Rumah Zeroun Zein.
Lukas memberhentikan laju mobilnya di depan pintu utama rumah Zeroun. Satu pengawal berlari kecil untuk membuka pintu mobil Zeroun malam itu. Dengan penuh ketenangan, Zeroun turun dari dalam mobil. Lukas berdiri di samping Zeroun, mengikuti langkah kaki Zeroun dari belakang.
Di dalam rumah, terdapat beberapa polisi Hongkong yang sudah duduk dengan tenang di sofa yang ada di ruang tamu. Satu pelayan wanita tampak menghidangkan beberapa minuman hangat kepada dua polisi itu. Kedua polisi itu beranjak dari duduknya saat melihat kehadiran Zeroun.
“Selamat malam, Tuan Zeroun. Maaf sudah mengganggu waktu anda.” Satu polisi membungkuk takut di hadapan Zeroun.
“Saya sangat senang anda berkunjung di kediaman saya. Jangan terlalu sungkan.” Zeroun duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.
Lukas memperhatikan dua polisi itu dengan tatapan tidak suka. Berani-beraninya kedua polisi itu mengganggu acara santai Zeroun malam ini. Kedua polisi itu mengerti arti tatapan mata Lukas yang terlihat membunuh.
Sejak setahun terakhir ini, belum ada yang berani menyentuh kediaman mafia Gold Dragon. Hongkong sudah merupakan daerah kekuasaan milik Zeroun Zein. Bahkan polisi saja enggan untuk mengusik ketenangan Bos mafia itu.
Malam itu dengan penuh rasa takut. Dua polisi itu memberanikan diri untuk menyampaikan pesan dari polisi Monako.
“Tuan, saya ke sini untuk menanyakan sesuatu pada anda.” Polisi itu terlihat gemetar dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
“Apa yang ingin anda ketahui? saya akan menjawab semua pertanyaan anda, Pak Polisi.” Zeroun menatap wajah dua polisi yang duduk di hadapannya. Hingga membuat kedua polisi itu semakin ketakutan dan tidak sanggup mengeluarkan kata.
“Begini, Tuan.” Polisi itu masih menahan kata-katanya. Dengan mata terpejam ia berusaha untuk memberanian diri bertanya pada Zeroun.
“Wanita, wanita yang anda tolong. Polisi monako meminta kami untuk membawa wanita itu kembali ke Monako, Tuan.” Polisi itu mengambil sapu tangan dari sakunya untuk membersihakn peluh keringat yang menetes deras di wajahnya.
“Wanita? siapa?” tanya Zeroun dengan begitu tenang.
“Dari camera CCTV, polisi Monako melihat anda membunuh salah satu polisi Monako dan membiarkan wanita itu pergi. Selain itu, dari rekaman yang ada di bandara, anda membawa wanita itu ikut bersama dengan anda, Tuan.”
Zeroun menatap wajah Lukas sebelum memandang wajah polisi itu lagi, “Apa kepolisian Monako selalu seperti ini, jika seorang pengemis kabur dari negara aslinya?”
“Pengemis?” tanya Polisi itu tidak percaya.
“Ya, kata wanita itu ia hanya seorang pengemis. Ia mencuri roti lalu dikejar-kejar oleh polisi.” Zeroun bersandar dengan begitu tenang saat mengingat alasan wanita itu tadi pagi.
“Saya tidak tahu kesalahan wanita itu, Tuan. Tapi, sepertinya pihak Monako sangat menginginkan wanita itu.”
Poisi itu memang tidak tahu, kalau wanita yang kini ia cari adalah putri kerajaan Inggris yang kabur dari pesta pernikahan. Pihak kepolisian Monako masih menyembunyikan identitas Emelie.
“Tapi sayangnya, wanita itu tidak ada di sini,” jawab Zeroun dengan senyuman penuh arti.
“Dimana wanita itu saat ini, Tuan?” tanya Polisi itu dengan hati-hati.
“Bos Zeroun juga tidak tahu, kemana wanita itu pergi. Ia kabur dari rumah ini tadi pagi!” Lukas angkat bicara, membuat kedua polisi itu semakin ketakutan.
“Lukas, jangan menakuti petugas kepolisian. Kau bisa dipenjara nanti,” ucap Zeroun dengan nada lembut.
“Anda bisa memeriksa rumah saya, jika tidak percaya. Ini tugas anda bukan? anda di gaji oleh negara untuk menjalankan tugas ini. Silahkan, saya tidak akan menghalangi anda.” Zeroun berdiri dari duduknya.
“Saya ingin istirahat karena lelah. Anda bisa meninggalkan rumah saya, jika sudah selesai memeriksa rumah ini.” Sejak awal, Zeroun sudah tahu tujuan dua polisi itu datang ke rumahnya. Dua polisi itu ingin memeriksa rumahnya untuk mencari wanita itu.
“Terima kasih, Tuan.” Dua polisi itu juga ikut berdiri dengan penuh hormat.
Zeroun mengukir senyuman tipis sebelum berjalan ke arah kamar miliknya. Dengan langkah cepat dan pasti, ia menjejaki anak tangga. Di tengah jalan ia kembali mengingat wajah wanita itu. Hatinya mulai tertarik dengan wanita itu.
Apa masalah yang sudah ia buat, hingga polisi Monako sangat ingin menangkapnya. Apa wanita itu seorang mafia? tapi wajahnya tidak cocok untuk menjadi mafia.
Zeroun membuka pintu kamar miliknya untuk masuk dan beristirahat. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. mengotak atik handphonenya untuk melihat pesan singkat yang dikirimkan Daniel.
[Zeroun, apa kau sibuk? apa kau tidak menginginkan yang seperti ini?]
Daniel mengirimkan foto dirinya bersama dengan Serena dan dua buah hatinya.
Zeroun tersenyum kecil saat melihat foto keluarga kecil milik Daniel Edritz Chen sahabatnya. Pria itu meletakkan handphonenya kembali ke atas nakas.
Menatap langit-langit kamar dengan senyuman manis di bibirnya.
Sejak satu tahun menunggu, Shabira akhirnya hamil. Serena juga sudah melahirkan dua buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
“Tanpa terasa waktu sudah berjalan sangat cepat. Aku sudah satu tahun meninggalkan kota itu. Dua wanita yang sangat aku sayangi sudah bahagia dengan pria yang mereka cintai. Hidup yang sangat indah, hanya dengan membayangkan senyuman bahagia dua wanita itu aku sudah bisa merasakan bahagia."
Suara ketukan pintu memecehakan lamunan Zeroun. Pria itu berteriak satu kata agar orang yang mengetuk pintu masuk ke dalam.
Dari balik pintu, Lukas muncul dengan langkah kaki yang cepat. Zeroun kembali bangkit dari tidurnya. Pria itu duduk di atas tempat tidur, memandang wajah Lukas dengan seksama.
“Bos, ijinkan saya menyelidiki wanita itu. Sepertinya wanita itu bukan orang biasa.” Lukas menunduk hormat menunggu persetujuan Zeroun.
“Aku juga penasaran dengan wanita itu. Bawa wanita itu ke rumah ini besok siang.” Zeroun menatap wajah Lukas dengan seksama.
“Baik, Bos.” Lukas membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan kamar Zeroun Zein.
Zeroun memperhatikan pintu yang kembali tertutup sebelum kembali berbaring di atas tempat tidur. Matanya terpejam untuk kembali beristirahat pada malam itu.
“Emma .…” ucap Zeroun pelan dari bibirnya.
Pria itu membuka matanya lagi, saat membayangkan wajah wanita yang sempat ia tolong. Zeroun kembali ingat dengan penampilan wanita itu yang terlihat sangat berantakan. Bahkan wanita itu terlihat ketakutan saat meminta pertolongan dirinya.
Namun, dalam waktu singkat wanita itu berubah menjadi sosok yang anggun dan lemah lembut. Tidak terpancar wajah takut atau khawatir saat ia berada di rumah Zeroun tadi pagi. Senyuman dan wajah ceria itu menggambarkan satu kebebasan karena ia berhasil kabur dari negara Monako.
“Sepertinya Aku harus menyelidiki wanita ini. Dia memang bukan orang biasa. Wanita yang sangat menarik.” Zeroun kembali melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda. Napasnya kembali teratur saat ia sudah hampir terlelap dalam mimpi indahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
flora sweet
mimpiin emilie ya zeeoun...😍😍😍
2021-03-08
0
Nurul Fajriyah
ahh u thor bisa aja cariin wanita yg nama nya E jga depan nya wkwk
2021-03-01
0
🌹🌺gemini🌺🌹
aknka cnta tmbuh di antra zeroun n emelie,, tnggu aj
2021-02-13
0