MANUVER CINTA~ PART 14

Dean masih menatap dengan alis menukik ke arah Zea, si gadis pujaan hati. Nukik mirip tikungan mantan yang ngebet-ngebetnya kawin.

"Ze, kamu gila?! Kamu tuh udah malu-maluin diri sendiri! Sadar Zea, toh---ngga mungkin abangnya Clemira mau sama anak SMA kaya lo, lo masih bocah untuk ukuran seseorang kaya bang Sagara." Ucapnya berapi-api, entah api asmara, api cemburu atau api unggun yang ia koarkan.

Bukan Sagara yang menyadarkan Zea, namun Dean yang dengan teganya menampar sebuah kenyataan menohok pada diri Zea, seolah ia ingin membuat Zea terbangun dari mimpinya itu. Sampai negri diatas langit runtuh nimpa kepala, Dean tak rela Zea nembak Sagara terus mereka jadian.

"Gue sadar De, ngga usah lo buka mata gue selebar pintu masjid juga gue sangat sadar..." jawab Zea tak kalah sewotnya dengan mpok Alpa.

"Terus ada yang salah dari ucapan gue barusan? Gue ngga minta bang Sagara buat jadi pacar gue De. Gue cuma mau menyampaikan isi hati yang akhir-akhir ini bersarang dan makin numpuk di dadha, dah! Itu aja!"

"Jatuh cinta ternyata sekamvreett ini," Zea mengalihkan pandangannya pada Saga, menatap dengan getir lelaki kebanggan keluarganya dan kesatuan.

"Kalo mau tidur, ingetnya muka orang yang disuka. Mau kemana-mana mau ngapain juga kaya gitu..."jelas Zea lagi.

"I don't care about him. Because this is about me! My self, not him!" tunjuk Zea pada Saga.

"Zea mau, pas Zea fokus latihan dan berangkat nanti, Zea udah ngga punya beban hati dan bisa fokus sama tujuan. Ze, ngga peduli abang bakalan bilang apa karena Zea lebih peduli dengan apa yang Zea ucapkan sekarang!" ia menghirup udara rakus dan berseru gembira, "Zea sudah tau, sosok Ze tuh ngga ada setai kuku pun dari kriteria sosok cewek idaman bang Saga..."

"Dan untuk lo, De. Zea belum sejauh itu menganggap seseorang yang lain lebih dari siapapun. Tak ada penolakan dari Zea bukan berarti Zea terima kamu, tapi karena Zea ngga bisa nolak kamu gini di depan orang banyak sebelumnya..."

Zea sudah selesai dengan Dean dan semuanya, ia menoleh lagi pada Saga, tanpa bahasa isyarat yang berarti angin seolah menyapukan seluruh rasa kesedihan atas kejadian hari ini, seperti Zea tak pernah ditakdirkan untuk bersedih-sedih ria, ia menolak gamon---galau---gelisah, "Sekali lagi, bang Saga....Zea sangat---sangat menyukai abang!" ucapnya lagi lantang nan tegas penuh penghayatan, kemudian Zea memutar badannya dan berniat meninggalkan tempatnya sekarang, namun ia cukup terkejut ketika ternyata beberapa teman sekelasnya ada disana pula.

Alisnya mengernyit keriting, "kalian ngapain disini? Awas bubar! Disini ngga ada pembagian BLT atau hiburan topeng mon yet!" usirnya galak menerobos teman-teman dan pergi dari sana meninggalkan punggung kecil bertutupkan surai panjang bergelombang yang coklat, secoklat kayu manis miliknya di pandangan Sagara.

Langkah Zea semakin mantap meski ada rasa kecewa, namun ia merasa dadhanya sudah lega.

Dan justru, tanpa ia sadari beban itu ia pindahkan ke hati Sagara dan Dean. Meninggalkan goresan luka di hati Dean meski caranya begitu sopan. Mereka ikut bubar jalan ketika Zea sudah tak ada disana, meninggalkan bayangan jelas gadis cantik di hati dan pikiran Sagara.

"Jamilaaahh!" Clemira pamit pada Sagara namun Saga mencegahnya, "kamu biar pulang bareng abang." tahannya di lengan Clemira.

"Ck. Rencananya Cle mau nge-mie bareng ah, sama Zea!" ketusnya ngambek ditarik Sagara.

"Mie instan terus! Lama-lama badan kamu keriting kaya mie, apa kata abi Ray? Kata umi Eyi?" tanya Saga bawanya melewati Tama yang terkekeh ketika juniornya itu menarik Clemira macam guguk pudel.

"Hidup kau, Ga...Ga! Dikelilingin bocah-bocah cantik! Lah, kasian itu korban kau!" tunjuk bang Uday ke arah tadi Zea menghilang.

"Sadis abang euy!" ujar Gita.

"Thanks bro, kau relakan gadis secantik Zea untuk ku kejar!" imbuh Luki ditertawai Izan dan Tama.

"Tau!" Clemira menggeplok punggung Saga yang baginya tak terasa seperti ditepok, lebih mirip lagi dinina boboin.

"Nyesel loh bang, nolak Zea!" gidikan bahu Clemira tanda ia membela sahabatnya itu.

"Abang ngga nolak." Saga menoleh ke belakang membuka suit penerbangnya menyisakan kaos hijau army lalu menyambar seragam lorengnya untuk ia pakai kembali.

"Berarti abang terima?" gestur tubuh yang menunjukan manja-manja anak remaja dengan memiringkan badannya setengah menempel di bahu kiri Saga.

"Engga juga," gidiknya acuh, "minggir abang mau ambil kunci motor dulu."

"Dasar galak! Mana ada cewek yang mau sama abang kalo kaya gini, plin--plan! Harusnya abang contoh abi!" serunya bangga pada sang ayah.

"Bang, ijin antar adik dulu..." Saga berkata pada Uday.

"Iyalah, silahkan." jawab Uday.

"Abimu yang ceweknya banyak? Atau abi Ray yang pinter gombalin cewek?" tanya Saga berjalan pamit pada setiap rekannya termasuk Tama yang senantiasa menatap Clemira dalam diam.

"Hey! Kisanat, jaga ya ucapan anda...gitu-gitu dia abinya Cle! Berarti berbakat buat naklukin dan bikin cewek nyaman!" debatnya berjalan mengekori Saga sambil menusuk-nusuk punggung Saga dengan jari telunjuk, untung ngga pakai belati.

"Cari tas kamu, sekalian pamit sama temen dan guru sekolah. Udah selesai kan?" tanya Saga memerintah. Clemira mengangguk, "abang tuh denger ngga sih yang Cle bilang?"

"Denger." jawabnya singkat. Kedua sepupu ini lantas ribut sampai suara mereka sayup-sayup hilang dari radar teman-temannya.

"Lucu ya...bang Saga kan orangnya datar, dingin kaya batu es, tapi dikelilingin sama orang yang absurd bin gemesin gitu!" kekeh Gita. Tama menyadari sikap diamnya yang terkesan tak berani ambil sikap macam pecundang, ia yang notabenenya seorang tentara kalah telak oleh Zea yang hanya seorang remaja tanggung.

Clemira pamit pada teman-teman sekolahnya, namun ia tak mennemukan sosok Zea lagi disana, hingga suara dering ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.

Cle, gue pulang duluan ya. Mendadak papih kirim pak Cokro buat jemput gue, katanya uti gue masuk ruang operasi, batu ginjal.

Sejak terakhir acara bela negara, Sagara belum melihat kembali wajah Zea, ataupun sosok hadirnya si gadis yang terakhir kali bertemu menyatakan perasaan sukanya. Seperti saat ini, ia dengan sengaja menjemput Clemira ke sekolah, namun ia tak bertemu Zea.

"Kok abang yang jemput?" Clemira meneliti penampilan Sagara dari atas hingga bawah, jelas-jelas pakaiannya masih lengkap menggunakan seragam lengkap sepaket sepatu deltanya.

"Ngga usah bawel, om Maliq ada tugas. Cepet naik!" pintanya pada Cle. Namun pandangannya jelas menatap jauh ke dalam sekolah, mulut boleh berkata tidak, namun hati dan mata mencari dimana *sosok yang menarik hati*.

"Bang! Cle udah naik, buruan panas!" tepuknya di pundak Saga, lelaki itu cukup tersentak dan kemudian menyalakan mesin motornya.

Mama Rieke mengangkat dress-dress milik Zea dan menimbang-nimbang, bukan dari berat namun dari model dan warnanya.

"Ngga usah beli lagi lah ya! Ini juga jarang kamu pake!"

Zea terpaksa pulang cepat dari jadwal latihannya karena mama dan papa memintanya untuk pulang, demi mendatangi jamuan makan atas undangan seseorang yang berpengaruh.

"Acara makan temen mancing papih aja mesti ikut sekeluarga, mau ngapain sih?!" tanya Zea bernada ketus sambil bermain game online, menggerakan kursor kesana kemari menyerang hero orang lain yang menjadi musuhnya, sesekali ia misuh-misuh dan menghardik saat hero miliknya kena serang.

"Biar semuanya ikut makan, jadi awet beras di rumah!" jawab ngasal mama Rieke.

Zea menghentikan permainannya, rasanya malas sekali dengan acara pertemuan orang dewasa, cuma bisa mesam-mesem jijay kaya odgj, cengar-cengir ngga jelas kaya lagi drama komedi dan nahan ngantuk saat tema obrolan mulai berat.

"Cepet mandi, siap-siap!"

"Ngga usah mandi lah mih, masih wangi! Takut luntur cantiknya!" jawab Zea langsung disambar oleh tepukan di pan tat oleh mama Rieke.

Zea tertawa tergelak, "mamih ngga tau kalo muka Zea tuh dipakein susuk?!"

"Susuk buat masak apa gimana?" tanya mama Rieke menaruh dress yang akan dipakai Zea di atas ranjang.

"Susuk mih, susuk emas. Kalo siang kan Zea tuh Zea Jamilah...padahal mamih ngga tau aja kalp malem Zea jadi Zae...Zaenuddin!" ocehnya dari kamar mandi.

Kapten Ankara berlari di sore hari untuk menjaga kebugaran, ditatapnya lapangan yang masih menampakan sisa panas sorot matahari, membuat keringat yang mengucur tampak kemilau di pelipis melewati rambut cepaknya.

"Ga!" sapanya ketika Sagara baru saja pulang menjemput Clemira dan mengantarnya pulang.

"Siap kapt?!" ia menghormat sejenak lalu mengangguk sopan.

"Ntar malem abis isya, komandan undang ke rumah!" ia mengelap keringat kasar dengan lengan jaket.

"Siap kapt, ada apa kalau boleh tau?" tanya nya.

Kapten Ankara tersenyum tipis, "datang saja! Kamu berani nolak undangan atasan?" tanya nya.

"Siap salah kapt! Tidak!"

"Bagus, kita tunggu kedatangannya. Yo! Saya jalan lagi..." ia kembali berlari dan meninggalkan Sagara.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

tak kira klo malam jd Zaelangkung Zee🤣🤣🤣🤣🤣🤣🏃🏃

2025-01-02

1

Lalisa

Lalisa

sok jual mahal sihhh

2024-10-30

0

Lalisa

Lalisa

kalau sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga
auto nyanyi 💃💃💃

2024-10-30

0

lihat semua
Episodes
1 MANUVER CINTA~PART 1
2 MANUVER CINTA~PART 2
3 MANUVER CINTA~PART 3
4 MANUVER CINTA~PART 4
5 MANUVER CINTA~PART 5
6 MANUVER CINTA~PART 6
7 MANUVER CINTA~PART 7
8 MANUVER CINTA~PART 8
9 MANUVER CINTA~PART 9
10 MANUVER CINTA~PART 10
11 MANUVER CINTA~PART 11
12 MANUVER CINTA~PART 12
13 MANUVER CINTA~PART 13
14 MANUVER CINTA~ PART 14
15 MANUVER CINTA~PART 15
16 MANUVER CINTA~PART 16
17 MANUVER CINTA~PART 17
18 MANUVER CINTA~PART 18
19 MANUVER CINTA~ PART 19
20 MANUVER CINTA~PART 20
21 MANUVER CINTA~PART 21
22 MANUVER CINTA~PART 22
23 MANUVER CINTA ~PART 23
24 MANUVER CINTA~PART 24
25 MANUVER CINTA~PART 25
26 MANUVER CINTA~PART 26
27 MANUVER CINTA~PART 27
28 MANUVER CINTA~PART 28
29 MANUVER CINTA~PART 29
30 MANUVER CINTA~PART 30
31 MANUVER CINTA~PART 31
32 MANUVER CINTA~PART 32
33 MANUVER CINTA~PART 33
34 MANUVER CINTA~PART 34
35 MANUVER CINTA ~PART 35
36 MANUVER CINTA~PART 36
37 MANUVER CINTA~PART 37
38 MANUVER CINTA~PART 38
39 MANUVER CINTA~PART 39
40 MANUVER CINTA~PART 40
41 MANUVER CINTA~PART 41
42 MANUVER CINTA~PART 42
43 MANUVER CINTA~PART 43
44 MANUVER CINTA~PART 44
45 MANUVER CINTA~PART 45
46 MANUVER CINTA~PART 46
47 MANUVER CINTA~PART 47
48 MANUVER CINTA~PART 48
49 MANUVER CINTA~PART 49
50 MANUVER CINTA~PART 50
51 MANUVER CINTA~PART 51
52 MANUVER CINTA~PART 52
53 MANUVER CINTA~PART 53
54 MANUVER CINTA~PART 54
55 MANUVER CINTA~PART 55
56 MANUVER CINTA~PART 56
57 MANUVER CINTA~PART 57
58 MANUVER CINTA~PART 58
59 MANUVER CINTA~PART 59
60 MANUVER CINTA~PART 60
61 MANUVER CINTA~PART 61
62 MANUVER CINTA~PART 62
63 MANUVER CINTA~PART 63
64 MANUVER CINTA~PART 64
65 MANUVER CINTA~PART 65
66 MANUVER CINTA~PART 66
67 MANUVER CINTA~PART 67
68 MANUVER CINTA~PART 68
69 MANUVER CINTA-PART 69
70 MANUVER CINTA~PART 70
71 MANUVER CINTA~PART 71
72 MANUVER CINTA~PART 72
73 MANUVER CINTA~PART 73
74 MANUVER CINTA~PART 74
75 MANUVER CINTA~PART 75
76 MANUVER CINTA~PART 76
77 MANUVER CINTA~PART 77
78 MANUVER CINTA~PART 78
79 MANUVER CINTA~PART 79
80 MANUVER CINTA~PART 80
81 MANUVER CINTA~PART 81
82 MANUVER CINTA~PART 82
83 MANUVER CINTA-PART 83
84 MANUVER CINTA~PART 84
85 MANUVER CINTA~PART 85
86 MANUVER CINTA~PART 86
87 MANUVER CINTA~PART 87
88 MANUVER CINTA~PART 88
89 MANUVER CINTA~PART 89
90 MANUVER CINTA~PART 90
91 MANUVER CINTA~PART 91
92 MANUVER CINTA~PART 92
93 MANUVER CINTA~PART 93
94 MANUVER CINTA~PART 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
MANUVER CINTA~PART 1
2
MANUVER CINTA~PART 2
3
MANUVER CINTA~PART 3
4
MANUVER CINTA~PART 4
5
MANUVER CINTA~PART 5
6
MANUVER CINTA~PART 6
7
MANUVER CINTA~PART 7
8
MANUVER CINTA~PART 8
9
MANUVER CINTA~PART 9
10
MANUVER CINTA~PART 10
11
MANUVER CINTA~PART 11
12
MANUVER CINTA~PART 12
13
MANUVER CINTA~PART 13
14
MANUVER CINTA~ PART 14
15
MANUVER CINTA~PART 15
16
MANUVER CINTA~PART 16
17
MANUVER CINTA~PART 17
18
MANUVER CINTA~PART 18
19
MANUVER CINTA~ PART 19
20
MANUVER CINTA~PART 20
21
MANUVER CINTA~PART 21
22
MANUVER CINTA~PART 22
23
MANUVER CINTA ~PART 23
24
MANUVER CINTA~PART 24
25
MANUVER CINTA~PART 25
26
MANUVER CINTA~PART 26
27
MANUVER CINTA~PART 27
28
MANUVER CINTA~PART 28
29
MANUVER CINTA~PART 29
30
MANUVER CINTA~PART 30
31
MANUVER CINTA~PART 31
32
MANUVER CINTA~PART 32
33
MANUVER CINTA~PART 33
34
MANUVER CINTA~PART 34
35
MANUVER CINTA ~PART 35
36
MANUVER CINTA~PART 36
37
MANUVER CINTA~PART 37
38
MANUVER CINTA~PART 38
39
MANUVER CINTA~PART 39
40
MANUVER CINTA~PART 40
41
MANUVER CINTA~PART 41
42
MANUVER CINTA~PART 42
43
MANUVER CINTA~PART 43
44
MANUVER CINTA~PART 44
45
MANUVER CINTA~PART 45
46
MANUVER CINTA~PART 46
47
MANUVER CINTA~PART 47
48
MANUVER CINTA~PART 48
49
MANUVER CINTA~PART 49
50
MANUVER CINTA~PART 50
51
MANUVER CINTA~PART 51
52
MANUVER CINTA~PART 52
53
MANUVER CINTA~PART 53
54
MANUVER CINTA~PART 54
55
MANUVER CINTA~PART 55
56
MANUVER CINTA~PART 56
57
MANUVER CINTA~PART 57
58
MANUVER CINTA~PART 58
59
MANUVER CINTA~PART 59
60
MANUVER CINTA~PART 60
61
MANUVER CINTA~PART 61
62
MANUVER CINTA~PART 62
63
MANUVER CINTA~PART 63
64
MANUVER CINTA~PART 64
65
MANUVER CINTA~PART 65
66
MANUVER CINTA~PART 66
67
MANUVER CINTA~PART 67
68
MANUVER CINTA~PART 68
69
MANUVER CINTA-PART 69
70
MANUVER CINTA~PART 70
71
MANUVER CINTA~PART 71
72
MANUVER CINTA~PART 72
73
MANUVER CINTA~PART 73
74
MANUVER CINTA~PART 74
75
MANUVER CINTA~PART 75
76
MANUVER CINTA~PART 76
77
MANUVER CINTA~PART 77
78
MANUVER CINTA~PART 78
79
MANUVER CINTA~PART 79
80
MANUVER CINTA~PART 80
81
MANUVER CINTA~PART 81
82
MANUVER CINTA~PART 82
83
MANUVER CINTA-PART 83
84
MANUVER CINTA~PART 84
85
MANUVER CINTA~PART 85
86
MANUVER CINTA~PART 86
87
MANUVER CINTA~PART 87
88
MANUVER CINTA~PART 88
89
MANUVER CINTA~PART 89
90
MANUVER CINTA~PART 90
91
MANUVER CINTA~PART 91
92
MANUVER CINTA~PART 92
93
MANUVER CINTA~PART 93
94
MANUVER CINTA~PART 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!