Hongkong.
Suasana rumah Zeroun Zein terlihat sangat tenang. Beberapa pengawal masih berjaga dengan begitu siaga di setiap sudut ruangan.
Zeroun duduk santai di ruang pribadi miliknya. Memperhatikan beberapa pistol miliknya yang tersusun di atas meja. Sejak menyerahkan Z.E. Group kepada Kenzo dan Shabira, Zeroun tidak lagi mengurusi masalah perusahaan.
“Apa wanita itu sudah bangun?” Zeroun masih fokus menyusun peluru di atas meja.
“Belum, Bos. Kata Dokter, wanita itu hanya kelelahan. Mungkin sebentar lagi ia akan segera bangun.” Lukas menundukkan kepalanya.
“Apa kau sudah berhasil menyelidiki identitasnya?” Zeroun mengokang satu pistol yang ia genggam.
“Saya belum berhasil ....”
DUARR!
Belum sempat Lukas menyelesaikan kalimatnya, Zeroun sudah lebih dulu menarik pelatuk pistolnya.
“Cari sampai dapat. Aku tidak ingin menyimpan wanita itu terlalu lama di rumah ini.” Zeroun beranjak dari duduknya.
Meninggalkan Lukas yang masih berdiri mematung di ruangan itu.
Lukas menggeleng kepalanya dengan raut wajah bingung, “Untuk apa anda membawa wanita asing itu hingga ke Hongkong.”
***
Di kamar bercat putih, seorang wanita tidur dengan nyenyak. Pakaiannnya sudah berganti baju tidur berbahan satin berwarna abu-abu. Matanya terbuka secara perlahan, dengan tatapan yang masih belum jelas.
Berulang kali ia kedipkan kedua bola matanya agar bisa menguasai penglihatannya saat itu.
Wanita itu duduk sambil mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Menurunkan satu kakinya ke permukaan lantai keramik.
“Apa aku tertangkap lagi?” Wanita itu memperhatikan seluruh isi kamar yang kini ada di hadapannya.
“Kamar ini tidak sama dengan kamar sebelumnya.” Tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena masih merasa ngantuk.
Wanita itu berjalan santai ke arah kamar mandi dengan hati yang sangat tenang. Tidak sama dengan reaksi wajahnya saat ia meminta tolong kepada Zeroun waktu itu.
Di dalam kamar mandi, wanita itu mandi di bawah pancuran shower yang sangat dingin. Memejamkan matanya untuk menikmati mandi paginya saat itu.
“Aku sudah susah-susah berubah menjadi seorang pengemis, tapi pria itu berhasil menangkapku lagi.” Raut wajahnya berubah kecewa. Wanita itu mematikan kran Shower saat mandinya telah selesai.
Dengan santai ia berjalan keluar dari kamar mandi, masih mengenakan handuk komino dan satu handuk melilit di atas kepalanya.
Wanita itu membuka lemari untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan nantinya.
Matanya terbelalak kaget, saat ia tidak menemukan satu pakaianpun di dalam lemari itu.
Tidak menyerah, wanita itu membuka pintu lemari lainnya untuk mencari pakaian yang bisa ia kenakan. Namun, hasilnya hanya membuat hatinya kembali kecewa.
“Apa pria itu ingin mengerjaiku!” Dengan wajah kesal, ia berjalan ke arah pintu untuk menemui pria yang kini ada di dalam pikirannya.
Dua pengawal menunduk hormat saat wanita itu keluar dari dalam kamar. Wanita itu mengangkat satu alisnya saat melihat kedua pengawal yang menunduk di hadapannya.
Sudah aku duga, pria itu pasti mengirim pengawal jauh lebih banyak agar aku tidak kabur lagi.
Wanita itu melanjutkan langkah kakinya ke arah tangga. Masih dengan mengenakan handuk kimono.
Dalam hitungan detik, saat menuruni anak tangga wanita itu mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia memegang tengkuknya yang terasa dingin dan menakutkan.
“Kenapa rumah ini seperti rumah penjahat.” Wanita itu memperhatikan beberapa pengawal yang memegang senjata api laras panjang.
Tanpa peduli dengan suasana hatinya, ia terus berjalan menuruni anak tangga.
Mencari-cari pemilik rumah untuk meminta pakaian ganti yang bisa ia kenakan.
Satu pria yang berdiri tegab menghadap ke kolam renang, menjadi pusat perhatiannya saat itu. Wanita itu berjalan mendekati pria itu dengan senyuman bahagia.
“Kenapa kau tidak menyiapkan baju ganti untukku? apa ini salah satu strategimu agar aku tidak lagi kabur.” Wanita itu melipat kedua tangannya, berdiri tegab di belakang tubuh Zeroun.
Zeroun memutar tubuhnya dengan begitu tenang, masih dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
“Siapa kau?” Wanita itu terbelalak kaget saat melihat pria yang ada dihadapannya bukan pria yang ia kenali.
Zeroun hanya memperhatikan wanita yang kini ada di hadapannya, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Kenapa kau hanya mengenakan handuk seperti itu? apa kau bermaksud untuk menggodaku?” Zeroun memasang senyuman tipis di wajahnya. Memajukan kepalanya hingga wajah keduanya sangat dekat.
“Kau? siapa kau? kenapa aku bisa ada di sini?” Wanita itu melangkah mundur untuk menjauhi tubuh Zeroun.
“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Kenapa kau menghalangi jalanku sore itu?” Zeroun menatap tajam wajah wanita itu.
“Menghalangi?” tanya wanita itu bingung. Ia terus berpikir keras untuk mengingat semua perbuatannya.
Pria ini, yang menolongku dari kejaran polisi itu.
Wanita itu kembali mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Matanya melebar saat ia tahu, kalau Zeroun adalah pria yang menolongnya saat polisi Monako mengejarnya.
“Waktu itu aku memberhentikan satu mobil, lalu jatuh pingsan. Apa pemilik mobil itu adalah anda?” Wanita itu menatap wajah Zeroun dengan penuh tanya.
Zeroun menarik napas dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan.
“Kau wanita yang sangat merepotkan!” Zeroun berjalan pergi meninggalkan wanita itu.
“Tunggu, Tuan. Saya belum selesai berbicara.” Wanita itu mengejar langkah Zeroun dari belakang.
“Ada apa?” tanya Zeroun dengan wajah dingin.
“Dimana ini?” Wanita itu memperhatikan sekeliling rumah dengan seksama.
“Hongkong,” jawab Zeroun cepat.
“Hongkong?” Wajah wanita itu berubah menjadi berseri-seri.
Aku berada di Hongkong? apa ini sebuah mimpi? Aku tidak lagi ada di Monako?
Dari kejauhan Lukas berjalan menghampiri posisi Zeroun dan wanita itu.
“Maaf, Nona. Apa yang anda lakukan di sini?”
Zeroun menatap wajah Lukas sesaat, “Urus wanita ini.” Lalu pergi meninggalkan Lukas dan wanita itu.
“Tuan, terima kasih.” Wanita itu berteriak dari kejauhan.
Zeroun tidak lagi memperdulikan ucapan wanita itu. Ia terus saja menaiki anak tangga menuju kamar pribadi miliknya.
“Siapa anda? kenapa anda menghalangi jalan kami saat itu?” Lukas menatap tajam wajah wanita itu.
“Perkenalkan, nama saya Em ....” ucapan wanita itu terhenti.
Aku gak bisa mengatakan nama asliku pada pria ini. Mereka akan mudah mengetahui identitas asliku nantinya.
“Emma, ya namaku Emma. Waktu itu aku dikejar-kejar polisi karena mencuri sebuah roti di salah satu pedagang pinggir jalan.” Memasang wajah sedih dengan mata berkaca-kaca.
“Apa kau sangat miskin? hingga mencuri hanya untuk sebuah roti?” Lukas mengerutkan dahinya.
“Jangan menghinaku, Tuan. Aku memang wanita miskin. Tapi saat ini, aku sangat bahagia, karena anda sudah menolong saya dari kejaran polisi itu.” Wanita itu mengukir senyuman manis.
Pantas saja aku tidak berhasil menyelidiki identitas wanita ini, ternyata dia hanya seorang pengemis.
Lukas membuang napas kasar, sebelum menarik tangan wanita itu.
“Ikut aku ke kamar itu.”
Lukas menarik tangan Wanita itu dengan kasar, menyeretnya ke arah kamar yang ada dilantai bawah.
Sepertinya pria ini percaya dengan ucapanku. Baguslah, aku bisa sembunyi di rumah ini untuk menghindari pria itu.
Wanita itu mengukir senyuman licik.
Likenya jgn lupa...Karya baru masih butuh bnyk like.😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Hartatik
itu pasti putri emille
2024-04-04
0
卂ㄩ尺ㄖ尺卂
ngakak ya ampun jangan bilang emma wanita calon pengantin yang kabur
2023-04-01
0
卂ㄩ尺ㄖ尺卂
pas ditanya gitu zeroun balik nanya emang kamu siapa🤣🤣🤣
2023-04-01
0