Gana menyelamatkan Fang dari jeratan kerinduan Luhan yang belum memiliki anak. "Jangan ganggu anakku. Dia menangis, aku tidak akan bisa menghentikan."
Fang yang dikembalikan untuk berpijak di tanah berlari duluan menuju lahan sawah. Meludah sisa bakpao, ekspresi pada wajah Fang seperti makan kotoran.
Semua makanan enak, tapi kacang hijau tidak sama sekali. Perasaan lengket di antara rongga mulut...tidak dapat dijabarkan! Pokoknya Fang tidak suka.
Lahan sawah Gana sudah tidak ada rumput liar, jadi hari ini hanya akan membalik tanah. belasan hektar tanah dikerjakan sendiri oleh Gana. Dibawah matahari pagi yang belum terik, Gana mengayunkan cangkul, kecepatan teratur, sebelum pukul dua siang sudah setengah lahan hektar dibalik tanahnya.
Kembali pulang untuk makan siang, Fang yang digendong di atas bahu Gana menarik sejumput rambut Gana sebagai pegangan. "Ayah, beli sapi. Kuda juga boleh."
Gana memegang dua kali Fang agar tidak jatuh. "Jangan terlalu aktif. Sapi? Kamu ingin punya kendaraan?"
Fang memutar bola mata, bodoh!
"Ikat sapi dengan papan kayu yang berat. Taruh di sawah berair, lumpur di lahan sawah akan terbalik. Tidak capek."
Langkah kaki Gana terhenti. Ekspresinya aneh. "Mengapa kamu punya ide seperti itu?"
"Ide? apa itu?" Fang menggigit lidah. Lupa kalau usia tubuh ini belum menginjak tiga tahun. Anak jenius saja baru bisa ditentukan ketika mereka bersekolah.
Gana menghilangkan kecurigaan. Anaknya hanya kasihan padanya yang bekerja keras maka dari itu ide tentang binatang ternak dikatakan karena tidak mau melihat dirinya terlalu lelah.
"Mau membeli sapi dengan ayah besok pagi?"
"Aku mau permen buah juga! Beli dua."
Makan siang yang dibuat Aira adalah nasi putih dengan tumis daging jagung. Fang yang kesulitan makan dengan alat makan, menyerah lalu memakai tangannya. Gana yang kesekian kali menyuruh Fang makan menggunakan sendok dan garpu, hanya beralih memungut nasi yang jatuh ke meja atau lantai kayu rumah.
"Nafsu makan Fang semakin hari semakin bertambah. Apa dia akan tumbuh jadi anak gendut?"
Aira mulai cemas. Gemuk memang berkah. Tapi kelebihan berat badan juga bisa menyebabkan banyak penyakit. Juan mengingatkan anak-anak yang kelebihan berat badan dapat sulit bernafas ketika tidur, paling ekstrim adalah mati mendadak.
Fang tutup mulut.
Gendut atau tidak baginya sama saja.
Pertemuan Fang dengan Baramun telah membuka satu pintu yang dia lupakan. Batu merah yang ditanam Baramun di dekat arai pelindung adalah salah satu dari empat jenis batu langka yang jika dikumpulkan dan digabung dapat membentuk kekuatan ilahi pada tubuh manusia biasa.
Orang-orang di tahun itu berlomba mencari kesana kemari setelah kekuatan ilahi mereka hilang atau musnah saat kalah bertarung. Seluruh daratan negeri Gollum dijungkir balik oleh para pemburu harta yang disewa, tapi tidak ada yang menemukan batu terakhir. Batu merah yang ditanam oleh Baramun itulah yang tidak dapat ditemukan hingga pemburu harta menyerah!
Selama tiga batu lain Fang dapatkan, batu merah yang ditanam iblis itu akan dia gali dan gunakan. "Bu, aku mau kertas!"
Aira mengerutkan alis. "Kertas? Kamu masih kecil, untuk apa kertas padahal kamu tidak bisa menulis."
Mata bulat berair Fang beralih pada Gana. Menyuap sesendok penuh nasi, Gana menepuk kepala putranya. "Ayah belikan!"
Tidak setuju, Aira ingin melarang tapi suaminya menatap dengan isyarat agar dia tetap diam. Menidurkan Fang selepas makan siang, Aira mengeluh. "Fang sudah mulai besar. Jangan biasakan memanjakannya! Apa jadinya kalau dia jadi manusia lunak yang tidak dapat menghidupi dirinya sendiri nanti."
"Tidak usah berpikir terlalu banyak. Fang pasti tidak akan begitu. Anak itu sejak dulu suka mengexplore." Gana ke kamar dan mengeluarkan kotak kayu besar dari bawah kasur. Dibukanya kunci kotak dan mengeluarkan dua lembar kertas cek bank untuk ditukarkan seribu koin emas.
"Untuk apa uang itu di ambil?"
"Aku akan membeli sapi. Tidak usah yang dewasa, aku akan beli yang muda untuk dipakai membalik sawah tahun depan."
Gana melipat kertas dan ditaruh di dalam laci. Besok akan diambil untuk di bawa ke kabupaten dan ditukar di bank.
"Aku masih belum selesai mencangkul. Bawakan aku bambu berisi air untuk aku bawa."
Sekarang matahari sudah berada di tengah. Panas dan terik, jika tidak memperhatikan dapat terkena serangan panas dan pingsan.
"Aku akan ikut denganmu." Aira mengambil topi bambu miliknya untuk ikut turun ke tanah bersama.
Tangan Gana terulur. "Mau kemana? Fang di rumah sendirian, kamu tetap tinggal."
***
Fang di dandani sedemikian rupa. Rambut panjang sebahu Fang di kepang sedikit pada bagian depan dan di jepit ke samping.
Selesai bersiap, Fang mencari pedang kayu kecil yang dibeli Gana pada ulang tahunnya yang kedua. Ringan dan mudah dibawa. Fang mengikat pedang pada bagian sabuk celana.
"Ibu~"
Aira mencium pipi Fang dan buat wajah Fang memerah malu. Kehidupan sebelum kebangkitan, Fang adalah anak yang dibuang dan dibesarkan oleh guru. Orang tua yang mengajar ilmu pedang tidak pintar membujuk, Fang yang tahu asalnya adalah anak pungut selalu merasa ketidakamanan. Kalau gagal berlatih akankah guru kecewa dan menyuruhnya pergi dari akademi?
Berpikir selama dirinya semakin kuat gura tidak akan membuangnya, Fang berlatih siang dan malam. Syukurlah kemauan yang gigih menghantarkan Fang menjadi ahli pedang terbaik diantara teman seusianya. Sayang guru meninggal sebelum Fang berumur enam belas. Tidak ingin tinggal di akademi karena tidak ada guru, Fang keluar dari akademi setelah guru dikebumikan.
Menjelajah ke banyak tempat, Fang membeli banyak buku dan juga artefak langka. Mengembara di tahun ke tiga, Fang bertemu penyihir wanita yang tengah sekarat.
Penyihir wanita tidak mau berhutang budi, mewariskan lima scroll kertas gambar arai dan dua buku sihir pemula. Fang tertarik dan belajar mandiri. Ternyata selain punya bakat berpedang, Fang juga mampu melakukan sihir. Ini kekuatan ganda!
Fang makin terkenal.
Banyak orang yang ingin berguru padanya. Tapi ada juga musuh yang dibuat.
"Bu. Aku sudah besar!"
Aira tertawa. Fang suka malu apabila dicium oleh Aira atau Gana. "Dimata ibu dan ayah, Fang selalu bayi keluarga kami."
"Sudah selesai?" Gana yang menunggu mengetuk pintu kamar. Fang membuka pintu kamar, menabrak kaki Gana minta diangkat.
Sial. Pria ini masih sangat kuat walau berat badannya sudah bertambah! Fang cemberut sebentar lalu mengambil sejumput rambut Gana dan berjalan ke luar rumah.
"Ibu aku pergi. Dadah"
Aira melihat kepergian dua orang terkasih. "Jangan bermain lama di kota kabupaten. Makan siang di rumah!"
Fang mendekat pada telinga Gana. "Ayah, beli ayam panggang lalu kita makan sebelum pulang ya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Buang Sengketa
pasti fang sangat sayang sama ortu nya...bocah gembul tiga tahun 😁
2023-07-21
2
douwataxx
Ceritanya bikin ngeri tapi bikin ga bisa berhenti baca 🙈
2023-07-21
1
Phoenix Ikki
Aku nunggu update terbaru setiap harinya, semangat terus author!
2023-07-21
2