Luka Baramun memang sudah sembuh, hanya saja kehilangan salah satu tanduk telah menjadi bukti kuat bahwa ras iblis tidak boleh terlalu sombong. Manusia lemah yang pandai bertarung bisa melukainya tanpa kekuatan ilahi sekalipun!
Kuro menatap langsung. "Itu yang dia katakan?"
"My King, tidak ada salahnya untuk berhati-hati. Ras kami telah bersembunyi di dalam lembah Droid sepanjang waktu untuk berlatih tapi kita juga lupa bahwa diluar sana masih akan ada orang yang lebih kuat."
Mengetuk pinggiran sandaran lengan kursi, Kuro berpikir dengan tenang. "Anak bernama Fang itu, apalagi yang dia katakan?"
Baramun sedikit lega. Kuro sudah mulai percaya, ini bagus sekali.
"Manusia bernama Albert akan datang setelah kita kalah mengambil wilayah bawah. Membawa lebih dari seratus orang untuk bertempur, semua jebakan yang terpasang dapat ditaklukkan dan mereka berhasil merampas semua barang kita!"
Dentuman keras datang dari arah depan. Baramun mendongak, ternyata kursi singgasana telah terbelah. Kuro berdiri kokoh di antara puing-puing kursi, terlihat lebih kesepian.
"Anak itu memperlihatkan bukti?"
Baramun menceritakan tentang Fang yang mengetahui Totem asli bentuk dari nama Kuro dan juga miliknya. Indentitas sebagai iblis mereka tidak mudah diketahui tapi Fang yang berusia kurang dari lima tahun dapat menggambar identitas mereka.
"Lalu apa yang harus kita perbuat?"
Keheningan berlangsung sebentar.
Baramun ingin mengutarakan tapi masih ragu.
"Katakan!"
"My King, saran ini sedikit absurd tapi juga yang paling masuk akal dan mudah untuk dilakukan. Bocah Fang menyarankan kita untuk berintegrasi dengan manusia di wilayah bawah."
Raut wajah Kuro pucat. "Apa maksudmu?! Ini tidak seperti yang kuduga kan?"
"Benar. Ras kami bisa saja mendekati manusia di wilayah bawah dan menikah. Mempunyai anak dengan mereka lalu tinggal disana."
Kepala Kuro pusing.
Hal aneh macam apa ini! Mereka adalah iblis, tidak sepatutnya menikah dengan kalangan yang bukan dari mereka dah lebih lemah.
Seolah dapat mengetahui bahwa Kuro menjadi ragu, Baramun yang berlutut dilantai menyebutkan beberapa poin keuntungan yang dijelaskan Fang.
"Mohon pikirkan lagi rajaku. Merebut wilayah bawah belum tentu kita berhasil, orang-orang kami mungkin mengorbankan banyak korban jiwa. Menikah dan mempunyai anak, selama dari ras kami dan manusia setuju, tinggal bersama adalah kepastian!"
"Kamu pergi. Aku akan mengadakan rapat dengan jendral dan menteri lainnya."
Baramun bangun dari berlutut. "Ya my king."
***
Dua batu berwarna transparan telah dirawat sebaik mungkin oleh Fang. Di penghujung tahun ketika musim dingin tiba, Fang yang berganti pakaian tebal dibawa ke hutan untuk belajar berburu oleh Gana dan beberapa lelaki desa.
Setelah musim dingin, tidak banyak tanaman atau buah liar yang tumbuh. Binatang ternak juga tidak dapat dibunuh untuk selalu dijadikan santapan makanan, maka Buwin mengusulkan pada setiap kepala keluarga yang ingin ikut untuk berburu bersama.
Apa yang mereka rencanakan untuk diburu bukanlah binatang buas melainkan kelinci atau ayam hutan yang bersarang di dalam sarang mereka. Fang yang menonton bagaimana perangkap kayu dipasang di depan pintu masuk sarang kelinci tidak sabar untuk memanggil sekelompok pasangan kelinci di dalam untuk keluar.
"Anakku, lap semua liur itu." Gana yang mengepak perkakas pemasangan jebakan meledek putranya.
Fang tidak mengambil hati dan malah bertanya hal lain. "Ayah, kapan kita bisa makan daging kelinci? Aku belum pernah makan!"
"Sore nanti atau besok pagi kita akan kembali untuk melihat. Ayo pasang perangkap di tempat lain." Kata Gana lalu mulai memasang perangkap di depan lubang sarang kelinci lainnya.
Buwin yang memasang lima perangkap sekaligus hari itu merasakan tulang pinggangnya mulai kelelahan. "Hari ini cukup sampai disini! Ayo kembali sebelum sore hari. Musim dingin sangat rawan, binatang buas.." Belum menyelesaikan sisa kalimat terakhir, Buwin yang paling peka berteriak. "Semua naik ke atas pohon!!!!!"
Gana mengambil kerah Fang. Memanjat dalam hitungan detik dan suara gerombolan babi hutan makin dekat. Selusin pria yang juga sudah berhasil naik ke atas pohon mulai memucat. Babi hutan ini bukan lari mengejar mereka tapi ada singa yang tengah memburu!
Tangan Gana yang memeluk Fang makin erat.
Babi hutan terus berlari menghindar, beberapa jebakan yang terpasang juga ditendang sampai rusak oleh kelakuan babi bodoh itu. Fang bergumam, sialan!
Daging kelinciku .·´¯`(>▂<)´¯`·.
Tidak ada yang berani turun walau singa telah berhasil menangkap buruannya dan meninggalkan sisa daging.
Kemungkin binatang itu kembali mungkin saja terjadi. Dan setengah jam kemudian singa kembali bersama kelompoknya. Buwin yang berada di pohon dekat dengan bangkai babi meneguk ludah. Memeluk dahan pohon lebih kuat, Buwin berharap pagi segera datang.
Fang menguap berulang kali tanpa suara. Gana meletakan Fang dia atas pangkuan dan membiarkan anaknya tidur. "Kamu tidur. Ayah akan terus berjaga."
Fang mengangguk, menutup mata dan tertidur nyenyak. Gana menepuk kepala putranya bangga. Anak ini tidak menangis atau mengeluh. Seperti pria besar, Fang malah sangat sabar dan ikut memperhatikan situasi.
Semalaman semua orang tidur di atas dahan. Pagi hari, bangkai babi telah berubah menjadi tumpukan tulang. Buwin turun terlebih dahulu untuk melihat sekitar dan bersiul agar semua orang turun. "Ambil semua tangkapan kelinci dan ayam hutan. Kita akan pulang!"
Untungnya masih banyak jebakan yang tidak rusak. Fang memegang satu ekor ayam seberat satu kilo, matanya yang jernih mengemukakan keinginannya. Gana tertawa, "bilang saja pada ibumu apa yang ingin kamu makan."
Semua orang keluar dari hutan hidup-hidup tanpa cedera. Lalu Buwin juga memperingatkan kalau mereka tidak bisa pergi ke hutan lagi. Ada singa, mungkin juga ad binatang buas lainnya yang tinggal. "Perhatikan keselamatan terlebih dahulu. Makan daging memang enak, tapi kalau terluka atau terbunuh, keluargalah yang akan menderita."
Fang tidak menyangka Buwin selalu sebijak sana ini. "Paman, kamu cukup keren."
Buwin berdecak, dia selalu bijaksana dalam memimpin desa nya sendiri. Anak ini pasti mengolok.
Kembali ke rumah, Aira yang tidak tahu apa yang dialami suami dan putranya sangat senang melihat hasil tangkapan. Ada tiga ekor ayam dan lima kelinci. Ini cukup untuk makan selama setengah bulan di musim dingin.
"Bu, ibuuuuu. Ayo buat sate kelinci."
Aira mengangguk setuju.
Gana tidak beristirahat, mengambil semua tangkapan untuk disembelih dan mengupas kulit/ bulu nya. Musim dingin mudah menyimpan makanan, tidak perlu khawatir kalau makanan menjadi rusak atau bau.
Aira memanaskan air, menyiram semua binatang yang sudah dikupas untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran. Mengambil pisau dan mengeluarkan semua jeroannya.
Fang yang melihat segala organ, melarang Aira membuang hati kelinci. "Bu, kenapa dibuang?!"
"Ini pahit."
Ouwh. Fang tidak melarang lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments