Inggris. Istana Kerajaan.
Gedung istana terlihat sangat hening. Semua orang telah merasakan kehilangan. Raja Inggris telah tiada untuk selama-lamanya. Pria berusia 60 tahun itu tutup usia karena penyakit jantung. Ratu berada di samping peti sang Raja dengan mata merah yang bengkak. Di samping Ratu ada Adriana yang juga terlihat habis menangis senggugukan.
Pangeran Damian berdiri di depan peti raja untuk memberi penghormatan terakhir. Wajahnya terlihat sedih dan seperti merasa kehilangan. Pria itu memang cukup handal dalam berakting dan membuat orang lain yakin pada dirinya.
“Pangeran, sudah saatnya.” Satu pengawal memberi kabar keberangkatan ke tempat persemayaman terakhir.
“Laksanakan.” Perintah Pangeran Damian.
Beberapa pengawal mengangkat peti Raja untuk segera disemayamkan. Beberapa colonel berbaris rapi untuk mengantar kepergain Raja. Pria berseragam resmi memimpin proses persemayaman siang itu. Ratu pingsan karena tidak sanggup menerima kenyataan yang datang bersamaan. Baru saja beberapa hari ini putri semata wayangnya menghilang. Hari ini ia harus di tinggal pergi oleh suami yang paling ia cintai.
“Yang Mulia ....” ucap Adriana dengan nada yang sangat lirih.
Beberapa keluarga terlihat berdatangan untuk menolong Ratu. Membawa tubuh Ratu ke kamar untuk istirahat. Adriana juga ikut untuk menemani sang Ratu. Sekilas ia memandang Pangeran Damian sebelum pergi menaiki anak tangga.
Di kamar yang berukuran luas dan mewah. Dengan penuh hati-hati tubuh sang Ratu diletakkan di atas tempat tidur berukuran big size.
“Putri, sebaiknya anda tetap di sini menemani Ratu. Biar kami yang menghadiri pemakaman Raja. Pangeran Damian juga ada di sini, biar beliau yang mewakili Ratu di pemakaman.” Salah satu anggota kerajaan angkat bicara.
Emelie mengangguk setuju, “Ya, saya akan tetap berada di sini untuk menemani Yang Mulia.”
“Kami permisi dulu Putri,” ucapnya lagi sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar bercorak gold itu.
Adriana mengambil tangan Ratu, menggenggam tangannya dengan lembut. Tatapan matanya masih ia fokuskan menatap wajah sang Ratu.
“Emelie ... Emelie ....” ucap Ratu dengan nada yang sangat pelan.
Wanita berusia 50 tahun itu sangat merindukan putri semata wayangnya. Walaupun ia belum sadarkan diri, dengan mata tertutup bibirnya selalu menyebut nama Emelie. Buliran air mata menetes di ujung matanya yang sedikit berkerut.
“Kak Emelie,” ucap Adriana pelan. Wanita itu meletakkan kembali tangan sang Ratu di tempat tidur. Menatap foto keluarga berukuran besar yang ada didalam kamar itu.
Adriana mengukir senyuman kecil sebelum berdiri didepan foto itu.
Emelie, Aku harap kau tidak pernah kembali ke kerajaan ini. Aku akan terus menghalangimu agar kau tidak pernah bisa bertemu dengan Ratu lagi. Hanya aku putri Raja dan Ratu. Kau yang seharusnya pergi dari kerajaan ini. Semua ini milikku, Emelie. Aku akan mengambil semua yang kau miliki mulai dari sekarang. Kerajaan, Yang Mulia, Pangeran Damian. Semuanya!
***
Hongkong.
Emelie baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Wanita itu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya, karena tidak ada hair dryer di kontrakan sempit itu. Duduk di ujung tempat tidur sambil menatap keluar jendela. Hatinya tiba-tiba merasa sedih.
“Emelie, sangat merindukan kalian Yang Mulia. Apa kalian baik-baik saja. Maafkan Emelie, Emelie cuma pergi sebentar saja. Setelah Emelie puas bermain, Emelie akan bersedia untuk menikah dengan Pangeran Damian.” Emelie kembali mengukir senyuman indah.
Emelie mendengar suara yang sangat berisik di luar kamarnya. Wanita itu beranjak dari duduknya, masih dengan handuk yang melilit dikepalanya. Perlahan ia membuka pintu untuk mengintip keadaan di luar. Beberapa orang tampak berlarian dengan wajah ketakutan.
Emelie menutup pintu itu dengan hati-hati. Menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Samar-samar ia mendengar perbincangan orang yang ada di depan kamarnya. Rumah susun itu lagi diserang oleh para rentenir. Dalam waktu singkat, Emelie ingat akan janjinya, kalau ia akan membawa Gold Dragon untuk melindungi Pak Tua pemilik kontrakan.
“Bagaimana ini,” ucap Emelie dengan wajah gusar.
“Aku harus kabur dari tempat ini. Aku tidak ingin mereka tahu, kalau aku lagi berbohong.”
Emelie terperanjat kaget saat mendengar suara ketukan pintu dengan durasi cepat. Wanita itu melangkah mundur dengan keraguan. Menarik napas yang terasa berat.
“Nona, ini kami,” teriak seorang pria dari luar.
Emelie memejamkan matanya sejenak. Mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia berusaha berani untuk membuka pintu kamar itu.
“Ada apa?” tanya Emelie dengan wajah pura-pura tidak tahu.
“Nona, Bos Lukas ingin bertemu dengan anda di bawah. Terima kasih, Nona. Karena anda sudah menghubungi Gold Drgaon tepat waktu.” Pria itu mengukir senyum kegirangan.
“Bos Lukas?” tanya Emelie dengan wajah mulai takut.
“Iya, Nona. Anda sudah di tunggu di bawah. Mari saya antar.” Pria itu menarik tangan Emelie.
“Tunggu tunggu, Saya ingin meletakkan handuk ini.” Emelie menunjuk handuk yang melilit di kepalanya.
“Pergilah duluan, katakan padanya saya akan segera turun untuk menemuinya.” Emelie mengukir senyuman manis untuk menutupi ketakutannya.
“Baik, Nona.” Pria itu pergi menuju ke arah tangga.
Emelie masih berdiri di depan kamarnya. Ada anak kecil berusia 8 tahun berlari-lari di lorong itu. Dengan penuh tekad dan keberanian, Emelie menarik tangan anak kecil itu.
“Hei, apa kau bisa menolong Aunty? Aunty punya uang untuk jajan.” Emelie memamerkan 2 lembar uang di depan anak kecil itu.
“Nona, apa yang bisa saya bantu.” Anak kecil itu tertawa kegirangan.
“Selain lewat tangga itu, dari mana kita bisa turun ke bawah. Maksudku, apa ada jalan lain?” ucap Emelie dengan penuh harap.
Anak kecil itu menunjuk ke arah lorong yang ada di sudut lain. Emelie memberi dua lembar uang itu. Tanpa banyak kata lagi, Emelie berlari menuju ke arah jalan yang dimaksud. Langkahnya benar-benar sangat cepat. Ia tidak ingin tertangkap lagi. Wanita itu belum puas untuk berjalan-jalan.
Di lantai bawah.
“Bos, Nona itu akan segera turun. Dia bilang ....”
Lukas mendorong pria itu dengan wajah tidak suka. Dengan langkah setengah berlari, Lukas menaiki anak tangga untuk memeriksa langsung wanita yang ia cari. Beberapa pasukan Gold Dragon juga mengikuti langkah Lukas dari belakang.
Wajah pemilik rumah susun itu berubah bingung. Namun, ia tidak ingin cari tahu lebih banyak. Lukas bukan sembarang orang yang bisa di ajak bicara. Pria tua itu masih menyayangi nyawanya yang berharga.
“Dimana kamar wanita itu?” tanya Lukas dengan tatapan menyeramkan.
Pria itu menunjuk ke arah kamar Emelie yang pintunya masih terbuka.
Lukas tersenyum tipis, “Wanita itu sudah kabur rupanya.”
“Bos, wanita itu lewat sana.” Satu pengawal Gold Dragon melihat Emelie yang sedang berlari di bawah.
“Tangkap wanita itu!” teriak Lukas dengan suara yang lantang.
“Siap, Bos.” Pasukan Gold Dragon mulai berpencar untuk menangkap Emelie.
Sedangkan Lukas masih berdiri di depan kamar Emelie. Pria itu masuk ke dalam kamar untuk memeriksa isi kamar Emelie. Tidak ada yang berharga di dalam kamar itu. Hanya ada beberapa baju baru yang belum terpakai. Di dalam laci ada setumpuk uang yang sempat diberikan Zeroun untuk dirinya.
Lukas mengukir senyuman tipis, “Wanita itu tidak akan bisa pergi jauh.”
.
.
.
**Mau up banyak? Vote yg banyak. Uda tau kan cara vote gimana? Aku kasih tau ya...
Klik yang saya lingkari... bisa koin atau poin.
Buat yang udah kasih vote, saya ucapkan terima kasih.😘😘😘😘
**
Dimana dapat Poinnya?
Disini ya...di pusat misi kalau di Mangatoon. Kalau di Novel toon tampilannya seperti ini. Poin gratis lho...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
卂ㄩ尺ㄖ尺卂
dasar gembel gak tau diri udah dipungut ehh giliran dewasa gak tau diri
2023-04-01
0
Mella Soplantila Tentua Mella
adtiana tdk tau balas budi,,serahkah..orang kaya gitu hrs dimusnahkan...lanjut thor
2022-10-08
0
LENY
wah Adriana ternyata jahat cocoksama Demian sama2 jahat licik
2021-06-02
1