MANUVER CINTA~PART 12

Sagara melipat kedua tangannya di dadha tak habis pikir dengan ketiga remaja di bawahnya itu, mereka malah saling menggosok punggung satu sama lain dengan begini justru mereka semakin membuang-buang waktu.

"Ini coba ih, punggung Zea tolong dong garukin! Ada kodok duda masuk kayanya!" ujarnya ditertawai Iyang dan Clemira juga lainnya.

"Saravvv! Darimana lo tau kodok itu duda?!" Clemira mendorong kepala temannya yang telah berubah jadi si shrek, mainannya di lumpur.

"Kegatelan!!" sarkasnya.

"Aya-aya wae ah dia mah ih! Kayanya mah kodok tuh kakinya di ngang kangin sama si Zea mah, buat diliat gendernya apa," Iyang berujar membuat semuanya tertawa mrndengar ocehannya, sambil nyengir dan melihat lumpur sekitarnya ia kembali bertanya, "ini teh ngga akan ada lintah gitu, bapak?" ngeri sendiri membayangkan hewan melata itu tiba-tiba menempel menye dot da rahnya, Iyang bergidik ngeri.

"Mana saya tau, kayanya ada!" jawab Luki. Clemira tersenyum usil, ia sedikit membungkuk dan menenggelamkan tangannya untuk meraba bagian kaki Iyang.

"Ada. Tapi lintahnya takut sama elu. Da rah lu juga pait," balas Zea mencoba melangkah ke tepian.

Baru saja beberapa langkah ia menggusur kaki dan badannya, Iyang tiba-tiba menjerit-jerit kembali dan langsung melompat menerkam Zea dari belakang, "Aaaaaa!" jeritnya.

"Itu apa! Itu apa! Bapak! Om! Atuh lah tolongin, pak Guruuuuuu!" ia memeluk Zea erat.

Zea yang terkejut dan tergelonjak risih karena Iyang ketakutan, memberontak menggidikan bahunya yang dipeluk Iyang, "woyy ahhh! Saravvv ih, bukan mahrom!"

"Zea!!! Zeaaa!!" jeritnya di telinga Zea, padahal Clemira sudah tertawa tergelak melihat itu.

"Daliyaa!" jerit Zea, jadinya ia ikut-ikutan berteriak juga.

"Clemira ihhh! Udah atuh lah ampun ihhh, Iyang lemes Cle! Saravv njirrr ah, bener-bener ih!"

"Ck! Cle ih, gue dicakar-cakar nih cowok tulang lunak ah!" gerutu Zea.

Dean menggaruk kepalanya atas kelakuan teman-temannya ini, "udah--udah, buruan naik! Malah pada anteng disitu," pintanya.

Moment ini menjadi perhatian peserta lain dan akan menjadi kenang-kenangan acara bela negara tahun ini.

"Ah Elah! Jadi kaya piscok begini kan, pulang gimana nih?!" omel Zea.

"Berani kotor itu baik," jawab Clemira mencapai tepian.

"Berani kotor itu, berani bangunin singa tidur!" jawab Zea, "mamih gue Cle, ngomel-ngomel! Baju olga dipake buat cosplay bebek di sawah! Auto uang jajan di cut sampai abis bulan, auto jajan kerupuk tiap hari."

"Lo biang keroknya, Zea." Iyang mencubit gemas pipi Zea, sontak gadis ini berontak melotot, "ish! Berani sentuh, bayar semilyar!"

Iyang tertawa mendengarnya, "ogah. Mendingan nyentuh Lee Min ho! Wik----wok sama artis ternama nan sexy aja cuma 80 juta. Nah lo, body kaya ukulele aja minta semilyar, sungguh keterlaluan!" cibir Iyang memancing tawa semuanya termasuk Luki yang mengalihkan pandangannya, "ampun gue. Baru kali ini nemu anak-anak SMA modelan begini!" akuinya pada Saga dan Izan, Saga sudah menggertakan giginya, pasalnya personel trio bebek itu ada Clemira adiknya.

"Sembarangan! Gue disamain sama artis uhukk--uhukkk, Cle! Dunia sebentar lagi diisep blackhole."

Clemira tertawa, "lo berdua ih, ampunnn deh mulutnya, balik dari sini bikin mie instan yuk laper Cle!" ajaknya malah lebih parah ngajak makan di waktu yang tak tepat.

"Kuy!" angguk Zea dan Iyang yang ikut-ikutan.

"Apaan ini ikut-ikutan!" Zea menarik Iyang yang sudah beranjak naik hingga pemuda itu kembali tercebur, "Zeaaaamilahhhh! Gue santet lo!" sewotnya kesal, "udah atuh Ze, ahhh. Gue lemes ih!" gelengnya merengek.

Clemira tertawa di dalam kolam lumpur, "lo berdua udah mirip ke bo!"

"Sembarangan, mana ada ke bo cucok meong begini!" ujar Iyang.

"Naik Cle," pinta Saga.

"Sini om bantu," Izan mengulurkan tangannya ke arah Zea.

Iyang mencoba naik, "heyy! Atuhlah tolongin aku! Giliran aku, kalian campakan." pintanya berjingkrak merengek pada teman-temannya.

Zea yang dibantu Izan dan Dean menapak naik di sebelah Clemira yang ditolong Saga.

"Lo ngga apa-apa Ze? Ada yang kena mata ngga lumpurnya?" Dean bertanya peduli, namun tatapan Zea justru jatuh pada Sagara yang meneliti Clemira. Begitupun Saga yang sempat menanyakan keadaan Clemira, Zea juga Iyang.

"Ngga apa-apa?" tanya nya singkat. Baru ditanya begitu saja Zea udah bahagianya kaya dapet undian sepeda motor dari kopi instan, mungkin setelah ini, ia akan bikin acara tumpengan sekampung.

"Silahkan buat adik-adik ke tempatnya kembali, beristirahat sekalian bersih-bersih, mission complete..." ujar Luki memberikan ceklis di tabel kelompok SMA Kartika X.

"Yeeeee!" seru mereka senang.

"Berapa om, waktunya?" tanya Windu.

"Rahasia," senyum Luki.

"Yaaaa----" sorak mereka kecewa.

"Kalian bertiga bersih-bersih, toilet di dekat barak kesehatan."

Clemira dan Zea membawa serta tas dan baju gantinya bersama Iyang, hanya saja mereka berbeda toilet.

Clemira dan Zea melewati barak dimana para tentara dan panitia berkumpul.

Sekilas, Zea melihat Sagara dan beberapa personel tentara lainnya. Langkahnya otomatis berbelok demi melihat sang pujaan hati, "eitss! Mau kemana? Toilet sebelah sana, neng!" tahan Clemira.

Zea nyengir, "kaki gue kok yang berhianat." Alasannya berkilah seraya nyengir.

"Makin suka gue sama abang lo, Cle..."

"Ck, udah!" Clemira memalingkan wajah Zea agar melihat lurus ke depan, "yang ada abang gue ilfeel liat lo yang mirip sama kumpulan hewan mamalia begini!" tunjuknya pada diri Zea.

Zea tertawa renyah, "iya."

Keduanya berlalu masuk toilet asrama disana, "woowww! Toiletnya pake bilik gini Cle! Gue bisa ngintip kaki lo dong!" seru Zea.

"Kampungan dasar ih!" hardik Clemira.

Zea cukup takjub karena belum pernah masuk kamar mandi para tentara yang terkesan unik, "kaya kamar mandi di sekolah hogwarts tau ngga!" serunya lagi, Clemira terkekeh mendengarnya. Terbiasa bergelimang kemewahan, membuat Zea tak pernah menemukan hal sederhana macam ini.

"Anak kaum hedon ya begitu, ketemu yang sederhana bawaannya kampungan!" tawa Clemira didengusi Zea di bilik samping.

Keduanya sudah selesai mandi, dengan memakai celana pdl hitam dan kaos putih mereka kembali bergabung dengan rekan SMA nya.

SMA Kartika X boleh kalah saat halang rintang, tapi saat mempertontonkan yel-yel sekolah, mereka membuat takjub semua yang ada disana dengan penampilan totalitas mereka.

Jika sekolah lain hanya menggunakan nyanyian seadanya dan sorak sorai gembira saja, lain halnya dengan SMA Kartika X yang memang terkenal dengan musikalitas tinggi dan prestasi di bidang seninya.

Awalnya mereka membentuk formasi berbaris jadi 4 baris lalu dengan suara beat box dari mulut siswa ekskul seni padus.

Kemudian mereka menyanyikan bersama dengan suara lantang yel-yel SMA Kartika X berikut dengan gerakan dance modern yang digawangi oleh Zea, Clemira dan Iyang.

Sorak sorai takjub dan riuh tinggi tercipta, bahkan para siswa yang awalnya acuh tak acuh, kini mengitari lapangan demi melihat perform dari SMA Kartika X, tak sedikit pula lensa kamera dari sesama peserta, dan panitia mengabadikan perform itu.

Formasi berubah menjadi melingkar, mereka berlagak seperti penari kecak lengkap dengan suara khas yang tercipta, sentuhan terakhir Zea membawa serta bendera negri dan mengibarkannya di tengah membuat semua mau tak mau ikut menghormat, termasuk para panitia dan tentara yang ada disana.

Sagara menyunggingkan senyumannya sekilas melihat aksi dan perform mereka termasuk Clemira dan Zea. Memang tak diragukan lagi kemampuan mereka yang sebentar lagi akan terbang ke negri Three lion untuk ajang kompetisi membawa serta nama negara.

"Itu tuh, adek lo kan Ga?" tunjuk Izan dari pinggiran lapang pada Clemira diangguki oleh Sagara.

"Ga, minta tolong sama adek lo, salamin sama yang tadi kejebur bareng...siapa namanya, Zea kalo ngga salah, ya? Tuh yang bawa bendera," kekeh Luki. Saga melirik singkat dengan alis terangkat sedikit, "anak bocah, suka sama bocah, lo?"

"Ya biarin, bocah tapi cantik broo! Di kesatuan ngga ada yang gemesin bar-bar gitu!" akui Luki.

"Nyari yang bar-bar? Letda Gita juga bar-bar, mau dibikin memar atau patah tulang?" tawa Izan membuat Luki mendengus dan Saga terkekeh.

"Itu mah bukan bar-bar, tapi galak!" jawab Luki.

Tepukan tangan membahana di lapangan milik markas besar tentara negri sekaligus mengantarkan SMA Kartika X menjadi juara favorit di ajang bela negara ini.

"Rangking teratas diduduki oleh SMA 234!"

Yeeee!

"It's okeyy ngga apa-apa guys, ini cuma permainan aja, sekaligus melatih diri dan olahraga!" Dean tersenyum ke arah teman-temannya.

"Ibu sama bapak, bangga sama kalian. Ngga apa-apa ya, kita udah berusaha semaksimal mungkin!" timpal pak Herman.

"Dan..." komandan acara memberikan interupsi di tengah kebahagiaan sang juara dan riuh para peserta.

"Masih ada juara lain atas keberhasilan acara dan atensi besar dari kami, kesatuan tentara negri."

Komandan yang berbicara di depan melihat secarik kertas di tangannya seraya memegang membetulkan standing microphonenya.

"Juara kategori baru, SMA Favorit bela negara tahun ini jatuh pada SMA....."

Mereka harap-harap cemas mendengarnya, degupan jantung seakan mau copot menggelinding tinggal diganti pake jantung pisang saja.

"SMA Kartika X!!"

Tepukan tangan membahana dari semua yang hadir, lebih riuh dari juara acara tadi.

"Yeeeeessss! Huuuhuuu!"

Witwiww!

Bahkan Izan, Luki dan para tentara lain yang menyaksikan melemparkan suitannya.

"Kita menang pak!"

"Untuk SMA Kartika silahkan mengirimkan perwakilannya untuk menerima piala dan piagam," pinta komandan di depan.

Dean sebagai kapten maju ke depan, "makasih." posturnya yang cukup tinggi bersanding dengan kapten dari SMA lain di depan, berfoto dengan jajaran komandan resimen, panitia dan dinas pendidikan.

"Maaf pak, ada yang mau disampaikan bentar boleh?" pinta Dean pada panitia untuk berbicara.

"Oh boleh," jawabnya.

"Ekhem," pemuda itu mengambil acara dengan suara beratnya di depan.

"Eh, si Dean mau ngomong apa tuh?"

"Sebelumnya saya atas nama SMA Kartika X saya mengucapkan terimakasih banyak untuk disdik, kesatuan udara, dan tentara negri serta panitia, jaya selalu di langit bumi pertiwi!" ia mengacungkan kepalannya yang diangguki penuh senyuman dari komandan resimen dan humas juga para prajurit serta panitia.

"Juga perhatiannya dari rekan-rekan SMA lain, terimakasih banyak. Mungkin beberapa jam tadi ada hati yang bersaing diantara kita, tapi setelah itu kita kembali berjabat tangan sebagai sesama pemuda negri...generasi penerus bangsa. Atas nama Desta X, atau dance SMA Kartika X kami minta dukungannya dari semua orang...."

"Karena....Zea Arumi, bisa maju ke depan sebentar!" pintanya membuat Zea terkejut.

"Gue?!" tunjuknya pada diri sendiri saat Dean menunjuknya dan menyebutkan namanya, sontak tatapan mereka jatuh pada gadis cantik itu termasuk Sagara.

"Mau apa dia?" lirih Saga.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

jangan² Iyang ketua cheerleader lg
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-01-02

1

Dewi Oktavia

Dewi Oktavia

wih seru rupa y...

2024-12-22

1

Lalisa

Lalisa

kenapa bang..pinisirin ya

2024-10-30

0

lihat semua
Episodes
1 MANUVER CINTA~PART 1
2 MANUVER CINTA~PART 2
3 MANUVER CINTA~PART 3
4 MANUVER CINTA~PART 4
5 MANUVER CINTA~PART 5
6 MANUVER CINTA~PART 6
7 MANUVER CINTA~PART 7
8 MANUVER CINTA~PART 8
9 MANUVER CINTA~PART 9
10 MANUVER CINTA~PART 10
11 MANUVER CINTA~PART 11
12 MANUVER CINTA~PART 12
13 MANUVER CINTA~PART 13
14 MANUVER CINTA~ PART 14
15 MANUVER CINTA~PART 15
16 MANUVER CINTA~PART 16
17 MANUVER CINTA~PART 17
18 MANUVER CINTA~PART 18
19 MANUVER CINTA~ PART 19
20 MANUVER CINTA~PART 20
21 MANUVER CINTA~PART 21
22 MANUVER CINTA~PART 22
23 MANUVER CINTA ~PART 23
24 MANUVER CINTA~PART 24
25 MANUVER CINTA~PART 25
26 MANUVER CINTA~PART 26
27 MANUVER CINTA~PART 27
28 MANUVER CINTA~PART 28
29 MANUVER CINTA~PART 29
30 MANUVER CINTA~PART 30
31 MANUVER CINTA~PART 31
32 MANUVER CINTA~PART 32
33 MANUVER CINTA~PART 33
34 MANUVER CINTA~PART 34
35 MANUVER CINTA ~PART 35
36 MANUVER CINTA~PART 36
37 MANUVER CINTA~PART 37
38 MANUVER CINTA~PART 38
39 MANUVER CINTA~PART 39
40 MANUVER CINTA~PART 40
41 MANUVER CINTA~PART 41
42 MANUVER CINTA~PART 42
43 MANUVER CINTA~PART 43
44 MANUVER CINTA~PART 44
45 MANUVER CINTA~PART 45
46 MANUVER CINTA~PART 46
47 MANUVER CINTA~PART 47
48 MANUVER CINTA~PART 48
49 MANUVER CINTA~PART 49
50 MANUVER CINTA~PART 50
51 MANUVER CINTA~PART 51
52 MANUVER CINTA~PART 52
53 MANUVER CINTA~PART 53
54 MANUVER CINTA~PART 54
55 MANUVER CINTA~PART 55
56 MANUVER CINTA~PART 56
57 MANUVER CINTA~PART 57
58 MANUVER CINTA~PART 58
59 MANUVER CINTA~PART 59
60 MANUVER CINTA~PART 60
61 MANUVER CINTA~PART 61
62 MANUVER CINTA~PART 62
63 MANUVER CINTA~PART 63
64 MANUVER CINTA~PART 64
65 MANUVER CINTA~PART 65
66 MANUVER CINTA~PART 66
67 MANUVER CINTA~PART 67
68 MANUVER CINTA~PART 68
69 MANUVER CINTA-PART 69
70 MANUVER CINTA~PART 70
71 MANUVER CINTA~PART 71
72 MANUVER CINTA~PART 72
73 MANUVER CINTA~PART 73
74 MANUVER CINTA~PART 74
75 MANUVER CINTA~PART 75
76 MANUVER CINTA~PART 76
77 MANUVER CINTA~PART 77
78 MANUVER CINTA~PART 78
79 MANUVER CINTA~PART 79
80 MANUVER CINTA~PART 80
81 MANUVER CINTA~PART 81
82 MANUVER CINTA~PART 82
83 MANUVER CINTA-PART 83
84 MANUVER CINTA~PART 84
85 MANUVER CINTA~PART 85
86 MANUVER CINTA~PART 86
87 MANUVER CINTA~PART 87
88 MANUVER CINTA~PART 88
89 MANUVER CINTA~PART 89
90 MANUVER CINTA~PART 90
91 MANUVER CINTA~PART 91
92 MANUVER CINTA~PART 92
93 MANUVER CINTA~PART 93
94 MANUVER CINTA~PART 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
MANUVER CINTA~PART 1
2
MANUVER CINTA~PART 2
3
MANUVER CINTA~PART 3
4
MANUVER CINTA~PART 4
5
MANUVER CINTA~PART 5
6
MANUVER CINTA~PART 6
7
MANUVER CINTA~PART 7
8
MANUVER CINTA~PART 8
9
MANUVER CINTA~PART 9
10
MANUVER CINTA~PART 10
11
MANUVER CINTA~PART 11
12
MANUVER CINTA~PART 12
13
MANUVER CINTA~PART 13
14
MANUVER CINTA~ PART 14
15
MANUVER CINTA~PART 15
16
MANUVER CINTA~PART 16
17
MANUVER CINTA~PART 17
18
MANUVER CINTA~PART 18
19
MANUVER CINTA~ PART 19
20
MANUVER CINTA~PART 20
21
MANUVER CINTA~PART 21
22
MANUVER CINTA~PART 22
23
MANUVER CINTA ~PART 23
24
MANUVER CINTA~PART 24
25
MANUVER CINTA~PART 25
26
MANUVER CINTA~PART 26
27
MANUVER CINTA~PART 27
28
MANUVER CINTA~PART 28
29
MANUVER CINTA~PART 29
30
MANUVER CINTA~PART 30
31
MANUVER CINTA~PART 31
32
MANUVER CINTA~PART 32
33
MANUVER CINTA~PART 33
34
MANUVER CINTA~PART 34
35
MANUVER CINTA ~PART 35
36
MANUVER CINTA~PART 36
37
MANUVER CINTA~PART 37
38
MANUVER CINTA~PART 38
39
MANUVER CINTA~PART 39
40
MANUVER CINTA~PART 40
41
MANUVER CINTA~PART 41
42
MANUVER CINTA~PART 42
43
MANUVER CINTA~PART 43
44
MANUVER CINTA~PART 44
45
MANUVER CINTA~PART 45
46
MANUVER CINTA~PART 46
47
MANUVER CINTA~PART 47
48
MANUVER CINTA~PART 48
49
MANUVER CINTA~PART 49
50
MANUVER CINTA~PART 50
51
MANUVER CINTA~PART 51
52
MANUVER CINTA~PART 52
53
MANUVER CINTA~PART 53
54
MANUVER CINTA~PART 54
55
MANUVER CINTA~PART 55
56
MANUVER CINTA~PART 56
57
MANUVER CINTA~PART 57
58
MANUVER CINTA~PART 58
59
MANUVER CINTA~PART 59
60
MANUVER CINTA~PART 60
61
MANUVER CINTA~PART 61
62
MANUVER CINTA~PART 62
63
MANUVER CINTA~PART 63
64
MANUVER CINTA~PART 64
65
MANUVER CINTA~PART 65
66
MANUVER CINTA~PART 66
67
MANUVER CINTA~PART 67
68
MANUVER CINTA~PART 68
69
MANUVER CINTA-PART 69
70
MANUVER CINTA~PART 70
71
MANUVER CINTA~PART 71
72
MANUVER CINTA~PART 72
73
MANUVER CINTA~PART 73
74
MANUVER CINTA~PART 74
75
MANUVER CINTA~PART 75
76
MANUVER CINTA~PART 76
77
MANUVER CINTA~PART 77
78
MANUVER CINTA~PART 78
79
MANUVER CINTA~PART 79
80
MANUVER CINTA~PART 80
81
MANUVER CINTA~PART 81
82
MANUVER CINTA~PART 82
83
MANUVER CINTA-PART 83
84
MANUVER CINTA~PART 84
85
MANUVER CINTA~PART 85
86
MANUVER CINTA~PART 86
87
MANUVER CINTA~PART 87
88
MANUVER CINTA~PART 88
89
MANUVER CINTA~PART 89
90
MANUVER CINTA~PART 90
91
MANUVER CINTA~PART 91
92
MANUVER CINTA~PART 92
93
MANUVER CINTA~PART 93
94
MANUVER CINTA~PART 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!