Malam hari, di Kediaman Pangeran Damian.
Bruakk!
Satu suara pukulan meja baru saja terdengar. Semua pengawal terperanjat kaget saat mendengar teriakan yang keluar dari bibir Pangeran Damian.
“Hongkong kalian bilang? Kalian membiarkan Putri Emelie pergi sejauh itu?” teriak Pangeran Damian lagi.
“Maafkan kami, Pangeran. Seorang pria telah membantu Putri Emelie untuk kabur.”
Salah satu pengawal memberanikan diri untuk berbicara. Pria itu berusaha untuk memberitahu identitas Zeroun, hanya saja Pangeran Damian tidak kunjung memberinya kesempatan.
“Aku tidak peduli! temui pria itu dan berikan sejumlah uang padanya. Katakan padanya untuk mengembalikan Putri Emelie dalam waktu tiga hari. Jika dalam waktu tiga hari pria itu belum mengembalian Putri Emelie, maka aku yang akan membunuhnya secara langsung.”
Pangeran Damian mengepal kuat tangannya. Memutar tubuhnya untuk membelakangi pengawal-pengawal itu.
“Baik, Pangeran.” Pengawal-pengawal itu menunduk hormat dengan penuh rasa takut.
“Satu lagi, jangan sampai ada media yang memberitakan kabar hilangnya Putri Emelie, semakin banyak yang tahu maka semakin sulit untuk kita menemukannya. Rahasiakan semua ini. Bungkam semua media yang ingin memberitakan berita ini.” Pangeran Damian memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
“Baik, Pangeran.” Pengawal-pengawal itu menunduk hormat lagi.
“Kalian boleh pergi!” perintah Pangeran Damian singkat.
Pengawal-pengawal itu pergi meninggalkan ruangan pribadi milik Pangeran Damian. Menutup pintu ruangan dengan pelan hingga tidak terdengar suara sedikitpun.
Semua orang mengira, kalau Pangeran Damian sangat mencintai Putri Emelie dan sangat mengkhawatirkan keselamatan Putri Emelie saat ini.
Damian tersenyum licik, “Sepertinya Aku juga harus mengirim pembunuh bayaran untuk merusak kehormatan wanita itu. Jika dia meregang nyawa di Hongkong, itu akan membuat Adriana yang menjadi satu-satunya putri keluarga Kerajaan. Keluarga Kerajaan tidak akan mengakui Emelie sebagai putrinya lagi, apa bila wanita itu sudah tidak suci lagi.”
Damian belum mengetahui, kalau pria yang sudah berhasil membawa Putri Emelie pergi meninggalkan Monako adalah Zeroun Zein.
Di dalam pikirannya, hanya pria kaya biasa yang berhasil membawa Emelie. Ia tidak pernah tahu, kalau Emelie di selamatkan oleh mafia yang menguasai seluruh wilayah Hongkong.
Suara Handphone bergetar di dalam saku. Pangeran Damian mengeluarkan handphone dari saku miliknya.
Bibirnya mengukir senyuman manis, saat melihat nama Adriana terukir di layar ponsel miliknya.
“Selamat malam, sayang. Apa kau sangat merindukanku?” Pangeran Damian duduk di salah satu kursi.
Ia terdiam sejenak untuk mendengar perkataan Adriana saat ini.
“Raja sakit? sekarat?” ucap Pangeran Damian kaget.
“Baiklah, aku akan segera berangkat ke Inggris malam ini juga.” Pangeran Damian meletakkan handphone di atas meja. Lagi-lagi rencana jahat merasuki pikirannya.
“Jika Emelie tahu, kalau Raja sakit parah. Wanita itu akan segera ke Inggris untuk menemuinya. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk memancing Emelie keluar dari persembunyiannya di Hongkong.”
Pangeran Damian melangkah pergi meninggalkan ruangan pribadi miliknya. Beberapa pengawal menunduk hormat saat Pangeran Damian keluar dari ruangan itu.
“Siapakan semuanya, Aku akan berangkat ke Inggris malam ini juga.”
“Baik, Pangeran.” Pengawal-pengawal itu berpencar untuk melaksanakan tugas masing-masing.
***
Rumah Zeroun Zein.
Zeroun duduk di salah satu sofa yang ada di kamarnya. Tangannya menggenggam ponsel yang kini menghubungkan dirinya dengan Shabira. Wajahnya tersenyum bahagia, saat ia mendapat kabar kehamilan Shabira malam itu.
“Kenzo, kau harus menjaga adikku dengan begitu baik.” Sudah berulang kali Zeroun mengucapkan kalimat itu. Hingga membuat orang yang mendengar dari kejauhan sana menjadi bosan.
[Zeroun, kau tidak perlu memikirkan Shabira lagi. Sekarang, yang harus kau pikirkan adalah kapan tanggal pernikahanmu. Usiamu sudah semakin tua.] Kenzo tertawa dengan begitu bahagia, saat berhasil mengejek Zeroun dengan kata-kata itu.
“Aku tidak harus menikah baru bahagia. Saat ini hidupku juga jauh lebih bahagia. Bukankah memiliki istri juga menjadi repot. Terakhir kali kau bilang kalau Shabira melarangmu untuk.”
[Zeroun, aku dan Shabira harus segera tidur.] Panggilan terputus.
Zeroun menatap telepon dengan senyuman menyeringai. Di dalam pikirannya sudah terbayang perdebatan Shabira dan Kenzo, karena Kenzo mematikan teleponnya secara sepihak.
“Kenzo, Kenzo. Apa kau pikir kau bisa selalu menang saat melawanku?” Zeroun melempar handphone itu ke atas tempat tidur. Ia berjalan pergi meninggalkan kamar untuk makan malam.
Zeroun menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan pasti. Di meja makan, Lukas sudah berdiri tegap menyambut kedatangan Zeroun malam itu.
“Selamat malam, Bos.” Lukas membungkuk hormat.
“Selamat malam, Lukas,” jawab Zeroun dengan hati berbunga-bunga.
Lukas merasakan sikap aneh Zeroun malam itu. Ia tahu, pasti ada satu hal yang membuat Zeroun menjadi bahagia.
“Kalian semua, pergilah makan atau berjalan-jalan. Malam ini aku membebaskan kalian semua. Kalian boleh melakukan hal yang kalian suka. Termasuk dirimu Lukas, pergilah bersenang-senang.”
“Terima kasih, Bos,” ucap semua pelayan dan pengawal yang ada di ruangan itu.
Zeroun membalik piring dan mengambil nasi dengan sendok saji.
“Terima kasih, Bos. Tapi, saya lebih senang untuk menemani anda dari pada meninggalkan anda di rumah sendiri.” Lukas membungkuk hormat.
“Ya, terserah kau saja Lukas.” Zeroun memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Lagi-lagi ia membayangkan wajah keponakan kecilnya yang kini di kandung oleh Shabira.
“Rumah ini akan ramai jika ada anak kecil bukan?” ucap Zeroun di sela-sela makannya.
“Bos, sebaiknya anda menyelesaikan makan malam anda dulu. Baru bercerita lagi. Itu tidak baik untuk kesehatan anda.” Lukas memperingati Zeroun karena rasa khawatirnya.
Zeroun hanya tersenyum dan melanjutkan makan malamnya masih dengan suasana hati yang sangat bahagia. Sedangkan Lukas berdiri dengan penuh tanya di dalam hatinya.
Apa yang membuat Bos Zeroun menjadi bahagia hari ini. Akhir-akhir ini, Bos Zeroun sudah tidak pernah memikirkan Nona Erena, berarti ada wanita lain yang mungkin mengisi hatinya. Tapi siapa wanita itu?
Lukas masih terus saja menyimpan seribu tanya di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Zeroun sudah membersihkan mulutnya dengan tisu. Ia meminum segelas air putih sebelum memandang wajah Lukas dengan wajah bahagia.
“Shabira hamil, aku akan memiliki keponakan bukan? sebentar lagi ada anak kecil yang akan memanggilku dengan sebutan uncle.” Zeroun tersenyum bahagia.
Lukas juga membalas senyuman Zeroun.
Ternyata semua ini karena Nona Shabira. Wanita itu yang membuat Bos Zeroun melupakan Nona Erena dan membiarkan Nona Erena bahagia bersama pria lain.
“Lukas, ayo kita jalan-jalan menghirup udara segar di malam hari.” Zeroun beranjak dari duduknya.
“Baik, Bos.” Lukas membungkuk hormat.
“Ganti pakaianmu, aku ingin menyamar sebagai warga biasa. Gunakan pakaian santai seperti pria-pria Hongkong pada umunya.” Zeroun berjalan ke arah tangga.
Lukas menggeleng kepalanya saat mendengar perkataan Zeroun malam itu.
“Anda pria yang tidak mudah di tebak, Bos.”
Lukas juga berjalan ke arah kamar miliknya untuk mengganti pakaian yang kini ia kenakan dengan pakaian santai seperti permintaan Zeroun.
Likenya jangan pura2 lupa...🥺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nina Kiss
ikut bahagia untuk zeroun
2021-11-23
0
Meimawati
betapa tampanya qm zeroun menyamar sebagai warga biasa😁
2021-03-20
0
flora sweet
like nya bener2 nich thor....😘😘😘
2021-03-08
0