Bab 7

keesokan harinya. 

Hah, kenapa gulingnya sangat keras seperti batu. 

Keira merasa guling yang dia peluk sangat keras, tidak lembut seperti guling pada umumnya. 

Merasa ada yang tidak beres, Keira perlahan membuka matanya yang berwarna coklat. Dan alangkah terkejutnya dia, saat disuguhi pemandangan yang sangat memanjakan mata. 

Dada bidang yang kokoh dan kuat, jakun seksi yang bergulir dari atas ke bawah, terpampang nyata di hadapan matanya. 

Menggosok matanya yang buram, Keira meneguk ludahnya kasar, saat melihat pemandangan indah di depannya. Tangannya yang ramping terulur ingin memegang jakun yang terlihat sangat menggoda itu. 

Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh. Dia sudah dicegah oleh tangan besar dan kasar seseorang. 

"Apa yang kamu lakukan?"

Mendengar suara dingin dan serak di atas kepalanya, Keira mendongak ke atas. Tatapannya bertemu dengan tatapan dingin Xavier. 

Hah, tunggu! Kenapa dia bisa ada di wilayahku. Bukannya aku sudah jelas membuat garis batasan. 

Melihatnya yang terlihat linglung, Xavier mencubit pipinya yang terlihat chubby dengan pelan. 

"Apa yang kamu lakukan?"tanya Xavier sekali lagi. 

"Aku yang harusnya nanya, apa yang kamu lakukan di wilayahku? Dasa bajingan! "ujarnya marah, dia kemudian bangkit dan segera duduk, lalu menatap Xavier tajam. 

Xavier menyandarkan punggungnya yang tegap di sandaran kasur. Matanya yang hitam menatap Keira sambil tersenyum, lalu tangannya menunjuk tempat tidur di sebelahnya. 

"Tempatmu ada di sana, dan ini adalah tempatku."

Melihat arah tunjuknya lalu tempat yang dia duduk, Keira langsung tercengang. 

Bagaimana bisa aku ada di sini!

"Mustahil! Itu pasti kamukan, kamu yang membuang pembatas yang aku buat!"tuduhnya tak ingin malu sendiri. 

"Terserah, percaya atau tidak, kamu sendiri yang melanggarnya."

"Kamu! Huh… awas saja kalau itu benar-benar perbuatanmu."

Setelah mengatakan kalimat itu, Keira segera beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. 

"Hey."

Mendengar panggilan Xavier, Keira menoleh ke belakang dengan wajah cemberut. 

"Apa!"ucapnya ketus. 

Melihat istrinya kesal, Xavier merasa puas. Dengan senyum seringai di sudut mulutnya, dia berkata, " Selamat pagi… bajingan."

"Sialan!" Keira langsung menutup pintu kamar mandi dengan kencang. 

*****

"Huft…huft… Ibu aku capek, aku mau istirahat dulu." Shaka mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di kursi taman, yang sudah disediakan untuk umum.

"Oke,kita istirahat." Keira memberikan botol minumnya pada Shaka, lalu membantunya mengelap keringat di wajahnya. 

Shaka langsung meneguk habis air minum yang disodorkan ibunya dengan rakus, dan menikmati perawatan yang dilakukan oleh Keira. 

Saat ini ibu dan anak itu sedang berada di taman. Setelah kekesalan di pagi hari, Keira mengajak Shaka untuk berolahraga, untuk meredakan kekesalannya terhadap Xavier. 

Hiks…hiks…hiks…

Mendengar suara tangis di dekat mereka, ibu dan anak itu saling menatap.

"Apa ibu mendengarnya?" bisik shaka pelan di telinga ibunya.

Keira mengangguk sebagai respon dia, mengamati  sekelilingnya untuk mencari tahu. Karena hari ini bukan hari weekend, jadi hanya sedikit pengunjung yang datang untuk olahraga. Melihat semak semak yang mencurigakan tidak jauh dari tempat mereka. 

Kiera menyuruh shaka untuk menunggunya di sini, dan dia sendiri yang akan memeriksanya.

"Tidak mau, aku mau ikut Ibu." Shaka mencekal tangan ibunya yang akan pergi, lalu mengikutinya di belakang. 

Mereka dengan hati hati berjalan ke arah semak semak, benar saja suara tangisan tadi terdengar jelas di sini. Tatapannya tertuju pada seorang anak kecil tengah jongkok di tanah dengan bahu yang bergetar. 

"Halo sayang, ada apa? kenapa kamu nangis?"tanya Keira lembut, tangannya yang ramping mengusap kepala anak itu.

Merasakan elusan lembut di kepalanya, Lucas mengangkat wajahnya, dan melihat seorang wanita cantik di depannya.

Melihat orang asing di depannya, Lucas langsung mundur ketakutan, wajahnya yang imut terlihat pucat dengan tubuh yang gemetar.

"Hey tenang okey, kami bukan orang jahat, kami orang baik. Kami ke sini karena mendengarmu menangis." ucap Keira lembut saat melihat anak itu ketakutan.

"Kemari sayang jangan takut, Bibi ingin tau siapa namamu? kenapa kamu sendiri? apa kamu tersesat? "

Merasakan aura lembut dan tenang dari wanita itu, Lucas perlahan berdiri dan berjalan ke depan mereka dengan taku-takut. Dia kemudian menulis namanya sendiri, dan alasan kenapa dia bisa ada di sini. Lalu memperlihatkan pada Keira. 

"Oh nama kamu Lucas, kalau Bibi namanya Keira, dan ini shaka anak Bibi," ucap Keira memperkenalkan dirinya dan shaka.

"kamu tersesat dari Ayahmu? terakhir kamu tersesat di mana, apa kamu ingat?" tanya Keira lembut, takut menakuti anak itu.

Mendengar pertanyaan dari wanita itu, Lucas langsung mengangguk, lalu menunjuk ke arah danau.

melihat arah tunjuk anak itu, Keira langsung tau.

"kalau begitu ayo, bibi bantu kamu cari Ayahmu." Keira menuntun kedua anak itu untuk mengikutinya.

"Lucas!"

Baru beberapa langkah berjalan, mereka sudah mendengar suara teriakan dari belakang. Membalikan tubuhnya, mereka melihat seorang pria tampan tengah berlari kencang ke arah mereka, dan langsung menggendong Lucas yang berdiri di sampingnya.

"Lucas kamu ke mana aja, Ayah cari kamu kemana mana. Ayahkan udah bilang jangan lari lari! untung Ayah menemukanmu." Keenan memeluk putranya erat. Saat dia tau anaknya menghilang jantungnya berdetak kencang, takut anaknya kenapa napa.

Merasakan ke khawatiran ayahnya Lucas menepuk pundaknya, seolah menyiratkan bahwa dia baik baik saja. Lalu tangannya menunjuk ke arah Keira. Kalau Keira lah yang menemukannya dan membantu dia untuk mencari ayah.

Melihat petunjuk Lucas Keenan langsung mengerti. Dia lalu mengalihkan perhatiannya ke arah wanita cantik di depannya.

"Terima kasih telah menemukan putraku, saya tidak tau bagaimana lagi kalau anak saya menghilang, sekali lagi terima kasih,"ucap Keenan dengan tulus, dia tidak tau harus bagaimana lagi selain mengucapkan terima kasih.

Mendengar ucapan tulusnya, Keira merasa canggung.

"Ah…iya sama-sama, lagian itu hanya kebetulan saya menemukannya. Lain kali kamu harus lebih mengawasinya, takut kejadian seperti ini terjadi lagi," nasihat Keira. Dia tidak bisa membayangkan kalau anak ini bertemu dengan orang jahat.

"Baik saya akan lebih hati-hati ke depannya, sekali lagi terima kasih. Ini kartu nama saya, jika kamu butuh bantuan, saya akan bersedia membantumu sebagai balas budi saya." Keenan memberikan kartu namanya ke tangan Keira, seolah menyiratkan untuk tidak menolaknya.

"Terima kasih, kalau begitu kami pamit dulu selamat tinggal Lucas. Ayo sayang kita pulang." Setelah mengucapkan salam perpisahan,   Keira menggandeng Shaka untuk pulang.

Mengikuti ibunya di belakang, Shaka menoleh ke arah mereka. Dia melihat ayah dan anak itu melambai kepadanya.

"Tunggu Bu!"

Shaka berlari ke arah Lucas lalu memberikan permen miliknya.

"Jangan nangis, jika kita bertemu lagi, ayo bermain di rumahku."

Melihat permen di tangannya, Lucas menatap Shaka dengan mata berbinar. Lalu mengangguk semangat

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi Lucas."

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

/CoolGuy/

2024-11-01

0

Insani Sany

Insani Sany

😜😜😜😄😄😄

2023-12-26

1

Gái đảm

Gái đảm

Setiap kali aku selesai baca, aku sangat berharap ada lebih banyak lagi. Teruskan fighting, author!

2023-07-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!