Kota di Hongkong terlihat ramai saat di malam hari. Beberapa pejalan kaki tampak berlalu lalang di pusat Kota. Lukas membawa mobil itu dengan kecepatan sedang. Kaca mobil terbuka untuk menikmati udara segar dimalam hari.
“Bos, anda ingin kita berhenti dimana?” Lukas melirik Zeroun dari balik spion.
“Berhentikan mobilnya di simpang depan itu. Aku ingin jalan-jalan di tengah keramaian kota.” Zeroun menatap beberapa pejalan kaki yang melintasi jalan.
“Baik, bos.” Lukas menginjak rem mobilnya saat menemukan tempat untuk parkir.
Belum sempat Lukas membukakan pintu mobil penumpang, Zeroun lebih dulu keluar dari dalam mobil. Dengan setelan switer dan celana panjang, malam itu Zeroun terlihat tampan. Zeroun berdiri di samping mobil dengan wajah yang tersenyum.
“Bos, apa anda yakin ingin berjalan ke tempat itu?” Lukas menatap beberapa orang yang berkerumun di tengah kota.
“Tentu saja, aku sudah lama tidak berjalan-jalan di tempat ini. Tempat ini terlihat semakin bagus.” Zeroun melanjutkan langkah kakinya.
Sinar lampu berwarna warni tampak menghiasi setiap toko yang berbaris di pinggir jalan. Beberapa cafe-cafe kecil juga sudah dipenuhi para pembeli. Lukas selalu siap siaga berjalan di belakang Zeroun.
Tatapan matanya selalu waspada saat melihat orang yang mencurigakan ada di depannya. Satu buah pistol sudah ia persiapkan, kalau suasana berubah menjadi bahaya.
“Sepertinya tempat itu sangat nyaman.”
Zeroun mendatangi cafe pinggir jalan yang sunyi akan pengunjung. Pria berswiter cokelat itu memilih kursi yang ada di bawah pohon yang rimbun.
Lukas berdiri tegap di samping Zeroun untuk menjaga pria itu. Tatapan matanya sangat menyeramkan, hingga membuat beberapa pengunjung menjadi takut untuk memandangnya.
“Lukas, duduklah. Jika kau terus seperti itu, kita bisa membuat pemilik tempat ini bangkrut.” Zeroun tertawa kecil saat melihat sikap Lukas malam itu.
“Baik, Bos.” Lukas menunduk hormat sebelum duduk di kursi yang ada di hadapan Zeroun.
Dari kejauhan, seorang pria bertubuh gemuk mengukir wajah bahagia. Pria itu berjalan mendekati Zeroun dan Lukas.
“Selamat malam, Bos Zeroun. Saya sangat senang bertemu dengan anda?” Pria itu tersenyum dengan penuh arti.
“Selama malam. Maaf, anda siapa? saya tidak kenal dengan anda.” Zeroun menatap pria itu dengan wajah yang tenang.
Lukas menatap wajah pria itu dengan tatapan tidak suka. Secepat kilat, pria itu mengalihkan pandangannya dari Lukas.
“Boleh saya duduk, Bos?” tanya pria itu sambil memasang senyum menyeringai.
“Silahkan,” jawab Zeroun pelan.
Satu pelayan datang untuk memberi daftar menu yang mereka jual di cafe itu. Lukas menatap pelayan itu dengan tatapan menyelidik.
“Jangan terlalu waspada seperti itu, kau bisa menakuti semua orang,” ucap Zeroun sambil memilih beberapa menu yang ada di dalam buku menu itu.
“Maafkan saya, Bos.” Lukas menunduk penuh rasa bersalah.
“Saya pesan yang ini.” Zeroun menunjuk beberapa menu yang menurutnya menarik.
“Mohon di tunggu, Tuan. Terima kasih.”
Pelayan itu tersenyum ramah, sebelum pergi dengan membawa buku menu itu.
Zeroun mengalihkan pandangannya kepada pria tidak dikenali yang duduk di sampingnya. Memperhatikan penampilan pria itu dengan seksama.
“Apa yang anda inginkan?” ucap Zeroun tanpa banyak basa basi.
Pria itu tertawa kecil dengan wajah yang sangat gugup, “Begini Bos, saya sudah menolong bawahan anda dalam menjalankan misi. Besok beberapa rentenir akan datang menyerang rumah kontrakan saya. Apa anda bisa mengirim orang untuk melindungi saya.”
“Bawahan saya?” Zeroun memandang wajah Lukas sambil tersenyum tipis.
“Siapa yang anda maksud?” tanya Lukas dengan tatapan yang menyeramkan.
“Wanita itu, bukankah wanita itu bawahan anda? wanita itu bilang kalau dia di kirim oleh Gold Dragon untuk melakukan satu misi.” Pria itu mulai gugup saat merasakan aura membunuh dari Lukas.
“Wanita?” Zeroun mengangkat satu alisnya.
Pria itu hanya menunduk penuh ketakutan tanpa berani mengucapkan kata lagi.
Sial! apa wanita itu sudah membohongiku. Awas saja, aku akan memberinya hukuman nanti.
Zeroun tertawa kecil sebelum melanjutkan ucapannya, “Iya, aku ingat. Aku menyuruh seseorang untuk melakukan satu misi. Apa wanita itu sekarang berada di tempat anda?” Zeroun menatap wajah Lukas dengan tatapan penuh arti.
“Iya, Bos. Wanita itu ada di rumah kontrakan saya saat ini. Apa anda ingin bertemu dengannya? saya bisa mengirim orang untuk memanggilnya,” ucap pria itu penuh semangat.
“Tidak perlu, beri tahu kami di mana alamatnya. Besok saya akan mengirim orang untuk melindungi rumah anda dari para rentenir itu.” Zeroun tersenyum tipis.
“Terima kasih, Bos. Ini kartu nama saya.” Pria itu meletakkan kartu namanya di atas meja.
Lukas mengambil kartu nama itu, membaca alamatnya dengan seksama.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Bos. Maaf, sudah mengganggu waktu anda?” Pria itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja itu.
Zeroun menatap wajah Lukas dengan senyuman tipis. Satu pelayan datang membawa dua minuman hangat yang di pesan oleh Zeroun. Pelayan itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan meja.
“Apa kau tahu, siapa wanita yang dimaksud oleh pria tadi?” Zeroun mulai mencicipi minuman hangatnya.
“Sepertinya ada orang yang sudah berani menjual nama Gold Dragon, Bos.” Lukas mencengkram kuat kartu nama itu.
“Saya akan membereskannya malam ini juga," sambung Lukas dengan penuh amarah.
“Jangan terburu-buru.” Zeroun meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.
“Gold Dragon sudah lama berdiri. Hampir seluruh Hongkong ini tahu nama itu. Namun, hanya beberapa orang yang mengenal wajah kita. Orang yang tadi cukup hebat bisa mengetahu wajah kita bukan?” Zeroun menyandarakan tubuhnya di kursi.
“Tidak ada satu orangpun yang ada di Hongkong ini yang berani menjual nama Gold Dragon.” Zeroun tertawa kecil.
Wajah Lukas berubah serius, “Apa maksud anda wanita ini bukan orang Hongkong, Bos?”
“Apa kau ingat dengan seseorang?” tanya Zeroun dengan senyuman tipis.
Lukas kembali mengingat Putri Emelie. Hanya wanita itu yang sudah mengetahui namanya dan juga Zeroun tadi pagi.
“Wanita itu? dia bilang dia hanya seorang pengemis, Bos.” Lukas menatap wajah Zeroun yang tiba-tiba berubah.
“Kau percaya dengan perkataannya?” Zeroun mengangkat kedua alisnya.
“Apa anda mengetahui sesuatu, Bos? apa dia mata-mata dari musuh kita?” Lukas sudah dipenuhi kekhawatiran.
“Aku tidak tahu tentang wanita itu. Kalau memang dia hanya seorang pengemis. Dia pengemis yang memiliki level yang tinggi. Karena bisa menguasai tiga bahasa asing dengan begitu lancar.”
Zeroun kembali mengingat momen pertama kali bertemu dengan Emelie. Wanita itu meminta tolong pada dirinya dengan menggunakan bahasa inggris. Lalu menggunakan bahasa spanyol saat menyapa dirinya pertama kali. Setelah Zeroun menjawabnya dengan bahasa mandarin, wanita itu juga bisa dengan mudah mengerti ucapan Zeroun.
“Saya akan segera menemui wanita itu, Bos. Saya akan membuatnya mengakui identitas aslinya.” Lukas beranjak dari duduknya.
“Jangan terburu-buru. Malam ini kita harus menenangkan pikiran kita.” Zeroun meneguk minuman hangat itu lagi.
Handphone Lukas berdering, pria itu mengerutkan dahi saat menerima panggilan masuk dari rumah Zeroun. Lukas mendengarkan perkataan lawan bicaranya dengan begitu tenang, sebelum memutuskan panggilan telepon itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
“Bos, kepolisian Hongkong ingin bertemu dengan anda. Mereka sudah menunggu di rumah.”
Wajah Zeroun berubah kesal. Saat momen santainya malam itu di ganggu oleh tamu tidak di undang. Zeroun beranjak dari duduknya, tanpa banyak kata lagi pria berbadan tinggi itu berjalan ke arah mobil.
Lukas meletakkan uang untuk membayar dua minuman hangat itu sebelum pergi mengikuti jejak Zeroun dari belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Iin Ismail
diihh lukas kaku bnget siihh..
2021-09-10
0
Mutiarani dewi
coba thor kalo d buat erena lanjut sama zeron pasti seru..pasti tegang,romantis dan ahk pokona mh kitu welah...hahahaha
2021-03-07
0
M 🐼
Lebih suka cerita zeroun n emma😁
2021-02-28
2