Di malam yang gelap dan sepi, seorang pria remaja tengah berdiri di luar villa. Sosoknya yang tinggi dan tegap terlihat sangat gagah. Wajahnya yang tampan terlihat dingin dan suram,dengan bekas luka lebam di sudut mulutnya. Seragamnya yang berantakan terdapat bercak darah yang menempel.
Berdiri lama di luar villa, William lalu melangkahkan kakinya yang panjang masuk ke dalam. Meski tidak ada cahaya atau penerangan, tapi langkah kakinya berjalan dengan mantap dan tanpa hambatan.
Saat berjalan ke lantai atas, perhatiannya teralihkan ke arah dapur. Di mana itu adalah satu satunya cahaya diantara gelapnya villa.
Mengerutkan keningnya heran, William terdiam sejenak. Dia kemudian mengambil tongkat bisbol lalu memegangnya di tangan, berjalan perlahan menuju dapur. Sayup-sayup dia mendengar suara lembut seorang wanita.
"Ah masak apa ya laper banget, nasi goreng atau mie."
"Nasi goreng… tapi lagi gak mau makan nasi. Mie… nanti berat badan ku nambah gimana."
"Masak mie aja deh gapapa kalau berat badan nambah besok tinggal olahraga."
Keira membawa mie dan bahan bahan yang dia butuhkan. Ya, wanita itu tidak lain adalah Keira, dia terbangun ditengah malam karena perutnya terus berbunyi meminta untuk diisi.
Namun saat akan berdiri, dia merasakan benda dingin menyentuh lehernya. Dan suara serak dan rendah di belakangnya.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di rumahku."
Tubuhnya gemetar ketakutan, dengan gugup dia menoleh ke belakang dan melihat sosok hitam yang menjulang tinggi.
"Akhhh,"teriak Keira ketakutan, dia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya hingga terjatuh ke belakang.
Beringsut mundur kebelakang, Keira bermaksud menghindari sosok itu. Namun, sosok itu malah mengikutinya.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu lakukan di rumahku,"ucap William, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin.
"Aku yang seharusnya nanya! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mau maling ya,"teriak Keira marah.
Dia kemudian bangkit dan berlari ke arah saklar lampu dekat pintu.
Ruangan yang tadinya gelap, sekarang terang benderang. Keira menatap sosok itu dengan jelas, seorang remaja tengah berdiri di dekat pintu kulkas tempat dia barusan mencari makanan. Seluruh orang itu terlihat sangat berantakan dengan bercak darah di bajunya
Melihat wajah yang tak asing itu,keira berpikir sejenak, memilah-milah informasi yang ada di otaknya.
"Ah aku ingat! kamu William kan adik Xavier."
"Ya, lalu kamu siapa?"tanya William curiga, dia menatap wanita di depannya yang sangat cantik seperti peri.
"Aku Istri Kakakmu, Keira."
Berpikir sejenak, dia pernah mendengar kakak dan asistennya sedang membicarakan tentang pernikahan saat dia tidak sengaja lewat ke ruang kerja. Ternyata wanita ini istrinya.
"Oh,"katanya cuek, lalu berbalik ingin segera pergi ke kamar.
"Tunggu, kenapa kamu pulang sangat larut dan kenapa wajahmu terluka?" Keira mencekal pergelangan tangan william.
Sebenarnya dia tidak terlalu peduli. Tapi, karena sekarang dia kakak iparnya, dia tidak bisa membiarkannya terluka seperti itu.
Menatap tangan lembut yang memegang lengannya, William lalu segera melepaskannya.
"Bukan urusanmu!"
Menatap punggung bocah itu yang terlihat dingin, Keira mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya yang tertunda.
Setelah membersihkan dirinya, William mengambil ponsel dan kertas di atas meja, lalu berjalan menuju tempat tidur dan berbaring di atas kasur.
Menatap kertas putih yang terlipat rapi di tangannya, dia dengan acuh tak acuh melemparnya sembarangan.
Persetan!
Bersiap akan tidur, William mendengar suara ketukan pintu di luar kamarnya. Menghela nafas kasar, lalu berkata, "Masuk."
"Ada apa?"tanyanya dingin, saat melihat pelaku yang mengetuk pintu di tengah malam, dan nyelonong masuk ke dalam, sambil membawa nampan.
"Kakak bawa mie sama kotak obat." Keira menaruh nampan dan kotak obat itu di meja.
"Gak perlu, gak butuh, bawa lagi,"ucap William dingin.
"Pergi."
"Gak, kamu harus makan dan obatin lukanya dulu baru kakak pergi, ayo cepat bangun,"ucap Keira tegas.
" Gak usah sok peduli! Kamu hanya orang asing di sini!" Bentak William, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Semuanya hanya palsu! tak ada yang benar benar peduli padanya, mereka hanya merasa kasihan.
Tak ada lagi balasan dari wanita itu, William tersenyum miris, mungkin dia sudah pergi.
Melihat bocah itu yang keras kepala, Keira merasa kesal. Jika bukan karena dia Kakak ipar yang baik hati dan tidak sombong. Keira mungkin tidak akan terlalu peduli. Dia belum pernah menghadapi bocah keras kepala seperti ini.
Menghentakan kakinya marah, Keira berjalan langsung ke tempat tidur, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh William dengan kasar. Dengan tubuhnya yang mungil, dia mengangkat William menuju sofa tanpa beban.
Diangkat sangat tiba-tiba oleh wanita itu, William secara refleks melingkarkan lengannya di leher Keira. Wajahnya yang tampan terlihat terkejut, malu, dan marah, sangat campur aduk.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!"teriak William marah, dia sangat malu. Seorang pria besar seperti dia, diangkat seperti putri oleh seorang wanita.
Apa tubuh wanita ini sekuat baja, bagaimana bisa dia dengan enteng mengangkatnya seolah tanpa beban. Harga diri dia sebagai seorang laki-laki sangat terluka.
"Diam,"ucap Keira dengan dingin, dia kemudian meletakan William di sofa. Membuka kotak obat, Keira kemudian mengobati luka William.
Melihatnya akan mengobati lukanya, William dengan cepat langsung menghentikannya.
" Tidak perlu, ini hanya luka kecil."
"Berisik!"ucap Keira dengan nada ketus, dia dengan hati hati mengobati lukanya.
Setelah selesai mengobatinya, Keira menaruh mangkuk mie di tangannya.
Sebenarnya, dia hanya memasak satu mangkuk untuk dirinya sendiri. Tapi, saat melihat wajah William yang terlihat menyedihkan, dia terpaksa membuat dua mangkuk.
"Aku tidak lapar kamu… kruk kruk." Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, perutnya sudah mengkhianati dirinya sendiri.
Di malam yang sunyi, bunyinya sangat jelas terdengar. Dengan wajah yang memerah malu ,William menoleh ke samping tidak ingin menatap wanita di sebelahnya.
"Makan,"perintah Keira dingin, dia kemudian bangkit dan segera pergi keluar dari kamar William.
Merasakan suhu hangat di tangannya, William menatap semangkuk mie panas yang mengepul. Hatinya terasa tersumbat, tenggorokan nya kering, setetes cairan bening di matanya turun ke bawah. William buru buru menghapusnya dengan kasar.
.
Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan, meski hanya pertemuan pertama. Namun, dia bisa merasakan ketulusan wanita itu dari pancaran matanya yang jernih dan bersih.
Menatap pintu yang tertutup rapat, William tertegun sejenak.
Apa dia marah? Lagian siapa juga yang tidak marah dengan kata kata kejam Seperti itu, besok aku harus minta maaf padanya. Tekadnya, lalu memakan mienya yang masih panas
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
enak mee yg panas2 ketika lapar
2024-11-01
0
Gusti Raihan
Jangan biarkan kami terlalu lama menunggu next chapter 🥺
2023-07-20
4