MANUVER CINTA~PART 18

Malam minggu malam yang panjang, seharusnya kalimat itu diralat. Malam panjang tuh bagi para jomblo, bagi para double ya waktu setaun aja berasa sekedip.

Zea masih duduk bersila di atas ranjang, berteman sang kekasih gelap yang menampilkan permainan online favoritnya serta beberapa bungkus cemilan kesukaannya yang berserakan di atas selimut, pokoknya ranjang gadis ini udah mirip bantar gebang yang lagi kebanjiran sampah saat ini. Ia berdecak kesal ketika notifikasinya mengganggu dan menghalangi layar.

"Ck. Apaan sih." ia menggeser begitu saja pesan masuk dari kapten Ankara, "keliatan banget kan ngga lakunya," hardiknya mencibir. Pokoknya apapun yang ia ucapkan tak pernah difilter.

Tanpa berniat membalas, Zea tak mengindahkan pesan itu. Lain halnya dengan Zea, Sagara justru memanfaatkan waktu malam minggunya dengan membuka tiap lembaran kitab suci dan membacanya. Saga selalu ingat kata abba dan abinya setiap saat, setidaknya sisihkan waktu luang diantara kesibukannya di dunia kemiliteran untuk mengingat Sang Maha Pencipta.

Sungguh perbedaan yang cukup kontras, antara Zea dan Sagara.

"Shadaqallahul Adzim..."

"Wuhuuuuu! I'm victory! Otewe dipinang tim e sport nusantara ini mah buat ajang sea games ntar!" serunya gembira sambil beranjak dari ranjang, menyisakan remahan keripik kentang berbumbu dari pangkuannya, tak peduli jika kini ia dinobatkan sebagai gadis cantik jorok tahun ini, mau disamain sama tikus, sama ayam, sama kecoa juga she doesn't care, yang penting ia menikmati hidupnya.

Zea melemparkan ponselnya begitu saja di atas ranjang, horang kaya mah bebas, mau dilempar ke atas genteng orang, ke kepala orang yang penting ada gantinya.

Merasa lapar, akhirnya ia keluar kamar yang sudah seperti sarang tikus demi mencari makan malam.

"Mihh! Makan sama apa?" tanya nya acap kali, setiap akan makan. Padahal mah tinggal makan aja ribet amat, lagian menunya tiap hari ya begitu kalo belum abis. Mama Rieke terlalu sayang jika harus memasak setiap makan dan berganti menu, selama belum habis sampe bumbu-bumbunya, ia tak akan mengeluarkan bahan makanan dari kulkas dan mengolahnya, itulah tips menjadi kaya, catet!

Mama yang berada di ruang tengah sambil baca majalah menoleh singkat lalu kembali kepada kesibukannya, liatin jam tangan mehong yang dipake sultan-sultan kelas dunia sambil nyemilin cookies diet. Urusan bisnis kue miliknya yang sudah menjamur sudah diurus oleh asisten, mau apalagi coba?! Selain nunggu uang ngalir kaya air sungai ke dalam rekening.

"Sama nasi." jawabnya singkat. Zea terkekeh menggelengkan kepalanya, memang salahnya bertanya. Seharusnya ia ralat pertanyaan jadi, apa lauk makan malam ini?

"Ya kali aja sama dedak!" balasnya membuka tutup saji dan melihat satu persatu menu yang ada di atas meja makan, yang sebenarnya ia sendiri sudah tau adanya ya sayur sop iga, perkedel kentang, kerupuk, sambal.

Zea mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang hilang, rasanya rumah terasa luas dan tak sesak, apa yang hilang? Apa kulkas mamahnya dijual? Ia menggeleng, kulkas masih ada.

Atau justru dosa-dosa penghuni rumah ini berkurang? Ayolah! Ia terkekeh sendiri dengan pikiran gilanya sambil menyendok sayur ke dalam tumpukan nasi di piringnya. Badannya memang kecil, tapi porsi makannya cukup banyak buat ngasih makan satu kampung sebulan...iya satu kampung semut.

Ah! Mas Zico dan papahnya belum pulang, ia baru menyadari itu.

"Mih, papi sama mas Zico belum pulang? Ada kerjaan serius? Atau masalah negara apa lagi?" ia duduk bergabung di samping mamanya seraya memangku toples kerupuk dan piring makan di atasnya.

Mama menurunkan kacamata bacanya, mama sih sebenarnya masih cukup jelas untuk sekedar melihat wajah model, tapi berhubung yang menjadi model adalah pangeran Brunei, katanya biar lebih afdol liatnya pake kacamata.

"Belum. Emangnya kamu ngga tau isu negara yang lagi rame sekarang?" tanya mama.

Alis Zea mulai mengernyit, lantas Zea menggeleng pelan, "engga."

Mama menghela nafasnya sebelum memulai mendongeng, "sebelumnya mami mau tanya, kapten Anka gimana?" tanya mama Rieke. Panjang umur sekali, baru tadi ngasih pesan sekarang udah ditanyain mama, fix! Jodoh mama Rieke.

Zea menggidikan bahu acuh, "ngga gimana-gimana." Zea mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

"Kapten Ankara itu anak temen papi, dia sosok perwira berdedikasi, anak danyon, masih cukup muda..."

"Udah tua." Tukas Zea tak suka.

"Cukup muda untuk ukuran seorang kapten di militer, bisa jagain kamu. Dia baik anaknya, soleh...."

"Mami lagi promosi apa gimana? Beli satu gratis satu ngga" Zea terkekeh sumbang, seolah cibirannya memotong ucapan mamanya itu adalah bentuk ketidaksukaannya.

Mama Rieke menthesah lelah nan pasrah, "dengerin dulu!" geramnya.

"Sampai mana perkembangan hubungan kalian?" tanya mama.

"Mami tuh ngomong apa sih, Zea ngga suka! Please lah jangan dan ngga usah bahas dulu kapten Anka. Atau Zea pergi dari sini," ancamnya.

Mama Rieke memejamkan matanya sedikit lama, "oke. Tapi mami minta tolong pertimbangkan."

"Mulai besok ada orang dari kepolisian yang kesini dan ikutin kegiatan kamu sampai waktu yang tidak ditentukan." Terlihat raut wajah khawatir dari mama melihat putri bungsunya itu, seraya mengusap wajah chubby Zea yang sedang mengunyah ia menatap penuh kegetiran dan kegelisahan.

"Ze, pekerjaan papi mungkin terlihat keren dan hedon untuk sebagian orang, tapi riskan akan kejahatan juga. Sekurang-kurangnya orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan itu cukup beresiko dan memiliki tanggung jawab besar apalagi posisi yang diduduki papi." Jelas mama pada Zea.

"Mungkin sepadan dengan apa yang negara beri untuk kita."

Zea bukan anak yang naif, ia paham betul dengan apa yang diucapkan sang mama tanpa harus mamanya itu menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi.

Mama memencet tombol televisi layar curve sebesar layar tancap di depan mereka dan mencari saluran televisi yang menayangkan berita di televisi nasional.

Hingga jempolnya berhenti di salah satu channel yang menayangkan satu berita dengan satu pembawa berita perempuan berjas bersuara empuk.

"Kasus tenaga kerja ilegal yang kini ditangani kementrian membawa serta nama gembong mafia penculikan anak di bawah umur dan hu man traffi cking yang terkenal di seluruh penjuru bumi pertiwi, tak main-main kartel mafia itu kabarnya menyeret sejumlah nama pejabat negri ke dalam lubang kasus suap."

Sosok lelah papahnya tayang di sana dengan sorot lensa kamera yang memperhatikan setiap gerak-geriknya, mungkin liputan itu direkam tadi siang, karena jelas papa sedang bersama wakil dan jajaran staf kementrian di depan gedung kementrian tempatnya bernaung di cuaca cerah.

"Maafin mami sama papi ya, kalo sementara waktu ruang gerak Ze jadi terbatas,"

"Terus keberangkatan Zea buat ikut ajang kompetisi dari sekolah gimana, mih?" tanya Zea menaruh toples kerupuk yang sudah ia tutup kembali termasuk piring makannya di atas meja. Selera makannya hilang sudah, melihat kasus ini.

"Mas mu lagi coba bicara sama pihak sekolah, biar kamu dikasih dispensasi untuk tidak ikut," belum mama menyelesaikan ucapannya Zea sudah berseru sewot, "NGGA BISA!"

"Zea kapten tim mih, gimana urusannya Zea ngga ikut!" nada bicaranya cukup tinggi membalas ucapan lembut mama Rieke.

Kecewa, itulah yang dirasakan Zea. Oh No! It's my dream! Benaknya meraung-raung.

"Itu mimpi Zea mih, bisa go Internasional, bawa nama bumi pertiwi di kancah Internasional, bikin bangga semuanya!" teriaknya berdiri, bahkan kini posisinya lebih tinggi dari mama Rieke.

"Mami tau nak, mami tau---- tapi ini demi keselamatan kamu,"

Zea tetap tak terima, lantas salah siapa Zea bisa keras kepala begini? Apa mungkin salah pola pengasuhan, atau mungkin mama dan papa terlalu memanjakannya, sekalinya jalan nasib tak sesuai harapan maka ia akan sangat berontak nan kecewa.

"Kenapa sih, papi harus jadi mentri! Aturan mah udah lah pensiun aja, ngurus bisnis! Mau cari apa sih?! Mau-maunya di repotin sama masalah masyarakat, toh masyarakat juga ngga ada tuh mikirin kita?! Kalo salah aja, dihujat abis-abisan, katanya ngga becus ngatur negara! Ada yang korup satu, yang lain kena imbasnya, tanpa tau perjuangan dan pengorbanan kita yang jujur kaya apa!" Zea memutar badan dan melangkah besar-besar menuju kamarnya.

"Zee!"

"Zea!"

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

😂😂😂

2024-10-31

0

Lalisa

Lalisa

saravvv🤣🤣

2024-10-31

0

Lalisa

Lalisa

gpp kurus yg penting makannya banyak.. kayak aqu😂😂😂

2024-10-31

0

lihat semua
Episodes
1 MANUVER CINTA~PART 1
2 MANUVER CINTA~PART 2
3 MANUVER CINTA~PART 3
4 MANUVER CINTA~PART 4
5 MANUVER CINTA~PART 5
6 MANUVER CINTA~PART 6
7 MANUVER CINTA~PART 7
8 MANUVER CINTA~PART 8
9 MANUVER CINTA~PART 9
10 MANUVER CINTA~PART 10
11 MANUVER CINTA~PART 11
12 MANUVER CINTA~PART 12
13 MANUVER CINTA~PART 13
14 MANUVER CINTA~ PART 14
15 MANUVER CINTA~PART 15
16 MANUVER CINTA~PART 16
17 MANUVER CINTA~PART 17
18 MANUVER CINTA~PART 18
19 MANUVER CINTA~ PART 19
20 MANUVER CINTA~PART 20
21 MANUVER CINTA~PART 21
22 MANUVER CINTA~PART 22
23 MANUVER CINTA ~PART 23
24 MANUVER CINTA~PART 24
25 MANUVER CINTA~PART 25
26 MANUVER CINTA~PART 26
27 MANUVER CINTA~PART 27
28 MANUVER CINTA~PART 28
29 MANUVER CINTA~PART 29
30 MANUVER CINTA~PART 30
31 MANUVER CINTA~PART 31
32 MANUVER CINTA~PART 32
33 MANUVER CINTA~PART 33
34 MANUVER CINTA~PART 34
35 MANUVER CINTA ~PART 35
36 MANUVER CINTA~PART 36
37 MANUVER CINTA~PART 37
38 MANUVER CINTA~PART 38
39 MANUVER CINTA~PART 39
40 MANUVER CINTA~PART 40
41 MANUVER CINTA~PART 41
42 MANUVER CINTA~PART 42
43 MANUVER CINTA~PART 43
44 MANUVER CINTA~PART 44
45 MANUVER CINTA~PART 45
46 MANUVER CINTA~PART 46
47 MANUVER CINTA~PART 47
48 MANUVER CINTA~PART 48
49 MANUVER CINTA~PART 49
50 MANUVER CINTA~PART 50
51 MANUVER CINTA~PART 51
52 MANUVER CINTA~PART 52
53 MANUVER CINTA~PART 53
54 MANUVER CINTA~PART 54
55 MANUVER CINTA~PART 55
56 MANUVER CINTA~PART 56
57 MANUVER CINTA~PART 57
58 MANUVER CINTA~PART 58
59 MANUVER CINTA~PART 59
60 MANUVER CINTA~PART 60
61 MANUVER CINTA~PART 61
62 MANUVER CINTA~PART 62
63 MANUVER CINTA~PART 63
64 MANUVER CINTA~PART 64
65 MANUVER CINTA~PART 65
66 MANUVER CINTA~PART 66
67 MANUVER CINTA~PART 67
68 MANUVER CINTA~PART 68
69 MANUVER CINTA-PART 69
70 MANUVER CINTA~PART 70
71 MANUVER CINTA~PART 71
72 MANUVER CINTA~PART 72
73 MANUVER CINTA~PART 73
74 MANUVER CINTA~PART 74
75 MANUVER CINTA~PART 75
76 MANUVER CINTA~PART 76
77 MANUVER CINTA~PART 77
78 MANUVER CINTA~PART 78
79 MANUVER CINTA~PART 79
80 MANUVER CINTA~PART 80
81 MANUVER CINTA~PART 81
82 MANUVER CINTA~PART 82
83 MANUVER CINTA-PART 83
84 MANUVER CINTA~PART 84
85 MANUVER CINTA~PART 85
86 MANUVER CINTA~PART 86
87 MANUVER CINTA~PART 87
88 MANUVER CINTA~PART 88
89 MANUVER CINTA~PART 89
90 MANUVER CINTA~PART 90
91 MANUVER CINTA~PART 91
92 MANUVER CINTA~PART 92
93 MANUVER CINTA~PART 93
94 MANUVER CINTA~PART 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
MANUVER CINTA~PART 1
2
MANUVER CINTA~PART 2
3
MANUVER CINTA~PART 3
4
MANUVER CINTA~PART 4
5
MANUVER CINTA~PART 5
6
MANUVER CINTA~PART 6
7
MANUVER CINTA~PART 7
8
MANUVER CINTA~PART 8
9
MANUVER CINTA~PART 9
10
MANUVER CINTA~PART 10
11
MANUVER CINTA~PART 11
12
MANUVER CINTA~PART 12
13
MANUVER CINTA~PART 13
14
MANUVER CINTA~ PART 14
15
MANUVER CINTA~PART 15
16
MANUVER CINTA~PART 16
17
MANUVER CINTA~PART 17
18
MANUVER CINTA~PART 18
19
MANUVER CINTA~ PART 19
20
MANUVER CINTA~PART 20
21
MANUVER CINTA~PART 21
22
MANUVER CINTA~PART 22
23
MANUVER CINTA ~PART 23
24
MANUVER CINTA~PART 24
25
MANUVER CINTA~PART 25
26
MANUVER CINTA~PART 26
27
MANUVER CINTA~PART 27
28
MANUVER CINTA~PART 28
29
MANUVER CINTA~PART 29
30
MANUVER CINTA~PART 30
31
MANUVER CINTA~PART 31
32
MANUVER CINTA~PART 32
33
MANUVER CINTA~PART 33
34
MANUVER CINTA~PART 34
35
MANUVER CINTA ~PART 35
36
MANUVER CINTA~PART 36
37
MANUVER CINTA~PART 37
38
MANUVER CINTA~PART 38
39
MANUVER CINTA~PART 39
40
MANUVER CINTA~PART 40
41
MANUVER CINTA~PART 41
42
MANUVER CINTA~PART 42
43
MANUVER CINTA~PART 43
44
MANUVER CINTA~PART 44
45
MANUVER CINTA~PART 45
46
MANUVER CINTA~PART 46
47
MANUVER CINTA~PART 47
48
MANUVER CINTA~PART 48
49
MANUVER CINTA~PART 49
50
MANUVER CINTA~PART 50
51
MANUVER CINTA~PART 51
52
MANUVER CINTA~PART 52
53
MANUVER CINTA~PART 53
54
MANUVER CINTA~PART 54
55
MANUVER CINTA~PART 55
56
MANUVER CINTA~PART 56
57
MANUVER CINTA~PART 57
58
MANUVER CINTA~PART 58
59
MANUVER CINTA~PART 59
60
MANUVER CINTA~PART 60
61
MANUVER CINTA~PART 61
62
MANUVER CINTA~PART 62
63
MANUVER CINTA~PART 63
64
MANUVER CINTA~PART 64
65
MANUVER CINTA~PART 65
66
MANUVER CINTA~PART 66
67
MANUVER CINTA~PART 67
68
MANUVER CINTA~PART 68
69
MANUVER CINTA-PART 69
70
MANUVER CINTA~PART 70
71
MANUVER CINTA~PART 71
72
MANUVER CINTA~PART 72
73
MANUVER CINTA~PART 73
74
MANUVER CINTA~PART 74
75
MANUVER CINTA~PART 75
76
MANUVER CINTA~PART 76
77
MANUVER CINTA~PART 77
78
MANUVER CINTA~PART 78
79
MANUVER CINTA~PART 79
80
MANUVER CINTA~PART 80
81
MANUVER CINTA~PART 81
82
MANUVER CINTA~PART 82
83
MANUVER CINTA-PART 83
84
MANUVER CINTA~PART 84
85
MANUVER CINTA~PART 85
86
MANUVER CINTA~PART 86
87
MANUVER CINTA~PART 87
88
MANUVER CINTA~PART 88
89
MANUVER CINTA~PART 89
90
MANUVER CINTA~PART 90
91
MANUVER CINTA~PART 91
92
MANUVER CINTA~PART 92
93
MANUVER CINTA~PART 93
94
MANUVER CINTA~PART 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!