Pria paruh baya lari tergopoh-gopoh ke arah dapur reyot yang terletak dibelakang rumah. Keringat sebesar butir jagung telah membasahi seluruh wajah hingga mengalir ke leher dan merembes ke pakaiannya yang lusuh.
Suara lirih wanita yang mencoba mengatur pernapasan dibantu bidan desa membuat pria itu cemas. Istrinya tidak muda lagi. Pernikahan selama lima belas tahun selalu hanya ada dirinya dan sang istri yang tinggal di dalam rumah tua ini. Namun, delapan bulan lalu, Aira yang baru kembali selepas membajak lahan pertanian berwajah pucat dan merasakan sakit pada bagian perut. Memanggil dokter tua, kabar yang telah ditunggu belasan tahun akhirnya tiba. Aira mengandung anak mereka.
Mematikan tungku api, Gana yang bertubuh tinggi besar menuang seluruh panci air ke dalam baskom kayu. Mengetuk pintu kamar, suara beratnya terdengar. "Manda, airnya sudah matang. Ku taruh di depan pintu."
Manda, bidan desa yang juga istri dari dokter desa membuka pintu. Wajah keriput nya terlihat jelek. Melahirkan anak sangatlah berbahaya, lengah sedikit maka akan ada dua nyawa yang hilang. "Apa kamu punya kain bersih? Bawakan juga kemari."
Gana mengangguk dan mencari kain bersih yang dibeli istrinya beberapa hari lalu. Mata galak Gana terlihat sedih, berpikir, tanpa anak pun keluarga berisikan dua orang juga sudah cukup. Kalau ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, Gana yang bodoh sesaat memukuli kepalanya untuk berhenti membayangkan hal buruk.
"Ini. Ini kain bersihnya." Manda mengambil kain dan menutup rapat pintu kamar yang dijadikan ruang bersalin dadakan.
Gana linglung sebentar. Menatap pintu kamar lekat. Menggabungkan dua tangan, Gana berlutut bersimpuh, berdoa pada sang Maha Agung agar tidak mengambil orang tercintanya. "Ya Yang Maha Agung, hanya padamu lah aku meminta dan bersujud. Tolong dengarkan doaku ini. Selamatkan istri dan juga calon anak kami. Aku tahu kamu mendengar harapanku, maka mohon kabulkanlah!"
Persalinan berjalan lama. Hampir di penghujung hari namun bayinya masih belum mau lahir. Manda yang kelelahan meneguk beberapa suap air minum, "anakmu sangat jago melempar orang! Aira, mungkin saja anakmu besar nanti jadi anak nakal."
Aira yang tiduran dengan dua kaki terangkat mengelus perutnya lemah. Dibantu Manda, dia juga minum beberapa suap air. Meski lelah, dua bola matanya sangat teguh. Bayi ini telah sangat dinantikan. Memori ketika almarhum ibu mertuanya mengatai dirinya ayam yang tidak bisa bertelur telah menorehkan luka dalam.
Gana yang tidak dapat membantu apapun selain memasak air dan makanan terus berjongkok di depan tungku api. Matahari telah tenggelam, gelap gulita di dalam dapur karena satu-satunya lampu minyak diletakkan di kamar bersalin sang istri. Menepuk nyamuk, bibir bawah Gana turun sedikit demi sedikit. Ketakutan kehilangan belahan jiwa makin menjadi.
Pukul delapan malam kurang bayi belum berhasil dilahirkan. Hujan besar disertai angin menjadi latar belakang suara jeritan Aira yang penuh kesakitan. Kilat menyahut satu persatu. Gana mengencangkan kepalan tangan. Pertanda apa ini?!
Manda yang mendengar suara badai diluar mengurutkan alis. Berusaha terus fokus, kepala bayi akhirnya terlihat. Bayi laki-laki yang lahir hanya seberat tiga kati, Manda mencuci bayi dan menggulung kain untuk menutupi tubuh kecilnya.
Beralih melihat Aira, Manda membantu wanita itu membersihkan sisa darah dan berganti pakaian. Meletakkan bayi di atas tubuh Aira untuk di sapih. "Anakmu sangat tampan. Selamat untukmu."
Aira memeluk ringan bagian belakang tubuh bayi agar tidak jatuh. "Yah, terimakasih atas bantuan mu."
***
Gana seperti semut merah. Terus berjalan berputar di trek yang sama. Pintu kamar terbuka, Manda membuat isyarat agar Gana jangan membuat keributan. "Anak dan Ibu selamat. Bayi laki-laki, seberat tiga kati dan seluruh anggota tubuh lengkap tanpa cacat."
Mendengar kabar baik, Gana yang ingin masuk ke dalam ditahan. "Mau kemana?! Antarkan aku pulang dulu."
Menepuk jidat malu, Gana mengambil payung bambu. Hujan sangatlah deras, dan rumah Manda dan dokter tua terletak di sudut desa yang lebih dekat dengan hutan.
"Istri, aku, aku akan pergi sebentar mengantarkan Manda. Kamu tunggu aku sebentar."
Gana membuka payung untuk meneduhkan tubuh Manda. Berjalan menyusuri jalan setapak yang berlumpur, Gana terus memaksa Manda berjalan cepat.
Dokter tua yang cemas menantikan istrinya yang belum kembali membuka pintu pagar sebelum mereka memanggil. "Bayinya sudah lahir?"
"Ya, sudah. Juan, Manda besok aku akan membayar dan mengirim hadiah. Sampai jumpa lagi." Kata Gana dengan cepat lalu berlari kencang.
Manda tertawa. "Menjadi ayah diusia tua membuat dia kehilangan akal"
Juan tidak mengatakan apapun, menarik istrinya untuk cepat masuk ke rumah lalu menutup pagar dengan grendel besi.
"Dingin di luar. Cepat ganti pakaian lain."
Sekembalinya dari mengantar Manda, Gana membersihkan kaki berlumpur dan mengganti pakaian kering. Di dalam kamar Aira berbaring menyamping, menatap tanpa berkedip pada bayi.
"Kamu kembali begitu cepat? Apakah hujan sudah berhenti?"
Gana berjalan mendekat. Duduk dilantai dan menatap wajah asing yang telah dia sayangi sebelum kelahiran. "Hujan. Aku kembali dengan berlari."
Tangan kasar Gana mencolek wajah lembut bayi. "Sangat lembut!"
Menepuk tangan Gana, "Berhenti menganggu. bayinya akan menangis." Baru berkata itu dan bayi memang menangis. Tangisnya tidak keras namun sukses membuat sepasang ayah dan ibu baru merasa kesusahan.
"Cup, cup. Ayah minta maaf ya." Gana mencoba menggendong, mungkin karena tidak terbiasa mengendong benda lembut, dua tangan Gana yang sekeras batu makin memperparah tangisan bayi. Aira yang mencoba duduk bersandar dengan bantuan bantal mengambil alih, dan tangisan segera berhenti. Dua pasang mata saling menatap lalu senyum lebar memenuhi wajah mereka.
***
Kabar Gana mempunyai anak tersebar. Orang-orang di desa penasaran, sudah lebih dari lima tahun sejak bayi terakhir terlahir. Karena pekerjaan di sawah dan ladang tidak sibuk, beberapa warga yang rumahnya dekat dengan rumah Gana telah berdiri di depan pagar rumah Gana. Kepala desa yang juga mendapat kabar datang dengan membawa gelang kaki sebagai simbol keamanan bagi bayi yang baru lahir.
Gana yang telah bangun sejak subuh membuka pintu pagar. Menyapa semua orang yang dia kenali. "Pagi. Terimakasih atas antusiasme kalian. Bayinya sehat, dia sangat mirip aku. hahahaha."
"Manda datang sejak siang, dan aku tidak melihatnya keluar. Apakah anakmu lahir dimalam hari?" Tanya seorang wanita yang baru menikah.
Gana mengangguk. "Bayiku baru lahir tepat pukul delapan malam. Hari ini aku akan ke rumah Manda untuk membayar biaya perawatan dan mengantarkan hadiah."
"Gana, Gana.. Bayinya, jenis kelamin apa yang lahir?" Kepala desa yang baru datang mencoba membelah lautan manusia yang berdesakan di depan rumah Gana.
Gana yang berbadan besar membantu, dan menarik tubuh kepala desa agar lebih cepat sampai. "Laki-laki!"
Seruan terdengar. Bayi laki-laki?! Ini kabar baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
mochamad ribut
up
2023-08-04
0
mochamad ribut
lanjut
2023-08-04
0
mochamad ribut
up
2023-08-04
1