MANUVER CINTA~PART 16

Mungkin diantara senyum-senyum bahagia malam itu, hanya bibir Zea dan Sagara yang terkatup rapat, tanpa mau melebar atau merekah kaya kerupuk kena minyak panas.

Pandangan Zea mencuri-curi pandang ke arah Saga, begitupun sebaliknya. Tapi tak ada yang bisa keduanya lakukan, bertanya? Melarang? Ayolah! Siapa Zea dan siapa Sagara.

Toh sampai detik ini pun, Saga tak mengucapkan satu kata pun pada Zea, apakah iya atau tidak. Namun kembali, Zea tak ingin memikirkan masalah itu.

Malam ini, nyawa Zea seperti tak berpijak di bumi. Makan pun tak nikmat karena merasa ada di bawah tatapan VOC berada bersama Ankara juga keluarga.

"Hey cantik!" bisik Zea memiringkan badannya ke samping mama Rieke. Mama Rieke langsung menoleh atas panggilan putrinya yang memang lain daripada yang lain.

"Apa sih?" tanya mama.

"Mi, Zea pamit cari angin keluar lah," ijinnya merasa tak nyaman.

"Ngapain angin dicariin, nggga ada kerjaan?!" balas mama Rieke, suaranya yang cukup membuat gendang telinga pada bolong itu membuat dentingan alat makan seketika terhenti.

Zea berdecak, "biar kembung...siapa tau angin mau menyampaikan rasa rindu Zea!" balasnya ber du-du-du ria.

"Kaya yang punya pacar aja! Udah ah abisin dulu makannya, mubadzir..."

"Ze, udah selesai makannya kamu? Kenapa ngga habis?!" tanya papa Rangga.

Zea menatap para penghuni meja makan satu persatu, mulut mama Rieke memang ngga bisa diajak kompromi soal volume selalu los dol, bablas!

"Makanannya ngga enak kah, nak Zea? Kurang masuk di lidah ya?" tanya tante Rinjani. Zea menggeleng cepat, "oh engga tante. Makanan tante enak kok, super duper deh! Mirip masakan resto terkenal!" jawabnya. Tante Rinjani terkekeh, "memang ini masakan dapet pesen nak Zea..."

Zea mengerjap tak percaya jika ucapan refleksnya justru membuka satu fakta baru malam ini. Om Surya Praja tertawa renyah, "ketauan nih...anak tongkrongan resto!" kelakarnya.

"Oh, Ze kirain ini masakan tante, hehehe," nyengirnya dibalas tawa yang lain.

"Sering nongkrong dimana Ze?" tanya Luna.

"Ah engga kak. Biasa aja, Ze mah nongkrongnya juga di pengkolan sama tukang cimol, kadang di warteg atau rumah makan nasi padang..." jawabnya ingin mematahkan pendapat yang mengatakan dirinya terlalu hedon.

"Hahaha, sama dong kita Ze!" balas Ankara.

"Belum apa-apa udah sehati gini!" dehem om Surya, di luar dugaan Sagara langsung terbatuk. Orang yang sejak tadi banyak diam dan hanya jadi penonton saja, sekalinya bersuara ya batuk!

"Maaf ndan."

"Eh bang, ini minum...keselek ya?" Luna menyodorkan segelas air putih ke depan Saga yang mengangguk sopan pada Luna, tergambar jelas semua itu di depan Zea. Hatinya semakin resah, "om...tante, semuanya Zea udah kenyang, silahkan dilanjut aja makannya. Zea ijin nyari angin dulu keluar..." Zea beranjak dari sana, suara kursi yang digeser membuat pandangan mereka meneliti wajah dan ekspresi Zea.

"Jangan jauh-jauh!" pinta mami Rieke membuyarkan eye contact kesemuanya dari gadis yang mulai menjauh dari sana.

"Zea emang agak susah makan nasi, bang."

"Iya, tapi nyemilnya ngabisin cemilan segudang..." Zico sangat tau jika Zea sangat tak nyaman, adiknya itu terlalu membentengi diri sekarang, akibat dari seringnya papa--mama mengajaknya berkenalan dengan anak dari rekanan mereka.

Saga mengunyah makanannya sulit, jujur saja makan malam ini terasa sulit baginya, belum apa-apa ia sudah merasa kenyang.

Ingin sekali ia menolak permintaan ini, namun rasanya tak etis menolak ajakan baik dari keluarga komandan, meskipun ia mencium bau-bau pendekatan dari Luna.

Ia segera menghabiskan makanannya agar bisa cepat ijin undur diri.

"Nambah makannya bang? Luna ambilin?" tawar gadis di sampingnya itu.

"Yang banyak Ga, makannya. Di mess mana bisa dapet itu, banteran ransum ikan cakalang!" seloroh Ankara. Biar dikata ransum, tapi rasanya lebih nikmat daripada makanan resto terkenal yang ia makan sekarang.

Sagara menggeleng, "maaf kapt. Ngga usah, dek Luna...terimakasih." angguknya. Pandangan Saga resah ke arah luar. Segera ia meneguk air minum dalam sekali tegukan sampai tandas.

"Gimana Zea, Anka?" tanya papa Rangga, bukan hanya Zico yang terkejut, tapi pun Sagara. Alisnya mengernyit meski tak berani angkat suara.

"Lucu om. Menggemaskan, pintar...cantik, baik, sopan," puji Anka. Mereka semua tersenyum kecuali Saga dan Zico yang memasang tampang mencerna obrolan mereka disini.

"Ya begitulah Ka, anak om memang begitu...." angguk papa.

"Tunggu, papa mau jodohin kapten Ankara sama Zea?" tanya Zico pada mama Rieke.

"Bukan jodohin Co, cuma nyomblangin. Lagian kalo memang ngga suka ngga apa-apa, om Surya sempat bilang kalo Ankara suka Zea, tapi tidak memaksa."

"Zea masih kecil ma," gertak Zico, bahkan ia saja yang kakak lelakinya dan sudah cukup umur, belum mendapatkan jua jodoh.

Zea menghirup nafas rakus, tapi tetap saja terasa sesak di dadha baginya. Melihat Sagara tak menolak tindakan Luna sekasar saat menolaknya, membuat Zea iri.

Dan dapat Zea simpulkan, jika memang ia sama sekali tak memiliki celah sedikit pun untuk mencuri hati abang dari temannya itu.

Suara jangkrik dan binatang nocturnal lain menjadi teman Zea menghabiskan emosinya.

Ia duduk di kursi teras depan menatap pos satpam yang kini kosong ditinggalkan penjaganya, mungkin sedang makan malam atau sedang ke toilet.

Berbagai macam manuver telah Zea lakukan, tapi ia tau dengan sikap Saga yang begitu, itu artinya ia yang harus mundur. Karena bagaimana pun Sagara tak akan membukakan jendela hatinya untuk Zea.

"Kok gue jadi nyerah gini, si?!" gumam Zea menthesah berat. Ia terlihat begitu berpikir, kenapa ia bisa sebuntu ini.

Zea kembali berdiri, rasanya ia sudah terlalu lama melamun di luar, ia khawatir jika kelamaan dirinya bakal kesambet jin jomblo.

Zea terperanjat mengerem langkahnya ketika menemukan sosok Sagara berada di gawang pintu tepat menghalangi langkahnya.

"Bang Saga mau pulang ya?" Zea mengalah dengan memberikan Saga jalan agar lelaki itu dapat melangkah keluar.

Diambilnya selangkah ke kiri, tapi Saga tetap tak bergeming dan memilih diam di tempatnya.

"Saya memang mau pulang, tapi bisa kita bicara sebentar?" tanya lelaki yang nampak gagah, tampan dan keren di mata Zea malam itu. Tak mungkin keturunan Al Fath dan Abi Zaky tak memiliki kharismatik dari pendahulunya yang bisa bikin cewek gagal move on.

"Ya? Zea?" tanya gadis itu membeo meyakinkan. Barangkali Saga barusan abis diracun di dalem bisa sebaik ini, atau justru kepalanya terbentur cukup keras jadi ia amnesia jika pernah judes pada gadis di depannya.

"Iya. Disini hanya ada saya dan kamu. Tidak mungkin kan saya menyebutkan kata kita merujuk pada saya dan kursi?"

"Oh, oke." angguk Zea, "ada yang mesti Zea sampein juga sama abang."

"Ngga mau ijin dulu sama keluarga?" tanya Saga. Zea menggeleng, "engga usah, cuma sebentar kan?"

Saga mengangguk, lalu berjalan duluan dengan diekori Zea.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

😅😅😅😅

2024-10-31

1

Lalisa

Lalisa

hhh zea🤣🤣🤣

2024-10-31

0

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

Zea mau ditembak babang Saga ya 🤭🤣🤣

2023-10-19

1

lihat semua
Episodes
1 MANUVER CINTA~PART 1
2 MANUVER CINTA~PART 2
3 MANUVER CINTA~PART 3
4 MANUVER CINTA~PART 4
5 MANUVER CINTA~PART 5
6 MANUVER CINTA~PART 6
7 MANUVER CINTA~PART 7
8 MANUVER CINTA~PART 8
9 MANUVER CINTA~PART 9
10 MANUVER CINTA~PART 10
11 MANUVER CINTA~PART 11
12 MANUVER CINTA~PART 12
13 MANUVER CINTA~PART 13
14 MANUVER CINTA~ PART 14
15 MANUVER CINTA~PART 15
16 MANUVER CINTA~PART 16
17 MANUVER CINTA~PART 17
18 MANUVER CINTA~PART 18
19 MANUVER CINTA~ PART 19
20 MANUVER CINTA~PART 20
21 MANUVER CINTA~PART 21
22 MANUVER CINTA~PART 22
23 MANUVER CINTA ~PART 23
24 MANUVER CINTA~PART 24
25 MANUVER CINTA~PART 25
26 MANUVER CINTA~PART 26
27 MANUVER CINTA~PART 27
28 MANUVER CINTA~PART 28
29 MANUVER CINTA~PART 29
30 MANUVER CINTA~PART 30
31 MANUVER CINTA~PART 31
32 MANUVER CINTA~PART 32
33 MANUVER CINTA~PART 33
34 MANUVER CINTA~PART 34
35 MANUVER CINTA ~PART 35
36 MANUVER CINTA~PART 36
37 MANUVER CINTA~PART 37
38 MANUVER CINTA~PART 38
39 MANUVER CINTA~PART 39
40 MANUVER CINTA~PART 40
41 MANUVER CINTA~PART 41
42 MANUVER CINTA~PART 42
43 MANUVER CINTA~PART 43
44 MANUVER CINTA~PART 44
45 MANUVER CINTA~PART 45
46 MANUVER CINTA~PART 46
47 MANUVER CINTA~PART 47
48 MANUVER CINTA~PART 48
49 MANUVER CINTA~PART 49
50 MANUVER CINTA~PART 50
51 MANUVER CINTA~PART 51
52 MANUVER CINTA~PART 52
53 MANUVER CINTA~PART 53
54 MANUVER CINTA~PART 54
55 MANUVER CINTA~PART 55
56 MANUVER CINTA~PART 56
57 MANUVER CINTA~PART 57
58 MANUVER CINTA~PART 58
59 MANUVER CINTA~PART 59
60 MANUVER CINTA~PART 60
61 MANUVER CINTA~PART 61
62 MANUVER CINTA~PART 62
63 MANUVER CINTA~PART 63
64 MANUVER CINTA~PART 64
65 MANUVER CINTA~PART 65
66 MANUVER CINTA~PART 66
67 MANUVER CINTA~PART 67
68 MANUVER CINTA~PART 68
69 MANUVER CINTA-PART 69
70 MANUVER CINTA~PART 70
71 MANUVER CINTA~PART 71
72 MANUVER CINTA~PART 72
73 MANUVER CINTA~PART 73
74 MANUVER CINTA~PART 74
75 MANUVER CINTA~PART 75
76 MANUVER CINTA~PART 76
77 MANUVER CINTA~PART 77
78 MANUVER CINTA~PART 78
79 MANUVER CINTA~PART 79
80 MANUVER CINTA~PART 80
81 MANUVER CINTA~PART 81
82 MANUVER CINTA~PART 82
83 MANUVER CINTA-PART 83
84 MANUVER CINTA~PART 84
85 MANUVER CINTA~PART 85
86 MANUVER CINTA~PART 86
87 MANUVER CINTA~PART 87
88 MANUVER CINTA~PART 88
89 MANUVER CINTA~PART 89
90 MANUVER CINTA~PART 90
91 MANUVER CINTA~PART 91
92 MANUVER CINTA~PART 92
93 MANUVER CINTA~PART 93
94 MANUVER CINTA~PART 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
MANUVER CINTA~PART 1
2
MANUVER CINTA~PART 2
3
MANUVER CINTA~PART 3
4
MANUVER CINTA~PART 4
5
MANUVER CINTA~PART 5
6
MANUVER CINTA~PART 6
7
MANUVER CINTA~PART 7
8
MANUVER CINTA~PART 8
9
MANUVER CINTA~PART 9
10
MANUVER CINTA~PART 10
11
MANUVER CINTA~PART 11
12
MANUVER CINTA~PART 12
13
MANUVER CINTA~PART 13
14
MANUVER CINTA~ PART 14
15
MANUVER CINTA~PART 15
16
MANUVER CINTA~PART 16
17
MANUVER CINTA~PART 17
18
MANUVER CINTA~PART 18
19
MANUVER CINTA~ PART 19
20
MANUVER CINTA~PART 20
21
MANUVER CINTA~PART 21
22
MANUVER CINTA~PART 22
23
MANUVER CINTA ~PART 23
24
MANUVER CINTA~PART 24
25
MANUVER CINTA~PART 25
26
MANUVER CINTA~PART 26
27
MANUVER CINTA~PART 27
28
MANUVER CINTA~PART 28
29
MANUVER CINTA~PART 29
30
MANUVER CINTA~PART 30
31
MANUVER CINTA~PART 31
32
MANUVER CINTA~PART 32
33
MANUVER CINTA~PART 33
34
MANUVER CINTA~PART 34
35
MANUVER CINTA ~PART 35
36
MANUVER CINTA~PART 36
37
MANUVER CINTA~PART 37
38
MANUVER CINTA~PART 38
39
MANUVER CINTA~PART 39
40
MANUVER CINTA~PART 40
41
MANUVER CINTA~PART 41
42
MANUVER CINTA~PART 42
43
MANUVER CINTA~PART 43
44
MANUVER CINTA~PART 44
45
MANUVER CINTA~PART 45
46
MANUVER CINTA~PART 46
47
MANUVER CINTA~PART 47
48
MANUVER CINTA~PART 48
49
MANUVER CINTA~PART 49
50
MANUVER CINTA~PART 50
51
MANUVER CINTA~PART 51
52
MANUVER CINTA~PART 52
53
MANUVER CINTA~PART 53
54
MANUVER CINTA~PART 54
55
MANUVER CINTA~PART 55
56
MANUVER CINTA~PART 56
57
MANUVER CINTA~PART 57
58
MANUVER CINTA~PART 58
59
MANUVER CINTA~PART 59
60
MANUVER CINTA~PART 60
61
MANUVER CINTA~PART 61
62
MANUVER CINTA~PART 62
63
MANUVER CINTA~PART 63
64
MANUVER CINTA~PART 64
65
MANUVER CINTA~PART 65
66
MANUVER CINTA~PART 66
67
MANUVER CINTA~PART 67
68
MANUVER CINTA~PART 68
69
MANUVER CINTA-PART 69
70
MANUVER CINTA~PART 70
71
MANUVER CINTA~PART 71
72
MANUVER CINTA~PART 72
73
MANUVER CINTA~PART 73
74
MANUVER CINTA~PART 74
75
MANUVER CINTA~PART 75
76
MANUVER CINTA~PART 76
77
MANUVER CINTA~PART 77
78
MANUVER CINTA~PART 78
79
MANUVER CINTA~PART 79
80
MANUVER CINTA~PART 80
81
MANUVER CINTA~PART 81
82
MANUVER CINTA~PART 82
83
MANUVER CINTA-PART 83
84
MANUVER CINTA~PART 84
85
MANUVER CINTA~PART 85
86
MANUVER CINTA~PART 86
87
MANUVER CINTA~PART 87
88
MANUVER CINTA~PART 88
89
MANUVER CINTA~PART 89
90
MANUVER CINTA~PART 90
91
MANUVER CINTA~PART 91
92
MANUVER CINTA~PART 92
93
MANUVER CINTA~PART 93
94
MANUVER CINTA~PART 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!