Setelah masuk ke dalam, seorang pelayan paruh baya menyambut mereka.
"Halo Nyonya selamat datang, saya Eli pembantu di sini, jika Nyonya butuh sesuatu silahkan panggil saya,"ujarnya sopan.
"Halo Bi Eli, saya Keira. Kalau begitu mohon bantuannya selama saya di sini dan maaf merepotkanmu,"ucap Keira tersenyum lembut.
Mendengar permintaan maafnya Eli buru buru berkata,
"Tidak! tidak! Nyonya itu tidak merepotkanku sama sekali, karena itu sudah menjadi tugas saya."
"Oke jika aku butuh sesuatu aku akan memanggil Bibi,"ucap Keira sambil tersenyum manis.
"Bi tolong ajak dia berkeliling,"perintah Xavier.
"Baik Tuan."
"Mari Nyonya, saya akan memperkenalkan tempat yang ada di rumah ini."
"Ya tolong pimpin jalan."
Mereka berkeliling menelusuri tempat yang ada di villa ini. Villa ini di bangun dengan tiga lantai, lantai pertama ruang keluarga dan ruang makan, lantai dua untuk kamar tidur dan ruang kerja, sedangkan lantai tiga merupakan tempat olahraga, nonton bioskop, dan bersantai.
"Kalau begitu, di mana kamarku Bi?"tanya Keira. Setelah berjalan-jalan yang cukup lama, tumitnya terasa sakit karena terlalu lama memakai high heels.
"Tuan bilang, Nyonya akan satu kamar bersamanya. Jadi, mari saya antar."
Aku kira akan pisah kamar, karena kita orang asing. Ternyata tidak. Gumam Keira tidak percaya, karena dilihat dari penampilannya yang dingin Xavier tidak suka dekat dengan wanita.
"Oke."
°°°°
Setelah seharian berjalan-jalan, kini Keira sudah berganti pakaian dengan dress santai yang nyaman dipakai dan sandal berbulu yang sudah disiapkan oleh Xavier.
Mengamati sekeliling kamarnya, terdapat sebuah sofa di dekat jendela, juga balkon untuk melihat pemandangan di luar. Kamarnya sangat nyaman, dengan dekorasi yang sederhana namun terlihat elegan. Ada juga tempat tidur besar yang muat untuk beberapa orang dan televisi besar yang menempel di dinding.
Berjalan menuju balkon, Keira disuguhi pemandangan yang sangat menyegarkan mata. Terdapat taman yang ditanami berbagai bunga dan pohon, ada juga gajebo tempat bersantai untuk minum teh di sore hari dan di sampingnya juga ada kolam renang.
Berdiri di belakang pembatas pagar, Keira menikmati semilir angin sore yang bertiup ke arahnya. Rambutnya yang panjang berayun ke belakang, wajahnya yang cantik, secantik peri dengan temperamen yang lembut dan bersih.
Xavier yang baru saja kembali dari ruang kerja, melihat pemandangan indah seperti ini tertegun sejenak. Matanya yang hitam seperti tinta menatap Keira dengan tatapan dalam, seperti seekor binatang buas menatap mangsanya tanpa membiarkannya lolos dari cengkramannya.
"Apa kamu menikmatinya?"
Mendengar suara dingin di belakangnya yang tiba-tiba, Keira langsung berbalik dan melihat Xavier sudah berada di kamar.
Sejak kapan dia di sini, kenapa aku tidak merasakan keberadaannya.
Menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya, Keira menjawab pertanyaan Xavier,
"Ya pemandangan di sini sangat bagus, aku sangat menyukainya,"ujarnya sembari tertawa manis, dia menatap Xavier dengan mata berbinar.
Mendengar tawa manis Keira, entah kenapa membuat jantungnya berdetak sangat kencang. Mencoba menetralkan perasaannya, Xavier berdehem canggung.
"Bagus kalau kamu suka." Setelah mengucapkan itu, Xavier mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana?"tanyanya, saat melihat Xavier bergerak.
"Kamar mandi."
Melihatnya langsung masuk ke kamar mandi, Keira mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Mungkin dia tidak butuh bantuanku.
Tidak lagi memperhatikannya, Keira kembali menikmati pemandangan di balkon dan semilir angin. Tapi, pandangannya tertuju pada sesuatu yang bergerak di dekat gajebo. Karena terlalu jauh Keira tidak terlalu jelas melihatnya, memicingkan matanya tajam Keira ingin melihat apa itu yang bergerak.
Namun, sebelum dia mengetahui sosok yang bergerak. Dia dikejutkan dengan suara benda jatuh di kamar mandi. Takut sesuatu terjadi padanya, Keira langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeceknya.
"Apa kamu baik-baik saja,"ujar keira sangat khawatir dengan keadaannya. Dia mengetuk kamar mandi dengan kencang.
Tidak ada jawaban dari dalam, Keira langsung panik.
Apa sesuatu terjadi padanya.
"Halo! Apa kamu mendengarku, apa kamu baik-baik saja!" Keira mengetuk pintu dengan brutal hingga tangannya memerah.
Masih tidak ada yang menjawab, Keira mendekatkan telinganya ke pintu. Sayup-sayup dia mendengar suara ringinsan kesakitan.
"Hei, kamu jangan khawatir. Aku akan menolongmu." Setelah mengatakan itu, Keira langsung menendang pintu kamar mandi dengan kuat.
Karena pintunya terkunci, Keira tidak punya cara lain selain mendobraknya.
Setelah pintu terbuka, dia melihat Xavier yang terjatuh di lantai dan kursi rodanya yang sudah terbalik.
Melihat wanita itu datang kepadanya dengan raut wajah khawatir, Xavier merasa malu sekaligus marah. Malu karena wanita itu melihat ketidakberdayaannya, dan marah karena kakinya yang lumpuh.
Tanpa melihat reaksi Xavier, Keira buru-buru datang ke arahnya untuk membantunya bangun.
"Astaga! Apa kamu terluka, sini aku bantu." Tangannya terulur ingin membantunya duduk di kursi roda.
Namun, tangannya ditepis dengan kuat hingga membentur closet di sebelahnya.
"Akh…." Ringis Keira kesakitan, sambil memegang tangannya yang memerah.
"Pergi!"bentak Xavier marah, matanya sangat merah.
Meski sudah dibentak dan diusir, Keira dengan keras kepala tidak mendengarkannya.
"Tidak! Aku tidak akan pergi, sebelum aku membantumu." Tanpa menunggu reaksi Xavier dia langsung mengangkatnya.
Terkejut karena tubuhnya melayang secara tiba-tiba, Xavier secara refleks mengalungkan tangannya dileher Keira.
"Kamu! Turunkan aku,"bentak Xavier merasa malu sekaligus marah. Sejak kapan tuan muda yang dingin dan kejam, digendong oleh wanita seperti tuan putri.
Tanpa menghiraukan bentakan xavier, Keira langsung mendudukannya di kursi roda, dia dengan cepat berjalan keluar tanpa menyapanya. Dia akan memanggil David untuk membantu Xavier.
Tak berapa lama kemudian, David datang dengan tergesa-gesa.
"Tuan! Anda baik-baik saja?" David mengecek seluruh tubuh tuannya, takut ada yang terluka.
Setelah dirasa tidak ada luka sedikitpun, David menghela nafas lega.
"Syukurlah."
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan."
Xavier menghiraukan perkataan David, dia hanya melihat ke belakang David yang tidak ada siapa-siapa.
Kemana wanita itu.
Melihat arah fokus tuannya, David menoleh ke belakang yang tidak ada siapa-siapa.
Apa yang sedang dilihat Tuan.
Seolah menyadari sesuatu, David langsung tersenyum simpul.
"Oh, setelah Nyonya memanggil saya dan memberitahukan keadaan Tuan, Nyonya langsung pergi entah kemana,"jelas David, setelah mengetahui maksud tatapan tuannya.
Setelah mendengar penjelasan David, Xavier hanya mengangguk acuh tak acuh seola tak peduli.
"Pergi!" Perintahnya dingin, tidak ingin di bantah.
"Ta-tapi Tua-"
"Pergi!"
"Ba-baik."
°°°°°
Dasar gila, aku hanya ingin membantunya kenapa harus bentak-bentak. Rutuknya dalam hati.
Saat ini dia sedang berada di halaman belakang, untuk memadamkan kekesalannya yang membuncah.
Menatap tangannya yang bengkak, Keira meniup-niupnya, seakan jika ditiup sakitnya akan hilang, padahal tidak.
"Akh tanganku sakit sekali."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Graziela Lima
Awas aja kalo gak segera update, bakal ada shuriken yang menunggu ya thor.
2023-07-18
3
Agnes
Asli keren parah, udah duluan mimin share ke teman semua!
2023-07-18
2
ZonZon
Gemesin banget si tokoh utamanya.
2023-07-18
1