Karena ketahuan pergi keluar rumah tanpa izin, Aira dan Gana tidak meninggalkan Fang lagi. Dibawa bersama ketika mereka berdua bekerja, Fang yang bosan mencungkil keong di pinggiran sawah. Sepasang tangan berdaging Fang begitu lugas mengorek lumpur untuk menangkap bahan makanan!
Keong rebus apa tumis yang enak?
Tentang Baramun. Iblis itu tahu harus bagaimana kalau lapar, cari makan sendiri!
Baramun yang menunggu sampai siang menegang. Perutnya sudah melilit perih karena belum makan dari pagi. Menelan ludah pahit, Baramun berjalan tertatih-tatih, mengumpulkan jamur atau buah yang bisa di kunyah mentah. Bocah itu pasti sengaja tidak datang!
Gana yang gerah sudah melepas baju atasannya, dibawah terik matahari tubuh kuah Gana membungkuk untuk menanam bibit padi. Aira juga melakukan hal sama, bedanya lahan yang wanita itu tanam lebih kecil daripada milik Gana.
Fang yang seharian mengumpulkan keong makin tidak tahan. Terlalu panas dan dia ingin minuman dingin. "Bu, aku akan ke rumah Paman Buwin." Setelah mengatakan itu Fang langsung pergi dan tidak menunggu jawaban.
"Ck, semakin besar anak semakin susah pula diaturnya." Gana yang akan melarang tidak dapat berkata-kata karena pantat putranya berlari sangat cepat.
***
Lahan keluarga Buwin sudah selesai ditanam kemarin. Lega tidak perlu bekerja dibawah terik matahari terus-terusan, Buwin sekarang sedang bersantai di atas kursi goyang dan merokok.
"Paman Buwin! Paman Buwin!"
Panggilan khas milik Fang terdengar di depan pintu. Buwin mematikan api pada rokoknya dan membuka pintu pagar rumah. Dilihatnya tubuh gendut Fang yang berkeringat sampai-sampai seluruh pakaian basah.
"Masuk. Kamu sendirian?"
Fang yang diberi izin masuk memegang paha kiri Buwin. "Ayah dan ibu masih sibuk di sawah. Paman, apakah ada semangka? Boleh minta satu?"
Buwin tertawa lebar. Mencubit pipi Fang yang doyan makan. "Es semangka juga ada. Kamu tunggu"
Buwin masuk ke rumah di ikuti Fang, "Bibi tidak ada dirumah?"
"Bibi dan kakak perempuanmu pergi ke rumah kerabat. Menginap dan baru pulang lusa nanti." Kata Buwin dan menyerahkan semangkuk es semangka untuk dimakan Fang.
"Paman, kenapa kamu bukan ayahku? Semua yang ada di rumah mu enak semua!"
Perut Buwin bergetar. Gana akan terbakar amarah jika tahu apa yang dikatakan Fang.
Seolah dapat membaca pikiran Buwin, Fang yang menyelesaikan es semangka menarik ujung pakaian Buwin, "jangan katakan apapun pada ayah. Dia berisik ketika terlalu sensitif."
***
Baramun berwajah pucat. Jamur yang dimakan mungkin jamur beracun. Perutnya sakit mulas. Aroma tidak sedap mulai tercium, mungkin keracunan!
Mencuci pakaian dalam di sungai, Baramun yang kakinya masih pincang mulai merindukan kehidupan nyaman di lembah Droid. Pelayan kecil akan melayani segala kebutuhan, tidak usah pedulikan selembar pakaian untuk dicuci sendiri!
Menjemur pakaian dalam pada tangkai pohon. Baramun yang belum kenyang berusaha menangkap ikan. Hilir sungai yang jernih sangat mudah melihat sekelompok ikan yang berenang bersama. Sayangnya, Baramun terlalu tidak sabaran dan semua ikan di buat ketakutan.
"Sial!"
Kembali bersembunyi di antara semak belukar, Baramun memakan buah berry asam yang tidak dia suka. Kebanyakan Jendral perang mati karena sedang melawan musuh tapi dia mungkin jadi yang paling menyedihkan. Mati kelaparan atau karena keracunan makan!
Terhitung seminggu Baramun sudah tinggal di dunia bawah. Prajurit iblis yang dia biarkan kembali harusnya sudah berada di lembah Droid untuk melapor langsung pada raja Kuro.
Semoga rajanya menemukan kejanggalan dan mengirim bantuan untuk menjemput. Sepotong tanduknya hilang, kakinya patah dan sulit berjalan, lalu sihir tidak berguna disini. Baramun tidak dapat mengeluarkan dua sayapnya untuk terbang kembali.
Disisi berlawan, Fang yang bermain di rumah Buwin ikut menemani kepala desa di ruang kerjanya. Seorang penduduk datang untuk minta bantuan dibacakan surat yang dikirimkan oleh anaknya yang menikah jauh.
Fang yang dipangku oleh paman Buwin membaca setengah surat tersebut dan ekspresinya menjadi aneh. Ini bukan surat menceritakan kabar, melainkan meminta orang tuanya untuk menjual harta benda mereka untuk membantu membayar hutang keluarga suaminya.
Paman Buwin yang selesai membaca surat melipat kertas ke posisi semula. "Anakmu sangat baik. Hidup bahagia bersama suaminya. Walau hidup sedikit sulit karena tidak cukup makan, putrimu hanya minta sedikit baras atau biji-bijian. Besok kamu bawakan saja dua karung ukuran sedang, aku akan membuat surat balasan dan kirim bersama."
Mendengar bahwa putrinya hidup baik di keluarga suaminya dan hanya ingin meminta sedikit beras untuk menambah makanan di rumah, pasangan suami istri yang berusia enam puluhan itu akan datang besok dengan dua karung makanan mentah.
Fang yang tahu apa sebenarnya yang tertulis melihat ke arah Buwin. "Paman kamu berbohong.'
Melihat ke bawah pada anak yang dipangku, "kamu bisa membaca?"
Fang yang tidak sadar memperlihatkan ekor yang sudah lama disembunyikan turun dari pangkuan Buwin dan pamit pulang. "Paman, aku pulang dulu ya. Ibu dan ayah pasti sudah selesai bekerja dan menunggu aku pulang untuk makan bersama. Dadah!"
Jadi bisa membaca atau tidak? Buwin yang ditinggal dalam dilema melupakan kejadian barusan dan mengambil lembar kertas baru. Anak tidak berbakti! Menikahi pria dari desa lain, tidak pernah kembali untuk sekedar menjenguk ibu dan ayahnya, malah mengirim surat agar orang tuanya menjual harta benda mereka demi membayar hutang keluarga suami!
Buwin membubuhkan poin hukum-hukum wilayah bawah. Mengatakan di dalam surat bagi anak yang ketahuan tidak berbakti dan menyulitkan orang tuanya akan ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Ada hukuman pemukulan sebanyak lima puluh papan dan juga pengusiran.
Anak tidak berbakti adalah kasus yang paling dibenci. Memiliki anak sangat tidak mudah. Orang tua yang melahirkan di usia senja kebanyakan meninggal atau melukai tubuh mereka saat berjuang melahirkan bayi. Pemerintah yang tersentuh atas pengorbanan orang tua prihatin ketika ada laporan bahwa beberapa anak yang sudah dewasa malah membuang orang tua mereka ke dalam hutan atau mencuri uang pensiun hari tua yang dikumpulkan.
Membubuhkan cap resmi. Buwin juga menuliskan ancaman, jika mereka masih berani datang untuk membuat keributan, hari itu juga Buwin sebagai kepala desa akan membawa kasus ini ke pengadilan!
***
Di hari ketiga barulah Baramun bertemu dengan Fang. Bocah gendut dengan pakaian indah setengah merangkak menuju tempat persembunyian Baramun.
"Kamu masih ingat kalau aku masih disini?!"
Fang memutar bola mata. "Tidak usah mengeluh. Aku masih anak-anak, bukan tugasku bertanggung jawab atas kamu!"
Kini Baramun sendiri yang malu.
Sebagai orang dewasa, perkataan Fang ada benarnya. "Percakapan tempo hari. Sebenarnya apa yang ingin kamu beritahukan padaku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Buang Sengketa
sayang kalo fang jadi dewasa....hahaha
2023-07-28
2