3 Hari kemudian ....
Emeliw berbaring dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Bibirnya terlihat gemetar. Tangannya mencengkram seprei tempat tidur. Buliran air mata menetes dengan begitu deras dari sudut matanya.
Pelayan wanita yang ingin membangunkan Emelie, tidak lagi berani mengeluarkan kata. Mereka pergi keluar untuk memberi ketenangan kepada Emelie. Melangkah keluar dengan penuh hati-hati. Tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun.
Beberapa pelayan yang lain kembali ke dapur. Sedangkan satu pelayan wanita lainnya berjalan ke arah ruangan Zeroun. Pelayan itu ingin memberi kabar tentang kesehatan Emelie kepada Bosnya.
Dengan wajah takut, pelayan itu memberanikan diri untuk mengetuk ruang pribadi milik Zeroun Zein. Lukas muncul dari balik pintu, menatap pelayan itu dengan tatapan dingin.
“Ada apa?” Satu pertanyaan singkat yang diucapkan Lukas, bisa membuat tubuh pelayan itu menjadi semakin takut.
“Bos, Nona Emelie belum mau membuka mata. Ia terus saja menangis, setiap kali saya membangunkannya. Nona Emelie juga belum makan atau minum selama tiga hari. Saya sangat mengkhawatirkan kesehatannya.” Pelayan itu menekuk kepalanya.
“Kembalilah bekerja, Saya akan menyampaikan semua ini kepada Bos Zeroun.” Lukas menutup kembali pintu ruangan itu.
Di dalam ruangan itu. Zeroun terlihat sibuk memeriksa bisnis gelapnya. Memeriksa beberapa musuh baru yang bermunculan. Wajahnya terlihat sangat tenang dan santai.
Lukas berdiri di hadapannya, membuat Zeroun mengalihkan pandangannya. Pria itu memandang wajah Lukas dengan seksama.
“Ada apa?” Zeroun meletakkan beberapa berkas yang sempat ada di tangannya.
“Bos, Putri Emelie tidak ingin bangun. Ia juga belum makan ataupun minum selama tiga hari ini.” Lukas memandang wajah Zeroun.
“Tiga hari?” ucap Zeroun pelan.
“Wanita itu sangat dekat dengan Raja. Dia pasti sangat terpukul saat ini, hingga bersikap seperti itu.” Zeroun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Semua info tentang Emelie sudah ia ketahui. Emelie memang lebih dekat dengan Raja daripada Ratu. Walaupun sebenarnya, ia sangat menyayangi keduanya.
“Saya akan melihat keadaannya saat ini.” Zeroun beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah pintu. Lukas mengikuti langkah Zeroun dari belakang.
***
Di dalam kamar, Emelie masih dengan posisi yang sama.Tertidur dengan selembar selimut yang menutupi tubuhnya. Tidak bergerak seperti orang koma.
Zeroun berjalan perlahan mendekati tempat tidur Emelie. Mengambil repot AC, mematikan AC itu. Pria itu berjalan ke arah jendela, menarik gorden yang menutupi kamar dari pantulan cahaya matahari. Membuka jendela kaca agar angin bebas masuk ke dalam ruangan itu.
Lukas berdiri tidak jauh dari pintu. Pria itu hanya diam mematung memperhatikan tingkah laku Zeroun Zein pagi itu. Hembusan angin terasa begitu segar. Cahaya matahari terasa hangat dikulit.
Zeroun Zein memutar tubuhnya untuk mendekati Emelie. Pria itu memperhatikan wajah sedih Emelie dengan seksama. Hatinya merasa tersentuh, saat melihat wajah sedih Emelie saat itu.
Dengan penuh hati-hati, Zeroun duduk di pinggiran tempat tidur. Masih dengan sepasang mata yang memandang wajah Emelie.
“Apa anda merasa bersalah, hingga tidak ingin bangun? Dia akan sangat sedih, jika melihat diri anda seperti ini. Semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu di sesali.”
Lagi-lagi buliran air mata Emelie menetes. Perlahan wanita itu membuka matanya. Namun, matanya terasa sangat perih, saat ia melihat kamar yang begitu terang karena pantulan cahaya matahari. Emelie menutup matanya dengan kedua tangan. Menghindari pantulan cahaya matahari yang begitu terang.
Zeroun tersenyum kecil saat melihat tingkah Emelie. Pria itu menghalangi pantulan cahaya matahari dari wajah Emelie.
“Anda sudah tiga hari tidak membuka mata. Apa anda tidak lagi bisa membuka mata saat ini?” ucap Zeroun pelan. Pria itu ingin beranjak dari tempat tidur Emelie.
“Jangan pergi.” Emelie menahan tangan kiri Zeroun. Membuat pria itu menahan tubuhnya agar tidak beranjak dari tempat tidur.
Emelie bangkit dari tidurnya. Dalam hitungan detik, ia memeluk tubuh Zeroun. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Meluapkan semua kesedihannya sambil memeluk Zeroun. Mencengkram kuat baju yang dikenakan Zeroun saat itu. Mengunci kedua tangannya di pinggang Zeroun.
“Dia sudah pergi. Saya tidak lagi bisa melihat wajahnya.” Air mata Emelie membasahi baju Zeroun.
Zeroun hanya diam tanpa ingin menolak pelukan Emelie. Pria itu membiarkan Emelie melampiaskan kesedihannya saat ini. Ada rasa kasihan yang begitu besar di dalam hatinya. Emelie selalu saja mengingatkan dirinya dengan dua wanita yang ia sayangi.
Dari kejauhan, Lukas memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar itu. Baginya melihat Emelie kembali membuka mata, sudah membuat hatinya bernapas lega. Lukas menutup pintu secara perlahan, hingga tidak terdengar suara sedikitpun.
“Yang Mulia ....” ucap Emelie dengan nada yang sangat lirih.
Zeroun mengangkat satu tangannya. Ia ingin menepuk pundak Emelie saat itu. Namun, tangannya tertahan. Pria itu tidak ingin terlalu dekat dengan wanita asing yang kini sedang memeluknya.
“Apa anda bisa melepaskan saya?” ucap Zeroun dengan wajah dingin.
Emelie melepas pelukannya. Menghapus sisa air mata yang masih menetes sebelum menatap wajah Zeroun.
“Terima kasih, karena sudah menolong saya.” Emelie menatap wajah Zeroun.
Zeroun beranjak dari tempat tidur itu. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
“Jika ingin berterima kasih, sebaiknya jangan terlalu menyusahkan hidup orang lain. Habiskan sarapan itu.” Zeroun berjalan ke arah pintu. Tidak lagi ingin berbalik untuk menatap wajah Emelie.
Sedangkan Emelie, menatap punggung Zeroun dengan seksama. Setelah pintu itu tertutup, Emelie memandang beberapa menu yang sudah disiapkan untuk dirinya. Sudah tiga hari wanita itu tidak merasakan lapar. Tapi, detik itu. Ia mulai merasakan lapar dan ingin melahap menu sarapan itu hingga tak tersisa lagi.
“Aku harus memulihkan tenagaku, setelah itu aku harus kembali ke Inggris.”
Emelie beranjak dari tempat tidur. Kakinya terasa sangat lemah untuk berjalan, sudah tiga hari tidak menggerakkan kakinya. Membuat Emelie sulit untuk berjalan.
Di tengah keputusasaan, Emelie membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar. Wajah Zeroun Zein terukir dengan jelas di hadapannya. Bibirnya mengukir senyum kecil.
“Zeroun Zein ....”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Theresia Anita
kok aku blm bisa move on dari zeroun dan erena + daniel ya
ada rasa cemburu saat zeroun ad perhatian ke cewek lain wkwkkwwk
tp kasihan juga sama nasib zeroun
2021-06-10
0
flora sweet
benih2 nya udh mulai tumbuh....
2021-03-09
0
🌹🌺gemini🌺🌹
benih2 cinta akn tmbuh di hati mrka
2021-02-13
0