Ulang tahun Fang tepat di awal musim semi. Tahun-tahun sebelumnya Gana dan Aira tidak membuatkan pesta ulang tahun karena merasa Fang masih terlalu kecil dan tidak akan mengingat apapun.
Fang yang tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulangtahunnya, bangun dengan perasaan lapar. Mencium aroma manis, Fang mengintip dapur. Tidak ada siapapun, lalu darimana wangi ini berasal? Apakah dari rumah paman Luhan?
"Bu? Ayah?"
Kemana perginya mereka?
Fang merasakan sengatan kecil. Ayah tidak akan pernah mengecualikan dirinya!
Kembali ke kamar, Fang tidak menemukan jejak Gana ataupun Aira. Benar-benar meninggalkan dirinya sendirian di rumah?!
Sebagai anak yang mulai tumbuh besar, pastinya Gana dan Aira tidak akan selalu membawa dirinya kemana-mana bersama mereka seperti gantungan. Namun, tidak bisakah mereka pamit sebelum pergi?
Lupakan saja.
Musim membajak sawah tiba. Gana dan Aira mungkin saja harus pergi membeli bibit dan sengaja tidak membawanya.
Karena punya waktu sendirian, Fang melirik lemari pakaian di kamar. Mandi dan berganti pakaian sendiri, Fang berencana pergi ke hutan di bukit rendah tidak jauh dari desa.
Masalah batu-batu yang dapat membangkitkan kekuatan ilahi, Fang ingin melihat peruntungan. Mungkin saja semua batu itu tidak selangka di masa depan, sekali lewat dan memungutnya sepanjang perjalanan?! Hehe.
Hutan adalah tempat yang sering dijadikan para senior untuk menyembuhkannya harta-harta yang mereka kumpulkan. Yakin orang tuanya tidak akan kembali begitu cepat kalau mereka mengunjungi kota kabupaten, Fang yang membuka pintu kamar dikejutkan dengan teriakan riuh.
(´⊙ω⊙`)!
Paman Luhan mendorong alat panah kecil yang dibuat sendiri.
Manda juga memberi dua pakaian yang dijahit sejak sebulan lalu.
Juan yang tidak mau repot-repot memberi kantung kecil wewangian obat.
Buwin juga datang! Kepala desa ikut berpartisipasi untuk menambah keriuhan acara. Mengikat dua ekor ayam besar sebagai hadiah, hitung-hitungan dapat dipotong dan dimakan Fang kalau bocah itu mau makan ayam.
Tangan Fang yang kecil tidak dapat menampung hadiah lagi. "Bu..." Panggilnya untuk meminta bantuan. Aira yang tidak berdiri jauh pura-pura tidak melihat.
Acara ulang tahun Fang mengundang hampir seluruh penduduk desa untuk makan besar. Gana menyewa dua koki dari restoran terbaik di kota kabupaten dan meminjam dapur rumah milik Luhan untuk memasak sejak pukul lima pagi.
Meja-meja panjang dibawa oleh beberapa keluarga agar muat banyak orang untuk duduk, sebelum pukul delapan pagi, semua orang makan dalam kegembiraan.
Bintang utama, Fang diberi tempat duduk ekslusif tengah, mempunyai piring yang lebih banyak untuk dimakan sendirian. Gana yang selesai menyambut semua tamu dan memindahkan hadiah ulang tahun Fang ke dalam kamar duduk di samping Fang.
Mengetuk sumpit untuk mulai makan, Gana merobek bagian bawah paha untuk ditaruh di mangkuk Fang. "Makan yang banyak!"
***
Rencana berpergian tertunda. Fang yang kenyang menatap penuh keluhan pada tumpukan hadiah yang tidak tahu harus dibawa kemana! Umurnya bukan empat tahun!
Gana yang paling heboh, mengirim semua tamu undangan pulang, pria itu telah sibuk melihat ini dan itu lalu meminta Fang untuk mencoba. Duduk di atas kuda goyang yang entah diberikan oleh siapa, Fang yang dicintai makin menyukai kehidupan ke dua ini.
"Ayah, paman Buwin membawa dua ekor ayam. Ayo kita panggang! Oh, di rebus juga enak. Rebusan yang dimasak ibu sangat enak."
Daripada mainan atau barang lain, dua ekor pemberian Buwin adalah yang paling berharga dimata Fang.
"Kamu lapar? Lagi?"
Fang memerah, "Nanti. Aku laparnya nanti!" Malu ditanya selalu merasa lapar, Fang bersembunyi di kamar untuk menenangkan diri.
Baru menutup pintu, Fang kembali membukanya. "Ayah, hadiah apa yang kamu hadiahkan?"
"Buahaahahhaa."
Lima hari kemudian hadiah dari Gana dan Aira untuk Fang adalah sebuah kamar tidur. Putra semata wayang telah tumbuh makin besar, tidak baik jika dibiasakan tidur bersama dan membuat Fang menjadi pribadi manja.
Fang yang sangat teramat mandiri (눈‸눈)
***
Baramun dan dua iblis pangkat rendah menyamar sebagai elf. Berbaris menunggu arai pelindung terbuka, tiga iblis yang mempunyai misi menangkap Fang menahan diri agar tidak tergoda oleh banyaknya manusia untuk dimakan.
Sejak seratus tahun lalu, Iblis tidak lagi menahan diri untuk minum darah. Meninggalkan kebiasaan minum darah makhluk roh, Kuro sang raja Iblis telah mengizinkan semua dari kalangan mereka untuk menculik manusia di kegelapan dan minum darah mereka agar mempercepat kultivasi.
Dua bawahan iblis tidak dapat bertahan lama. Beresiko ketahuan dan dicurigai ketika berubah bentuk asli, Baramun mengusir dua iblis kecil dan masuk sendirian ke dalam wilayah bawah.
Saat melewati batas arai, perasaan ditekan pada bagian dentian kekuatan ilahi mengaburkan pandang Baramun. Penjaga pintu mengetuk tongkat panjang, meminta semua makhluk ras lain yang datang agar tidak terburu-buru masuk.
Menarik nafas kuat-kuat, Baramun menegakkan tubuh. Dari pintu masuk ini menuju desa tempat tinggal bocah itu berada, perlu waktu dua hari dengan kereta. Baramun mencari sekitar dan menyewa kereta kuda agar lebih cepat sampai.
Belum setengah perjalanan di lalui, kereta Baramun dicegat oleh bandit. Kusir yang ketakutan menarik tali kekang yang menyebabkan gerbong terbalik. Baramun yang tidak siap terlempar hingga tangan kirinya patah.
"Orang ini miskin!" Pemimpin bandit yang tidak menemukan barang berharga di dalam gerbong meludah kesal. "Kembali."
Kusir menangisi gerbongnya yang rusak parah, mencoba tegar dan akan memberi bantuan pada tuan yang menyewa keretanya, kusir itu dibuat terkancing kencing. Separuh wajah Baramun memperlihatkan wajah aslinya.
Nampaknya luka pada tangan yang patah membuat Baramun kehilangan kendali untuk menyamar. Kusir yang masih berpikir rasional bergegas meninggalkan kuda dan gerbongnya, berlari kembali menuju ibukota untuk melaporkan bahwa ada iblis yang menyamar telah masuk ke dalam wilayah bawah.
"Hey!!" Baramun mengulurkan tangan tapi nihil. Tali yang biasanya muncul dari telapak tangan tidak keluar. Menyeret tubuh dari runtuhan gerbong kereta, Baramun menyaksikan kalau para bandit telah kembali.
"Wow, ini iblis nyata!"
"Hahaha, tidak salah mengikuti intuisi bos. Kudengar tanduk iblis dijual dengan harga tinggi di wilayah menengah."
Baramun mengutuk dalam hati.
Memegang tangan yang patah, Baramun berlari dari kepungan bandit. Tawa hina yang mengejar Baramun menjadikan jendral iblis makin penuh dendam. Ketika wilayah bawah berhasil direbut, kelompok pertama yang akan dia bunuh adalah para Bandit ini!
***
Fang yang tidak tahu apa yang menunggunya, tengah bersembunyi dari kejaran Gana. Akhir-akhir ini, ayah tuanya suka sekali menyuruhnya membersihkan kandang ayam atau mengambil rumput untuk makan sapi.
Melewati gubuk reyot tidak berpenghuni, Fang berjalan mundur untuk melihat ke dalam. Batu Hijau!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Buang Sengketa
hahahaha.....kasihan iblis nya 🤣🤣🤣
2023-07-25
2