku kembali?"

"Tentu saja,"jawab Adam antusias. 

William membantu mendorong kakaknya masuk kedalam rumah diikuti oleh Keira yang berada di samping mereka. 

"Kakak kamu datang." Ella berlari ke arah Keira dengan senyum bahagia, dia ingin memegang tangannya, namun Keira langsung menghindarinya. 

Melihat penolakan Keira, Ella dengan malu menurunkan tangannya. Tatapannya beralih pada pria yang duduk di kursi roda, meskipun wajahnya sangat tampan tapi apa gunanya jika dia tidak bisa berdiri. 

"Kakak apa dia suamimu?"tanya Ella lembut pada Keira, tatapannya menyelidiki pria itu dari atas ke bawah dengan merendahkan. 

Keira sangat geram saat melihat tatapan Ella yang penuh penghinaan saat melihat suaminya. Dia ingin memberi pelajaran pada wanita itu, namun Xavier langsung menggenggam tangannya dan mengelusnya. 

"Saya suaminya, ada apa?"ucap Xavier dingin, matanya yang gelap menatap Ella dengan berbahaya. 

"Ti-tidak ada,"ucapnya gugup, tubuhnya gemetar ketakutan saat ditatap oleh sepasang mata berbahaya itu, seperti dilihat oleh binatang buas di kegelapan. 

Merasa suasana diantara mereka sangat canggung, Adam langsung mencairkannya. Dia dengan semangat membawa Keira menuju meja makan. 

"Ayo kita makan, lihat Ayah sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."

Melihat semua makanan favoritnya ada di atas meja, Keira sangat tidak percaya. Apa ini benar-benar yang disiapkan ayahnya. 

"Ayah, kamu…."

Adam hanya tersenyum malu, dia membantu menarik kursi untuk Keira duduk. 

"Ayo duduk."

William mendorong kursi roda kakaknya ke samping Keira, lalu duduk di kursi sebelahnya. 

"Ayah mengundang kalian makan untuk merayakan pernikahan kalian, maaf karena Ayah tidak mengantarmu pada saat itu,"ucapnya hangat, dia ingin mengusap kepala Keira, namun Keira langsung menghindarinya. 

"Ti-tidak papa." Keira tidak terbiasa dengan pendekatan ayahnya yang tiba-tiba seperti ini, membuat dia merasa canggung dan aneh. 

Adam tidak keberatan saat Keira menjaga jarak darinya, dia ingin putrinya perlahan menerima dirinya. 

Ella yang melihat perhatian ayahnya sangat cemburu, dia tidak pernah merasakan perhatian seperti itu dari ayahnya. 

"Ayo cepat makan."

Keira membantu membawakan makanan untuk suaminya, lalu untuk dirinya. 

Xavier menikmati perawatan dari istrinya, perhatiannya tidak pernah lepas dari tubuh Keira yang sibuk menyiapkan makanan untuknya. 

"Terima kasih, Istriku,"bisik Xavier dengan nada rendah di telinga Keira. 

Napas hangat menyemprot telinganya, membuat tubuh Keira terasa kaku. Wajahnya yang cantik berpaling untuk memperingati Xavier, namun Xavier hanya tersenyum polos.

°°°°

Ruang kerja. 

Setelah makan siang, Adam membawa Xavier ke ruang kerjanya untuk berbicara empat mata dengannya. Dan meminta pelayan untuk membawa teh ke ruangannya. 

"Apa yang ingin dibicarakan Ayah padaku?" Xavier menyeruput tehnya dengan tenang dan tidak terburu-buru, tidak ada raut kepanikan atau gugup di wajah tampannya ketika berhadapan dengan Ayah mertuanya. 

Adam sangat mengagumi ketenangan pria muda di depannya saat berhadapan dengannya. Tidak seperti menantu lain yang akan gugup saat bertemu dengan mertuanya. 

"Hanya pembicaraan ringan, jangan khawatir."

"Tidak papa, aku tidak khawatir,"ucap Xavier tenang. 

"Ayah hanya ingin bilang, tolong jangan sakiti putri saya, meski kalian menikah karena perjodohan. Cukup aku saja, Ayahnya yang menyakiti hati putriku."

"Jika kamu tidak menginginkannya lagi, tolong kembalikan dia ke rumah ini dengan baik-baik."

Adam menatap Xavier dengan penuh keseriusan dan antisipasi. Meski belum bisa menjadi ayah yang baik untuknya, tapi setidaknya dia bisa melakukan ini untuk kebaikan putrinya. 

"Aku tau, tak perlu khawatir. Tapi aku ingin tanya satu hal."

"Apa?"

"Jika Ayah mengkhawatirkan putrimu seperti ini, kenapa Ayah menikahkannya denganku?"

Xavier meneguk tehnya dengan pelan menikmati rasa dan aroma yang terpancar dari teh itu sendiri. Tatapannya yang gelap dan dalam, menatap pria paruh baya yang duduk di depannya dengan tenang. 

Mendengar pertanyaannya, Adam tersenyum kecut, matanya penuh kesedihan dan rasa bersalah. Dia seharusnya tidak mengorbankan Keira untuk membantu perusahaannya, dan mendengar bujukan dari mereka berdua. 

"Ayah menyesal. Pada saat itu, Ayah tidak punya pilihan lain selain menyetujui perjodohan yang di lakukan keluargamu."

***

Di sisi lain, ruang keluarga. 

Keira mengigit kukunya dengan cemas, matanya yang coklat selalu melirik ke lantai atas setiap saat dengan kekhawatiran. Dia tidak tau apa yang ingin dibicarakan ayahnya pada Xavier hingga memakan waktu yang cukup lama. 

Keira tau bagaimana sifat ayahnya, apa dia akan meminta Xavier untuk membantu mengembangkan perusahaannya sendiri. 

"Kakak apa yang kamu cemaskan, Ayah hanya berbicara dengan suamimu sebentar. Apa menurutmu Ayah akan melakukan hal jahat pada suamimu yang lumpuh itu." Ella berbicara dengan tidak puas dan sedikit penghinaan di akhir kalimat. 

"Apa yang kamu katakan, katakan lagi." Suaranya sangat dingin dan tajam dengan aura berbahaya, dia tidak bisa mentoleri siapapun yang menghina suaminya. 

"A-aku…"

"Ada apa ini."

Mendengar suara tajam yang tiba-tiba, mereka langsung menoleh ke asal suara. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor di tubuhnya berjalan masuk dari luar dengan menenteng tas belanjanya. 

"Ibu!" Seolah melihat seorang penyelamat, Ella buru-buru berlari ke belakang ibunya. 

"Aku tidak tau apa yang salah dengan Kakak, aku hanya bilang suaminya lumpuh itu faktanya kan Bu. Tapi kenapa Kakak marah, apa aku salah,"keluh Ella dengan menyedihkan. 

"Kamu tidak salah kok sayang." Sarah membelai wajah putrinya dengan penuh kasih sayang. Lalu tatapan tajamnya beralih menatap Keira dengan penuh permusuhan. 

"Apa yang kamu lihat, cepat minta maaf!"bentak Sarah. 

"Ada apa ini." Adam membantu mendorong Xavier keluar dari lift, dan berjalan menuju ruang tamu yang terlihat tegang. 

"A-ayah." Ella menatap takut ayahnya. 

"Ada apa?"tanya Adam sekali lagi, tatapan yang tajam menyapu seluruh ruangan. 

"Dia menghina suamiku." Keira menunjuk Ella yang bersembunyi di belakang sarah, lalu berjalan menuju Xavier diikuti oleh William. 

Mendengar perkataan Keira, mata Adam langsung menggelap, tatapannya yang tajam menatap Ella. Dia tau apa yang dimaksud menghina Xavier. 

"Minta maaf!"

"A-ayah ak-"

"Aku bilang, minta maaf!"

"Kenapa kamu membentak putriku!"teriak sarah tidak puas. 

"Ella, minta maaf!" Adam menghiraukan teriakan sarah, dia hanya menatap Ella dengan tajam dan dingin. 

"Ma-maaf Kakak, Kakak ipar." 

Terpopuler

Comments

dita18

dita18

apa kah Ella ini saudari tiri nya Keira & Asher?

2023-12-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!