Ch. 13: Pecahan Memori

Dibanggakan, Fang merasa penuh. Selama guru percaya dan selalu disisinya, itu sudah cukup.

Tapi orang akan mati.

Setiap pertemuan pasti bertemu dengan perpisahan.

Guru meninggal tanpa mengatakan apapun. Fang yang berangan-angan akan tinggal di akademi sampai dia menikah dan mempunyai anak, melepaskan kursi pewaris dan keluar dari perebutan kekuasaan. Senior yang bersikap baik padanya di depan guru ketika masih hidup tidak mengatakan apapun tentang Fang yang memilih keluar dari akademi. Toh berkurang satu orang sama dengan berkurang satu lawan.

Dihari yang sama setelah pemakaman, Fang mengepak barang miliknya. Tidak banyak benda, hanya dua pakaian ganti, pedang dan belati lalu satu-satunya mainan yang dibelikan guru.

Meninggalkan akademi, Fang yang tidak punya tujuan berdiri lama di depan pintu masuk akademi yang tertutup rapat. Nostalgia yang tersirat hilang di detik Fang berbalik badan.

Tempat pertama yang didatangi Fang adalah kota dimana Fang dibuang. Belasan tahun sudah, tak seorangpun mengingat tentang bayi yang pernah dibuang disini. Atau bukan dirinya saja yang pernah dibuang?

Tertawa sarkastik, sesekali Fang berharap mempunyai keluarga untuk tempat dia pulang. Fang yang melihat sosoknya di kehidupan lalu berjalan dengan punggung kesepian, mengepalkan kedua tangan.

Kenangan diperlakukan cuek dimasa lalu dan diperhatikan oleh dua orang tua dimasa kini membuat Fang merasakan sesak yang luar biasa.

Melihat dirinya yang dari usia dua puluhan menjadi empat puluhan dalam sekejap mata. Tidak ada keluarga, tidak ada kerabat atau siapapun. Setiap kali dia berhasil meningkatkan level kekuatan ilahi, maka tiap kali itu juga Fang makin merasa kesepian.

Fang yang tidak terkalahkan menjadi pendekar pedang yang ditakuti. Penjelajahan yang Fang lakukan berhasil mengumpulkan segala informasi dari penjuru dunia untuk mempercepat peningkatan level ke tingkat surgawi.

Orang-orang yang iri tidak bisa duduk diam, sekelompok pendekar yang ditolak Fang untuk masuk aliansi, bergabung untuk merampok harta Fang, membayar tiga pembunuh bayaran, berharap harta Fang bisa meningkatkan level kekuatan ilahi mereka.

Tidak punya tempat untuk berlindung, Fang mendesah tertekan untuk dirinya yang lalu.

"Panasnya masih belum turun?"

Juan menggeleng. "Obat yang diminum belum bereaksi. Tunggu saja dalam satu atau dua jam, jika masih demam bawa ke rumah sakit kota."

Gana tidak mau menunggu. Aira juga cemas putranya tidak akan selamat jika terus menunggu, mengambil pakaian tebal milik Fang dan memakaikannya. Gana dan Aira menyewa gerobak sapi Buwin, dimalam hari, sepasang suami istri pergi ke kota kabupaten dan menunggu di depan gerbang sampai gerbang dibuka pukul empat.

Gana memeluk Fang erat. Sesekali putranya mengigau dengan bahasa yang tidak dimengerti, "ssttt, sakitnya akan hilang. Sakitnya akan pergi sebentar lagi" Ucap Gana untuk menenangkan Fang dan dirinya sendiri.

Aira menghapus air mata diujung matanya. Cemas dan ketakutan.

"Apakah putra kita akan di ambil oleh Yang Maha Agung?" Aira yang tidak tahan menangis makin sedih. Gana tidak mengatakan apapun, tetapi setiap detik yang berlalu seperti tahunan.

Tepat pukul empat, gong dipukul dan pintu gerbang dibuka. Gana bergegas menarik tali kekang dengan satu tangan menuju rumah sakit terbesar di kota kabupaten. Tabib magang yang baru membuka pintu tidak menyangka ada pengunjung sepagi ini.

"Dokter, tolong lihat anakku."

Dokter magang yang melihat balita berwajah kemerahan dalam dekapan Gana meminta Gana menaruh Fang di atas ranjang kayu beralas tikar. "Dokter kepala ada di dalam, tunggu sebentar."

***

Tabib mengulurkan tangan untuk memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan Fang. Menangkap nadi yang halus dan lemah, tabib menetap sepasang suami istri tapi belum berani untuk menyerah.

Sering kali anak-anak sakit berujung kehilangan nyawa. Kematian anak biasanya disebabkan demam, cacar, dan juga diare .

"Sudah berapa hari dia demam?"

"Semalam. Apakah serius?" Tanya Aira gugup.

Tabib menarik nafas lega. "Anak-anak mudah sakit. Kalau demam tinggi dibiarkan seharian atau berhari-hari, anakmu bisa bodoh." atau mati. Tapi dua kata terakhir tidak perlu dikatakan dan menambah pikiran sepasang suami yang gugup ini.

"Dani, pergi ambil temulawak dan daun peppermint. Masak bersama dua mangkuk air lalu tambahkan sedikit madu."

Tabib magang melakukan instruksi. Keluar dari ruang pemeriksaan untuk memasak obat.

Selesai diberi minum obat, Fang masih perlu minum obat sampai demamnya reda. Membeli enam kantung obat. Gana menemukan kalau Buwin menunggu di dekat penitipan gerobak sapi.

"Fang baik-baik saja kan? Apa kata dokter di balai pengobatan?"

Gana membantu Aira naik ke atas gerobak. membetulkan letak selimut Fang lalu duduk di kursi depan gerobak bersama Buwin. "Beruntung kami tidak menunggu dan mendengarkan saran Juan untuk pergi ke kota kabupaten."

Buwin menepuk bahu Gana, "lain kali lebih berhati-hati saja. Anak-anak mudah masuk angin dan sakit"

Penyakit Fang pergi secepat penyakit itu datang. Sore hari setelah minum obat yang ketiga kali, tubuh Fang yang tidak demam dan pusing hanya merasakan perasaan lemas.

"Aku ingin daging tumis bawang putih. Ingin ikan kukus. Tahu goreng kecap. Akh, lobak asam juga." Fang yang berliur membayangkan semua makanan yang dia sebutkan. Semua khayalan tentang makanan terjadi karena Aira hanya memberi makan Fang bubur tawar tanpa kecap dan penyedap lain!

"Sembuh dulu. Setelah kamu sehat, kamu boleh makan apa saja."

Karena Fang sakit, diet makan Fang sangat diperhatikan. Tidak mendapat makanan yang dia mau, Fang makin lemas. Tunggu dirinya sembuh dan dia akan melunasi hutan ini!

***

Aira mendesah sedih. Baju Fang kelonggaran dibagian pinggang. Setelah sembuh dari sakit, daging di tubuh Fang menghilang begitu banyak.

Ditemani cahaya lilin, Aira mengambil jarum dan benang untuk membuat ikat pinggang.

Gana yang duduk setengah bersandar di atas ranjang membetulkan letak tidur Fang. Menarik lembut guling yang setengah basah oleh iler, "Tubuh bayi jadi kurusan. Besok bawa untuk diperiksa Juan. Tambahkan tonik untuk mempercepat pemulihan."

"Aku juga membuat rencana. Lihat, celananya pun tidak bisa dipakai tanpa sabuk. Menyesal berharap agar Fang kurus, bayi lebih lucu dengan semua lemak itu."

Fang yang terlelap tidak tahu bahwa hari-hari untuk sebulan ke depan adalah minum tonik pahit.

***

Fang yang dipegang oleh Aira mengetuk pintu rumah Juan dan Manda.

Pintu dibuka oleh Manda yang senang melihat Fang telah sembuh. Setengah membungkuk, Manda bertanya "Fang sudah lebih baik?"

"Manda! Kamu terlihat luar biasa seperti biasanya. Aku sudah sembuh! obat itu tidak enak jadi aku sehat."

"Juan ada di rumah?" Aira bertanya setelah dipersilakan masuk ke dalam pekarangan.

"Aku disini." Juan yang menyadari ada tamu yang datang keluar untuk melihat.

Aira membisikan sesuatu pada Manda dan Manda melirik Fang. "Juan, Aira ingin memesan tonik pemulihan." Kata Manda dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Fang.

Juan kini ikut melihat Fang dengan penuh arti. Bocah yang suka makan dan pemilih soal kelezatan, nampaknya masih harus menderita untuk sesaat.

Episodes
1 Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2 Ch. 02: Kelahiran Putra
3 Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4 Ch. 04: Catatan Sipil
5 Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6 Ch. 06: Derita Fang
7 Ch. 07: Episode Kecil
8 Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9 Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10 Ch. 10: Fang Doyan Makan
11 Ch. 11: Kota Kabupaten
12 Ch. 12: Dipukul
13 Ch. 13: Pecahan Memori
14 Ch. 14: Pesta Singkat
15 Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16 Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17 Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18 Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19 Ch. 19: Berburu Kelinci
20 Ch. 20: Baramun Pindah
21 Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22 Ch. 22: Pasangan Elf
23 Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24 Ch. 24: Pergi Sekolah
25 Ch. 25: Hukuman Part 1
26 Ch. 26: Hukuman Part 2
27 Ch. 27: Cengeng
28 Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29 Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30 Ch. 30: Monster Level Surgawi
31 Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32 Ch. 32: Jatuh Koma
33 Ch. 33: Awal
34 Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35 Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36 Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37 Ch. 37: Membujuk
38 Ch. 38: Penjual Pil
39 Ch. 39
40 Ch. 40: Membayar
41 Ch. 41: Kelicikan
42 Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43 Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44 Ch. 44: Naik Level
45 Ch. 45:
46 Ch. 46: Ekor
47 Ch. 47: Peringkat
48 Ch. 48
49 Ch. 49
50 Ch. 50
51 Ch. 51
52 Ch. 52
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2
Ch. 02: Kelahiran Putra
3
Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4
Ch. 04: Catatan Sipil
5
Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6
Ch. 06: Derita Fang
7
Ch. 07: Episode Kecil
8
Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9
Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10
Ch. 10: Fang Doyan Makan
11
Ch. 11: Kota Kabupaten
12
Ch. 12: Dipukul
13
Ch. 13: Pecahan Memori
14
Ch. 14: Pesta Singkat
15
Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16
Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17
Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18
Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19
Ch. 19: Berburu Kelinci
20
Ch. 20: Baramun Pindah
21
Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22
Ch. 22: Pasangan Elf
23
Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24
Ch. 24: Pergi Sekolah
25
Ch. 25: Hukuman Part 1
26
Ch. 26: Hukuman Part 2
27
Ch. 27: Cengeng
28
Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29
Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30
Ch. 30: Monster Level Surgawi
31
Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32
Ch. 32: Jatuh Koma
33
Ch. 33: Awal
34
Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35
Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36
Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37
Ch. 37: Membujuk
38
Ch. 38: Penjual Pil
39
Ch. 39
40
Ch. 40: Membayar
41
Ch. 41: Kelicikan
42
Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43
Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44
Ch. 44: Naik Level
45
Ch. 45:
46
Ch. 46: Ekor
47
Ch. 47: Peringkat
48
Ch. 48
49
Ch. 49
50
Ch. 50
51
Ch. 51
52
Ch. 52

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!