Monako.
Pangeran Damian berbaring di atas tempat tidur. Kakinya masih terasa sakit. Pria itu belum bisa bergerakdengan bebas karena bekas luka tembakan yang ia alami. Sesekali pria itu mengumpat kesal karena Adriana ia jadi terluka. Beberapa pelayan terlihat sibuk mempersiapkan baju ganti Pangeran Damian.
Beberapa pelayan wanita itu berbaris di ujung tempat tidur menunggu perintah. Pengeran Damian beranjak dari duduknya. Menatap satu persatu wajah bawahannya. Satu tangannya ia angkat untuk memberi perintah.
Dengan penuh hati-hati, pelayan-pelayan itu membuka baju Pangeran Damian. Membersihkannya dengan Kain basah. Sebagian lainnyaberlutut di bawah Pangeran Damian untuk membersihkan kakinya.
Tidak ada wajah ketertarikan di dalam hati Pangeran Damian. Meskipun kini ia di kerumuni pelayan-pelayan wanita yang sangat cantik. Bahkan berpendidikan tinggi. Sejak dulu, Damian memang sangat selektif dalam memilih pelayan yang bekerja di Istana miliknya.
Baru beberapa menit ia selesai mengganti pakaian. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Belum sempat ia menjawab sumber suara, seorang wanita yang ia kenali masuk ke dalam kamar.
Damian menatap wajah wanita itu beberapa detik sebelum mengalihkannya ke arah lain. Tangannya ia lambaikan lagi sebagai tanda perintah, agar pergi meninggalkan kamarnya.
Adriana berdiri di ambang pintu. Memperhatikan satu persatu wajah pelayan itu dengan wajah tidak suka. Putri Adriana memang memiliki sifat mudah cemburu. Ia tidak pernah bisa melihat Pangeran Damian di sentuh oleh sembarang wanita.
“Ada apa?” ketus Pangeran Damian tidak suka.
“Aku hanya ingin menemanimu ke pemakaman. Hari ini 1 tahun kepergian Yang Mulia Raja dan Ratu kerajaan Monako.” Putri Adriana memberanikan diri untuk mendekati Damian. Wanita itu sangat tahu, jika kini kekasihnya sedang marah pada dirinya.
“Yang Mulia Ratu yang menyuruhku ke sini, untuk mewakili Putri Emelie,” sambung Adriana dengan wajah tidak terlalu suka saat menyebut nama Emelie.
Damian beranjak dari duduknya dengan wajah menahan sakit. Adriana segera berlari untuk menolong Pangeran Damian.
“Lepaskan!” teriak Damian tidak suka saat Adriana menyentuh dirinya.
“Maafkan Aku, Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini.” Adriana menarik tangan Damian dengan mata berkaca-kaca.
“Kau tidak pernah percaya denganku. Apa aku tidak pernah berarti di matamu Adriana?” Pangeran Damian menatap wajah Adriana dengan tatapan menahan amarah.
“Maafkan Aku ....” Adriana memasang senjata andalannya. Wanita itu selalu berhasil membujuk Damian saat meneteskan air mata.
“Aku tidak ingin menemuimu. Rencana yang kau buat sendiri juga tidak berhasil. Sekarang semua menjadi berantakan.” Pangeran Damian mengepal kuat tangannya.
“Apa kau tahu Adriana? siapa yang menolong Emelie? ketua mafia Gold Dragon. Aku bekerja sama dengan baik dengannya. Jika aku salah langkah maka aku akan mengalami kerugian yang besar dari bisnisku di Kasino.” Damian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur saat kakinya tidak bisa menopang tubuh terlalu lama.
“Bukan hanya itu. Pria itu sangat berbahaya. Hampir seluruh mafia-mafia besar yang ada di dunia ini mengenalinya bahkan menunduk di bawah perintahnya. Bagaimana kalau ia tertarik menolong Emelie. Itu akan menimbulkan masalah besar.”
Adriana menjatuhkan tubuhnya di lantai, hingga posisi wanita itu berlutut di bawah kaki Damian. Menangis senggugukan dengan penuh kesedihan dan penyesalan.
“Maafkan Aku, Pangeran Damian. Maafkan Aku, Aku salah. Aku tidak akan menganggumu lagi. Aku juga tidak akan ikut campur masalah Kak Emelie lagi.”
Damian melirik ke arah Adriana, “Kemarilah.” Damian menepuk tempat tidurnya.
Adriana bangkit dan duduk di samping Pangeran Damian. Air mata masih menetes di pipinya.
“Apa orang yang kau kirim berhasil membunuh Emelie?” ucap Pangeran Damian dengan nada yang rendah.
Adriana menggeleng kepalanya, Aku kehilangan kontak dari mereka. Terakhir kali mereka memberi kabar kalau Kak Emelie sudah bersama dengan mereka. Tapi, selang beberapa jam kemudian aku tidak lagi bisa menghubunginya.”
Damian tertawa kecil saat mendengar cerita Adriana, “Aku tidak tahu harus mulai dari mana saat ini. Bahkan orang-orang yang aku kirim tidak lagi bisa masuk ke Hongkong. Pria itu memang sangat berbahaya. Bahkan polisi Hongkong takut kepadanya.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” Wajah Adriana diselimuti kekhawatiran.
“Sayang, Emelie masih mengenalmu sebagai adiknya. Sekarang saatnya kau lakukan tugasmu dengan baik. Buat Emelie pergi meninggalkan Hongkong. Akan lebih mudah menangkapnya saat ia berada di luar Hongkong.”
“Aku?” Adriana menunjuk wajahnya.
“Satu lagi, buat Ratu juga menyusul Raja. Kita tidak akan mudah mencelakai Emelie, saat Ratu turun tangan.” Damian berbisik di telinga Adriana.
Adriana hanya bisa menelan salivanya. Wanita itu sedikit ragu dengan rencana yang kini di rencanakan Damian. Tapi, demi cintanya. Hatinya tidak lagi memiliki belas kasih.
“Baiklah. Aku akan melakukan semuanya.” Adriana menundukkan wajahnya.
“Wanitaku harus menjadi wanita yang berani.” Damian meyentuh dagu Adriana. Mencium bibir Adriana tanpa permisi. Wanita itu hanya bisa pasrah, bukan hanya ciuman. Bahkan, jika Damian meminta lebih ia rela melakukannya. Wanita berusia 23 tahun itu benar-benar dibutakan oleh cinta.
***
Hongkong.
Emelie masih tergeletak di tempat tidur menatap langit-langit kamar. Kedua kakinya ia gerak-gerakkan agar bisa berjalan lagi.
“Sekali lagi, Aku harus bisa berjalan seperti biasa.” Emelie beranjak dari tempat tidur. menapakkan kakinya di lantai dengan hati-hati. Bibirnya mengukir senyuman manis saat ia berhasil berjalan ke arah meja.
Emelie menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa yang tidak terlalu besar. Mengambil beberapa menu sarapannya. Melahap sarapan itu dengan cepat tanpa tersisa satupun. Langkah terakhir, ia meneguk air putih untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokan.
Emelie beranjak lagi dari duduknya. Memperhatikan jendela. Wanita itu berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan pagi dari balik jendela itu. Bibirnya mengukir senyuman indah saat melihat pemandangan yang indah dari lantai dua rumah itu. Dari kejauhan, ada danau hijau yang sempat ia temukan beberapa hari yang lalu.
“Pria ini membangun rumah dilokasi yang sangat indah,” ucap Emelie dengan suara pelan.
Suara ketukan pintu membuat Emelie memutar tubuhnya. Wanita itu memandang ke beberapa pelayan yang masuk ke dalam kamar. Pelayan-pelayan itu mengambil piring-piring bekas sarapan Emelie.
“Dimana Zeroun Zein?” tanya Emelie dengan penuh rasa penasaran.
“Bos Zeroun baru saja pergi, Nona.”
“Bersama pria itu?”
Pelayan itu menatap Emelie dengan raut wajah bingung.
“Lukas, maksud saya dengan pria bernama Lukas?”
“Kemana Bos Zeroun pergi, pasti Bos Lukas selalu ada di sampingnya, Nona.” Pelayan itu menundukkan kepalanya.
“Apa Saya boleh menghubunginya. Saya ingin kembali ke rumah kontrakan itu. Saya tidak ingin tinggal di rumah ini.” Emelie menatap wajahpelayan itu dengan penuh harap.
“Maafkan saya, Nona. Anda bisa mengatakan itu secara langsung kepada Bos Lukas nanti. Saya permisi dulu, Nona.” Pelayan itu tidak lagi ingin menjawab pertanyaan Emelie. Ia lebih memilih pergi dan menghindar.
Emelie memutar tubuhnya untuk menikmati pemandangan pagi itu. Ingin sekali detik ini ia menghubungi pihak kerajaan agar menjemput dan membawanya pulang. Wanita itu sedikit trauma dengan pembunuh bayaran itu.Tapi, ia sangat kenal dengan watak ibunya yang sangat keras.
“Aku akan membuat Zeroun dalam masalah jika pihak kerajaan tahu sekarang aku ada di rumah ini. Ditambah lagi, pria ini seorang mafia.” Emelie menarik napas dengan kasar dengan wajah bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Cakra
iya buta gegara cinta plus gatau terima kasih
2023-04-01
0
Ananda Adhimas yudhistira
ko satu tahun luka Damian sj blm sembuh, emely baru bngun tidur😂..
2021-09-11
1
Maia Mayong
cpt x 1thn brllu .
tp Emilie Bru 3hri ga mkn . hehheheh
2021-08-28
1