Membayar makanan, Gana yang berbalik malah mendapati Fang sudah tidak ada ditempat nya. Makanan yang terbungkus itu jatuh ke tanah, Gana merasakan perasaan pusing dan jantung berdegup kencang. Gana yang berusaha tetap tenang bertanya pada pengunjung yang duduk tidak jauh dari meja tempat Fang makan.
"Anak laki-laki? Aku tidak melihatnya."
"Coba ingat-ingat lagi. Anakku bertubuh gemuk, dia, dia sangat lucu. Warga desa mengatakan kalau anakku mudah menarik perhatian orang."
Pelayan toko yang takut bisnis kuenya akan berdampak atas hilangnya seorang anak di tempat dia bekerja, ikut bertanya pada beberapa pengunjung yang sudah datang lebih awal.
"Mungkinkah penculikan anak datang?" Seorang kakek yang datang bersama cucunya memeluk seorang anak perempuan berumur sepuluh tahun. "Ayo kita pulang!"
Gana merasakan kakinya lemah. Penculikan anak?!
"Ayah!!"
Gana berbalik.
Di depan pintu masuk, Fang dengan dua tusuk sate menatapnya tanpa rasa bersalah. "Ayah, aku beli sate. Bayar."
Tanpa omong kosong, Gana yang selalu memanjakan putranya mengambil Fang dan memukuli pantat Fang.
Ekspresinya Fang terdistorsi.
Apa-apaan!
Pukulan pertama. Fang yang tidak siap malah kehilangan dua tusuk sate.
Pukulan kedua. Fang memberontak ingin melepaskan diri.
Melihat hal ini. Eksepsi Gana makin serius. Tidak ada rasa bersalah dan tanda-tanda penyesalan setelah pergi tanpa izin dan pengawasan. Menambah kekuatan pukulan, kali ini lemak ditubuh Fang tidak dapat mengahalau rasa panas atas tepukan cinta Gana.
Fang yang kesakitan berekspresi rumit.
"Ayah. sakit." Keluh Fang tapi tidak digubris.
Gana tidak peduli dan terus memukul sampai pukulan ke lima. Fang yang tubuhnya tidak kebal sakit menangis tanpa suara. Ekspresinya tenang, air mata fisiologis wajar kan? Dirinya orang dewasa yang tidak menangis hanya karena tepukan ringan!
Setelah hukuman, Gana menarik Fang berjalan keluar dan kembali ke tempat sapi itu di beli. Padahal berencana membeli gerobak sekaligus, tapi setelah kejadian hilangnya Fang tanpa izin, mood belanja Gana hilang total.
Berjalan setengah terseret, sepatu Fang terlepas. Tidak mau mendengarkan, Fang menatap sayang pada sepatu baru itu. Sepanjang perjalanan kembali, Fang tidak mau bicara dan begitupun dengan Gana.
Penjual sate yang akan menagih uang juga tidak berani. Pelayan toko kue yang mendengar penjelasan penjual sate membayar apa yang dibutuhkan oleh Fang.
Setidaknya alarm barusan adalah alarm palsu. Kalau benar ada yang hilang, mungkin tokonya harus tutup.
***
Pintu pagar dibuka kasar. Gana yang masih menyeret Fang pulang, melepaskan tangan putranya dan mengikat sapi di depan halaman rumah.
Aira yang mendengar suara ribut, sedikit tidak yakin. "Kalian kenapa? Fang, kemana sepatunya?"
Sebelumnya dua kaki Fang sakit dan sekarang semakin sakit karena Gana tidak menggendongnya atau membiarkan dia duduk di atas sapi. Fang yang marah, melihat Gana dengan mata marah. "Aku benci ayah!"
Tangan Gana yang mengikat tali terhenti sesaat lalu terus melanjutkan. Aira mengendong Fang, membuka sebelah kaus kaki Fang yang kotor, "ayahmu membiarkan kamu berjalan pulang?"
Saat ini hati Fang sedikit sensitif. Perasaan sakit di pantat dan kaki membuat dirinya ingin menangis ketika Aira bertanya padanya. Air mata jatuh demi satu tapi tidak ada raungan yang biasanya dilakukan oleh Fang.
Memeluk Fang, Aira baru tahu kalau pakaian Fang basah oleh keringat. "Mandi dulu ya."
Dua kaki Fang yang lecet diberi minyak, sedikit perih tapi akan cepat sembuh dalam satu atau dua hari. Fang yang melihat Gana masuk ke dalam kamar membuang muka.
Aira melihat Fang lalu pada Gana. bertanya pada suaminya dengan isyarat mata. Gana menggeleng, lalu membuka pintu kamar agar Aira keluar dulu.
Setelah hanya tinggal Gana dan Fang di dalam kamar tidur. Gana berjongkok di depan Fang yang tidak mau melihat padanya.
"Ayah salah telah memukul kamu terlalu keras. Tapi ayah tidak menyesal."
Bibir bawah Fang digigit.
"Penculik anak adalah profesi paling menguntungkan tanpa perlu bekerja keras. Orang jahat yang pemalas akan memata-matai anak-anak kecil yang suka lepas dari pengawasan orang dewasa."
Fang mengelap air mata dengan ujung lengan pakaian. "Aku bukan anak kecil."
"Kamu masih kecil. Fang, jika benar barusan kamu diculik, ibu dan ayah akan mati."
"Jika kamu hilang dan tidak dapat ditemukan di manapun, Ayah dan ibu lebih baik mati."
Dua tangan kecil Fang terangkat, memeluk erat leher Gana. Sekarang ini bukan tangisan palsu, ini tangisan tulis Fang untuk masa lalu dan sekarang.
Tumbuh tanpa orang tua atau saudara, Fang hanya dapat mengandalkan diri sendiri agar tidak ditendang keluar oleh guru. Mau terluka atau lapar, tidak akan ada yang bertanya atau memperhatikan dirinya.
Dalam hidup ini, kehadiran Gana dan aira adalah pengalaman baru yang tidak pernah dirinya dapat di kehidupan sebelumnya.
Aira yang tidak tahu cerita dibalik pelukan erat dan tangis sedih Fang hanya menguping dari balik pintu. Setelah yakin kalau anak dan suaminya tidak bertengkar, Aira kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak.
***
Mata Fang bengkak ditambah lemak bulat di pipi, Fang tidak dapat membuka mata sama sekali. Sumpit dan sendok yang dipakai selalu salah, hampir makanan dalam piring tumpah.
Gana yang tidak tahan memangku Fang, menyuapi anak itu yang sangat lapar setelah menangis lama. Aira juga tidak melarang Fang mengurangi porsi makannya, malah membantu mengambil nasi tambahan.
Perut kenyang dan juga kelelahan mental, kelopak mata Fang menjadi berat. Berbaring dalam buaian Gana, Fang tertidur.
Gana menepuk-nepuk lembut Fang ajar makin terlelap. Yakin sudah tidur nyenyak, Gana menaruh Fang di dalam kamar.
Namun tidur lelap Fang terganggu oleh mimpi buruk. Seolah menonton potongan-potongan memori yang kabur menjadi nyata dan jelas. Fang melihat dirinya yang di kehidupan lalu dibuang oleh ibunya di pinggir pintu masuk gang.
Hawa dingin malam hari tidak menganggu Fang yang dililit kain tebal. Sampai pukul enam pagi esok harinya, Fang yang lapar dan juga merasa tidak nyaman menangis. Tangis Fang bayi tidak bersuara, hawa dingin telah merusak tenggorokan Fang.
Orang-orang yang lewat ada yang mengabaikan dan ada juga yang melihat lalu pergi. Di wilayah atas, anak-anak sering dibuang karena bakat bawaan anak tidak sesuai ekspektasi orang tua setelah mereka lahir.
Mungkin saja, jika guru tidak lewat dan menyelamatkan. Fang yang lapar akan mati di luaran.
Besar tanpa kasih sayang atau kepedulian tak bersyarat, Fang kecil berusaha sangat keras agar guru merasa bangga telah membawanya kembali untuk dibesarkan. Walau akar ilahinya berwarna kuning pudar, Fang yakin, kegigihannya akan terbukti. Dan benar saja, Fang menjadi seorang ahli yang tidak punya bakat bawaan dan disegani ketika usianya belum menginjak usia dua puluhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments