Bab 9

"Kalian… siapa?"

"Halo, kami keluarganya William, saya Kakak iparnya dan ini Kakak kandungnya,"ucap Keira sopan. 

"Jadi Bapak kepala sekolah apa masalahnya  sehingga membuat kita dipanggil,"lanjut Keira langsung ke intinya.

"Jadi begini, kami menerima laporan video dari seseorang yang tidak dikenal kalau William tengah menghajar zio tanpa alasan, sampai babak belur di gang sepi dekat sekolah yang jarang dilewati orang. Kami belum bisa memastikan kronologinya seperti apa dan video itu hanya menampilkan bagaimana William menghajar Zio tanpa tau penyebabnya,"jelas kepala sekolah.

Mendengar ini, bu maya langsung berkata sinis, 

"Perlu bukti apa lagi bukankah itu sudah jelas buktinya. Kenapa masih menunda-nunda, suruh saja dia untuk meminta maaf lalu keluarkan dia dari sekolah ini kelarkan kenapa repot sekali." Dia tidak ingin berlama lama di sini dan di tatap oleh sepasang mata tajam pria itu. 

Mendengar keseluruhan ceritanya Keira langsung menatap Xavier yang sedari tadi diam, dia ingin tau bagaiman cara Xavier menanganinya. William juga menatap kakaknya dengan gugup. 

Ditatap oleh dua pasang mata yang penasaran, Xavier tidak menghiraukannya. Matanya yang tajam menatap sepasang ibu dan anak itu dengan dingin. 

"Benarkah, tapi saya punya bukti lengkapnya di sini."

Ketika mendengar perkataannya yang dingin, Zio langsung pucat, tubuhnya gemetar ketakutan, dia menggigit jarinya dengan panik.

Tidak ini tidak mungkin, sudah jelas tempat itu tidak ada kamera dan juga jauh dari keramaian. Bagaimana bisa dia mempunyai bukti lengkap, dia pasti berbohong, ya berbohong, hahaha Zio tenang-tenang. 

William tidak menyangka, kakaknya memiliki video lengkap. Karena yang dia tau di gang itu tidak terpantau CCTV dan orang yang merekam dia bertarung mungkin bawahannya Zio. 

"Benarkah coba saya lihat," ucap kepala sekolah itu serius. Ia hanya ingin masalah ini cepat selesai.

"Tidak mungkin! itu pasti palsu,"ujar Zio cepat dengan intonasi tinggi. Dia benar-benar panik saat ini, dia takut bukti-bukti itu nyata.

"Palsu atau tidak, kita akan lihat setelah menontonnya," ucap Keira datar. 

"David serahkan buktinya."

"Baik Tuan."

David segera menyimpan ipad dihadapan semua orang, tidak lupa menekan play yang memutar rekaman kejadian itu. Mereka semua yang ada di sana dapat dengan jelas melihat bagaimana kejadian itu terjadi.

Saat melihat rekaman itu William benar-benar tidak percaya, kakaknya dapat memiliki bukti lengkap kejadian itu. Dengan tatapan kagum William menatap kakaknya yang sangat mendominasi.

Merasakan tatapan panas menempel di tubuhnya, Xavier menoleh ke samping dan melihat adiknya  tengah menatap dirinya dengan kagum. Dia hanya memberi William anggukan hangat, seolah mengatakan semua  akan baik-baik saja.

"En." William mengangguk cepat sebagai respon sederhana, lalu tersenyum lega.

Ini pertama kalinya kakak datang ke sekolah untuk membelanya. Membuat hatinya tidak lagi terasa kosong. 

Melihat interaksi hangat mereka yang diam-diam, Keira langsung tersenyum hangat. Yah mungkin dengan ini hubungan mereka akan membaik. 

Merasakan tangan kasar seseorang memegangnya, Keira langsung menoleh dan melihat tangan besar Xavier tengah menggenggamnya erat. 

"Apa yang dilakukan pria tua ini di depan umum, bagaimana jika orang lain melihatnya."

Keira mencoba melepaskan genggamannya seraya menatap tajam suaminya memintanya untuk dilepaskan, namun Xavier memegangnya terlalu erat. Percuma juga dia berjuang, jadi dia biarkan saja. 

Melihatnya tidak bersikeras lagi, Xavier tersenyum simpul. Dia mengusap punggung tangannya yang lembut dengan ibu jari. 

Teriakan tajam terdengar di ruangan itu, mengejutkan semua orang. 

"Tidak! bagaimana mungkin, anakku tidak seperti itu! video itu palsu!"

Dalam video itu, menggambarkan bagaimana Zio tengah berkumpul dengan sekelompok geng motor berandalan yang menunggu di tempat sepi untuk mencegat William dan menghabisinya. Naasnya, meski William dikeroyok dia mampu menghabisi mereka semua dengan tongkat bisbol yang selalu dibawa.

Salah seorang dari kelompok itu merekam kejadian tersebut atas perintah Zio sebagai kenang-kenangan atas kekalahan William. Namun yang mereka tidak sangka, mereka sendiri yang akan kalah dalam melawan satu orang.

Zio yang tidak terima langsung mengubah rencananya, dia menyuruh seseorang untuk mengedit video itu menjadi dua orang dia dan William lalu memotong video itu dibagian William yang menghajarnya dengan kejam dan diunggah di forum sekolah, untuk menjelek-jelekan nama William.

Mendengar ucapan wanita tua itu yang tidak masuk akal, Keira langsung berkata serius pada kepala sekolah.

"Percaya atau tidak itu adalah bukti nyata. kepala sekolah tolong tindak lanjuti."

" Baik Bu, pihak sekolah akan mengunggah bukti itu di forum sekolah agar semua siswa tidak salah paham terhadap William. Dan kami akan meminta Zio untuk mengklarifikasi dan meminta maaf atas perbuatannya di forum sekolah," ucap kepala sekolah dengan serius.

"Dan  sebagai hukumannya kami akan mengeluarkan Zio dari sekolah ini. Dan untuk William, pihak sekolah akan memberikan cuti untukmu selama satu minggu sampai masalah ini selesai," lanjut kepala sekolah.

Mendengar keputusan kepala sekolah, Zio tidak terima.

"Tidak aku tidak terima! aku tidak mau keluar dari sekolah. Seharusnya dia yang keluar dari sini bukan saya," teriak Zio marah lalu menatap William dengan penuh kebencian.

"Karena kamu tidak menerima keputusannya. Kalau begitu saya akan memanggil polisi," ujar Xavier tenang seperti menjatuhkan bom.

Mendengar kata polisi, tubuh zio membeku. Jika dia dijebloskan ke penjara masa depannya akan suram dengan catatan kriminal yang menempel di tubuhnya.

"Apakah kamu masih manusia, kami adalah keluargamu. Bagaimana bisa kamu menjebloskan keponakanmu ke penjara." teriak bu Maya murka sambil menunjuk Xavier dengan jarinya.

Xavier menyipitkan matanya berbahaya, lalu berkata rendah, "Bibi turunkan jarimu apa kamu tidak menginginkannya lagi. Dan juga, saya tidak pernah menganggap kalian keluargaku."

"kamu! aku adalah saudara ibumu!"

"Lalu apa, apa menurutmu saya akan bersimpati," ucapnya datar seraya melirik wanita tua itu dengan dingin.

Melihat sudah tidak ada harapan lagi, bu maya terduduk lemas di lantai. Sedangkan zio dia hanya diam tak bernyawa.

"David urus semua ini."

"Baik Tuan."

Xavier menatap istri dan adiknya yang hanya diam menonton di samping, yang membuat dia menghela nafas tak berdaya.

"Ayo pulang."

"Oke."

Keira langsung bangkit dari sofa dan berjalan ke arah Xavier lalu membantunya mendorong kursi roda suaminya.

"Kami pamit dulu kepala sekolah."

"Silahkan Nyonya, Tuan hati-hati."

William berjalan mengikuti di belakang mereka, melihat kakak dan kakak iparnya dia merasa terharu dan hangat. Ternyata seperti ini rasanya dibela dan dilindungi.

"Apa yang kamu lakukan berjalan di belakang, sini jalan di samping kami," ucap Keira menoleh ke arahnya sambil mengulurkan tangannya pada William.

Melihat uluran tangan lembut kakak iparnya, William langsung menggapainya dan berjalan di samping mereka. Dengan senyum bahagia yang terpatri di wajahnya. Ini adalah pertama kalinya dia tersenyum sebahagia ini.

Terpopuler

Comments

💚

2024-02-03

1

Q Ora Ayu

Q Ora Ayu

cerita sangat menyentuh aku pembaca baru Thor TPI langsung jatuh hati dengan karya mu..

2023-12-17

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Kasihan William,aku pikir hanya Xavier yg di asing kan karena dia lumpuh,tapi kenapa William juga?? Apa karena William Bandel??
Emang ada ya ortu kek gitu?? ckk MIRIS sekali..

2023-12-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!