“Cekit” dan benar saja motor pun langsung berhenti di jalan daerah kota gajah “nona turun lah” pinta SP yang langsung di turuti oleh warti “Open” kata SP tiba tiba sebuah pintu dimensi tiba tiba muncul di depan warti “ayo masuk nona” ajak SP yang membuat warti mengangguk dan ia tidak menyadari kini ponsel yang bernama SP ini sudah mempunyai kaki dan tangan dan ia duduk santai di bahu warti “ini tempat apa?” Tanya warti matanya membulat sempurna saat ia melihat betapa hancur dan kumuhnya desa ini, banyak bangunan rumah hancur tinggal puing puing kecil dan besar belum lagi jalanan di penuhi mobil yang berhenti dan berposisi tidak beraturan, udara yang tercium pun juga tampak pengap dan sumpek.
“ini adalah dystopia 1, tempat game level satu. Oke mari lihat ini” jawab SP, tiba tiba SP melompat dari bahu warti membuat gadis itu terperangah karena kini SP yang tadinya hanya ponsel sudah berubah seperti robot kecil yang imut berwarna biru “buka senjata” kata SP sehingga muncul dua senjata, panah dan belati “nona hanya dua senjata ini yang terbuka, anda mau yang mana?” Tanya SP yang membuat warti bingung “kau menyuruhku membunuh para zombie itu dengan dua senjata ini, aku yang akan mati” kata warti ia tahu ini berbahaya dan lebih parahnya lagi ia tidak bisa menggunakan panah apa lagi belati.
“nona memang anda bisa menggunakan pistol?” tanya SP.
“enggak!” jawab warti singkat namun menjengkelkan “ya sudah pakai saja panah, aku akan membantu mu percaya lah kepadaku. Demi 100 jt hari ini” setelah mengatakan itu panah itu muncul secara nyata sehingga warti langsung memegangnya dan di punggungnya muncul wadah anak panah yang sangat keren sedang panah itu sendiri berwarna hitam dengan batu permata biru di kedua ujung pengait senarnya.
“kita akan mulai perang nona, perlu anda ingat anak panah itu tidak akan habis jadi anda hanya perlu membidik kannya. Dan itu adalah senjata pertama anda, jika anda bisa mengendalikannya dua batu krystal itu akan menyala dan memberikan kekuatannya kepada tubuh anda” Jelas SP.
“tunggu, maksudnya gimana?” Warti bertanya, ia masih saja tidak bisa memahaminya.
“tidak ada penjelasan ulang nona, aku akan membantumu menemukan penduduk desa dan menolong mereka” jawab SP.
“eh tap tapi aku belum paham?” keluh Warti.
“lest go nona!” sahut SP ia pun hendak berlari namun tangan warti langsung memegang tubuhnya “nona ada apa lagi?” Tanya SP heran dengan ekspresi wajah warti yang tampak marah itu “begini saja, kau berikan informasinya kepadaku, tetap di sampingku bukan berpencar. Dan kau yang di bawah kendaliku” paksa warti, ia tidak mau hanya menurut pada ponsel pintar ini karena ia mau dirinya lah yang memegang kendali “begitu, baik lah nona siap” kata SP setuju lalu warti tersenyum dan meletakan SP ke bahunya dan ia mulai bergerak ke lokasi yang di tuju sesuai dengan instruksi dari SP.
“itu tempatnya?” kata warti lirih karena mereka sedang bersembunyi di balik batu semak semak rumput yang di depan adalah taman hiburan anak anak di penuhi zombie “nona ada 20 zombie di sana, dan lihat keatas ada rumah pohon. Di Sana lah para anak anak yang selamat bersembunyi” warti langsung menatap pohon buatan itu dan memang ada rumah di dalam rantingnya “aneh kenapa para zombie itu gak bisa naik keatas?” SP langsung melongo saat warti menanyakan hal itu bahkan SP sampai menatap heran wajah cantik tuannya ini.
“nona kau bodoh sekali” tentu warti langsung melotot matanya bahkan tangannya langsung memegang tubuh mungil SP “bilang apa kau barusan? Mau aku lemparkan kau kesana?” ancam warti tampak murka yang membuat SP kelabakan “eh jangan lah nona, maaf aku tadi salah bicara. Itu wajar para zombie itu gak bisa naik karena tangga mereka terbuat dari tali tambang jadi mereka menariknya ke atas” jawab SP sehingga warti cemberut “gitu kan enak, gak perlu pakai mengumpat segala” guma warti lalu ia kembali meletakan SP di bahunya dan kini ia langsung mengambil anak panah.
“anda mau membidiknya sekarang?” Tanya SP.
“iya..” jawab Warti.
“jangan di bagian tubuhnya, kepala. Kenakan kepalanya maka zombie itu mati” pinta SP, kepala warti mengangguk samar lalu warti mulai menarik senar tali anak panah itu “bismillah” selesai mengatakan itu warti melepas anak panahnya “jleb” SP kegirangan karena anak panah itu tepat menancap di kening zombie itu sehingga zombie tersebut langsung tumbang ketanah.
“tidak buruk, hmm.. aku coba sekali lagi” warti kembali mengambil anak panah lalu membidikan nya ke zombie yang lain “nona jangan la..” SP belum juga selesai berbicara namun warti sudah melepas anak panahnya itu dan kembali mengenai sasaran namun itu lah yang membahayakan sehingga para zombie itu tahu keberadaan mereka.
“mereka datang..” kata Warti.
“lari nona” ujar SP.
“itu bukan ide yang bagus!” elak Warti, bukannya warti takut ia kini langsung tersenyum jahat yang membuat SP terkejut “lebih baik, kita hadapi” kata warti sambil terus melesatkan bidikan anak panahnya kearah kepala para zombie itu tanpa perduli SP sebenarnya punya rencana lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
DINA OCTAVIA
hmm pantas sepi ,
dialognya kok gabung gini .
2023-09-24
0