Langit yang cerah berubah mendung. Di siang itu tidak ada yang bisa menemukan cahaya matahari. Tetes demi tetes, air hujan mulai jatuh dari gumpalan awan.
Mobil Lukas menembus jalanan yang basah. Sesekali pria berstatus bawahan Zeroun Zein itu melirik Emelie melalui spion. Wanita itu terlihat tenang walaupun baru tertangkap. Tidak ada rasa takut sama sekali dari raut wajahnya.
“Siapa anda?” Lukas angkat bicara. Masih dengan pandangan ke jalan lurus di depan.
“Aku Emma,” jawab Emelie tanpa beban.
“Siapa anda?” Lukas mengulangi perkataannya saat tidak mendapat jawaban yang sesuai isi hatinya.
“Aku Emma. Apa kau tuli!” tukas Emelie yang mulai kesal.
Lukas menarik napas sambil menggenggam stir mobil dengan kuat. Giginya beradu dengan begitu kuat. Pria itu hampir saja di sulut emosi.
Tetapi, ia masih menahannya untuk detik itu. Wanita itu belum menimbulkan masalah yang serius bagi Bosnya. Ia tidak ingin gegabah dan mencelakai Emelie detik itu juga.
“Siapapun diri anda, apapun masalah anda. Jangan pernah libatkan Bos Zeroun di dalam masalah anda itu,” sambung Lukas sebelum menambah laju mobilnya menembus rintihan hujan yang sudah mulai deras.
Emelie menatap ke arah jendela yang berembun. Memegang jendela mobil itu dengan mata berkaca-kaca. Hatinya merasakan pirasat buruk. Tiba-tiba saja wanita berusia 25 tahun itu merindukan kedua orang tuanya dan ingin pulang.
Walaupun berita kematian Raja Inggris sudah tersebar di seluruh media. Tapi, Emelie belum mengetahui kabar berita itu.
“Apa kalian baik-baik saja, Yang Mulia? Emelie akan segera pulang.” Perlahan ia mulai mengukir senyum di bibirnya. Wanita itu mencoba bangkit untuk menghilangkan pirasat buruknya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan Lukas tiba di rumah Zeroun Zein. Satu pengawal berlari untuk membukakan pintu mobil Emelie. Membawa satu payung untuk melindungi Emelie dari rintihan hujan.
Dengan penuh hati-hati, Emelie turun dari dalam mobil. Wanita itu memandang wajah Lukas yang turun dengan wajah dinginnya. Pria itu mengibaskan payung dari pengawal yang ingin melindunginya. Berjalan dengan langkah cepat menuju ke dalam rumah.
“Mari, Nona. Anda sudah ditunggu oleh Bos Zeroun.” Satu pengawal memperingati Emelie agar segera jalan.
Tapi, wanita itu tidak kunjung jalan. Ia memperhatikan sekeliling halaman depan rumah Zeroun Zein. Terdapat banyak pria bersenjata di sana. Pria-pria yang mengenakan setelan hitam-hitam terlihat berjaga-jaga untuk melindungi rumah.
Mafia Gold Dragon. Apa yang akan di lakukan pria itu kalau dia tahu identitas asliku.
Emelie mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Langkahnya sangat lambat. Hatinya merasa ragu untuk masuk ke dalam rumah itu. Kedua jari-jarinya saling beradu dengan tatapan mata memandang ke arah Lukas. Pria itu berdiri di depan pintu sebuah ruangan pribadi milik Zeroun.
Emelie memandang pengawal yang berjalan di sampingnya. Memperhatikannya dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pengawal itu menundukkan kepalanya di hadapan Emelie saat ia menangkap tatapan mata Emelie yang ditujukan untuk dirinya.
“Silahkan, Nona.” Pengawal itu mengulurkan tangan agar Emelie melanjutkan langkahnya sendiri ke arah Lukas. Emelie tidak ingin mengeluarkan kata lagi, wanita itu berjalan dengan santai ke arah Lukas.
Lukas membukakan pintu untuk memberi jalan kepada Emelie. Pria itu juga ikut masuk saat Emelie sudah berada di dalam ruangan itu.
Di dalam ruangan. Zeroun duduk dengan santai di sebuah sofa besar. Pria berwajah dingin itu menghentikan aktifitasnya sejenak, saat melihat kedatangan Emelie. Kedua matanya menatap tajam wajah Emelie. Wajah Zeroun lebih menyeramkan jika dibandingkan wajah Lukas siang hari itu.
Emelie menghentikan langkah kakinya saat melihat tatapan menyeramkan Zeroun. Pria itu seperti ingin menyalahkan dirinya dan memberi satu hukuman.
“Duduklah,” perintah Zeroun singkat.
Emelie tidak lagi berani melangkahkan kakinya. Kedua bola matanya justru memeriksa setiap sudut ruangan yang ada dihadapannya.
“Duduk!” perintah Lukas dengan nada tinggi.
Emelie tidak lagi memiliki pilihan. Dengan penuh hati-hati ia duduk di salah satu sofa yang menghadap langsung dengan Zeroun.
“Lukas, ambilkan minuman untuk tamu kita. Sepertinya tamu kita sangat haus.” Zeroun memperhatikan bibir Emelie yang mengering.
Lukas berjalan untuk mengambil botol wine dan gelas kristal yang tersusun rapi di rak lemari kaca.
“Aku tidak minum alkohol,” celetuk Emelie. Tanpa ragu, wanita itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kulkas berukuran besar.
Lukas mematung dengan botol wine dan gelas di tangannya. Memandang Emelie yang terlihat sangat berani saat itu.
Sama halnya dengan Zeroun, pria itu semakin yakin kalau Emelie bukan pengemis seperti yang wanita itu katakan sebelumnya.
Emelie membuka pintu kulkas itu. Mengambil minuman kaleng, membukanya dengan wajah tak terbaca. Meneguk minuman itu tanpa jeda, seperti orang yang kehausan.
Zeroun memperhatikan tingkah laku Emelie saat itu. Wanita itu kembali mengingatkannya dengan Serena sahabatnya.
“Anda wanita yang sangat berani. Bahkan nyawa anda tidak lama lagi, tapi anda terlihat sangat tenang.” Zeroun membuang tatapan matanya dari wajah Emelie. Memandang ke arah jendela kaca yang menghadap ke taman.
“Setidaknya saya tidak mati dalam kondisi kehausan. Itu jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan mati dengan kondisi seperti ini.”
Emelie melempar kaleng kosong itu ke arah kotak sampah yang ada di samping kulkas.
Menatap wajah Lukas sebelum berjalan kearah sofa lagi. Emelie duduk dan memasang tatapan tajam ciri khasnya. Sekuat mungkin ia menghilangkan rasa takutnya detik itu. Meskipun ia sadar, kalau kini ia berada di tempat yang sangat berbahaya. Suatu tempat yang bisa menghilangkan nyawanya dalam sekejab mata.
“Ok. Saya tidak ingin banyak basa-basi lagi. Siapa anda?” Zeroun mengambil salah satu pistol yang tergeletak di atas meja.
Membersihkan pistol itu dengan kain kecil yang sudah tersedia. Membuat pistol berwarna hitam itu terlihat semakin mengkilat.
Emelie menelan salivanya saat melihat pistol itu. Nyalinya yang sempat berani sudah mulai meleleh saat melihat pistol yang ada di genggaman Zeroun.
“Saya ....” Emelie memandang wajah Lukas. Wanita itu mengingat kembali jawabannya kepada Lukas saat di dalam mobil. Pria itu meresponnya dengan wajah kesal.
Apa yang harus aku lakukan. Apa dia sudah tahu, identitasku? tapi, kenapa pria ini memperlakukan aku seperti ini. tidak mungkin, aku yakin kalau kedua pria ini belum tahu. Mereka akan segera menghubungi Pangeran Damian saat tahu kalau aku putri Emelie.
DUARRR!
“Emelie, nama Saya Emelie,” celetuk Emelie dengan napas terhenti sejenak sambil memejamkan mata.
Wanita itu terlihat sangat syok saat mendengar suara tembakan yang begitu memekakan telinga.
Dengan berat, Emelie memberanikan diri untuk memandang ke arah samping. Vas bunga pecah karena di tembak oleh Zeroun. Bunga lily yang tersusun dengan indah di dalam vas bunga itu berserakan di lantai.
“Emelie?” Zeroun mengulang perkataan Emelie.
“Apa hanya kata itu yang ingin anda katakan saat ini, Emelie?” Zeroun mengokang senjata itu lagi.
“Tuan, saya tidak tahu apa masalah anda. Apa anda ingin menembak lagi untuk menakuti-nakuti saya?” ucap Emelie dengan nada tinggi.
“Apa itu berhasil?” Zeroun mengukir senyuman tipis.
Like dan Vote 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Chandra Dollores
wanita feminin yg bisa memikat zeuren karena 2 wanita kesayangannya sebelumnya, jago kungfu
2021-11-09
0
flora sweet
kaget kaget emilie....😍😍😍😍
2021-03-09
0
🌹🌺gemini🌺🌹
duarrrrt
2021-02-13
0