Fang yang baru berhasil membalikkan badan malah dikembalikan ke posisi tidur terlentang. Alisnya berkerut akan tetapi pelaku malah menertawakannya. Yah mau bagaimana, satu-satunya cara yang dapat dia lakukan sekarang adalah...
"Gana, apa yang kamu perbuat!" Aira yang mendengar Fang menangis masuk ke kamar dan mengomeli suaminya. Fang akhir-akhir ini sedang belajar membalik badan diusia lima bulan, terkadang Aira akan membiasakan Fang belajar duduk.
Keaktifan Fang diketahui Aira. Fang suka kalau dibawa pergi melihat sekitar desa, duduk sendiri dengan perlindungan bantal empuk di kamar, atau belajar mengenal makanan lunak yang diberikan.
Hanya satu masalah. Fang akan menangis setiap Gana mendekat. Bukan tanpa alasan, Gana memang jahil. Fang yang berusia lebih dari seratus tahun rasanya ingin mengigit daging Gana. Ayah nominal ini terlalu bikin jengkel.
Fang sukses. Gana dipelototi Aira dan menarik diri untuk duduk di sudut. ditenangkan dalam buaian lembut, Fang mengantuk. Tidak boleh tidur! Fang mencium aroma bubur daging. Dirinya lapar.
Benar saja, perut Fang menggerutu. Aira menyentuh perut bulat Fang, "bayinya lapar?"
Aneh, barusan Fang sudah diberi susu. Anaknya masih merasakan lapar?
Gana yang juga mendengar suara perut lapar Fang melongo. "Belum setahun tapi anak ini banyak sekali minum susu! Apakah kita akan. membesarkan pemborosan?"
Aira memukul Gana dengan sikut. "Siapa yang kamu panggil pemborosan?!"
Harapan Fang untuk mencicipi bubur daging tidak dapat terlaksanakan. Aira tidak mengerti celotehannya dan memberinya susu, tentang Gana, jangan libatkan orang ini. Sehari tidak menganggu sudah sangat bagus.
Fang yang duduk sendiri dengan bersandar pada bantal kasur melihat penuh kerinduan pada makanan di atas meja. Beberapa bulan terakhir sangat menyiksa. Dia mencium aroma lezat tapi tidak bisa makan.
Kapan anak-anak bayi di wilayah bawah dapat makan seperti manusia dewasa? Perlu lima tahun lagi? Tidak, kalau tidak salah ketika bayi berhenti minum susu kan? Lalu kapan bayi harus berhenti minum susu? Kepala kecil Fang berusaha mengingat semua pengetahuan yang pernah dia baca tentang pengetahuan umum wilayah bawah Gollum.
Lupakan. Otak kecilnya bisa rusak jika terus dipaksakan. Fang mengendus untuk terakhir kali sebelum tidur karena mengantuk.
***
Panen tahun ini memang sebaik yang pernah dikatakan kepala desa. Warga desa yang selesai mengeringkan hasil panen sudah memasukan semua biji-bijian dan padi kedalam karung.
Buwin juga sudah menginformasikan seluruh warga desanya untuk menyerahkan hasil panen sebelum lusa. Pajak tahun ini harus dibayarkan tanpa tertunda atau pejabat kabupaten datang mengetuk pintunya!
Istri Buwin yang juga baru selesai menimbang hasil panen tersenyum lebar. Tidak ada satupun lahannya yang gagal. Tahun ini pertanian di desa sepertinya mendapatkan untung sepuluh persen dari tahun lalu. "Aku sudah menimbangnya. Dua karung yang aku letakan di depan diserahkan untuk pajak pangan, untuk uang pajak, besok aku akan memberikan."
Ketukan pintu menginterupsi. Istri Buwin membuka pintu, rupanya Manda yang datang dengan dua karung hasil panen bersama suaminya, Juan.
"Siang Mara."
Buwin yang mengikuti dari belakang membantu Juan membawa dua karung ke gudang penyimpanan di samping rumah.
Manda yang dipersilakan masuk disuguhi segelas teh. Mara yang suka bergosip mulai membuka ruang obrolan.
"Rumah di ujung desa juga melahirkan bayi?"
Manda memasang wajah sopan. Diketahui Mara tidak akan melepas siapapun ketika mulai bergosip.
"Tidak. Bayinya hilang."
Mara mendekat, "keguguran? Apakah itu bayi laki-laki?"
Manda tidak nyaman.
Buwin adalah kepala desa yang sering berhubungan dengan warga desa. Kalaupun Mara jarang bertemu warga, dirinya pasti tahu tentang pasangan suami istri yang tinggal diujung desa.
"Suamiku yang membantu mengobati. Aku tidak banyak bertanya."
Mara menyadari kalau Manda sulit membuka mulut, tidak ingin kehilangan wajah, Mara berbohong perlu menyiapkan makan malam dan meninggalkan Manda duduk sendirian di ruang tamu.
"Istriku kemana?"
Manda buru-buru menjelaskan, "Mara pergi ke dapur untuk masak. Sudah selesai?"
Juan yang membersihkan sisa serbuk gandum dari pakaian mengangguk, "sudah selesai. Buwin, aku akan pulang."
"Oh ya, hati-hati."
Diperjalanan pulang Manda teringat kondisi Jini yang bersimbah darah berbaring di atas lantai ubin. Suami Jini pulang dalam keadaan mabuk, tidak melihat ada makanan yang bisa dimakan, suami Jini gelap mata dan menarik Jini yang sudah terlelap tidur untuk dipukuli.
Suami Jini yang meluapkan emosi lupa kalau Jini tengah hamil, selesai marah, suami Jini pergi terlelap. Subuh, suami Jini yang setengah sadar mengingat apa yang dirinya perbuat. Terperanjat bangun, Jini yang masih terbaring di lantai sudah pendarahan hebat.
Manda yang mendengar suara panggilan membangunkan Juan. Mengetahui apa yang terjadi, mereka berdua bergegas bahkan tanpa mencuci muka atau mengganti pakaian tidur.
Jini koma.
Juan yang dikenal dokter berbakat tidak dapat menyelamatkan bayi yang dikandung lalu memvonis Jini tidak akan dapat hamil lagi. Perut Jini terkena pukul dan tendangan, berdampak kerusakan fatal bagi rahimnya.
Suami Jini tersungkur. Memukuli wajahnya, tapi apa yang dapat diubah? Anak itu hilang dan Jini menjadi depresi berat.
Juan menyarankan Jini melaporkan kejadian pemukulan, akan tetapi Jini menolak. Wanita itu tidak berani. Sebagai wanita yang sudah menikah, kehilangan suami sama saja kehilangan pilar. Juan tidak memaksakan, setelah memeriksa kondisi dan memberi catatan obat yang harus dibeli dan diminum, Juan dan Manda tidak tinggal lama dan pergi dari sana.
Orang luar yang mendengar Jini sakit mengira Jini keguguran biasa. Juan juga tidak buka mulut yang membuat semua orang semakin percaya pada tebakan mereka.
"Mengapa melamun?"
Manda menggeleng. Juan tidak akan senang membahas kejadian hari itu. "Aku tidak melamun."
***
Aira mendapat berita duka. Jini yang sakit setelah keguguran barusan meninggal. Suami Jini yang berlarian menuju rumah kepala desa melewati rumah sebari menangis.
Gana menutup pintu dan jendela rapat-rapat. "Kamu dan bayi dilarang keluar rumah selama seminggu. Orang meninggal melewati rumah kami, tidak baik jika membawa kesialan."
Fang yang bermain di atas ranjang memutar bola mata. Orang dulu sangat percaya akan mitos. Kalaupun sudah mati, setiap roh tidak dapat menyakiti manusia. Paling-paling melihat tanpa bisa menyentuh.
Waktu baru melewati lima bulan. Butuh lima bulan lagi agar dirinya dapat belajar berjalan. Fang sudah tidak betah berlama-lama tinggal di rumah. Informasi yang dirinya ketahui semua berasal dari buku dan catatan kuno, Fang butuh memeriksa sendiri dan mencari cara membangkitkan akar ilahi.
"Fang lapar?" Aira yang melihat bayinya tidak bergerak dan terus menggerakkan mulut tanpa gigi jadi salah paham. Fang benar-benar ingin segera dewasa! Dia ingin makan makanan normal!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
mochamad ribut
up
2023-08-04
0
mochamad ribut
lanjut
2023-08-04
0