Bab 8

Setelah kembali dari taman, Keira menerima surat dari bi Eli yang ditemukan di kamar William. Surat itu dimaksudkan untuk mengundang orang tua siswa untuk datang ke sekolah. 

Karena Keira hanya kakak iparnya jadi dia memberikan surat itu pada Xavier kakak kandungnya sendiri untuk dia lihat. 

"Kertas apa ini?"tanyanya seraya mengambil kertas di tangan Keira. 

"Surat panggilan orang tua, Bibi menemukannya di kamar adikmu,"jelas keira, lalu mendudukan bokongnya di sofa. 

"Mas akan menghadirinya?"

Panggilan Mas, bukan atas keinginannya sendiri. Tapi, keinginan Xavier agar lebih akrab. 

"Tidak, Mas akan menyuruh David untuk menyelesaikannya,"ucap Xavier cuek seakan tidak peduli tentang adiknya. 

"Kenapa tidak Mas saja?"

"Ada yang harus Mas kerjakan." Setelah meninggalkan kalimat dingin itu, Xavier langsung pergi meninggalkan Keira. 

Meski Keira tau suaminya sangat dingin dan cuek. Tapi, dia tidak menyangka Xavier akan sedingin dan seacuh itu pada adik kandungnya sendiri. 

Melihat punggungnya yang menjauh, Keira langsung bangkit, membawa tasnya dan menyusul Xavier. 

"Kalau begitu, aku saja yang pergi,"ujarnya lalu berjalan mendahului Xavier. 

Memikirkan istrinya pergi berdua dengan David, entah kenapa Xavier merasa kesal. 

"Tunggu!"

****

Setelah 30 menit perjalanan, kini Keira sudah tiba di depan gerbang sekolah elit di Jakarta. Sekolah ini adalah sekolah terkenal yang menjadi impian bagi semua orang untuk dapat belajar di sini.  Karena dengan fasilitas yang lengkap, pembelajaran yang komplit, dan kondisi sekolah yang nyaman, membuatnya banyak diminati oleh semua orang. 

Tapi, untuk bisa masuk ke sekolah ini sangat tidak mudah. Mereka terlebih dahulu harus diseleksi dengan ketat, tidak hanya membutuhkan otak yang  pintar tapi juga biaya yang besar untuk masuk ke sekolah elit ini. 

Setelah menemukan tempat parkir, Keira langsung keluar dan membantu mendorong Xavier untuk masuk ke area sekolah di bawah bimbingan David yang tau segala tempat di sekolah yang luas ini. 

**

Selain itu, di ruang kepala sekolah. Suasananya sangat kacau dan terdengar keributan orang yang berteriak. 

"Saya tidak mau tau kepala sekolah, dia harus bertanggung jawab dan meminta maaf pada anak saya! kalau perlu, sebagai hukumannya keluarkan dia dari sekolah ini! Mau jadi apa sekolah ini mempunyai murid berandalan seperti dia." Tunjuk ibu Maya pada William, wajahnya penuh amarah, tatapannya penuh rasa jijik dan merendahkan.

Sedangkan yang ditunjuk hanya biasa-biasa saja, ekspresinya sangat acuh tak acuh seolah bukan dia yang dimarahi. 

"Mohon maaf Ibu, tapi saya tidak bisa memutuskan hukuman seperti itu sebelum ada buktinya,"ucap kepala sekolah mencoba untuk tenang, dia sudah biasa menghadapi orang tua siswa yang semena-mena seperti ini.

"Bukti? bukankah sudah jelas buktinya, lihat anak saya. Kakinya harus diperban dan menggunakan tongkat sebagai alat bantu jalannya! Sedangkan dia, dia tidak terluka apapun. Jadi jelas dia pelakunya lalu perlu bukti apa lagi sekarang."

Sebagai pihak yang terlibat, William hanya duduk bersandar di sofa menonton pertengkaran di depannya.

"Mampus kau."

Mendengar nada sarkas di sampingnya, William menoleh. Menatap Zio yang juga tengah menatap dirinya dengan pandangan yang merendahkan.

"Tuan muda yang dulu sangat mulia, kini menjadi lumpur yang mudah diinjak-injak. Sekarang kamu hanyalah sampah yang dibuang oleh keluargamu bersama kakakmu yang lumpuh itu. Tidak ada yang akan peduli padamu,"sarkas Zio dengan nada merendahkan. 

William mengepalkan tinjunya kesal saat melihat wajah meremehkan pria di sebelahnya. Dia ingin sekali menonjok wajah menyebalkannya. Namun dia tahan, dia tidak mungkin melawannya di sini. 

"Benarkah, lalu apa bedanya denganmu. Yang mengandalkan adik ibumu yang j****g itu, memohon pada Ayah untuk membantu keluargamu. Dan tanpa bantuan dari kakakku, apa bisnis Ayahmu akan lancar hah? Dengar, seluruh keluargamu itu hanyalah sampah termasuk kau. Dan kau tau apa sebutan yang pantas untuk keluargamu terutama bibimu yang sialan itu…." William menjeda ucapannya, matanya yang tajam menatap Zio dengan dingin tanpa emosi.

Dengan nada rendah yang hanya bisa di dengar oleh mereka, William melanjutkan kalimatnya.

"Sampah, brengsek, bajingan."

Tidak bisa menahan emosinya yang memuncak, Zio langsung bangkit dan melayangkan tinjunya pada William, tanpa meperdulikan kakinya yang terluka. 

"Sialan!"

Dengan reflek yang cepat, William langsung menghindari serangannya.  Lalu menendang Zio dengan kakinya yang panjang hingga terjengkang ke belakang. 

Mendengar keributan di belakang, mereka segera berbalik. Dan melihat Zio yang sudah terkapar kesakitan sambil memegang kakinya. 

"Astaga! apa yang kamu lakukan pada anakku,"teriak histeris bu maya saat melihat anaknya terjatuh ke lantai. Dia buru-buru membantu putranya untuk berdiri lalu mendudukannya di sofa.

"Lihatkan!  tunggu apa lagi kepala sekolah, cepat keluarkan dia dari sekolah ini. Buktinya sudah ada di depan mata, dia yang pertama menghajar anak saya," ucap bu maya dengan marah, sambil menunjuk william dengan penuh kebencian di matanya.

Tidak mengidahkan ucapan bu maya, kepala sekolah menatap William yang hanya diam saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tau bagaimana sifat anak ini, di kelas dia adalah anak pintar dan tidak suka membuat masalah, kecuali saat ada orang yang mengusiknya.

Menghela nafas tak berdaya, kepala sekolah bertanya kepadanya langsung, 

"Di mana wali mu?"

kepala sekolah tidak pernah tahu, bagaimana kondisi keluarganya, yang dia tau setiap sekolah mengundang orang tua. Dia hanya didampingi oleh seorang pria tampan berkaca mata yang diketahui sebagai asisten kakaknya.

"Wali apa? Dia hanya anak terlantar yang di tinggalkan ibunya mati, karena itu lah dia anak pembawa sial, ayahnya? heh dia di buang bersama kakaknya yang lumpuh dan tidak berguna itu,"cemooh bu maya dengan penuh penghinaan.

"Diam!"bentak William, matanya yang merah menatap bu maya dengan tajam seperti binatang buas.

Ditatap olehnya seperti ini, membuat tubuh bu maya gemetar ketakutan. Tatapan itu, seperti saat dia melihat mata tajam pria lumpuh itu untuk pertama kalinya.

kepala sekolah yang mendengar ucapan yang tidak mengenakan juga mengerutkan kening tidak suka. Bagaimana bisa seorang penatua yang harusnya mendidik malah berkata kasar seperti itu.

suasana yang tegang kini pecah saat mereka mendengar suara yang sembrono masuk. 

"Yo ada apa nih? suasananya sangat mencekam sekali," ucap Keira tiba-tiba sambil mendorong Xavier masuk ke dalam, lalu mendudukkan pantatnya di sofa.

William yang pertama kali melihat kakak dan kakak iparnya datang, langsung terpana dan tubuhnya tiba-tiba menegang. Dia tidak percaya mereka akan datang langsung ke sekolah. 

Kepala sekolah yang melihat mereka pun bingung, apa dia orang tua William tapi kenapa muda sekali. Terutama saat melihat wanita muda yang cantik itu mendorong pria yang duduk di kursi roda. 

"Kalian… siapa?"

Terpopuler

Comments

♥️

2024-02-03

1

ˢⁱᵐᵖ 2ᴅ

ˢⁱᵐᵖ 2ᴅ

Menggugah emosiku.

2023-07-22

2

Laura Rivera 🇨🇴❤️

Laura Rivera 🇨🇴❤️

Aku sudah jatuh cinta dengan karakter-karaktermu, thor.

2023-07-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!