Menoleh kanan kiri, Fang mendorong pelan pintu gubuk yang berderit. Masuk ke dalam gubuk yang setengah ambruk, Fang batuk akibat debu yang tidak sengaja tertiup ketika pintu terbuka.
Sebuah cermin lempeng tembaga yang berkarat di atas meja hias menjadi tujuan Fang. Batu hijau terlihat lusuh tertutup debu dan sarang laba-laba. Mungkin pemilik sebelumnya mengira ini hanya batu biasa dan dijadikan sebagai hiasan pada gagang cermin.
Mencungkil batu, Fang mengintip melalui cahaya yang tembus melewati batu hijau transparan. Dia sangat beruntung! Tertawa geli sendiri, berarti tersisa batu biru yang belum terlihat. Tiga batu dari empat seri batu, satu sudah ditangan Fang, dua yang lain keberadaannya cepat atau lambat akan didapatkan.
Mengantongi batu ke dalam saku dalam pakaian, Fang tetap melanjutkan perjalanan ke hutan. Tidak perlu masuk terlalu dalam, melihat dipinggiran pintu masuk juga bisa menjadi awal mengetahui bidang lapangan. Ditambah masih ada binatang buas yang tinggal di dalam sana, Fang yang sekecil toge hanya jadi santapan mereka kalau gegabah.
"Fang!!"
Mendengar panggilan Gana, Fang bersembunyi di balik pohon. Mengintip sebentar, Gana tidak mencari ke arah sini dan pergi ke arah lain. Hampir saja tertangkap.
Manik mata Fang yang santai berubah drastis menjadi waspada. Tercium bau darah. Ini...makhluk ras telah terluka parah dan bersembunyi disekitar sini! Mengendus seperti anjing pelacak, Fang sampai di hulu sungai. Tubuh besar berlumuran darah dengan sebelah tanduk yang hilang terlihat mengerikan.
Fang berjongkok di samping tubuh sekarat Baramun. Mendorong bahu iblis itu tapi tidak ada perlawanan sama sekali. Ck, tanpa kekuatan ilahi, makhluk ras sangat mudah terbunuh. Melihat luka sobek pedang, Baramun pasti melawan sekuat tenaga hanya saja tidak dapat bertahan dan terpojok. Kaki kanan yang bengkok, mungkin saja melompat dari ketinggian untuk mengindari serangan.
Menyentuh separuh tanduk patah. Dari bentuk potongan ini, penyerang yang menyerang Baramun adalah bandit lihai yang datang untuk merampok dan mengetahui status Baramun sebagai iblis.
"Kamu masih hidup?"
Baramun yang mengerang sakit, tidak dapat membuka mata sama sekali. Samar mendengar suara anak yang dia kenal. Anak ini yang dicari!
Membuka tutup mulut mirip ikan yang kehabisan nafas, Baramun menggapai gapai kemudian terkulai. Semburan batuk darah berwarna hitam menakuti Fang yang mundur untuk terhindar dari cipratan darah.
Fang mencari sekitar dan menggali segenggam rumput obat yang bermanfaat untuk menghentikan pendarahan. Menyeret Baramun untuk masuk ke dalam air sungai, Iblis yang tidak dapat mengelak harus menelan banyak air dan tersedak.
"Ups, aku tidak bermaksud. Lukamu sangat kotor, bersihkan dan beri obat."
Mencoba sedikit rumput untuk dikunyah, dirasa tidak pahit, Fang mengunyah tanaman obat dan mengaplikasikannya di atas luka Baramun.
"Sakit."
Kunyahan Fang terhenti. "Kudengar tiap luka iblis muda sembuh dan tidak terasa sakit. Apakah karena sebelah tandukmu hilang jadinya terasa sakit?"
Ekspresi Baramun muram. Komplotan bandit tidak saja mengambil sebelah tanduk nya tapi juga melukai sedikit akar ilahinya. Kultivasi tidak berguna sama sekali, wilayah bawah tidak mempunyai aura untuk diserap. Luka pada tubuhnya tidak dapat sembuh secepat ketika dia diluar wilayah bawah.
Fang yang lidahnya mati rasa terus mengunyah obat meludahkan obat terakhir untuk di tempel pada bagian wajah Baramun yang tersayat.
"Sebentar lagi gelap. Binatang buas terkadang turun ketika mencium bau darah, besok aku akan datang lagi untuk melihat. Hati-hati."
Tidak mau dibuat repot, Fang meninggalkan Baramun yang masih berbaring di hilir sungai. Tubuh iblis seberat gajah! Tangan kecilnya tidak punya banyak tenaga untuk menyeretnya mencari tempat tinggal.
***
Luka-luka Baramun mulai berhenti berdarah dua jam kemudian. Memaksakan diri untuk duduk, Baramun menyentuh pergelangan kakinya yang patah. Berekspresi sakit, satu hentakan mengembalikan tulang ke posisi semula.
Menyeret tubuh dengan kedua tangan, Baramun tidak berani pergi terlalu jauh masuk ke dalam hutan tapi juga mencari tempat persembunyian yang tidak mudah ditemukan. Khawatir seseorang mungkin lewat dan menangkapnya.
Berbaring di antara semak belukar yang lebat, terdapat berry berwarna merah, mencoba satu, Baramun meludah. Rasa asam dan sepat, buah ini tidak bisa dimakan oleh ras iblis.
Menatap langit yang gelap gulita tanpa bulan atau bintang, perasaan jelek mampir. Sepersekian detik langit menurunkan air. Hujan yang semula ringan menjadi lebat. Baramun mengutuk kesialan hari ini. Sejak bertemu Fang, keberuntungannya hilang tidak bersisa.
Tertiup angin dingin, Fang bersin-bersin. Menyentuh hidung, gatal dan kembali bersin.
"Siapa sih yang memikirkan aku!"
***
Fang yang tidak ikut turun ke sawah berkata tetap tinggal di rumah. Menyaksikan kedua orang tua itu pergi, Fang membuka pintu dapur. Masih banyak sisa makanan, Fang mengambil dua roti tipis lebar dan juga makanan kering yang disimpan dalam guci. Mengambil kain bersih dan ditaruh disana untuk dibawa.
Makanan ini tidak enak di lidah jika dimakan oleh makhluk lain selain manusia, tapi tanpa makan, Baramun bisa mati kelaparan!
Fang yang tidak membeda-bedakan, tidak membenci ras iblis yang telah mengambil alih wilayah bawah. Kalau saja tatanan dunia adil, tidak akan ada yang berlomba-lomba menjadi terkuak.
Selama kamu terlihat tidak berguna, jangan salahkan orang lain kalau merasa hidup itu sulit. Kekuatan adalah cara tercepat untuk diakui.
Tiba di hilir sungai, Fang tidak menemukan Baramun.
"Iblis?"
Sudut mulut Baramun berkedut. Bocah itu memanggil nya tanpa rasa takut. Baramun menggerakkan semak tempat dia tinggal.
Fang jadi kasihan. Seluruh tubuh Baramun lembab akibat hujan semalam. Tanpa tempat berteduh dan tidak mudah bergerak, Baramun hanya bisa bertahan ditengah dinginnya malam.
"Aku membawakan kamu makanan dan pakaian ganti. Ini milik ayahku, sedikit sempit tapi lebih baik dibandingkan baju basah mu."
Baramun mengambil baju ganti dan tanpa malu melepas pakaian di depan Fang. Baju kering memang lebih nyaman, Baramun mengucap terima kasih dengan canggung.
Fang tidak mengatakan apapun, mendorong bungkusan kain berisi makanan yang dia bawa. "Makan ini mungkin tidak sesuai selera mu, tapi tidak ada makanan roh disini."
Mengigit roti, "ini tidak seburuk buah merah yang ku makan kemarin malam."
Fang tidak duduk bersama untuk menunggui Baramun makan, luka-luka ditubuh Baramun terlihat lebih mengerikan setelah darah menghilang. Luka lebar yang menganga perlu di jahit.
"Lukamu perlu di jahit. Tunggu sebentar."
Disisi timur pintu masuk hutan tinggal semut sebesar biji jagung yang punya mulut tajam. Fang pernah melihat Juan mengumpulkan semut jenis ini untuk menjahit luka robek di kaki pasien.
Menemukan sarang semut, Fang mencoba satu dan ditaruh di antara kain lengannya, mematahkan bagian tubuh, kepala semut tetap tinggal dan sulit untuk ditarik. Memang cocok untuk jadi bahan menjahit luka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Buang Sengketa
Haha....fang ada aja....malah di kawani...bisa jadi tukang bajak sawah bapaknya ini si baramun 🤣🤣🤣
2023-07-27
2