Satu Minggu sebelumnya.
Hongkong.
Mobil hitam Mercedes benz melaju dengan cepat, di iringi beberapa mobil lainnya di belakang. Zeroun menatap dingin keluar jendela. Menikmati kesunyian selama perjalanan. Menikmati keindahan kota Hongkong di malam hari.
Sudah satu tahun ia pergi meninggalkan Jepang dan memilih untuk menetap di Hongkong. Suasana kampung halaman memang sangat terasa saat ia berada di Hongkong. Setelah menghabisi beberapa musuh masa lalu Erena dan Shabira, Zeroun kembali terjun ke dunia bisnis gelap yang pernah ia miliki.
Momen-momen seperti ini sudah menjadi pemandangannya setiap hari. Zeroun bersandar dengan tenang, menarik napas dalam.
Lukas melirik Zeroun dari balik spion kecil yang ada di hadapannya. Bibirnya mengukir senyum saat melihat Zeroun tidak lagi memikirkan masa lalu percintaannya.
“Bos, hari ini Pangeran Monako langsung yang datang untuk bertemu dengan anda.” Lukas angkat bicara.
Hari ini adalah jadwal Zeroun bertemu dengan seorang Pangeran dari salah satu kota kecil yang ada di Eropa. Zeroun sudah menghidupkan Gold Dragon lagi, ia kembali terjun ke dalam bisnis gelapnya. Bisnis yang sudah lama ia tinggalkan, namun hari ini kembali ia kembangkan.
Beberapa saat kemudian, mobil Zeroun sudah terparkir di depan restoran elit. Zeroun melangkah masuk ke dalam restoran itu.
Beberapa pengawal juga mengikuti langkah Zeroun dengan cepat. Beberapa pria berpakaian resmi menunduk hormat untuk menyambut kedatangan Zeroun malam itu.
“Selamat malam, Tuan Zeroun. Silahkan, anda sudah di tunggu oleh Pangeran Damian.” Satu pengawal membawa Zeroun ke salah satu pintu VVIP.
Zeroun berjalan dengan santai mengikuti pengawal itu. Lukas dan dua pasukan Gold Dragon mengikuti langkah Zeroun dari belakang.
Lukas memperhatikan lokasi restoran yang terbilang mewah itu. Beberapa pejabat negara dan orang-orang penting juga menggunakan tempat itu sebagai tempat pertemuan yang aman.
“Silahkan, Tuan.” Pria itu membuka pintu untuk memberi jalan kepada Zeroun.
“Terima kasih,” jawab Zeroun singkat.
Zeroun melangkah perlahan ke dalam ruangan itu. Satu pria berjas resmi, duduk di salah satu kursi yang melingkari meja kaca. Pria itu berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Zeroun saat itu.
“Selamat malam, Tuan Zeroun Zein.” Pria itu mengulurkan tangan menyambut kedatangan Zeroun.
“Selamat malam, Pangeran Damian Adalson.” Zeroun membalas uluran tangan pria itu.
“Silahkan duduk, Tuan. Senang bertemu dengan anda.” Pangeran Damian tersenyum ramah.
“Terima kasih, Pangeran.” Zeroun duduk di kursi yang menghadap langsung dengan Damian. Sesekali Zeroun memperhatikan pria bersenjata yang menjadi pengawal Pangeran itu.
“Anda bisa memanggil saya Damian. Kita seumuran bukan?” ucap Pangeran Damian dengan santai.
Pangeran Damian menuangkan wine ke gelas kristal yang ada di hadapannya. Memberi satu gelas kepada Zeroun sebagai sambutan.
“Terima kasih, Damian.” Zeroun menerima gelas kristal itu, meneguknya secara perlahan. Menikmati minuman beralkohol itu dengan seksama.
“Anda sangat ahli dalam memilih wine yang berkualitas, Damian.” Zeroun meletakkan gelas itu di atas meja.
“Saya tidak terlalu paham jenis-jenis wine. Hanya ada beberapa jenis yang menjadi favorit saya selama ini. Jika dibandingkan dengan anda, saya masih sangat jauh.” Pangeran itu menatap wajah Zeroun dengan seksama.
“Ini pertama kalinya kita bertemu. Saya tidak pernah menyangka, kalau Pangeran Monako adalah pria yang sangat ramah.” Zeroun membalas tatapan Pangeran itu.
“Anda terlalu memuji, Zeroun.” Pangeran tertawa kecil.
“Ada yang bisa saya bantu, Damian?” Tanpa ingin menunggu lama, Zeroun kembali fokus pada tujuan awal dirinya di undang malam ini.
“Anda orang yang tidak sabar menunggu, Zeroun Zein. Baiklah, langsung saja. Saya ingin mengajak anda bekerja sama dengan Kasino yang saya miliki di Monako. Minuman beralkohol anda sudah terkenal sejak dulu."
Pangeran Damian mengukir senyuman sebelum melanjutkan perkataannya.
"Saya yakin, kerja sama ini tidak akan merugikan anda. Karena saya akan membayar tiga kali lipat dari harga yang biasa anda tawarkan.”
Pangeran Damian menatap wajah Zeroun dengan tatapan tajam.
Zeroun diam sejenak untuk berpikir. Bagaimanapun, ini pertama kalinya ia berurusan dengan anggota kerajaan. Ia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan yang akan membuat hidupnya menjadi rugi.
“Bagaimana kalau saya menolak?” Zeroun mengambil wine yang baru saja di tuang di salah satu gelas Kristal.
“Anda tidak punya alasan untuk menolaknya.” Pangeran Damian mengambil gelas yang berisi wine yang sama dengan Zeroun, mengangkat gelas itu sebagai tanda penghormatan.
Zeroun meneguk wine itu dengan perlahan. Meletakkan gelas Kristal itu kembali ke atas meja, “Saya butuh waktu untuk berpikir.”
“Silahkan, Zeroun. Saya tidak memaksa anda untuk menjawab hari ini.” Satu pengawal berjalan mendekati Pangeran Damian. Meletakkan satu undangan mewah di atas meja.
“Satu minggu lagi adalah hari pernikahan saya. Saya akan sangat senang jika anda mau datang ke acara pernikahan saya ini. Anda juga bisa melihat langsung kasino yang saya miliki.” Pangeran Damian menyodorkan undangan pernikahannya di hadapan Zeroun.
“Saya pasti akan datang, Damian.” Zeroun menerima undangan itu.
“Anda akan menjadi tamu kehormatan, Zeroun. Semua akan saya siapkan untuk menyambut anda.” Pangeran Damian beranjak dari duduknya.
“Sampai berjumpa di pesta.” Pangeran Damian merapikan jas yang kini ia kenakan.
Zeroun juga beranjak dari duduknya, “Senang bertemu dengan anda, Pangeran Damian.”
Pangeran Damian mengangguk pelan, sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa pengawal mengikuti langkah Pangeran dari belakang.
Zeroun kembali duduk di kursi itu setelah pintu kembali tertutup. Mengambil undangan pernikahan Pangeran Damian dan memperhatikannya dengan seksama.
“Kita akan pergi ke Monako.” Zeroun tersenyum penuh arti.
***
Monako
Matahari memancarkan sinar dengan begitu terang. Membuat silauan bagi setiap mata yang ingin memandangnya. Kota Monako siang itu diselimuti dengan kebahagiaan. Hari ini adalah hari pernikahan Pangeran Damian dengan salah satu putri dari Kerajaan Inggris, bernama putri Emelie.
Gedung istana yang menjulang tinggi telah dipenuhi dengan beberapa anggota kerajaan. Keamanan juga sudah siap siaga di setiap sudut gedung megah itu. Mobil-mobil mewah terparkir rapi di halaman depan istana. Semua tamu yang datang pada siang itu berasal dari golongan kelas atas.
Tidak hanya ruang tengah dari istana itu yang di hias dengan begitu indah. Tangga yang menjulang ke lantai atas, juga di hias dengan bunga yang indah.
Pengantin wanita turun dari tangga sambil memegang buket bunga yang sangat indah. Semua tamu undangan berdiri untuk menyambut kedatangan Putri Emelie.
Pangeran Damian mengukir senyuman indah, saat wanita yang akan menjadi istrinya segera tiba di hadapannya.
Wanita itu mengenakan gaun pengantin yang sangat mewah dan panjang. Wajahnya tertutup oleh selendang berwarna putih, membuat siapa saja menjadi penasaran untuk ingin segera melihat wajah cantiknya.
Zeroun dan Lukas ikut berdiri di antara kerumunan tamu. Pria berjas hitam itu, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dengan wajah yang begitu tenang.
“Bos, setelah acara ini kita akan melihat Kasino dan kembali ke Hongkong pada malam hari.” Lukas membisikkan daftar kegiatan zeroun siang itu.
Zeroun hanya diam tanpa ingin menjawab. Ia terus memandang sepasang pengantin yang akan mengikrarkan janji suci itu.
Suasana berubah hening seketika saat kedua mempelai akan mengucapkan akad pernikahan. Pangeran Damian membuka selendang yang menutupi wajah sang putri sebelum mengucapkan janji suci.
Pangeran Damian terbelalak kaget, saat melihat wajah wanita yang kini ada di hadapannya bukan Putri Emelie, melainkan Putri Adriana, adik dari Putri Emelie.
Bukan hanya Pangeran Damian, semua tamu undangan dan anggota kerajaan juga terperanjat kaget saat melihat kejadian itu.
Suasana yang tadi berubah hening menjadi rusuh karena setiap tamu undangan menceritakan kejadian yang baru saja mereka lihat.
“Cari Putri Emelie sekarang juga!” Perintah Pangeran Damian dengan tangan terkepal kuat.
Semua keamanan bergerak meninggalkan gedung untuk mencari keberadaan Putri Emelie.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Pangeran Damian pelan kepada Putri Adriana.
“Aku tidak ingin kau menikah dengan Kakakku!” balas Putri Adriana sambil meneteskan buliran air mata.
“Bawa Putri Adriana kembali ke kamar!” perintah Pangeran Damian dengan wajah dipenuhi amarah.
Beberapa pengawal menarik tangan Putri Adriana kembali ke dalam kamar. Seluruh keluarga kerajaan dari Inggris juga mengikuti Putri Adriana untuk meminta penjelasan atas keberadaan Putri Emelie saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Lailatul Fadjariyah
thor aku gk bosen membaca karyamu ini. dlu sdh dibaca skrg kubaca lgi. sukses slalu utk karya2x mi thor.semangaaaat utk buat karya cerita yg lebih greget lgi
2024-02-26
0
Lilis Effendi
putri emelie wanita yang d tolong zereon jaodohnya kah berarti nanti musuhan sama pangeran
2021-12-30
0
Nina Kiss
gila sih baca novel bisa merinding gini sih, gue bayangin kemarahan si pangeran, thor karyamu sungguh waw
2021-11-23
0