Ch. 11: Kota Kabupaten

Perjalanan dari desa ke kota tidak begitu jauh jika naik gerobak sapi atau kereta kuda. Hanya saja hari ini sudah lewat dari jadwal gerobak sapi yang biasa menyewakan jasa angkut. Gana membetulkan posis Fang yang duduk di atas bahu, berjalan kaki butuh setidaknya tiga atau empat jam.

Langit berawan, matahari sesekali mengintip dan cuaca tidak begitu panas. Fang menggoyangkan kaki lalu bernyanyi lagu dengan lirik yang tidak dimengerti Gana. "Kamu bernyanyi tentang apa?"

"Entah. Aku hanya membuka mulut saja!" Fang berbohong tanpa beban. Itu bukan nyanyian melainkan mantra sihir yang dibaca dengan nada agar mudah dihapal dan ingat. Gawat kalau Fang lupa dasar-dasar Matra sihir!

"Nyanyikan lagi. Ayah akan menghafalnya dan ikut bernyanyi bersama."

Tentu saja Fang tidak menurut. Beresiko jika Gana keceplosan dan didengar oleh bakat sihir. Persembunyian Fang dapat terungkap! Para penyihir akan melihat keganjalan dan menemukan kalau jiwa pada tubuh kecil ini adalah jiwa dari pria paruh baya.

"Fang?"

"Ayah, aku haus. Minum!"

Gana berhenti, menurunkan putranya dan membuka tutup pada tabung bambu yang dia bawa. Perlahan membantu Fang minum.

"Ayo."

Fang memegang tangan Gana, "aku akan berjalan bersama ayah."

"Kamu yakin?"

Mengangguk seperti ayam mematuk, Fang berjalan kaki selama dua jam dan tidak mengeluh. Sebenarnya tumit kakinya sakit, tapi Fang takut Gana akan menyuruhnya membaca mantra sebagai nyanyian.

Pintu masuk kota kabupaten dijaga dua penjaga gemuk besar. Fang mencubit sisi perutnya, akankah dia sebesar itu? Bisakah?

Penjaga menghentikan tiap orang yang akan masuk ke kota kabupaten dan memeriksa tanda pengenal. Tiba giliran Gana, pria itu mengeluarkan selembar kertas sertifikat keluarga tentang nama, alamat tinggal, dan usia. Penjaga melihat cepat dan melepaskan.

Hiruk pikuk kota tidak seramai yang dikira Fang. Orang-orang yang tinggal di wilayah bawah sangat jarang membelanjakan uang mereka dan datang ke kota ketika ada satu atau dua hal yang hilang dan kurang di rumah.

Belanja di pasar untuk kebutuhan memasak dilakukan sebelum matahari terbit, dan sekarang tepat pukul sebelas siang. Warga setempat sudah bekerja atau tinggal di rumah.

Gana berjongkok, mengintip Fang yang wajahnya tertutup topi anyaman bambu. Mencubit pipi Fang, Gana menggendong anaknya di depan. Dalam hati Fang lega, dua kakinya sudah terasa haus. Pegal sekali.

Tujuan pertama ayah dan anak adalah bank untuk menukarkan satu lembar uang kertas dengan sekantong besar koin emas. Petugas yang melayani Gana berkeringat gugup, takut membuat kesalahan menghitung karena belum lama ini bekerja.

Menghitung sebanyak dua kali dan tidak ada kesalahan hitung, Gana keluar dari bank lalu menuju tempat pembelian binatang ternak. Penjaga yang menjual adalah pria muda berpakaian pudar namun bersikap sopan. Gana langsung mengatakan alasan dirinya datang. "Sapi umur berapa yang anda butuhkan? Kemarin dua sapi betina dan satu sapi jantan dewasa dikirim ke tempat kami"

Fang menutup mulut Gana, "masih muda!"

Sapi dewasa tidak ketahuan usia aslinya. Penjual bisa saja berbohong agar dagangan laku. Penjaga juga tidak tersinggung saat Fang memotong pembicaraan. Ayah membawa anaknya datang, kemungkinan besar alasan membeli karena anak itu sendiri.

"Sapi betina remaja beru berumur kurang dari satu tahun. Kemari."

Sapi berukuran lebih kecil dari dua lain berdiri diam di dalam kandang, memakan rumput kering tidak segar. Namun ada yang aneh dari sapi muda, saat berjala kaki kiri depan agak pincang.

"Dia cacat!" Gana nampak tidak puas.

Penjaga bergegas menjelaskan. "Tidak, tidak, tidak. Jangan salah paham dulu. Sapi itu tidak sengaja tersandung yang membuat kali depannya terkilir."

Fang dapat membedakan mana yang patah kaki atau tidak. Tidak ada lengkungan abnormal pada kaki sapi, penjaga berkata jujur.

Gana setengah percaya dan tidak percaya, "Berapa harganya?"

Mengelap kedua tangan bahagia, penjaga mengulurkan salah satu tangan dan isyaratkan angka dengan jari. "Tiga keping emas. Peranakan sapi muda sangat bagus. Kalian tidak akan rugi sama sekali."

Setelah tawar menawar dalam waktu singkat. Gana membayar sebanyak dua koin setengah. "Nanti aku akan kembali membawa sapinya."

Penjaga yang menghitung uang menepuk dada seolah meyakinkan Gana untuk tidak khawatir. "Tentu saja, tentu saja."

***

Toko-toko yang buka kebanyakan menjual benda-benda, Fang yang akan diajak membeli ayam di restoran menarik tangan Gana. "Ayah, kesana."

Masuk ke toko yang menjual pisau belati dan aksesoris. Gana juga tertarik, belati yang dipajang dibuat dengan gagang yang unik dan indah. Fang tidak tertarik dengan itu, tapi matanya tanpa sengaja melihat batu kuning yang satu seri dengan batu merah saat itu!

Sebelum tangan kecilnya menyentuh batu, penjaga toko berdehem. "Batu kuning ini dijual murah, hanya lima puluh koin perak."

Mata Gana membulat. Hampir seharga satu koin emas! "Fang, kamu mau?"

"Mahal. Tidak punya uang." Fang menyentuh kantung di celana, dia hanya punya sepuluh koin perak.

"Ayah yang belikan. Tapi, makanmu harus berkurang. Bagaimana?"

Berpikir serius. Fang tetap memilih tidak membeli. Semua benda berharga tidak begitu penting jika dibandingkan dengan makanan.

"Tidak usah." Fang keluar dari toko dan pergi ke arah restoran.

Gana tercengang.

Penjaga toko juga sedikit kesal. Batu kuning ini salah satu pusaka di toko dan tidak sebanding dengan nasi?!

Malu, Gana batuk untuk mengurangi rasa bersalah. "Dibeli. Ini uangnya."

Penjaga toko mendesah. Pelanggan hari ini cukup aneh.

Fang yang tidak tahu bahwa batu kuning dibeli sudah ngiler melihat counter makanan. Pelayan toko menatap geli, "adik kecil, kamu mau pesan apa?"

Fang menyerahkan seluruh koin perak kepada pelayan, "Kakak, aku mau tahu dan ayam potong kecap!"

Pelayan toko menaruh pesanan Fang di atas piring dan membawa Fang ke meja. Ketika Gana datang, Fang sudah memakan setengah dari ayam potong.

Anak ini tidak ada habis-habisnya.

"Kamu lupa apa kata ibu? Makan siang harus di rumah."

Fang menelan. "Tenang saja ayah. Aku masih punya ruang untuk makan siang nanti!"

Gana gemas. menarik ringan kepangan rambut Fang. "Masih ada lagi yang kamu mau makan?"

Fang mengeluh dalam batin. Ayah tuanya ini selalu berubah-ubah. Tadi melarang, sekarang menawarkan. "Aku mau tambah ayam kecap. tiga."

Mengantri di depan counter makanan, Gana memesan tiga potong ayam dan beberapa cemilan kue kering untuk dibawa pulang.

"Tempat kami juga punya varian kue baru. Apakah tuan ingin mencoba?"

"Rasa apa?"

Pelayan itu menjelaskan. "Ada rasa lemon, sedikit asam tapi masih dapat dikonsumsi oleh anak-anak dan juga rasa Blueberry."

Dua kue yang diperkenalkan pelayan terlihat cantik dan lezat. "Bungkus lima untuk masing-masing varian baru. Lalu yang ini juga."

Terpopuler

Comments

Buang Sengketa

Buang Sengketa

di ganjal ya fang 😆

2023-07-22

3

lihat semua
Episodes
1 Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2 Ch. 02: Kelahiran Putra
3 Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4 Ch. 04: Catatan Sipil
5 Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6 Ch. 06: Derita Fang
7 Ch. 07: Episode Kecil
8 Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9 Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10 Ch. 10: Fang Doyan Makan
11 Ch. 11: Kota Kabupaten
12 Ch. 12: Dipukul
13 Ch. 13: Pecahan Memori
14 Ch. 14: Pesta Singkat
15 Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16 Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17 Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18 Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19 Ch. 19: Berburu Kelinci
20 Ch. 20: Baramun Pindah
21 Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22 Ch. 22: Pasangan Elf
23 Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24 Ch. 24: Pergi Sekolah
25 Ch. 25: Hukuman Part 1
26 Ch. 26: Hukuman Part 2
27 Ch. 27: Cengeng
28 Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29 Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30 Ch. 30: Monster Level Surgawi
31 Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32 Ch. 32: Jatuh Koma
33 Ch. 33: Awal
34 Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35 Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36 Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37 Ch. 37: Membujuk
38 Ch. 38: Penjual Pil
39 Ch. 39
40 Ch. 40: Membayar
41 Ch. 41: Kelicikan
42 Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43 Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44 Ch. 44: Naik Level
45 Ch. 45:
46 Ch. 46: Ekor
47 Ch. 47: Peringkat
48 Ch. 48
49 Ch. 49
50 Ch. 50
51 Ch. 51
52 Ch. 52
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2
Ch. 02: Kelahiran Putra
3
Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4
Ch. 04: Catatan Sipil
5
Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6
Ch. 06: Derita Fang
7
Ch. 07: Episode Kecil
8
Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9
Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10
Ch. 10: Fang Doyan Makan
11
Ch. 11: Kota Kabupaten
12
Ch. 12: Dipukul
13
Ch. 13: Pecahan Memori
14
Ch. 14: Pesta Singkat
15
Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16
Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17
Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18
Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19
Ch. 19: Berburu Kelinci
20
Ch. 20: Baramun Pindah
21
Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22
Ch. 22: Pasangan Elf
23
Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24
Ch. 24: Pergi Sekolah
25
Ch. 25: Hukuman Part 1
26
Ch. 26: Hukuman Part 2
27
Ch. 27: Cengeng
28
Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29
Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30
Ch. 30: Monster Level Surgawi
31
Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32
Ch. 32: Jatuh Koma
33
Ch. 33: Awal
34
Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35
Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36
Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37
Ch. 37: Membujuk
38
Ch. 38: Penjual Pil
39
Ch. 39
40
Ch. 40: Membayar
41
Ch. 41: Kelicikan
42
Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43
Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44
Ch. 44: Naik Level
45
Ch. 45:
46
Ch. 46: Ekor
47
Ch. 47: Peringkat
48
Ch. 48
49
Ch. 49
50
Ch. 50
51
Ch. 51
52
Ch. 52

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!