Ruang kelas.
"Kau kenapa sih Sher dari kemarin diam terus, gak seperti biasanya,"tanya Jordan heran ketika melihat sahabatnya yang dari tadi diam, sambil menatap pemandangan di luar jendela.
"Apa gara-gara malam itu? kau kan tinggal minta maaf."
Mendengar ucapan sahabatnya, Asher hanya menggelengkan kepala sebagai respon. perhatiannya tetap mengarah keluar jendela tanpa menghiraukan keberadaan Jordan yang duduk di sampingnya.
Karena kelasnya berada di lantai dua, Asher bisa melihat pemandangan yang ada di bawah. Di mana semua siswa tengah melakukan kegiatan mereka masing masing, Karena ini jam istirahat banyak orang yang berada di luar.
"Lalu kenapa kalau bukan gara-gara kemarin?" tanya Jordan gemas saat melihat tingkah sahabatnya.
Asher melirik Jordan sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke jendela lagi dan berkata dengan tenang, "Kak Kei udah pulang."
Jordan mengangkat sebelah aslinya bingung, bukankah dia sangat menantikan kepulangan kakaknya, tapi kenapa wajahnya sedih.
"Ya bagus dong, kenapa malah sedih.Kamu bisa minta maaf langsungkan."
"Masalahnya aku gak tau dia di mana," Kata Asher frustasi sambil mengacak ngacak rambutnya, wajahnya sangat kuyu dan sedih.
"Hah? Kok bisa?"
"Kak Kei udah nikah, aku gak tau dia tinggal di mana," ucap Asher sedih, dia membaringkan setengah tubuhnya di atas meja.
"What! nikah!" teriak Jordan terkejut sekaligus tidak percaya.
"Bagaimana bisa!" Jordan memegang bahu Asher untuk bangun lalu mengguncangnya meminta penjelasan.
"Setelah Kakak pulang, Ayah menyuruhnya untuk menikahi dengan pria yang akan membantu perusahaan Ayah yang akan bangkrut," jelas Asher.
Kemarin saat dirinya pulang untuk bertemu kakak, bibi memberitahunya kalau kakak sudah menikah dan tidak tinggal di sini. Dia juga mendengar dari bibi kalau kakak menikah karena ayah yang menyuruhnya demi membantu perusahaannya yang akan bangkrut.
"Bagaimana bisa, kenapa gak si penyihir itu yang menikah, kenapa harus Kak Kei yang menikah," ucap Jordan tak habis pikir dengan jalan pikir om adam yang menyuruh anak kandungnya sendiri untuk membantu kepentingannya.
Kak Keira sudah seperti kakaknya sendiri, kak Kei tidak pernah membedakan kasih sayangnya antara dia dan adik kandungnya sendiri Asher. Kak kei juga tidak pernah pilih kasih antara dia dan Asher.
Karena dia adalah anak tunggal, anak yang akan menjadi pewaris dan penerus perusahaan keluarganya. Oleh karena itu, dia selalu dituntut untuk belajar dan belajar. Orang tuanya hanya sibuk bekerja dan tidak pernah memperhatikannya.
Pada saat ini, segerombol siswa berjalan masuk ke ruang kelas sambil bergosip dan tertawa.
"Gila sih, tadi kau lihat si William keluar dari ruang kepala sekolah? "
"Iya, gak nyangka banget orang yang dingin dan pendiam bisa sekejam itu menghajar si Zio."
"Hahaha mangkanya jangan nilai orang dari sampulnya saja."
"Eh tapi, siapa pria yang duduk di kursi roda itu dan juga wanita di sampingnya."
"Entahlah mungkin keluarganya."
"Tapi wanita itu seperti tidak asing bukan?"
"Ah aku ingat."
"Hah Siapa?"
"Bukannya itu Kakak perempuannya Asher."
"Tapi kenapa bisa sama William."
Salah satu dari siswa itu berjalan ke meja Asher, dan bertanya, "Sher apa hubungan Kakakmu dan si William?"
Mendengar pertanyaan dari teman sekelasnya, Asher dan Jordan secara kompak langsung menatap temannya yang bertubuh gempal.
"Apa maksudmu?" tanya Asher bingung.
"Tadi aku lihat kakakmu keluar dari ruang kepala sekolah bersama William dan pria di kursi roda itu."
"Benarkah, sekarang mereka ada di mana? " tanya Asher cepat.
Melihat tingkah aneh Asher, siswa itu tetap menjawab, "Seharusnya sih mereka ada di gerbang."
Mendengar ucapan teman sekelasnya, Asher dan Jordan secara kompak langsung berdiri dan saling menatap satu sama lain dengan penuh arti. Lalu mereka berlari keluar pintu dengan terburu-buru, menghiraukan tatapan aneh dari teman sekelasnya.
"Ada apa dengan mereka? "
"Entahlah."
...----------------...
"Ayah menyuruhku pulang untuk makan siang, dan mengundang kalian,"ucap Keira menatap kedua pria itu.
"Iya."
"William?"tanya Keira karena tidak mendengar persetujuan dari William.
William hanya mengangguk sebagai respon lalu mendorong kursi roda kakaknya menuju gerbang sekolah, menunggu David datang.
"Kakak!"
Mendengar suara akrab adiknya, Keira menghentikan langkahnya lalu berbalik ke belakang. Dan sudah diterjang oleh bayangan hitam yang mendekat dan memeluknya erat
"Kakak, kangen." Asher memeluk tubuh kakaknya erat, menumpahkan semua rasa rindu yang dia pendam dihatinya selama 5 tahun.
Keira membalas pelukan adiknya tak kalah erat sambil mengusap punggung tegap Asher.
"Kakak juga kangen,"ucap Keira lembut.
Setelah puas memeluk kakaknya, Asher segera melepaskannya dan memberi kesempatan pada Jordan untuk memeluk kakaknya.
"Kak Kei apa kabar."
"Kakak baik, Jordan apa kabar."
"Aku juga baik,"ucap Jordan lalu melepaskan pelukannya.
"Kakak aku minta maaf soal kemarin,"ucap Asher merasa bersalah.
"Tidak papa."
Melihat dua pria remaja memeluk istrinya, tatapan Xavier langsung tajam seperti pisau yang akan menebas mereka berdua. Dengan aura dingin menyebar di tubuhnya.
"Sayang."
Mendengar panggilan sayang yang tiba-tiba, tubuh Keira terasa kaku dengan wajah yang tersipu malu.
"Apa-apaan pria tua ini."
"Sayang, siapa mereka?"
"Mereka adalah adikku."
Asher mengalihkan pandangannya pada orang tambahan di samping kakaknya. Meskipun pria itu duduk di kursi roda, tapi fitur wajahnya sangat tampan dengan aura berbahaya di sekelilingnya, membuat orang lain takut saat berdekatan dengannya.
"Kakak apa dia suami yang dipilihkan ayah?" tanya Asher ketika melihat pria asing itu.
"Iya."
"Apa dia memperlakukan Kakak dengan baik?"
"Iya, tenang saja." Keira berjinjit untuk menepuk kepala Shaka yang lebih tinggi darinya.
Asher yang melihat kakaknya berjinjit langsung menekuk lututnya untuk memudahkan Keira menyentuh kepalanya. Dan menikmati elusan dari kakaknya.
Melihat interaksi kedua kakak-adik itu yang sangat akrab, membuat William cemburu.
"Tolong jaga Kakakku, jangan buat dia sedih,"ucap Asher dengan nada serius sambil menatap dingin Xavier.
"Jika aku tau kau membuatnya sedih, aku akan membawanya darimu bagaimanapun caranya."
Mendengar ancaman darinya, Xavier hanya tersenyum tipis. Dia mengambil tangan Keira lalu menciumnya lembut.
"Tenang saja, saya akan menjaganya."
Keira sangat terkejut dengan perilaku Xavier yang tiba-tiba, wajahnya yang cantik dihiasi rona merah di pipinya, membuatnya terlihat imut.
"Mas lepas,"bisik Keira mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Xavier. Namun Xavier memegangnya telalu kuat.
Melihat tatapan pria itu yang sangat menyayangi dan tidak ada kepura-puraan di dalam matanya, membuat Asher merasa lega.
"Aku pegang kata-katamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Edana
Aku berharap kisah ini tidak berakhir terlalu cepat, cepat update ya!
2023-07-25
2
Agnes
Penuh emosi deh!
2023-07-25
0