Hari yang cerah. Dibawah sinar matahari yang hangat, mobil yang ditumpangi Zeroun Zein meluncur menembus jalan sunyi. Pemandangan yang terlihat hanya lautan biru yang terbentang luas. Siang itu, Zeroun ingin menemui rekan bisnisnya di Pelabuhan Harbour.
Zeroun menatap keluar jendela. Memperhatikan hamparan laut biru yang menyejukkan mata. Bibirnya mengukir sedikit senyuman. Macau kembali mengingatkan dirinya dengan Kenzo Daeshim Chen. Di tempat itu mereka pertama kali bertemu sebelum menjalin persahabatan. Pria itu tidak pernah menyangka, kalau sahabat terbaiknya kini telah menjadi adik iparnya.
Lukas memperhatikan wajah Zeroun melalui spion. Hatinya juga merasa tenang dan bahagia, setiap kali ia melihat wajah Zeroun terlihat bahagia. Sesekali Lukas memandang spion samping untuk melihat mobil anggota Gold Dragon yang kini mengikutinya.
Handphone Lukas berdering. Pria itu memandang layar ponselnya dengan keraguan. Setiap kali telepon itu berasal dari rumah, pasti aka nada masalah. Lukas memperhatikan wajah Zeroun lagi sebelum mengangkat panggilan masuk itu. Melekatkan Handsfree di telinga kirinya.
“Ada apa?”
[Bos, Nona Emelie ingin pergi dari rumah ini. Katanya Nona Emelie ingin ....] ucapan pelayan itu terhenti, saat Emelie merebut telepon rumah itu.
[Bos Lukas yang baik hati. Apa boleh saya kembali ke rumah kontrakan itu. Saya tidak nyaman tinggal di rumah Bos Zeroun yang besar ini.]
Lukas memandang Zeroun dari spion.
“Bos, Nona Emelie ingin kembali ke rumah kontrakan.”
Zeroun tidak terlalu peduli dengan pertanyaan Lukas. Pria itu lebih asyik menikmati hembusan angin daripada mengurusi masalah Emelie.
“Biarkan saja.”
Lukas mengangguk pelan, “Jaga diri anda baik-baik, Nona. Saya akan menyuruh pengawal untuk mengantar anda.”
[Terima kasih Bos Lukas.] Panggilan terputus.
Lukas melanjutkan perjalanannya siang itu. Menguasai jalanan yang terbentang lurus. Sesekali mobilnya berpapasan dengan mobil pengunjung Pelabuhan. Selain tempat parkirnya kapal, pelabuhan itu juga menjadi tempat wisata. Banyak para pengunjung yang berkunjung walau hanya sekedar berfoto saja.
Beberapa menit kemudian, di Pelabuhan Harbour.
Lukas memberhentikan mobilnya di lapangan parkir yang begitu luas. Ada banyak container yang tersusun rapi di dalam pelabuhan itu. Beberapa kapal kontainer berukuran besar juga terlihat terparkir.
Zeroun turun dari mobil saat pintu telah dibukakan. Pria itu menurunkan kakinya dengan ekspresi dingin ciri khasnya. Tidak ada senyuman atau candaan renyah yang keluar dari bibirnya. Ia mempertahankan ekspresi wajahnya seperti itu sejak dulu.
Beberapa pria berseragam resmi berjalan mendekati posisi Zeroun. Menunduk hormat sebelum mengeluarkan kata.
“Bos, paketan sudah siap berangkat,” ucapnya dengan tegas.
Zeroun tidak ingin menjawab. Pria itu berjalan menuju tempat yang ingin ia kunjungi siang itu. Lukas dan beberapa pasukan Gold Dragon mengikuti langkah Zeroun dari belakang.
Setelah berjalan beberapa puluh meter, Zeroun menghentikan langkahnya di pinggiran laut. Pemandangan siang itu memang sangat indah untuk di pandang. Zeroun terlihat sangat menikmati angin yang berhembus dari lautan. Matanya terpejam sambil menghirup udara yang berasal dari lautan.
Siang itu Zeroun tidak hanya ingin memeriksa barang miliknya yang akan di kirim ke negara lain. Pria itu merindukan suasana pelabuhan itu. Ia ingin mengunjungi pelabuhan itu untuk mengenang beberapa momen bahagia yang pernah terjadi. Bibirnya tersenyum kecil, dengan mata yang masih terpejam.
DUARR!
Satu tembakan membuat Lukas dan beberapa pasukan Gold Dragon lainnya bersikap waspada. Semua orang mengeluarkan senjata dengan tatapan mencari sumber tembakan. Sementara Zeroun, masih memejamkan mata menikmati hembusan angin.
“Bos, sebaiknya anda segera masuk. Sepertinya ada yang ingin menyerang kita di tempat ini.” Lukas mendekati Zeroun. Memberi peringatan kepada pria berstatus bosnya itu.
Zeroun membuka matanya secara perlahan. Hatinya sedikit kesal, saat momen berharga di rusak oleh tamu tidak diundang. Dengan cepat, pria itu memutar tubuhnya. Memperhatikan keadaan sekitar.
Pria berbadan tegab keluar dari tempat persembunyiannya. Menggenggam senjata laras panjang dengan wajah menyeramkan. Pria itu berjalan dengan santai mendekati posisi Zeroun. Langkahnya tidak terhenti, meskipun detik itu semua pasukan Gold Dragon menodongkan senjata ke arah dirinya.
Lukas juga bersikap waspada saat melihat pria asing itu.
“Zeroun Zein, Aku tahu saat ini hidupmu sudah sangat tenang. Aku ke sini tidak ingin menganggu ketenangan yang kalian miliki. Hanya ingin mengajak kerja sama untuk bisnis bernilai tinggi.” Pria itu mengukir senyuman penuh arti.
“Anda bisa membicarakan bisnis itu dengan bawahan saya langsung. Saya sangat sibuk.” Zeroun berjalan pergi meninggalkan pria itu.
“Saya akan membayar wanita bernama Emelie itu dengan nominal yang tinggi. Bahkan bisa mencapai 10 kali lipat lebih banyak, jika dibandingkan dengan barang anda yang baru berangkat itu.” Pria itu menjelaskan semua isi hatinya dengan wajah penuh percaya diri.
‘Emelie, lagi-lagi wanita itu.
Zeroun menghentikan langkahnya. Menatap wajah pria itu dengan penuh kebencian.
“Apa pangeran Damian yang mengirimmu ke sini?” Zeroun mengangkat kedua alisnya.
“Pangeran Damian?” Pria itu tertawa dengan begitu lantang.
“Tentu saja Pangeran Damian tidak akan snaggup membayar saya hingga sebesar itu. Pria itu sangat pelit dan perhitungan. Ia tidak akan rela membuang uang sebanyak itu hanya untuk seorang wanita.”
“Semua yang ada di wilayah saya menjadi milik saya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya. Tanpa seijin saya.” Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
“Saya sudah cukup berbelas kasih dengan anda, Zeroun Zein. Jangan salahkan saya jika saya melakukan hal yang sangat merugikan anda saat ini.” Pria itu memegang detector peledak. Senyum liciknya terukir jelas sebelum satu jarinya menekan benda itu.
Suara ledakan yang begitu dahsyat baru saja terjadi. Semua orang terbelalak kaget saat melihat kapal yang baru saja berangkat di kerumuni api yang menyala-nyala.
“Bunuh pria itu!” Zeroun melanjutkan langkah kakinya.
Lukas dan beberapa pasukan Gold Dragon menembak pria itu tampa ampun. Sepertinya pria itu sengaja dikirim seseorang hanya untuk mengancam Zeroun siang itu. Pria itu tergeletak dengan senyum tipis dan mata yang terbuka. Darah berkucur deras membasahi lantai pelabuhan itu.
Lukas berlari mengiuti Zeroun. Pria itu snagat tahu suasana hati Zeroun saat ini.
“Bos, Saya akan menyelidiki semua ini secepatnya.”
“Kirimkan orang untuk menjaga wanita itu.” Zeroun masuk ke ruang pribadi miliknya. Pria itu duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu.
“Baik, Bos.” Lukas menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Zeroun di ruangan itu. Menutup pintu dengan hati-hati. Tidak ada yang berani mengganggu Zeroun siang itu. Barang bernilai Milyaran harus hangus terbakar dalam waktu sekejap. Zeroun mencengram kuat kedua tangannya hingga memutih. Tatapan matanya dipenuhi dengan amarah.
“Sepertinya masalah ini sangat serius. Lagi-lagi karena wanita ....” Zeroun menyandarkan tubuhnya sambil membayangkan wajah Emelie.
“Aku harus membawa wanita itu kembali ke Inggris dengan selamat. Tidak akan ada yang berani mencelakainya, jika ia sudah ada di rumahnya sendiri.”
Like sebelum lanjut...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Mella Soplantila Tentua Mella
jangan mulanggil emelia zeroun...bantulah dia
2022-10-08
0
Nurul Fajriyah
aduh zeorun ke inggris d stu lah bertarug yq
2021-03-01
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
justru dirumah nya sendiri nyawa Emilie terancam
2021-02-19
0