Bab 5

Setelah berganti pakaian menjadi piyama, Keira lalu mengoleskan salep obat yang dikasih bi Eli ke tangannya yang bengkak. Hari ini dia akan tidur cepat, karena seharian ini dia  sangat lelah. 

Xavier yang diam sedari tadi di ranjang, hanya memperhatikan istri barunya yang sedang mengoleskan obat. 

Apa tadi aku memukulnya terlalu kencang? Gumam Xavier rendah. 

Setelah selesai menerapkan obatnya, Keira langsung berbalik dan bertemu dengan tatapan mata hitam pria itu, seperti malam yang menghanyutkan di dalam kegelapan. 

Sebelum dia terhanyut oleh tatapannya, Keira langsung memutuskan kontak terlebih dahulu. Segera Keira dengan cepat melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Dia akan membawa bantal dan guling untuk tidur di sofa. 

Melihat apa yang ingin dilakukan Keira, Xavier mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. 

"Apa yang ingin kamu lakukan?"

"Aku akan tidur di sofa, karena kamu sangat tidak nyaman. Jadi, aku yang akan tidur di sana, kamu bisa tidur di kasur saja."

Meski mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi, keira sangat canggung jika harus berbagi ranjang berdua dengan orang asing. 

Apalagi Xavier, yang notabenya tidak dekat dengan makhluk berjenis kelamin perempuan. Mungkin dia yang akan lebih tidak nyaman dibandingkan dirinya. 

Yah meski orang asing itu sudah menjadi suamiku. Lanjutnya dalam hati. 

Melihatnya akan segera pergi, Xavier langsung mencekal pergelangan tangannya, dan secara tidak sengaja matanya yang dalam melihat tangan Keira yang bengkak dan merah. Membuat dia merasa bersalah. 

"Tidak perlu, kamu bisa tidur di sini bersamaku."

"Hah?" Keira sangat tercengang, ini berbeda dengan apa yang dia pikirkan tadi. Bukankah dia tidak suka dekat dengan wanita. 

Melihat ekspresi bodoh istrinya yang terlihat lucu, Xavier merasa lucu. Namun, dia tahan tidak ingin menunjukkannya. 

"Kamu tidak perlu pindah, lagian kasurnya juga besar. Kamu bisa tidur di sebelahnya."

"Ta-tapi kamu, bukannya tidak suka dekat dengan wanita."

"Tidak papa."

"Oh oke."

Meski bingung, tapi Keira tetap naik ke tempat tidur, lalu menyusun bantal dan guling di tengah-tengah mereka. 

"Ini pembatas kita, siapa saja yang melewati garis ini adalah seorang bajingan,"peringatnya tajam, matanya yang berwarna coklat menatap Xavier dengan tegas. 

Melihat kelakuan istrinya, Xavier hanya menganggukan kepalanya acuh tak acuh. Dia tidak memperdulikan apa yang dilakukan istrinya. Xavier hanya melanjutkan membaca bukunya, ini adalah kebiasaan yang dia kembangkan sebelum tidur. 

Setelah mendapatkan jawabannya, Keira menghela nafas lega. Tanpa merasa khawatir lagi, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. 

"Hah…." Desahnya lega, akhirnya dia bisa istirahat. 

Menoleh ke samping, Keira melihat wajah samping suami barunya yang terlihat tampan saat sedang fokus. Apalagi kacamata perak yang bertengger manis di hidungnya, membuat dia terlihat lebih lembut dan tidak dingin seperti biasanya. 

Merasakan tatapan panas di sebelahnya, Xavier menghela nafas pelan, dia kemudian melepaskan kacamata bacanya. Lalu menoleh ke samping orang yang sedang menatap dirinya. 

"Ada apa?"

Tidak merasa malu karena terciduk, Keira hanya tersenyum lebar menampilkan deret gigi putihnya yang rapi. 

"Tidak ada, aku hanya terpesona melihat ketampananmu,"pujinya tanpa malu-malu. 

Meski Xavier sering mendengar orang memujinya karena tampan. Dia tidak terlalu peduli dan hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh. Tapi, entah kenapa saat dipuji oleh istri barunya, perutnya terasa seperti tergelitik. 

Mencoba menetralkan perasaannya, Xavier berdehem kecil. 

"Soal di kamar mandi, saya minta maaf." 

Tiba-tiba mendengar permintaan maaf yang terlontar dari mulut Xavier, Keira linglung sejenak, dia tidak menyangka orang yang acuh tak acuh seperti Xavier akan meminta maaf. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Keira hanya tersenyum kaku. 

"I-iya tidak papa,"ucapnya canggung.

Melihatnya yang terlihat canggung, Xavier hanya tersenyum simpul. Memalingkan kepalanya, Xavier menatap dinding polos di depannya dengan pikiran yang melayang entah kemana. 

"Kamu sudah bertemu dengan anak itu."

"Ya, kenapa?"Keira mengangguk membenarkan pernyataan Xavier. 

Dia merubah posisi tidurnya menjadi berbaring ke samping, dengan tangan yang menyangga kepalanya, agar bisa lebih leluasa melihat Xavier. 

"Tidak ada, saya hanya ingin bilang…" Xavier menjeda ucapan, dia menatap Keira dengan tatapan dalam dan penuh arti. 

"Rawat dia dengan baik dan berikan kasih sayang pada anak itu."

"Meski dia hanya anak yang saya bawa. Tapi, dia adalah putraku." 

Meski terdengar hanya perkataan biasa. Tapi, Keira tau maksud dari perkataan itu adalah peringatan untuknya supaya jangan macam-macam pada anak itu. 

Memutar bola matanya malas, Keira menatap Xavier dengan tidak puas. 

"Apa tampangku seperti orang jahat, hingga membuatmu mencurigaiku. Hey dengar, tanpa kamu bilang seperti itu juga, aku akan menyayangi anak itu. Aku bukan ibu tiri jahat seperti yang ada di film."

"Tidak anak, tidak ayah, sama-sama mencurigaiku. Memang rupaku seperti ibu tiri yang jahat gitu. Huh…bikin kesal saja,"gerutu Keira dongkol, dia merubah posisinya menjadi membelakangi Xavier, lalu menutup dirinya dengan selimut. 

Mendengar gerutuan Keira yang terdengar lucu, Xavier menutup mulutnya, menahan senyum yang akan terbit. 

Sebenarnya dia tidak bermaksud seperti, tapi Keira salah mengartikan perkataannya. Dan membuatnya salah paham. Tapi, tidak papa. 

Mendengar suara nafasnya yang stabil, Xavier mengulurkan tangannya, lalu membuka selimut yang menutupi wajahnya agar tidak pengap. 

Melihat wajahnya yang polos tengah tertidur pulas, Xavier membantu menyelipkan rambut panjangnya yang menghalangi wajah. 

Mengambil ponsel yang sedari tadi berdering di atas meja samping tempat tidur, Xavier menjawab panggilan malam dari David. 

"Halo Tuan."

"Hm, ada apa?"bisiknya hati-hati takut membangunkan Keira. 

"Maaf Tuan, wanita yang Tuan cari, kami tidak berhasil menemukannya. Meski sudah kami cari ke luar negeri pun. Karena foto yang Tuan berikan hanya punggungnya, bukan wajahnya Tuan. Jadi kami sulit menemukannya."

Setelah mendengar penjelasan David, Xavier tidak segera menjawab, dia hanya terdiam sejenak. Lalu matanya yang hitam menatap wanita yang tengah tertidur pulas di sampingnya. 

Sedangkan di sisi lain, David sangat gugup karena tidak mendapat jawaban dari tuannya. Apa tuan marah,

"Tu-tuan… ja-jangan marah, kami akan berusaha untuk menemukannya,"ucapnya getir, dia lebih baik diberi misi yang berbahaya dari pada harus menemukan seorang gadis yang tidak jelas rupanya. 

6 tahun lalu Tuan menyuruh mereka menemukan seorang gadis. Tapi, menemukan seseorang hanya berdasarkan punggungnya membuat mereka kesusahan. 

"Tidak perlu."

"Hah… ma-maksudnya Tuan?"

"Aku sudah menemukannya."

"Apa! Diman-" Sebelum ucapannya selesai, tuannya sudah memutuskan panggilan telepon secara sepihak. 

"Tuan!" 

"Ada apa? Apa Tuan marah?"

"Apa kita disuruh mencarinya lagi?"

David hanya menggelengkan kepala saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-temannya. 

Dia menatap 5 pemuda di depannya dengan tatapan rumit. 

"Tuan, dia… sudah menemukannya."

"Apa!"

"Sialan"

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Apa kah itu Khaira??

2023-12-16

2

Enoch

Enoch

Jangan menunda-nunda lagi, ayo update next chapter sebelum aku mati penasaran! 😭

2023-07-19

1

Fainancey F_16

Fainancey F_16

Keren abis! Thor, kapan lagi bikin karya yang seru kaya gini?

2023-07-19

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!