MANUVER CINTA~PART 6

Zea menjejerkan 3 lembaran uang yang udah mateng-mateng, menguarkan aroma-aroma kerjasama terselubung di depan dashboard dengan maksud memberi bonus bersyarat pada pak Cokro, wanginya tuh enak, manis, meski tak seperti mangga harumanis.

"Tuh pak, nikmat Tuhan mana lagi yang bapak dustakan, 300 ribu buat bapak jajan...ngga usah pulang, Zea kasih bapak tiket nonton bioskop deh, atau bapak mau ke Ancol? Ketemu si manis di jembatan gituh misalnya?" tawar Zea layaknya sales wi-fi yang lagi door to door.

Zea mengatupkan kedua tangannya di depan memohon seperti gerakan berdo'a, "ya pak ya....please--please! Mamih ngga akan tau kalo bapaknya ngga pulang duluan, biar nanti kalo mamih nelfon bapak, jawab aja lagi nemenin Zea di rumah Clemira, jam 5 nanti kita ketemu di depan markas besar tempat Cle tinggal," mohonnya.

"Aduh non, nanti saya yang kena diomelin ibu. Kalo sampe di pecat mau makan apa keluarga saya," tolaknya.

"Ahhh, bapak----" Zea merengek.

"Saya takut non Ze kenapa-napa kaya yang sudah-sudah, mana ngga punya SIM." jelasnya lagi, pak Cokro cuma bisa ngelus dadha dengan kelakuan anak jaman sekarang, ya...termasuk anak majikannya itu.

Mentang-mentang anak horang kaya, rata-rata tuh... banyak tingkahnya. Zea tak ubahnya remaja tanggung yang sedang senang-senangnya meng-explore hal baru, mencari jati diri dan senang melakukan hal yang menurutnya menantang serta hal keren versi dirinya.

Untungnya ia bukan anak menteri tukang korup dan ia cinta damai, jarang membully teman sendiri meski tak jarang berlaku usil. Meski hedon tapi halal, hasil jerih payah sang papa dan mama mengembangkan bisnis.

Wajah Zea berubah menyedihkan mirip anak ngga dikasih jajan setaun ketika mendapatkan penolakan dari pak Cokro, ia benci dengan penolakan.

"Oke, kalo bapak tetep mau ikut kemanapun Zea pergi buat ngawal. Tapi Zea mau ada di kursi stir..." wajahnya berubah drastis menjadi sengit bercampur sinis plus bau karbit, ia memasukan kembali uang miliknya ke dalam saku baju seragamnya.

Tanpa mau penolakan lagi, Zea mengusir pak Cokro dari kursi kemudi, memintanya mundur ke kursi belakang.

"Aduh non, jangan non..." ucapnya namun tak urung ia menurut karena paksaan Zea.

Zea masuk ke bangku pengemudi setelah berhasil meng-eliminasi pak Cokro, yang sayangnya terlalu baik itu.

Zea memang sewadidaw itu, tak tanggung-tanggung, ia meminta mobil dengan tipe cabriolet untuknya pulang pergi kemanapun termasuk untuk sekolah. Yang kalo pake itu kadar kegantengan atau kecantikan seseorang nambah 300 persen.

Tiit!

Zea membunyikan klakson mobil meminta beberapa siswa lain menyingkir dari jalanannya termasuk suara klakson itu ia tujukan pada sohibnya, "Cle!"

Ia memencet tombol membuat atap mobil itu terbuka ke belakang, meski mini-minian cooper, namun mobil mewah itu terlihat begitu mahal di jalanan, spesies yang memakai pun terbilang langka, dan mungkin bisa dinobatkan sebagai kaum hedon yang hakiki, dan salah satunya adalah Zea.

Clemira menoleh ke belakang, "njirrrr! Auto cantik kaya Lisa dong gue naik beginian!" ujar Clemira melihat Zea di belakang kemudi mobil, padahal keluarganya pun bisa dibilang orang tajir melintir di negara ini, tapi abi Ray lebih suka membekalinya dengan pengawal berkuda besi jenis bebek atau mobil sejuta umat yang merakyat, tak seperti Zea yang bermandikan harta nan manja.

"Naik sist!" pinta Zea, menaikan kacamata hitamnya sehingga itu bertengger di atas kepala dengan cantiknya.

Clemira menjatuhkan pandangan pada pak Cokro yang nyempil di pojokan belakang mobil mirip penampakan.

"Dasar sableng!" Clemira menggelengkan kepalanya.

"Non," angguk pak Cokro tersenyum getir pada Clemira.

Clemira masuk ke kursi samping pengemudi, "lo apain pak Cokro sampe sawan gitu, ya ampunnn...bapak nyempil di pojokan, ngga kapok pak, ngasih stir sama nih orang?!" tawa Clemira. Zea memandang supirnya sambil terkekeh, "engga gue apa-apain, abisnya pak Cokro disuruh senang-senang malah kekeh ngikut, ya udah..."

Clemira memakai sabuk pengamannya, "lo yakin mau nyetir? Jangan gegabah, gue ngga mau mati muda, Milah!" ujar Clemira membuat decakan tercipta dari mulut Zea, Clemira memang otak cetek! Dibilangin ngga suka pake panggilan Jamilah, ia malah sengaja selalu memanggilnya dengan nama Jamilah.

"Zea Cle! Zea! No Jamilah! Please deh, taun milenial gini udah ngga jaman nama Jamilah--- lagian mami sama papi apa-apaan lagi, pake ngasih nama ada Jamilahnya!" manyun Zea menarik tuas yang digenggamnya sejak tadi lalu menginjak pedal gas.

Clemira terkekeh, "lo yang be go peak! Jamilah tuh cantik artinya!" toyor Clemira.

Ia sama gilanya seperti Zea, Clemira memang sudah ijin pada Ray untuk pulang bersama Zea yang akan bertandang ke rumah biru melepaskan seatbeltnya lalu tanpa aba-aba naik ke atas kursi dan duduk di sandarannya, ia merentangkan kedua tangan merasakan sapuan angin siang di ibukota yang panas, biar kaya di pelem-pelem bollywood.

"Huuuu!" seru Clemira excited, beberapa siswa sekolah yang cukup mengenal mereka saling bertegur sapa, siapa pula yang tak mau disapa oleh duo cewek kece badai di sekolah mereka ini.

"Cle, Ze!"

"Hm," angguk singkat Clemira dan Zea.

Si al betul pak Cokro diciptakan diantara kedua gadis ini, "non, aduhhh jangan gitu nanti jatuh gimana..." ia menggaruk kepalanya, Clemira menoleh ke belakang bersama dengan surai rambut yang berterbangan tak karuan karena Zea membawa mobil melesat membelah jalanan ibukota.

"Jatuh mah ya ke bawah pak." Jawab Clemira.

Zea ikut tertawa, "kamvrett emang. Ya iyalah ke bawah! Ngga papa pak, tenang aja, dia mah anak prajurit tangguh, udah biasa lah menantang maut gini!"

Si al---sungguh si al, bisa-bisa pak Cokro punya penyakit jantung jika begini terus.

"Wooohhhooo!" seruan Clemira ketika Zea menginjak pedal gas dan menaikan speedometer mobilnya.

"Aduh non Ze, jangan kenceng-kenceng, nanti kena tilang! Takut nabrak juga kaya waktu lalu!" jerit pak Cokro beradu dengan angin, tapi kedua gadis ini malah tertawa tergelak, dasar gadis gadis saravvvv!

"Ngga apa-apa pak. Santai aja kaya di pantai, selow kaya merk sendal...low...low...low..." jawabnya. Boro-boro santai kaya di pantai, pak Cokro sudah komat-kamit beristighfar, bukan apa-apa, anaknya 2 masih kecil-kecil, ia takut jika nanti majikannya tau kalau ia lalai akan amanah dan berujung dipecat.

Beberapa belas menit, jarak yang ditempuh Zea. Mereka sudah berada di depan markas biru. Ia sudah paham betul jika masuk kesini sudah pasti akan melewati pos serambi depan.

"Om," sapa Clemira diangguki oleh tentara yang berjaga. Siapa pula yang tak mengenal si flying dutchman yang sekarang sudah memiliki pangkat cukup tinggi di kesatuan.

"neng Cle," angguk mereka mendapati Clemira di bangku samping pengemudi.

Gerbang terbuka lebar agar mobil bisa masuk, Zea kembali menginjak pedal gas secara perlahan memasuki komplek militer, tak seperti tadi di jalanan.

"Masih gini-gini aja!" imbuh Ze, membuat Clemira menaikan alisnya, "maksud L?"

"Sejauh mata memandang, gue berasa lagi di Pandora..."

"Hahaha, dasar ga waras! Terus mau lo apa? Polkadot? Minion? Atau Fairytopia?" tanya Clemira.

"Ungu terong kek, sarikaya gitu," fokusnya tetap pada jalanan, menurunkan kembali kacamatanya menuju ke arah blok jajaran rumah perwira di area depan.

Terlihat rumah yang tidak sebesar rumah Zea namun pula tidak kecil.

Clemira turun duluan dari mobil dengan menggendong ransel kecilnya dan berlari masuk, "assalamu'alaikum!"

Sementara Zea memasukan terlebih dahulu mobil ke dalam carport dimana disana ada mobil dinas Rayyan dan 2 buah motor.

"Saya nunggu di mobil aja non," ujar pak Cokro diangguki Zea yang menaikan kembali atap agar tertutup kembali.

"Iya, nanti Zea kirimin sajen...mau masuk juga ayok aja pak, takutnya nanti bosen di dalem mobil, bisa-bisa bapak mateng kaya tape..." kekehnya, pak Cokro hanya mengulas senyuman, "engga non, tenang aja."

"Ze! Masuk!" Clemira menyembulkan kembali kepalanya ke arah luar rumah meminta temannya itu masuk.

"Iya." Zea turun dari mobil dan mencangklok tasnya di sebelah pundak.

"Tante Eyiiii!" teriaknya masuk, "assalamu'alaikum!"

Langkahnya terhenti di gawang pintu rumah untuk membuka sepatunya.

"Wa'alaikumsalam."

Zea membungkuk hingga membuat kacamatanya jatuh ke lantai, "eh," ujarnya memungut.

"Hay cantik, tumben baru kesini lagi?!" Eyi menyapanya, Zea mendongak, ia cukup terkejut karena ternyata dirinya kini sedang diperhatikan beberapa orang, bukan hanya Eyi saja.

Ia tersenyum lebar sampai-sampai matanya menyipit ketika mengenal seseorang lagi disana, "eh ada abang ganteng!"

Saga dengan tanpa ekspresi menatap Zea, bocah ini lagi....

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

kyknya pak Cokro mabok ddeh gara gara si zea

2024-10-29

1

Lalisa

Lalisa

ko q takut ya .

2024-10-29

0

Lalisa

Lalisa

kasian amat pak Cokro 😂😂

2024-10-29

0

lihat semua
Episodes
1 MANUVER CINTA~PART 1
2 MANUVER CINTA~PART 2
3 MANUVER CINTA~PART 3
4 MANUVER CINTA~PART 4
5 MANUVER CINTA~PART 5
6 MANUVER CINTA~PART 6
7 MANUVER CINTA~PART 7
8 MANUVER CINTA~PART 8
9 MANUVER CINTA~PART 9
10 MANUVER CINTA~PART 10
11 MANUVER CINTA~PART 11
12 MANUVER CINTA~PART 12
13 MANUVER CINTA~PART 13
14 MANUVER CINTA~ PART 14
15 MANUVER CINTA~PART 15
16 MANUVER CINTA~PART 16
17 MANUVER CINTA~PART 17
18 MANUVER CINTA~PART 18
19 MANUVER CINTA~ PART 19
20 MANUVER CINTA~PART 20
21 MANUVER CINTA~PART 21
22 MANUVER CINTA~PART 22
23 MANUVER CINTA ~PART 23
24 MANUVER CINTA~PART 24
25 MANUVER CINTA~PART 25
26 MANUVER CINTA~PART 26
27 MANUVER CINTA~PART 27
28 MANUVER CINTA~PART 28
29 MANUVER CINTA~PART 29
30 MANUVER CINTA~PART 30
31 MANUVER CINTA~PART 31
32 MANUVER CINTA~PART 32
33 MANUVER CINTA~PART 33
34 MANUVER CINTA~PART 34
35 MANUVER CINTA ~PART 35
36 MANUVER CINTA~PART 36
37 MANUVER CINTA~PART 37
38 MANUVER CINTA~PART 38
39 MANUVER CINTA~PART 39
40 MANUVER CINTA~PART 40
41 MANUVER CINTA~PART 41
42 MANUVER CINTA~PART 42
43 MANUVER CINTA~PART 43
44 MANUVER CINTA~PART 44
45 MANUVER CINTA~PART 45
46 MANUVER CINTA~PART 46
47 MANUVER CINTA~PART 47
48 MANUVER CINTA~PART 48
49 MANUVER CINTA~PART 49
50 MANUVER CINTA~PART 50
51 MANUVER CINTA~PART 51
52 MANUVER CINTA~PART 52
53 MANUVER CINTA~PART 53
54 MANUVER CINTA~PART 54
55 MANUVER CINTA~PART 55
56 MANUVER CINTA~PART 56
57 MANUVER CINTA~PART 57
58 MANUVER CINTA~PART 58
59 MANUVER CINTA~PART 59
60 MANUVER CINTA~PART 60
61 MANUVER CINTA~PART 61
62 MANUVER CINTA~PART 62
63 MANUVER CINTA~PART 63
64 MANUVER CINTA~PART 64
65 MANUVER CINTA~PART 65
66 MANUVER CINTA~PART 66
67 MANUVER CINTA~PART 67
68 MANUVER CINTA~PART 68
69 MANUVER CINTA-PART 69
70 MANUVER CINTA~PART 70
71 MANUVER CINTA~PART 71
72 MANUVER CINTA~PART 72
73 MANUVER CINTA~PART 73
74 MANUVER CINTA~PART 74
75 MANUVER CINTA~PART 75
76 MANUVER CINTA~PART 76
77 MANUVER CINTA~PART 77
78 MANUVER CINTA~PART 78
79 MANUVER CINTA~PART 79
80 MANUVER CINTA~PART 80
81 MANUVER CINTA~PART 81
82 MANUVER CINTA~PART 82
83 MANUVER CINTA-PART 83
84 MANUVER CINTA~PART 84
85 MANUVER CINTA~PART 85
86 MANUVER CINTA~PART 86
87 MANUVER CINTA~PART 87
88 MANUVER CINTA~PART 88
89 MANUVER CINTA~PART 89
90 MANUVER CINTA~PART 90
91 MANUVER CINTA~PART 91
92 MANUVER CINTA~PART 92
93 MANUVER CINTA~PART 93
94 MANUVER CINTA~PART 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
MANUVER CINTA~PART 1
2
MANUVER CINTA~PART 2
3
MANUVER CINTA~PART 3
4
MANUVER CINTA~PART 4
5
MANUVER CINTA~PART 5
6
MANUVER CINTA~PART 6
7
MANUVER CINTA~PART 7
8
MANUVER CINTA~PART 8
9
MANUVER CINTA~PART 9
10
MANUVER CINTA~PART 10
11
MANUVER CINTA~PART 11
12
MANUVER CINTA~PART 12
13
MANUVER CINTA~PART 13
14
MANUVER CINTA~ PART 14
15
MANUVER CINTA~PART 15
16
MANUVER CINTA~PART 16
17
MANUVER CINTA~PART 17
18
MANUVER CINTA~PART 18
19
MANUVER CINTA~ PART 19
20
MANUVER CINTA~PART 20
21
MANUVER CINTA~PART 21
22
MANUVER CINTA~PART 22
23
MANUVER CINTA ~PART 23
24
MANUVER CINTA~PART 24
25
MANUVER CINTA~PART 25
26
MANUVER CINTA~PART 26
27
MANUVER CINTA~PART 27
28
MANUVER CINTA~PART 28
29
MANUVER CINTA~PART 29
30
MANUVER CINTA~PART 30
31
MANUVER CINTA~PART 31
32
MANUVER CINTA~PART 32
33
MANUVER CINTA~PART 33
34
MANUVER CINTA~PART 34
35
MANUVER CINTA ~PART 35
36
MANUVER CINTA~PART 36
37
MANUVER CINTA~PART 37
38
MANUVER CINTA~PART 38
39
MANUVER CINTA~PART 39
40
MANUVER CINTA~PART 40
41
MANUVER CINTA~PART 41
42
MANUVER CINTA~PART 42
43
MANUVER CINTA~PART 43
44
MANUVER CINTA~PART 44
45
MANUVER CINTA~PART 45
46
MANUVER CINTA~PART 46
47
MANUVER CINTA~PART 47
48
MANUVER CINTA~PART 48
49
MANUVER CINTA~PART 49
50
MANUVER CINTA~PART 50
51
MANUVER CINTA~PART 51
52
MANUVER CINTA~PART 52
53
MANUVER CINTA~PART 53
54
MANUVER CINTA~PART 54
55
MANUVER CINTA~PART 55
56
MANUVER CINTA~PART 56
57
MANUVER CINTA~PART 57
58
MANUVER CINTA~PART 58
59
MANUVER CINTA~PART 59
60
MANUVER CINTA~PART 60
61
MANUVER CINTA~PART 61
62
MANUVER CINTA~PART 62
63
MANUVER CINTA~PART 63
64
MANUVER CINTA~PART 64
65
MANUVER CINTA~PART 65
66
MANUVER CINTA~PART 66
67
MANUVER CINTA~PART 67
68
MANUVER CINTA~PART 68
69
MANUVER CINTA-PART 69
70
MANUVER CINTA~PART 70
71
MANUVER CINTA~PART 71
72
MANUVER CINTA~PART 72
73
MANUVER CINTA~PART 73
74
MANUVER CINTA~PART 74
75
MANUVER CINTA~PART 75
76
MANUVER CINTA~PART 76
77
MANUVER CINTA~PART 77
78
MANUVER CINTA~PART 78
79
MANUVER CINTA~PART 79
80
MANUVER CINTA~PART 80
81
MANUVER CINTA~PART 81
82
MANUVER CINTA~PART 82
83
MANUVER CINTA-PART 83
84
MANUVER CINTA~PART 84
85
MANUVER CINTA~PART 85
86
MANUVER CINTA~PART 86
87
MANUVER CINTA~PART 87
88
MANUVER CINTA~PART 88
89
MANUVER CINTA~PART 89
90
MANUVER CINTA~PART 90
91
MANUVER CINTA~PART 91
92
MANUVER CINTA~PART 92
93
MANUVER CINTA~PART 93
94
MANUVER CINTA~PART 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!