Ch. 04: Catatan Sipil

Semalaman Fang menangisi takdirnya.

Aira dan Gana yang tidak berpengalaman hanya diam berdiri dan duduk di dekat anak mereka yang belum berhenti menangis tanpa sebab. "Haruskah aku memanggil dokter?"

Aira menggeleng. "Bayinya tidak sakit. Mungkin hanya ingin ventilasi dengan cara menangis." Aira membetulkan letak kain katun yang menyelimuti tubuh Fang.

Karena menangis, wajah kecil Fang berkerut sampai merah. Melihat anaknya bisa saja dehidrasi, Aira memaksa Fang untuk minum susu. "Cup, cup, cup. Ibu disini, jangan bersedih lagi."

Fang yang mulutnya disumpal untuk minum air susu berhenti menangis. Rasa lapar mengambil alih fokusnya dan tidak lama dirinya tidur. Sesekali suara sengau keluar dari hidung kecil Fang, imut sekali.

Gana berjongkok untuk melihat putranya yang berhenti menangis. "Fang sangat menggemaskan. Besok setelah mendaftarkan akun Fang pada pemerintahan, aku akan melihat-melihat kain atau gadget yang bisa dimainkan anak kami."

"Mainan apa? Bayinya baru berumur dua hari, jangan terlalu boros."

Gana tidak setuju, "putraku. Tentu saja aku akan memperlakukan seperti leluhur. Uang juga kita punya, dan bisa didapatkan kembali setelah panen diambil."

***

Fang membuka mata ketika suara berkokok ayam diluar terdengar. Tidak dapat menggerakkan anggota tubuh karena tulangnya masih lembut, Fang yang baru akan membuka mulut untuk memanggil ibunya merasakan perasaan merembes membasahi pakaian.

Wajah Fang menjadi sangat jelek. Dia. Orang terkuat yang telah duduk di Piramida teratas sebagai master telah mengompol dan membasahi pakaian serta tempat tidurnya!

Aira yang digendong Gana setelah pergi ke kamar mandi melihat putranya membuka dan menutup mulut, tertawa, wanita itu membuka tilam kain yang menyelimuti Fang dan melihat bahwa alas tidur serta pakaian Fang basah oleh air kencingnya sendiri.

"Suamiku, tolong ambilkan kain baru dan juga alas tidur baru untuk Fang. Bayinya mengompol."

Ketahuan sudah buang air kecil, Fang memejamkan mata lemah. Semua martabat yang tersisa hilang sudah!

***

Gana membawa catatan kelahiran Fang yang dia buat sendiri. Tertulis nama bayinya, nama orang tua, alamat rumah serta beberapa harta benda yang dipunya oleh keluarga Gana.

Mengetuk pintu pagar rumah kepala desa, seorang bocah perempuan berusia sepuluh tahun datang menyapa. "Hallo, silakan masuk. Ayah masih belum selesai sarapan, dia meminta paman Gana untuk menunggu sebentar."

"Terimakasih." Gana duduk di ruang tamu rumah kepala desa. Anak perempuan yang membuka pintu jug tidak pergi dan duduk bersama dengan Gana.

"Paman, kudengar dari ayah, kamu punya putra. Selamat untuk paman dan juga bibi Aira"

Setiap ada yang mengucapkan selamat atas bayi di keluarganya, Gana menjadi lebih antusias. "Bayi keluarga paman bernama Fang. Lain kali kamu datang saja ke rumah Paman untuk bermain dengan Fang, bagaimana?"

"Bolehkah? Maka dalam beberapa hari kemudian aku akan datang untuk berkunjung."

Kepala desa yang selesai makan keluar dan tanpa duduk segera keluar dari rumah dan menjemput gerobak sapi keluar dari kandang. "Divisi catatan sipil tutup pada pukul dua siang. Lebih baik cepat-cepat mendaftar dibanding terlambat dan membuat perjalanan bolak-balik."

Gana duduk pada kursi belakang, melewati pintu masuk desa, bertemu beberapa orang yang ingin pergi ke kota kabupaten juga. Kepala dasa pun menawari warganya untuk berangkat bersama.

Dua orang pria dengan empat orang wanita naik satu persatu ke atas gerobak yang ditarik sapi besar milik kepala desa. Walau tidak secepat berjalan kaki setidaknya mereka telah terhindar dari rasa lelah.

Gana yang akrab dengan dua pria yang lebih muda lima tahun dan delapan tahun darinya bergabung dalam obrolan seputar cuaca tahun ini yang sangat bagus. Kepala desa juga menambahkan, fenomena ini bisa menghasilkan hasil panen berlimpah.

"Betulkah? Apakah desa kami pernah mengalami hal serupa?" Tanya seorang wanita yang penasaran.

Kepala desa mengangguk, "Dua puluh lima tahun lalu. Desa kami mempunyai cuaca yang mirip dengan tahun ini. Matahari tidak terlalu panas dan sesekali hujan turun. Ketika panen diambil dan ditimbang, hasilnya sangat luar biasa!"

Menepuk kaki berdaging nya sendiri, Wanita itu tertawa bahagia. Keluarganya mempunyai lahan sebanyak dua puluh dua hektar. Kalau benar apa yang dikatakan kepala desa, membayangkan nya saja sudah keren sekali.

Sesampainya di kota kabupaten, gerobak sapi dititip pada parkiran khusus yang merawat binatang dan gerobak. Warga yang akan membayar uang sewa semua di tolak oleh kepala desa, "tidak usah bayar. Gerobak hari ini disewa sepenuhnya oleh Gana."

"Gana, terimakasih ya." Kata seorang warga yang senang tidak perlu mengeluarkan satu koin tembaga untuk bayar sewa.

Gana mengangguk, "kalau ingin pulang bersama juga boleh. Setelah melapor pada pejabat pemerintah aku akan belanja sebentar dan kembali ke desa sebelum pukul satu siang."

***

Kantor pemerintahan terletak ditengah pusat kota kabupaten. Kepala desa menyapa penjaga.

"Ada urusan apa datang kemari?" Tanya penjaga pintu dengan ekspresi datar.

Kepala desa mencoba tersenyum. Selayaknya orang desa, dirinya sedikit takut akan kantor pemerintahan yang banyak pejabat dan tentara penjaga di dalamnya. "Saya Buwin, kepala desa Noik. Beberapa hari lalu salah satu warga desa saya bertambah jumlah keluarga dan ingin melapor."

Penjaga pintu mengerti dan membiarkan Buwin dan Gana lewat. "Divisi catatan sipil yang berjaga adalah pejabat bernama Kawi. Kamu pergi kepadanya."

Gana yang melewati penjaga mengangguk dan segera mencari tag nama Kawi pada deretan meja informasi. Dalam aula besar kantor pemerintahan ada sepuluh atau lebih meja, melihat tag bernama Kawi di deretan nomor lima, Gana menarik kepala desa dan mengambil nomor antri.

Pendaftaran sipil adalah divisi yang paling sepi pengunjung. Pekerjaan Kawi adalah mencatat nama dan tanggal lahir bayi atau nama orang yang mati untuk dicatat pada catatan sipil. Menguap lebar, hari ini hanya ada laporan kematian dari beberapa warga diberbagai desa untuk ditulis dan arsip. Kawi yang setengah mengantuk meneriakkan nomor antri Gana.

"09, antrian nomor 09."

Gana dan Buwin maju dan berdiri di depan loket meja.

Kawi tidak melirik siapa yang datang, "siapa yang meninggal di keluarga mu? apakah orang tua, saudara atau paman?"

"Ini..ini laporan kelahiran." Buwin berkata canggung.

Tangan Kawi berhenti mengeluarkan formulir kematian. "Laporan kelahiran?"

Gana menyerahkan lembar kertas bertuliskan nama dan tanggal lahir Fang. "Bayi di rumahku lahir dua hari lalu."

Kawi mengambil kertas dan tanpa sadar meninggikan suara, "bayi laki-laki?! Astaga, ini hebat. Selamat untukmu."

Pelaporan kelahiran dan kematian diperlukan secara berbeda. Pemerintahan di wilayah bawah Gollum akan membebaskan semua biaya bagi bayi dan anak-anak dibawah umur lima belas tahun. Tidak dibebankan pajak dan biaya sekolah di sekolah negeri. Menunjukkan betapa wilayah bawah Gollum sangat mementingkan kemakmuran anak-anak yang tinggal disini.

Terpopuler

Comments

mochamad ribut

mochamad ribut

up

2023-08-04

0

mochamad ribut

mochamad ribut

lanjut

2023-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2 Ch. 02: Kelahiran Putra
3 Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4 Ch. 04: Catatan Sipil
5 Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6 Ch. 06: Derita Fang
7 Ch. 07: Episode Kecil
8 Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9 Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10 Ch. 10: Fang Doyan Makan
11 Ch. 11: Kota Kabupaten
12 Ch. 12: Dipukul
13 Ch. 13: Pecahan Memori
14 Ch. 14: Pesta Singkat
15 Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16 Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17 Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18 Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19 Ch. 19: Berburu Kelinci
20 Ch. 20: Baramun Pindah
21 Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22 Ch. 22: Pasangan Elf
23 Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24 Ch. 24: Pergi Sekolah
25 Ch. 25: Hukuman Part 1
26 Ch. 26: Hukuman Part 2
27 Ch. 27: Cengeng
28 Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29 Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30 Ch. 30: Monster Level Surgawi
31 Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32 Ch. 32: Jatuh Koma
33 Ch. 33: Awal
34 Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35 Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36 Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37 Ch. 37: Membujuk
38 Ch. 38: Penjual Pil
39 Ch. 39
40 Ch. 40: Membayar
41 Ch. 41: Kelicikan
42 Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43 Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44 Ch. 44: Naik Level
45 Ch. 45:
46 Ch. 46: Ekor
47 Ch. 47: Peringkat
48 Ch. 48
49 Ch. 49
50 Ch. 50
51 Ch. 51
52 Ch. 52
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ch. 01: Pemindahan Jiwa
2
Ch. 02: Kelahiran Putra
3
Ch. 03: Bayinya Bernama Fang
4
Ch. 04: Catatan Sipil
5
Ch. 05: Sejarah Singkat Wilayah Bawah
6
Ch. 06: Derita Fang
7
Ch. 07: Episode Kecil
8
Ch. 08: Baramun Sang Jendral
9
Ch. 09: Bakpao Isi Kacang Hijau
10
Ch. 10: Fang Doyan Makan
11
Ch. 11: Kota Kabupaten
12
Ch. 12: Dipukul
13
Ch. 13: Pecahan Memori
14
Ch. 14: Pesta Singkat
15
Ch. 15: Kamu Masih Hidup?
16
Ch. 16: Lebih Akrab dengan Baramun
17
Ch. 17: Sengaja Mengabaikan
18
Ch. 18: Mulut Penuh Kebohongan
19
Ch. 19: Berburu Kelinci
20
Ch. 20: Baramun Pindah
21
Ch. 21: Membawa Baramun Ke Kota Kabupaten
22
Ch. 22: Pasangan Elf
23
Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf
24
Ch. 24: Pergi Sekolah
25
Ch. 25: Hukuman Part 1
26
Ch. 26: Hukuman Part 2
27
Ch. 27: Cengeng
28
Ch. 28: Mengunjungi Juan Part 1
29
Ch. 29: Mengunjungi Juan Part 2
30
Ch. 30: Monster Level Surgawi
31
Ch. 31: Kejutan Tak Terduga
32
Ch. 32: Jatuh Koma
33
Ch. 33: Awal
34
Ch. 34: Keluar dari Wilayah bawah
35
Ch. 35: Berlatih di Ruang Dimensi Mimpi
36
Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu
37
Ch. 37: Membujuk
38
Ch. 38: Penjual Pil
39
Ch. 39
40
Ch. 40: Membayar
41
Ch. 41: Kelicikan
42
Ch. 42: Akademi Sihir Grade S Part 1
43
Ch. 43: Akademi Sihir Grade S Part 2
44
Ch. 44: Naik Level
45
Ch. 45:
46
Ch. 46: Ekor
47
Ch. 47: Peringkat
48
Ch. 48
49
Ch. 49
50
Ch. 50
51
Ch. 51
52
Ch. 52

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!