Ch. 07: Episode Kecil

Pemakaman dilakukan pada sore hari. Buwin sempat melihat keadaan mayat yang mempunyai luka lebam, sekarang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Melirik suami Jini yang menangis tidak jauh dan sedang dibantu untuk ditenangkan oleh kerabat yang datang melayat, Buwin menghela nafas kusut.

Juan menggeleng ke arah Buwin, permintaan almarhum adalah agar tidak melaporkan suaminya pada pihak berwenang. Mari hormati apa yang diinginkan orang mati. Lagipula, melihat kondisi histeris suami Jini, pria itu akan hidup dalam penyesalan yang teramat.

Manda membantu menutup selembar kain putih pada tubuh Jini yang kaku. Sekelompok pria datang membantu mengangkat mayat dan dibawa ke pemakaman dibalik bukit tidak jauh dari pintu masuk desa. Gana yang ikut membawa mayat sangat bersyukur bahwa istrinya selamat ketika melahirkan Fang. Jika apa yang dialami suami Jini terjadi padanya, Gana mungkin menabrak dinding dan mati ditempat.

Dua wanita memimpin di depan, berjalan dengan membawa dua kain berwarna gelap. Pada hari pemakaman anak-anak dilarang keluar rumah, tapi akan ada yang nakal dan melihat dalam persembunyian.

Sampai di kaki bukit, tidak banyak gundukan makam. Buwin menunjuk ke satu tempat dan dua orang pria bergegas mengambil cangkul dan menggali. Dua wanita yang ikut bersama membentang kain ke dalam lubang, perlahan mayat Jini diturunkan.

"Kubur." Titah Buwin pada dua orang penggali.

"TIDAK!!! LEPASKAN, LEPASKAN AKU. JINIIIII, JINIII."

***

"Suami Jini baik-baik saja?" Aira yang menunggu di rumah bertanya pada Gana yang baru kembali dari pemakaman.

"Menangis histeris. Ketika mayat akan dikubur, pria itu kehilangan kendali dan harus digendong pulang." Gana menjelaskan dengan nada prihatin.

Fang yang mendengar obrolan tersebut berdecak. Orang-orang yang tinggal disini sangat naif. Tidak adakah yang curiga mengapa wanita yang baru saja keguguran tiba-tiba meninggal? Mengapa tidak ada yang curiga tentang penyebab keguguran?!

"Bayinya sudah lapar lagi?" Aira menjadi merasa bersalah. ASI-nya tidak banyak, tapi Fang masih selalu lapar. Sebagai ibu dirinya merasa tidak berguna.

Gana bergegas berganti pakaian bersih, "susu kambing di rumah sudah habis. Aku akan ke rumah kepala desa"

Ingin sekali berteriak. Aku tidak butuh susu!!! Hey, kembali kamu. Fang berceloteh tanpa gigi, kelucuannya dihadiahi ciuman oleh Aira.

Hari itu Fang minum susu sampai perutnya mirip gentong air. Uh, Kembung.

***

Fang berusia satu tahun. Dua pasang kaki gemuknya yang kecil gemetar setiap berusaha berdiri. Siapa bilang belajar berjalan mudah?! Untung tubuh kecil ini punya banyak lemak sebagai bantalan setiap jatuh, tidak sakit sama sekali apabila tersungkur.

Pakaian yang dipakai Fang adalah baju yang dijahitkan Aira untuknya. Berwarna oranye, terang dan semarak. Lalu pada bagian leher ada bel perak yang dibeli Gana. Jadi tiap Fang jatuh akan ada suara krincing dari bel.

"Fang, duduk dulu nak." Aira yang menonton Fang tidak mau menyerah belajar berjalan meminta Fang beristirahat sebentar.

"Tidak." Fang Menggeleng untuk menolak. Kosa kata yang dirinya kuasai terbatas. Setahun belajar, tidak lebih dari tiga puluh kata yang bisa disebutkan.

Wajah berlemak Fang memerah, baru akan melangkah ke depan, sepasang tangan kuat meraihnya dari arah belakang. Gana yang baru kembali dari menjual hasil tangkapan ikan di kota kabupaten menggendong Fang dan membawanya ke luar rumah.

"Tidak. Ibu, Ibu. Fang tidak mau Ayah!"

Tawa Gana mirip tawa setan ditelinga Fang. Pria tua ini masih tidak mau menyerah juga. "Ibuuuuu. Huaaaaa, Ibuuuuuu"

Aira yang melihat situasi memburuk mengambil alih Fang ke dalam pelukannya. Tapi karena Fang semakin gemuk, Aira tidak dapat menggendong bayinya lama-lama.

Fang yang ditaruh kembali bersembunyi di belakang kaki Aira, menatap Gana seperti melihat momok.

Gana menggaruk ujung hidungnya. Putra ini sangat sulit didekati. "Ayah hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Kemari."

Aira yang bekerja sebagai penjaga perdamaian membantu Fang berjalan ke luar rumah. Pada halaman rumah mereka ada sebuah kereta dorong kayu yang muat bagi Fang untuk duduk di dalamnya. Mata Fang terbuka lebar. Tangan gemuknya menunjuk ingin naik, Gana yang melihat kesempatan itu, menggendong tubuh gempal Fang dan menaruhnya di atas stroller kayu.

"Sekarang setiap bayi ingin keluar rumah bisa duduk disini dan minta ibu atau ayah mendorong. Senang?"

Fang melirik malas pada Gana. Tapi dirinya tidak boleh bertingkah sombong, "terimakasih ayah." Empat gigi putih Fang terlihat ketika dia tersenyum.

***

Warga desa akan duduk berkumpul pada sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan bertani. Fang yang mencoba stroller lepas landas di jalanan. Mata bulatnya melihat ke sana kemari, kondisi di desa tidak banyak berubah.

Warga desa masih hidup dalam kesederhanaan walaupun mempunyai uang. Contoh nyata adalah ayahnya sendiri. Gana bekerja sebagai petani dengan penghasilan setahun lebih dari dua puluh batang emas pertahun. Kemana uang itu? Hanya disimpan. DISIMPAN.

Gana dan Aira tidak membelanjakan uang untuk pakaian yang lebih mahal, tidak merenovasi rumah dengan batu bata merah, atau membeli budak. Orang-orang yang tinggal di wilayah bawah Gollum belum banyak tahu tentang investasi. Isolasi dari dua wilayah lain sudah menjadi bukti nyata mengapa orang-orang yang tinggal disini sangat tertinggal.

"Ini Fang kan? Aduh, wajah gembul nya lucu sekali." Seorang bibi muda seumuran dengan Aira membungkuk melihat ke dalam kereta roda Fang.

Ketika tangan nakalnya akan menyentuh wajah Fang, mulut kecil Fang terbuka dan menggigit.

"Aduhhh!"

Aira yang menonton berwajah panik. Buru-buru membantu membuka mulut Fang yang mengatup rapat.

Senang berhasil melukai orang asing, Fang berakting bodoh dengan memainkan bel yang menggantung pada kerah bajunya.

"Anakmu sengaja!" Kata seorang lain yang menonton.

Aira tidak berani tinggal dan membawa pulang Fang. Gana yang melihat istrinya kembali terlalu cepat mau tidak mau bertanya, "sudah cukup mengajak Fang main keluar?"

"Fang menggigit tangan terulur istri pemotongan daging. Aku takut wanita itu menangis untuk mengadu pada suaminya."

***

Episode gosip tentang kematian Jini dan Fang yang suka mengigit orang segera lewat. Bayi yang dulu susah payah berdiri pada kakinya sendiri kini berlarian kesana kemari.

Gana yang takut Fang jatuh ke dalam parit harus mengikat tubuh Fang dan menggendongnya sepanjang dirinya bekerja di lahan. Sebelum musim dingin tiba, lahan sawah masih bisa dibajak untuk ditanami gandum atau padi. Rencananya selain dua tanaman itu, Gana juga akan menanam kentang dan singkong sebagai persediaan makanan nanti di musim dingin.

"Ayah, aku ingin bermain."

Fang yang menyandarkan pipi gembul nya diatas bahu Gana mencoba membujuk, namun Gana menolak dengan tegas.

"Tunggu ayah selesai mencabut semua rumput."

Terpopuler

Comments

mochamad ribut

mochamad ribut

lanjut

2023-08-04

0

Buang Sengketa

Buang Sengketa

bapaknya senang sekali punya anak...tp anaknya usia jiwanya dah ratusan tahun hahaha.... kasihan bapaknya 😁

2023-07-18

2

Nơi đầy ánh nắng

Nơi đầy ánh nắng

Gemesin banget si tokoh utamanya.

2023-07-18

2

lihat semua
Episodes
1 Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2 Ch. 02: Kelahiran Putra
3 Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4 Ch. 04: Catatan Sipil
5 Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6 Ch. 06: Derita Fang
7 Ch. 07: Episode Kecil
8 Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9 Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10 Ch. 10: Fang Doyan Makan
11 Ch. 11: Kota Kabupaten
12 Ch. 12: Dipukul
13 Ch. 13: Pecahan Memori
14 Ch. 14: Pesta Singkat
15 Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16 Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17 Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18 Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19 Ch. 19: Berburu Kelinci
20 Ch. 20: Baramun Pindah
21 Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22 Ch. 22: Pasangan Elf
23 Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24 Ch. 24: Pergi Sekolah
25 Ch. 25: Hukuman Part 1
26 Ch. 26: Hukuman Part 2
27 Ch. 27: Cengeng
28 Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29 Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30 Ch. 30: Monster Level Surgawi
31 Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32 Ch. 32: Jatuh Koma
33 Ch. 33: Awal
34 Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35 Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36 Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37 Ch. 37: Membujuk
38 Ch. 38: Penjual Pil
39 Ch. 39
40 Ch. 40: Membayar
41 Ch. 41: Kelicikan
42 Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43 Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44 Ch. 44: Naik Level
45 Ch. 45:
46 Ch. 46: Ekor
47 Ch. 47: Peringkat
48 Ch. 48
49 Ch. 49
50 Ch. 50
51 Ch. 51
52 Ch. 52
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2
Ch. 02: Kelahiran Putra
3
Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4
Ch. 04: Catatan Sipil
5
Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6
Ch. 06: Derita Fang
7
Ch. 07: Episode Kecil
8
Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9
Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10
Ch. 10: Fang Doyan Makan
11
Ch. 11: Kota Kabupaten
12
Ch. 12: Dipukul
13
Ch. 13: Pecahan Memori
14
Ch. 14: Pesta Singkat
15
Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16
Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17
Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18
Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19
Ch. 19: Berburu Kelinci
20
Ch. 20: Baramun Pindah
21
Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22
Ch. 22: Pasangan Elf
23
Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24
Ch. 24: Pergi Sekolah
25
Ch. 25: Hukuman Part 1
26
Ch. 26: Hukuman Part 2
27
Ch. 27: Cengeng
28
Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29
Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30
Ch. 30: Monster Level Surgawi
31
Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32
Ch. 32: Jatuh Koma
33
Ch. 33: Awal
34
Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35
Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36
Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37
Ch. 37: Membujuk
38
Ch. 38: Penjual Pil
39
Ch. 39
40
Ch. 40: Membayar
41
Ch. 41: Kelicikan
42
Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43
Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44
Ch. 44: Naik Level
45
Ch. 45:
46
Ch. 46: Ekor
47
Ch. 47: Peringkat
48
Ch. 48
49
Ch. 49
50
Ch. 50
51
Ch. 51
52
Ch. 52

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!