MANUVER CINTA~PART 10

Seminggu berlalu sejak kepergian Sagara dari ibukota, Zea masih beraktivitas seperti biasanya, masih seputaran kasur, sekolah dan we se. Meskipun ia merindukan melihat wajah Sagara yang oase banget untuknya, namun ia tau jika Saga tidak ada di belahan pan tat bumi sebelah barat bersamanya saat ini.

"Nduk! Jangan lupa bekelnya! Nanti air mineralnya ditenteng aja ya, soalnya kalo masuk tas takut jebol!" pesan mama Rieke dengan tangan yang sibuk memasukan bekal makan ke dalam tas Zea. Gadis itu memutar bola matanya malas, kalo ngga Jamilah ya nduk! Berasa jadi gadis-gadis pedalaman gunung Kelud! Come on mom! Ini udah jamannya gelatto rasa coklat bukan singkong dijadiin getuk lindri.

Gadis itu melihat apa yang tengah dilakukan mamanya sepaket alis mengernyit, "mami nyuruh Zea berbagi dulu apa gimana?" tanya nya mengikat tali sepatu sportnya.

"Berbagi?" tanya mama Rieke, alisnya yang simetris kini mengernyit keriting kaya mie goreng.

"Itu, isi tas Zea penuh sama makanan." tunjuknya dengan dagu, sesekali ia melirik kondisi sepatu yang ia pakai, takut salah ngiket, malah ngiket anak bujang orang!

Mama Rieke berdecak, "buat kamu lah! Masa buat berbagi, bagi sedikit ngga apa-apa, mami titip juga buat Clemira disini!"

Zea menepuk kakinya sekali pertanda jika ia sudah selesai dengan misinya mengikat tali sepatu, "mami yang bener aja mi?! Ini mah cukup buat berbagi satu regu! Gimana Zea bawanya, badan Zea segede semut gini!" ia menggedikan kedua pundaknya. Kenapa mama'nya ini ngga ngirim satu truk Reo saja cadangan makanan untuknya.

Zea salah, justru semut dan siputlah hewan terkuat, buktinya ia mampu membawa beban yang lebih berat dari berat badannya sendiri.

Alasan mama singkat, padat dan penyayang, "takut kamu kelaperan."

"Dah sana, hati-hati! Jangan nangis nanti kalo kamu jatoh atau kecebur lumpur, namanya juga acara bela negara, bukan acara kondangan!" pesannya terkesan mengusir sang putri agar segera enyah dari hadapannya.

Zea mencangklok tasnya susah payah, ia meringis karena pundak yang tertarik ke belakang, kaya lagi bawa beban dosa para manusia lak nat.

"Pak Cokrooo! Bantuin Zea ih!" jeritnya berteriak.

"Auoooo!" cibir Zico pada adiknya yang lebih mirip disebut tarzan.

"Bisa ngga kalo minta tolong tuh jangan teriak dari jauh gitu, ngga sopan!" Zico membantu Zea dengan menenteng tas ransel gemuk milik adiknya itu, "enteng gini juga, disebut berat! Kamunya aja yang payah!"

Zea hanya mencebik sambil mendekap botol minum mengekori Zico ke arah luar rumah.

"Bisa ngga kalo nolong itu jangan ngehina, kesannya tuh kaya ngga ikhlas!" balas Zea yang selalu memiliki jawaban untuk membalas.

"Hah tutup balsem! Udah sana masuk, takut telat!" Zico memasukan tas ransel Zea ke dalam mobil dan mendorong adiknya itu agar masuk ke dalam juga.

"Aduh ih!" Zea mencebik kembali persis orang sariawan, "kasar!" desisnya menutup pintu mobil kasar, "jalan pak."

Zea membuka ransel dan membongkar isian tas yang beratnya naudzubillah, bikin ia langsung pendek kaya paku dipukul palu, langsung nancep ke tanah!

Zea memilah-milah makanan favoritnya lalu membagikan sisanya kepada teman-teman sekelas termasuk titipan mama Rieke untuk Clemira, emang paling demen temen sekelas Zea tuh kalo ada acara gini, sudah pasti mereka akan kecipratan rejeki anak soleh dari Zea.

Celana olahraga di bawah lutut membuat sedikitnya kulit putih Zea terekspos. Pagi ini, para siswa yang mengikuti acara bela negara berkumpul di lapangan bersiap naik ke bus yang telah disewa.

Cukup heboh penuh rasa excited karena setidaknya mereka terbebas dari kepenatan materi belajar barang sehari.

Dean masih mondar-mandir mengabsen teman-temannya bersama Wahid, orang pertama yang ia amankan ya Zea Arumi bersama Clemira.

"Ze, kamu sini aja...aku sengaja milih kursi di bus biar kita deketan. Biar aku bisa liatin kamu, dan kamu ngga ilang..." ucapnya so perhatian, bukannya terharu atau merona, Zea justru mencebik nyinyir, "dikira gue anak ayam pake acara ilang!" sungutnya membuat Dean gemas dan tanpa permisi mengusek-usek topi Zea yang langsung menepis tangan Dean, "arggh! Berantakan ih!"

"Jangan cemberut gitu Ze sayang, makin cantik!" Dean tersenyum dan berlalu.

Clemira yang sedang menge mut permen tertawa tergelak dan membenarkan pad topinya, "babang Dean siap mengawal ndoro ayu!" cibirnya.

"Jangan manyun sist! Ntar disana lo pasti betah!" goda Clemira berbisik.

Zea menoleh, "betah apanya? Udah harus panas-panasan, kotor-kotoran, capek-capek'an, dikirim bareng makhluk kaya dia!" tunjuk Zea pada Dean yang telah berlalu.

"Ada deh, lo pasti bakalan nganga karena kaget, gini nih!" Clemira mempraktekan wajah blo on di depan Zea hingga gadis itu tertawa renyah, "ngga gitu juga oon! Itu mah elo! Gue ngga pernah se-blo on itu, nganga nya gue cantik!" tepis Zea.

"Mana ada nganga cantik," dengus Clemira. Keduanya malah meributkan wajah menganga ketimbang pengumuman dan informasi yang diberikan, sampai tepukan tangan riuh membuat keduanya tersadar jika mereka sudah harus masuk ke dalam bus.

Roda bus berputar cepat seiring dengan laju mesin mobil yang dikemudikan sopir.

Wajah malas Zea menatap pemandangan di luar kaca jendela mobil, meskipun di dalam sana suasananya begitu riuh karena canda tawa teman-temannya, namun Zea justru memilih memakai earphone miliknya dan memejamkan mata, tanpa berniat bergabung dalam candaan.

Hingga ia tersadar saat laju mobil melambat dan bahunya diguncangkan oleh Clemira, "Milah, udah mau sampe ih! Mata lo ck! Merem mulu, ngga takut busuk tuh!" hardik Clemira, Zea mengerjap beberapa kali demi menyesuaikan cahaya dan meneliti tempat dimana mereka berada sekarang.

Ia melihat banyak pohon pinus dan trembesi, lahan aspal yang dilewati cukup bersih dan luas dengan dikelilingi kantor yang berjejer rapi, Zea baru menyadari dimana mereka berada ketika melihat para prajurit berseragam loreng berlarian menyambut para siswa dari beberapa sekolah, bersama bangunan bernuansa biru.

Ia sampai menurunkan topi dan earphonenya, agar otak jernihnya tak terganggu saat mengamati tempat mereka berada saat ini.

Clemira tersenyum geli melihat wajah temannya yang persis seperti apa yang diperagakannya tadi pagi.

"Hahahah! Bener kan gue! Say ciis!" Clemira mengeluarkan ponselnya.

Jepret!

Tanpa diduga Clemira memotret wajah menganga Zea, "Daliyaaaa!" jeritnya menyadari tingkah usil sang teman. Clemira berlari keluar dari bus dengan melesak diantara teman-teman yang baru akan beranjak turun, "buat bukti, kalo nganga lo jelek!"

"Aduhh ih!"

"Misi---misi!!! Banteng ngamuk!" seru Clemira tertawa.

"Hapus ngga! Daliya!"

Namun Clemira malah semakin tergelak dan berlari ke area sekitaran parkiran.

Zea ikut turun sesaat teman-temannya turun, ia menatap memicing pada Clemira yang memasang tampang konyol demi meledek Zea.

Niat pembalasan Zea harus terhenti oleh suara dari guru pembimbing bersama seorang prajurit yang bertugas menjadi instruktur mereka.

Seragam loreng ciri khas prajurit negri bertahtakan tanda kehormatan membuat para siswa SMA ini mendadak jadi serdadu.

Zea mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat ini, "kaya pernah kenal!" ucapnya seraya berjalan digiring guru bersama siswa lain hingga sampai di lapangan tempat mereka berkumpul.

Zea bersama teman-teman dari beberapa sekolah sekitaran ibukota berbaris rapi menurut sekolahnya masing-masing.

Sejurus kemudian Zea tersentak, "oh iya! Tempat gue mabal dong sama si cimoy! Itu berarti----" senyumnya terkembang sempurna kaya kerupuk kulit.

Clemira dengan sengaja berpindah kembali mendekati sohibnya itu, "cieee baru inget ya!"

Tap-tap-tap!

Derap langkah para perwira dan calon perwira begitu tegas melangkah menghampiri anak-anak remaja SMA ini dan berbaris rapi di belakang tiang bendera yang menjulang tinggi seraya mengibarkan bendera negri begitu bebas tertiup angin.

Sagara yang baru saja pulang dari dinas luarnya, harus kembali disibukan dengan tugas non perangnya dari kesatuan.

Tugas ringan membimbing adik-adik SMA ini atas perintah dari dinas pendidikan setempat bekerja sama dengan kesatuan aparat negri, program yang memang selalu rutin diadakan setiap tahunnya.

"Adik-adik kenalkan, inilah beberapa personel abdi negara yang waktu lalu baru saja kembali dari tugas mengamankan perbatasan bumi pertiwi dari ancaman luar." Sambutan itu seketika riuh dengan intensitas tinggi.

Wooo!!!!

Prok---prokk---prokkk! Mereka bersorak sambil memberikan standing applause pada para prajurit gagah negri itu.

Zea masih menatap tak percaya, jika ia dipertemukan kembali dengan Letda Sagara, prajurit sekaligus pilot pesawat tempur kebangaan kesatuan dan negara.

Pandangan mereka bertemu kembali, ada binar tersendiri di sorot mata Zea, namun Saga yang sadar akan kehadiran Zea menyipitkan matanya memperjelas jika itu benar Zea. Melihat sosok Clemira sang adik disampingnya, ia baru percaya bahwa gadis yang tengah nyengir lebar ke arahnya di balik topi putih itu benar Zea. Dimana ada Clemira sudah pasti disitulah Jamilah berada.

"Abanggg!" Zea melambaikan tangannya, namun karena suaranya masih kalah dengan suara komandan yang berbicara di depan suara Zea hanya sampai sebatas 5 meter saja dari radarnya. Saga langsung mengalihkan pandangannya lebih memilih menatap puluhan siswa di depannya.

Clemira mendorong kepala Zea, "malu-maluin!"

"Kenapa lo ngga bilang Cle! Kalo kita mau kesini, ada bang Saga pula! Kapan dia balik, sihhh!" sewotnya bercampur bahagia.

"Nyesel ngga nih, ikut bela negara?!" goda Clemira. Zea menggeleng cepat, "thank you Deannn!" ia tertawa.

"Dasar gila," gelengan kepala Clemira, ia pun baru tau kemarin saat Sagara menelfon abinya bahwa ia sudah kembali ke ibukota dan menanyakan apakah Clemira ikut dalam acara bela negara yang diadakan dinas pendidikan untuk usia SMA.

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Tata trulala

Tata trulala

omahku sor gunung Kelud😂

2025-01-25

0

Ta..h

Ta..h

cle kamu juga di incar ternyata y 🤩🤩.

2024-10-23

1

⋆.˚mytha🦋

⋆.˚mytha🦋

fiks ini si zea satu aliran sama umi salwa n umi fara, trus bumbuin sama rayyan udah pasti boooommm bgt klu ketemu 🤣🤣🤣

2024-04-02

2

lihat semua
Episodes
1 MANUVER CINTA~PART 1
2 MANUVER CINTA~PART 2
3 MANUVER CINTA~PART 3
4 MANUVER CINTA~PART 4
5 MANUVER CINTA~PART 5
6 MANUVER CINTA~PART 6
7 MANUVER CINTA~PART 7
8 MANUVER CINTA~PART 8
9 MANUVER CINTA~PART 9
10 MANUVER CINTA~PART 10
11 MANUVER CINTA~PART 11
12 MANUVER CINTA~PART 12
13 MANUVER CINTA~PART 13
14 MANUVER CINTA~ PART 14
15 MANUVER CINTA~PART 15
16 MANUVER CINTA~PART 16
17 MANUVER CINTA~PART 17
18 MANUVER CINTA~PART 18
19 MANUVER CINTA~ PART 19
20 MANUVER CINTA~PART 20
21 MANUVER CINTA~PART 21
22 MANUVER CINTA~PART 22
23 MANUVER CINTA ~PART 23
24 MANUVER CINTA~PART 24
25 MANUVER CINTA~PART 25
26 MANUVER CINTA~PART 26
27 MANUVER CINTA~PART 27
28 MANUVER CINTA~PART 28
29 MANUVER CINTA~PART 29
30 MANUVER CINTA~PART 30
31 MANUVER CINTA~PART 31
32 MANUVER CINTA~PART 32
33 MANUVER CINTA~PART 33
34 MANUVER CINTA~PART 34
35 MANUVER CINTA ~PART 35
36 MANUVER CINTA~PART 36
37 MANUVER CINTA~PART 37
38 MANUVER CINTA~PART 38
39 MANUVER CINTA~PART 39
40 MANUVER CINTA~PART 40
41 MANUVER CINTA~PART 41
42 MANUVER CINTA~PART 42
43 MANUVER CINTA~PART 43
44 MANUVER CINTA~PART 44
45 MANUVER CINTA~PART 45
46 MANUVER CINTA~PART 46
47 MANUVER CINTA~PART 47
48 MANUVER CINTA~PART 48
49 MANUVER CINTA~PART 49
50 MANUVER CINTA~PART 50
51 MANUVER CINTA~PART 51
52 MANUVER CINTA~PART 52
53 MANUVER CINTA~PART 53
54 MANUVER CINTA~PART 54
55 MANUVER CINTA~PART 55
56 MANUVER CINTA~PART 56
57 MANUVER CINTA~PART 57
58 MANUVER CINTA~PART 58
59 MANUVER CINTA~PART 59
60 MANUVER CINTA~PART 60
61 MANUVER CINTA~PART 61
62 MANUVER CINTA~PART 62
63 MANUVER CINTA~PART 63
64 MANUVER CINTA~PART 64
65 MANUVER CINTA~PART 65
66 MANUVER CINTA~PART 66
67 MANUVER CINTA~PART 67
68 MANUVER CINTA~PART 68
69 MANUVER CINTA-PART 69
70 MANUVER CINTA~PART 70
71 MANUVER CINTA~PART 71
72 MANUVER CINTA~PART 72
73 MANUVER CINTA~PART 73
74 MANUVER CINTA~PART 74
75 MANUVER CINTA~PART 75
76 MANUVER CINTA~PART 76
77 MANUVER CINTA~PART 77
78 MANUVER CINTA~PART 78
79 MANUVER CINTA~PART 79
80 MANUVER CINTA~PART 80
81 MANUVER CINTA~PART 81
82 MANUVER CINTA~PART 82
83 MANUVER CINTA-PART 83
84 MANUVER CINTA~PART 84
85 MANUVER CINTA~PART 85
86 MANUVER CINTA~PART 86
87 MANUVER CINTA~PART 87
88 MANUVER CINTA~PART 88
89 MANUVER CINTA~PART 89
90 MANUVER CINTA~PART 90
91 MANUVER CINTA~PART 91
92 MANUVER CINTA~PART 92
93 MANUVER CINTA~PART 93
94 MANUVER CINTA~PART 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
MANUVER CINTA~PART 1
2
MANUVER CINTA~PART 2
3
MANUVER CINTA~PART 3
4
MANUVER CINTA~PART 4
5
MANUVER CINTA~PART 5
6
MANUVER CINTA~PART 6
7
MANUVER CINTA~PART 7
8
MANUVER CINTA~PART 8
9
MANUVER CINTA~PART 9
10
MANUVER CINTA~PART 10
11
MANUVER CINTA~PART 11
12
MANUVER CINTA~PART 12
13
MANUVER CINTA~PART 13
14
MANUVER CINTA~ PART 14
15
MANUVER CINTA~PART 15
16
MANUVER CINTA~PART 16
17
MANUVER CINTA~PART 17
18
MANUVER CINTA~PART 18
19
MANUVER CINTA~ PART 19
20
MANUVER CINTA~PART 20
21
MANUVER CINTA~PART 21
22
MANUVER CINTA~PART 22
23
MANUVER CINTA ~PART 23
24
MANUVER CINTA~PART 24
25
MANUVER CINTA~PART 25
26
MANUVER CINTA~PART 26
27
MANUVER CINTA~PART 27
28
MANUVER CINTA~PART 28
29
MANUVER CINTA~PART 29
30
MANUVER CINTA~PART 30
31
MANUVER CINTA~PART 31
32
MANUVER CINTA~PART 32
33
MANUVER CINTA~PART 33
34
MANUVER CINTA~PART 34
35
MANUVER CINTA ~PART 35
36
MANUVER CINTA~PART 36
37
MANUVER CINTA~PART 37
38
MANUVER CINTA~PART 38
39
MANUVER CINTA~PART 39
40
MANUVER CINTA~PART 40
41
MANUVER CINTA~PART 41
42
MANUVER CINTA~PART 42
43
MANUVER CINTA~PART 43
44
MANUVER CINTA~PART 44
45
MANUVER CINTA~PART 45
46
MANUVER CINTA~PART 46
47
MANUVER CINTA~PART 47
48
MANUVER CINTA~PART 48
49
MANUVER CINTA~PART 49
50
MANUVER CINTA~PART 50
51
MANUVER CINTA~PART 51
52
MANUVER CINTA~PART 52
53
MANUVER CINTA~PART 53
54
MANUVER CINTA~PART 54
55
MANUVER CINTA~PART 55
56
MANUVER CINTA~PART 56
57
MANUVER CINTA~PART 57
58
MANUVER CINTA~PART 58
59
MANUVER CINTA~PART 59
60
MANUVER CINTA~PART 60
61
MANUVER CINTA~PART 61
62
MANUVER CINTA~PART 62
63
MANUVER CINTA~PART 63
64
MANUVER CINTA~PART 64
65
MANUVER CINTA~PART 65
66
MANUVER CINTA~PART 66
67
MANUVER CINTA~PART 67
68
MANUVER CINTA~PART 68
69
MANUVER CINTA-PART 69
70
MANUVER CINTA~PART 70
71
MANUVER CINTA~PART 71
72
MANUVER CINTA~PART 72
73
MANUVER CINTA~PART 73
74
MANUVER CINTA~PART 74
75
MANUVER CINTA~PART 75
76
MANUVER CINTA~PART 76
77
MANUVER CINTA~PART 77
78
MANUVER CINTA~PART 78
79
MANUVER CINTA~PART 79
80
MANUVER CINTA~PART 80
81
MANUVER CINTA~PART 81
82
MANUVER CINTA~PART 82
83
MANUVER CINTA-PART 83
84
MANUVER CINTA~PART 84
85
MANUVER CINTA~PART 85
86
MANUVER CINTA~PART 86
87
MANUVER CINTA~PART 87
88
MANUVER CINTA~PART 88
89
MANUVER CINTA~PART 89
90
MANUVER CINTA~PART 90
91
MANUVER CINTA~PART 91
92
MANUVER CINTA~PART 92
93
MANUVER CINTA~PART 93
94
MANUVER CINTA~PART 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!