Kerajaan Inggris.
“Apa? Pangeran Damian langsung yang menjemput Kak Emelie di Hongkong?”
Adriana baru saja mendapat kabar dari orang kepercayaannya. Tangannya terkepal kuat menahan kecewa. Wanita itu menggertakan giginya saat mengingat perkataan bawahannya.
“Putri, kecilkan suara anda. Bagaimana kalau ada pelayan yang dengar.” Wanita itu memandang ke arah pintu.
“Apa pembunuh yang kita kirim sudah tiba di Hongkong?” Kedua bola mata Adriana melebar dan menghitam. Tatapan itu sudah dipenuhi kebencian dan amarah.
“Sudah, Putri.” Pelayan itu menundukkan kepalanya.
“Bagus.” Adriana mengukir senyuman penuh kemenangan.
“Katakan pada mereka, Saya akan membayar dua kali lipat. Jika mereka berhasil menemukan Kak Emelie lebih dulu.” Adriana berjalan ke arah jendela. Melipat kedua tangannya dengan ukiran senyuman licik.
“Bunuh wanita itu di Hongkong. Pastikan wanita itu kehilangan kehormatannya.”
“Baik, Putri. Saya permisi dulu agar tidak ada yang curiga.” Wanita itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan kamar Adriana.
Adriana masih tetap memandang jendela yang mengarah langsung ke taman bunga. Wanita itu benar-benar dendam kepada Kakak angkatnya. Sifatnya yang cemburuan membuat sifat jahat itu muncul. Merubah wanita baik dan lemah lembut itu dipenuhi dendam.
“Aku tidak akan tinggal diam. Pangeran Damian, anda memang pria yang tidak bisa dipercaya. Anda begitu ingin memiliki kami berdua bukan? apa kau pikir aku akan membiarkan kalian berdua menikah? Tidak akan, aku akan menggagalkan semua rencana yang sudah tersusun rapi.” Kedua tangan Adriana ia lipat di depan dada. Tanpa ada hal yang lucu, wanita itu tiba-tiba saja tertawa dengan begitu nyaring.
“Kak Emelie. Bukankah kau ingin bersenang-senang? Aku akan membuatmu merasakan kesenangan yang akan kau ingat seumur hidupmu.”
***
Rumah Zeroun Zein.
Siang telah berubah menjadi malam. Cahaya rembulan bersinar terang di antara bintang-bintang. Langit gelap itu sungguh terlihat indah. Udara terasa sejuk dengan semiliran angin yang tidak terlalu kencang.
Di dalam kamar, Emelie duduk di pinggiran tempat tidur. Bajunya sudah terganti dengan dres berwarna maroon. Rambutnya tergerai dengan begitu indah. Kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan. Tatapan matanya kosong. Wanita itu merasa sedih karena akan kembali dan akan segera melanjutkan pernikahannya yang tertunda.
Dengan penuh hati-hati, ia berjalan keluar kamar. Mengintip dari balik pintu ke arah dua pengawal yang menjaganya dengan sangat ketat. Emelie berjalan ke pinggiran lantai yang menghubungkannya dengan lantai bawah. Terlihat Pangeran Damian yang baru saja tiba di rumah Zeroun Zein. Kedua pria itu terlihat sangat akrab saat berbincang-bincang. Emelie memutar tubuhnya dengan cepat. Berlari masuk ke dalam kamar.
“Pria itu, kenapa dia tidak bisa membiarkanku untuk bebas beberapa hari saja,” ucap Emelie dengan wajah kesal.
.
.
.
Di lantai bawah.
Zeroun dan Pangeran Damian duduk saling berhadapan. Beberapa pelayan terlihat sibuk menghidangkan minuman berwarna kristal. Menuangkan minuman itu ke dalam gelas bertangkai. Satu pengawal berdiri di samping Pangeran Damian. Lukas juga melakukan hal yang sama. Pria itu berdiri di samping Zeroun Zein untuk melindungi Bosnya.
“Sungguh satu kehormatan bagi saya. Karena anda mau mengunjungi rumah saya yang kecil ini.” Zeroun tampak basa-basi dengan tawa renyah.
“Anda terlalu merendah, Zeroun. Kita teman bukan? jangan seperti itu. Di Monako saya Pangeran. Tapi di rumah ini, saya hanya pria biasa.” Pangeran Damian juga mengeluarkan tawa kecil. Matanya terlihat menjelajahi isi rumah Zeroun Zein saat itu.
“Silahkan diminum, Damian.” Zeroun mengambil gelas bertangkai. Meneguk isinya secara perlahan.
“Anda bisa tinggal di rumah ini jika anda ingin, Damian.”
“Tidak, Zeroun. Terima kasih atas tawarannya. Malam ini saya akan membawa wanita itu kembali pulang ke rumahnya.” Damian mengambil gelas bertangkai yang sudah disediakan di atas meja.
“Apa wanita itu sangat berharga? wanita itu mengatakan identitasnya hanya seorang pengemis yang ada di Monako.” Zeroun mulai menyelidiki Pangeran Damian.
“Tapi pengemis itu sangat cantik bukan?” Pangeran meletakkan gelas itu di atas meja.
Zeroun mengangkat kedua bahunya, “Saya tidak terlalu pandai membedakan mana yang cantik mana yang jelek.”
Lagi-lagi, kedua pria itu tertawa renyah. Suasana di ruangan utama itu terlihat begitu ramai. Tawa kedua pria itu memenuhi isi ruangan itu.
“Boleh saya melihat wanita itu, Zeroun?” Damian sudah tidak sabar. Ia ingin segera memastikan kalau Emelie benar-benar ada di dalam rumah itu.
Zeroun memandang wajah Lukas. Lukas membungkuk hormat sebelum pergi menuju ke arah tangga. Dengan langkah cepat dan pasti, Lukas menjemput Emelie didalam kamar.
“Zeroun, apa anda sudah menikah? rumah ini terlihat sangat sunyi.” Damian bersandar dengan tenang.
Zeroun menggeleng pelan, “Saya belum menikah.”
“Kita sama, saya juga belum menikah. Pengantin wanita saya kabur ke Hongkong.” Damian tersenyum kecil. Senyuman yang mengandung arti begitu besar. Tatapan matanya teralihkan ke arah tangga.
Emelie berjalan dengan wajah tidak suka. Di belakang wanita itu ada Lukas yang mengawasinya agar tidak lari. Emelie menatap wajah Zeroun dan Damian secara bergantian. Langkahnya semakin lambat saat wanita itu hampir tiba di dekat Damian.
“Emelie, kau wanita yang sangat nakal.” Damian berdiri dari duduknya. Menatap wajah Emelie dengan senyuman kecil. Tanpa menunggu lama lagi, pria itu berjalan mendekati posisi Emelie.
Lukas berjalan ke arah Zeroun. Pria itu tidak tertarik untuk selalu berada di samping Emelie.
“Apa kau senang?” Emelie manatap wajah Damian dengan penuh kebencian.
“Sayang, Kau harus ikut pulang denganku. Apa kau tidak ingin datang ke pemakaman Raja?” Damian menatap tajam kedua bola mata Emelie.
Satu kabar yang tidak ingin ia dengar detik itu. Mata Emelie berubah menjadi merah. Jantungnya seperti diremas dengan begitu kuat. Buliran air mata menetes saat hatinya merasakan kesedihan yang mendalam.
“Yang Mulia ....” ucap Emelie dengan nada yang sangat lirih.
“Jangan jadi wanita yang nakal. Kau sudah membuat Raja terkena serangan jantung.” Damian menyelipkan rambut Emelie di belakang telinga.
Dari tempat yang tidak terlalu jauh. Zeroun mendengar jelas percakapan Emelie dan Damian. Pria itu memandang ke arah lain. Ia tidak tertarik untuk menolong Emelie saat itu. Ia tidak ingin memiliki masalah dengan Damian. Baginya hidupnya yang sekarang sudah cukup tenang.
“Kau pasti Bohong Damian!” teriak Emelie tidak terima. Wanita itu belum siap kalau kabar berita yang dikatakan oleh Damian adalah kenyataan.
“Kau pria menjijikkan!”
PLAKK!
Satu tamparan mendarat di pipi Emelie. Meninggalkan bekas kemerahan di wajah mulusnya. Zeroun dan Lukas memandang wajah Emelie. Ada sedikit rasa kasihan di hati Zeroun, saat pria itu melihat ada wnaita yang dianiaya di depan matanya. Namun, ia masih belum ingin menolong Emelie.
“Berikan padaku foto itu. Wanita ini tidak akan pernah percaya jika kita tidak memiliki bukti.” Damian memberi perintah kepada pria yang bersamanya. Pria itu terlihat mengeluarkan beberapa foto pemakaman Raja.
Pria itu memberikan beberapa lembar foto di hadapan Emelie. Dengan tangan gemetar, Emelie meneriman foto itu. Memandang foto itu dengan bendungan air mata.
“Yang Mulia ....” Emelie terduduk di lantai. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Napasnya benar-benar sesak saat itu. Ia tidak lagi bisa mengeluarkan kata. Hanya ada rasa penyesalan di dalam hatinya.
“Maafkan Emelie, Yang Mulia Raja.” Emelie meletakkan foto-foto itu di depan dadanya. Wanita itu menangis senggugukan. Air matanya menetes dengan deras.
Like sama Komen.😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Cakra
belum nikah aja tangan udah gampang plak plak gitu lakik macam apa
2023-04-01
0
Mella Soplantila Tentua Mella
dasar pangeran gila harta dan kekuasaan...zeroun tolong emelia doong jangan biarkan dia pergi atw menikah dengan pangeran damian...putri dlm bahaya😥😥😥😥😥😥
2022-10-08
0
Nina Kiss
saking menikmati cerita ini, sampe kesel banget saat si pangeran nampar putri 😡
2021-11-23
2