Lukas ada di dalam kamar Zeroun. Kedua pria itu terlihat duduk saling berhadapan. Melihat beberapa informasi yang baru saja mereka dapatkan. Setelah Damian dan Emelie pergi, Lukas mencari informasi seputar kehidupan Emelie dan Damian. Kedua pria itu terlihat kaget, saat mengetahui Damian adalah pria yang sangat berbahaya.
“Bos, wanita itu ....” ucap Lukas tertahan. Sejak mengetahui keadaan sebenarnya. Ingin sekali ia mengatakan kepada Zeroun kalau ia ingin menolong wanita itu saat ini.
Zeroun menatap wajah Lukas dengan seksama. Beberapa informasi yang baru saja ia dapat, masih ada dicengkraman tangannya.
“Wanita itu tidak meminta tolong pada kita. Untuk apa kita menolongnya?” Zeroun masih teguh pada pendiriannya. Ia tidak ingin menolong Emelie dengan semudah itu.
Handphone Lukas bergetar. Lukas menatap layar ponselnya dengan pirasat buruk. Nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama pengawal yang ia kirim untuk mengawasi Pangeran Damian dan Putri Emelie.
Lukas beranjak dari duduknya. Sedikit menjauh dari posisi Zeroun. Pria itu tidak ingin Zeroun tahu, kalau ia telah mengirim orang untuk mengikuti Emelie.
“Kirimkan lokasinya,” celetuk Lukas dengan wajah panik sebelum memutuskan panggilan telepon itu.
“Ada apa?” Zeroun sedikit tertarik dengan ekspresi wajah Lukas malam itu.
“Bos, maafkan saya.” Lukas menunduk hormat.
“Apa pengawal yang kau kirim memberi satu kabar buruk?” Zeroun mengangkat satu alisnya.
“Maafkan saya, Bos. Saya mengambil tindakan tanpa persetujuan anda.” Lukas menekuk kepalanya. Merasa bersalah karena tidak memberi tahu Zeroun sejak awal.
“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Zeroun dengan wajah yang sangat tenang.
“Ada pembunuh bayaran yang ingin mencelakai Putri Emelie. Pangeran Damian pergi menuju bandara tanpa ingin menolong Putri Emelie, Bos.”
“Apa Pangeran Damian berniat untuk mencari masalah di wilayah kita.” Zeroun tersenyum kecil saat mengingat prilaku buruk Pangeran Damian kepada Putri Emelie.
“Bos, ijinkan saya untuk menolong Putri Emelie.” Lukas masih menunduk tanpa berani memandang wajah Zeroun secara langsung.
Zeroun beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah meja yang terletak di sudut ruangan. Membuka laci meja itu untuk mengambil benda favorit miliknya.
“Sudah cukup istirahatnya. Sepertinya sekarang saatnya kita bermain-main lagi.” Zeroun mengokang pistolnya berjalan dengan tenang menuju ke arah pintu.
Lukas mengukir satu senyuman lega karena Zeroun mau menolong Emelie. Pria itu tahu, kalau masalah yang akan mereka hadapi akan sangat sulit dilewati. Tapi, pria itu sangat tertarik untuk menolong Emelie saat ini. Setelah ia mengetahui semua masalah yang di hadapi oleh Emelie.
Lukas mengikuti langkah kaki Zeroun dari belakang. Kedua pria itu berjalan menuruni anak tangga dengan wajah tidak terbaca lagi. Beberapa pasukan Gold Dragon mengikuti Zeroun dan Lukas dari belakang. Satu pistol yang ada di genggaman Zeroun Zein sudah menjadi satu perintah tak terucap saat itu.
Lima mobil itu melaju dengan cepat menuju ke lokasi yang dikirim oleh salah satu pasukan Gold Dragon.
***
Di tengah rerumputan yang sangat semak. Dua pasukan Gold Dragon tergeletak tidak bernyawa. Tidak jauh dari posisi dua pria itu, ada tubuh Emelie yang juga terbaring tidak sadarkan diri.
Beberapa pembunuh bayaran yang tersisa tampak tersenyum puas. Satu pria mengambil ponsel, untuk menerima perintah Adriana selanjutnya.
“Nona, wanita itu sudah ada bersama kami. Apa yang harus kami lakukan?” Pria itu tersenyum licik memandang wajah Emelie.
[Aku ingin kalian ambil kehormatan yang paling berharga dalam dirinya. Setelah itu buat wajahnya cacat. Sepertinya sangat mudah, jika membuatnya mati saat ini. Aku ingin dia menderita, hingga akhirnya dia sendiri yang ingin mengakhiri hidupnya.]
“Baik, Nona.” Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Memandang tubuh Emelie dengan wajah mesum.
“Kalian pergilah. Pekerjaan selanjutnya sangat mudah untuk dilakukan.” Pria itu tersenyum penuh arti.
“Baik, Bos,” ucap beberapa pria itu bersamaan sebelum pergi meninggalkan Emelie dan Bosnya berdua saja.
Pria itu berjalan mendekati posisi Emelie. Berlutut dengan satu kaki ditekuk. Perlahan, ia menyentuh wajah Emelie yang sangat cantik.
Senyum kecil terukir di bibirnya. Dengan kasar, ia merobek gaun Emelie hingga memamerkan tubuhnya yang mulus. Tidak cukup sampai di situ, pria itu mulai menunduk untuk mencicipi tubuh Emelie yang begitu menggoda.
Namun, aksinya terhenti. Pria itu menatap wajah Emelie yang masih tidak sadarkan diri dengan mata yang melebar. Darah berkucur deras di tubuh Emelie. Dengan penuh keraguan, pria itu memberanikan diri untuk melihat ke arah belakang.
Tenaganya sudah hampir hilang. Pria itu di tusuk dengan belati yang sangat tajam oleh Lukas. Belati kesayangan Lukas, menancap di pundak kanannya. Tidak cukup sampai di situ, Lukas menarik belati miliknya dengan durasi yang lama. Membuat pria itu merasakan sakit yang luar biasa. Tubuh Emelie dipenuhi darah dari pria itu.
Di sisa tenaganya, pria itu mengeluarkan satu tembakan untuk memberi kode kepada bawahannya.
Dalam waktu yang bersamaan, Zeroun juga mengeluarkan satu tembakan. Peluru itu menancap dengan dalam di dahi pria itu. Tidak ada lagi kesempatan untuknya hidup. Pria itu tergeletak di rerumputan dengan mata melebar menatap Zeroun Zein.
Beberapa bawahannya keluar. Beberapa pasukan Gold Dragon menghadapi beberapa pembunuh bayaran yang tersisa. Dari kejauhan, Zeroun membuka jas yang ia kenakan. Berjalan dengan tenang mendekati posisi Emelie. Lukas menjauh dari Emelie, pria itu lebih memilih bertarung melawan musuh.
Zeroun menutupi tubuh Emelie yang terbuka. Mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya. Untuk yang kedua kalinya, tubuh Emelie ada di dalam gendongannya. Dengan langkah yang begitu tenang, Zeroun berjalan ke arah mobil.
“Jangan ada yang tersisa satupun,” ucap Zeroun sebelum melanjutkan langkahnya ke mobil.
Lukas membunuh pembunuh bayaran itu dengan brutal. Tidak ada satupun yang ia biarkan lolos dari genggaman tangannya.
“Ampun, Tuan. Ampun.” Satu pria memohon di hadapan Lukas, saat ia tahu kalau posisinya tidak lagi aman.
“Apa kau pernah memikirkan kata itu saat menerima tugas ini? Siapapun yang membuat kekacauan di wilayah kami, tidak akan kami biarkan lolos dengan mudah.” Lukas mengokang senjata miliknya.
“Maafkan kami, Tuan.” Pria itu bersujud berulang kali dengan wajah ketakutan.
DUARR!
Tanpa ampun, Lukas menarik pelatuk pistolnya. Bibirnya tersenyum kecil, saat ia berhasil membunuh pria itu.
“Bereskan semuanya!” perintah Lukas sebelum pergi meninggalkan kekacauan itu.
“Baik, Bos.” Semua pasukan Gold Dragon mulai mengumpulkan mayat-mayat yang tergeletak. Membuang mayat-mayat itu untuk menghilangkan jejak.
Zeroun melajukan mobilnya dengan wajah dingin. Menembus embun malam yang dingin. Pikirannya kembali melayang, pada Pangeran Damian yang sudah kembali ke Monako.
“Pria yang tidak bertanggung jawab. Ia tinggalkan tunangannya di tempat orang lain.” Zeroun menatap wajah Emelie yang belum sadarkan diri. Senyum manis terukir di bibirnya.
“Tapi, Aku setuju dengan ucapan Pangeran Damian. Kalau kau ini adalah wanita yang nakal. Bisa-bisanya lari saat pernikahan. Kau memang wanita yang cukup berani, Emelie ....”
Like ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Devi Handayani
iihh cuka kan kamu.... king Zeroun sama putri emilie🤴❤👰♀️
2023-06-21
0
Cakra
emelie emang nakal bang tapi bisa bikin abang senyum kan
2023-04-01
0
Cakra
gimana gak makin lope lope sama babang zeroun
2023-04-01
0