Aku tersentak kaget ketika mengetahui ayah dan Pak Colin saling mengenal sejak dulu. Jika dilihat dalam durasi lama, foto ini terlihat seperti di luar negeri, bukan di kota ini. Pemandangannya begitu indah sangat jelas membuktikan foto ini diambil di luar negeri. Spontan aku mengembalikan foto ini kepada Pak Colin.
Namum saat Adrian memandangi foto itu, ia membulatkan matanya dengan sempurna sambil menunjuk seorang pria yang berdiri tepat di samping Pak Colin dengan tatapan kebingungan. "Itu ... kan ayahku."
Aku terkejut mendengarnya. "Itu ayahmu?“
Adrian merespons mengangguk pelan.
Lalu, tatapanku beralih pada Pak Colin untuk memastikannya. "Berarti selama ini Bapak mengenal ayah kami berdua?"
Adrian menatapku sambil menggarukkan kepalanya kebingungan. "Tunggu sebentar! Jadi sebenarnya ayah kita berdua itu sudah saling mengenal sejak dulu?"
"Bisa dikatakan begitu sih. Aku tidak menyangka ayah kita sudah saling mengenal tanpa sepengetahuan kita," balasku sambil bertopang dagu.
Pak Colin tersenyum tipis menunjuk dua pria berdiri di sebelah Pak Colin. "Dua pria ini yang berdiri di sebelah saya itu adalah sahabat lama saya."
"Sahabat lama, Bapak?" tanyaku memastikannya sambil memiringkan kepalaku.
"Sewaktu dulu kami bertiga selalu pergi bersama ke mana pun kami pergi. Pertemanan kami dimulai sejak saya masih menduduki bangku SMA. Ayah kalian memiliki sifat yang sangat mirip yaitu semangat dan ceria. Tapi sayangnya, kenangan terakhir dari kami bertiga yang tersisa hanya foto ini saja," ungkap Pak Colin menceritakan semuanya pada kami panjang lebar.
Mendengar cerita itu, aku memasang raut wajah iba. Aku juga semakin merindukan ayah apalagi membayangkan karakter ayah yang selalu baik padaku. "Bapak pasti sangat merindukan ayah saya."
"Sampai sekarang, saya masih sangat merindukan Peter sejak dia menghilang entah ke mana. Foto ini diambil saat seminggu sebelum Peter menghilang."
Adrian menampakkan wajah serius tiba-tiba. "Saya boleh bertanya tentang pendapat Bapak?"
"Iya silakan, ada apa?"
"Menurut Bapak, apakah ayah saya sungguh melakukan penggelapan dana perusahaan? Saya hanya menanyakan pendapat Bapak saja karena saya masih mencurigai sampai sekarang bahwa ayah saya bukan pelaku sebenarnya."
Tampak kerutan pada dahi Pak Colin. "Mana mungkin Randy melakukan hal semacam itu. Saya sangat percaya Randy tidak akan melakulan hal itu. Biasanya dia hidup dengan jujur dan disiplin. Dia ditangkap sebagai tersangka penggelapan dana perusahaan pasti dia dijebak seseorang yang sangat dendam dengannya. Sebenarnya saya tidak rela melihat Randy ditangkap seperti itu."
"Pasti Bapak sampai saat ini sangat kesepian karena ditinggal oleh kedua sahabat Bapak."
Pak Colin menepuk pundakku dan Adrian. "Sekarang saya sudah tidak merasa kesepian lagi. Karena ada kalian berdua yang saya anggap sebagai Peter dan Randy. Wajah kalian sangat mirip dengan ayah kalian sehingga saya teringat dengan mereka."
"Saya dan Adrian akan selalu menemani Bapak. Bila terjadi sesuatu, Bapak bisa menghubungi kami berdua," tawarku dengan senyuman ramah.
"Kami selalu siap sedia setiap saat. Bapak tenang saja," lanjut Adrian percaya diri.
"Terima kasih atas tawaran kalian barusan. Kalian memang sangat baik dan perhatian seperti ayah kalian."
Setelah kami berbincang panjang lebar dengan Pak Colin hingga sore, kami semua berpamitan dengan Pak Colin untuk pulang ke rumah. Sebelum kami berpisah, kami berempat berbincang sebentar di luar restoran.
"Dunia memang sempit ya," ujar Tania tertawa kikuk.
"Aku bahkan sampai batuk tersedak gara-gara mendengar perbincangan kalian dengan Pak Colin," lontar Nathan dengan matanya terbelalak.
"Aku dan Penny juga bahkan tidak tahu bahwa ayah kami bersahabatan sewaktu dulu," tutur Adrian menatapku tersenyum manis.
Tania menyipitkan mata. "Hmm entah ini suatu kebetulan atau tidak. Sepertinya memang kalian sudah ditakdirkan bertemu dan berhubungan dekat."
Nathan mengamati jam tangannya hingga membulatkan matanya dengan sempurna seperti lupa dengan sesuatu yang penting. "Omong-omong, aku harus pulang ke rumahku sekarang. Aku harus membantu ibuku."
"Baiklah kalau begitu aku juga mau pulang deh. Aku ingin beristirahat untuk mengisi tenagaku lagi." Tania juga berpamitan sambil menepuk punggungnya.
Nathan dan Tania memasuki mobil mereka. Kini hanya tersisa aku dan Adrian masih berdiri di luar restoran. Sebenarnya aku mengetahui Adrian terus tersenyum ceria dari tadi ketika mendengar bahwa ayah kami ternyata saling berhubungan dekat. Mengamati senyumannya terlihat manis, membuatku ingin tersenyum juga.
"Penny, sepertinya kita memang cocok berhubungan sebagai sahabat setia," ungkapnya.
"Karena ayah kita juga bersahabatan sama seperti kita," sahutku lembut.
Adrian menghembuskan napas lesu. "Namun sayangnya ayah kita saat ini berpisah."
"Tidak apa-apa, Adrian. Yang penting hubungan persahabatan kita masih terus terikat dengan kuat."
"Maka dari itu kita harus menjaga hubungan kita. Jangan seperti waktu itu!" Adrian mencubit pipiku bertenaga membuatku kesakitan.
Aku memanyunkan bibir sambil mengelus pipiku bekas dicubit. "Iya, aku sudah kapok bertengkar denganmu."
Sejenak aku menatap arlojiku mengingat aku sudah menyita waktu banyak. "Omong-omong, aku harus kembali ke rumahku sekarang. Ibuku bisa memarahiku kalau pulang larut malam."
"Baiklah, kalau begitu aku juga ingin pulang ke kediamanku."
Setibanya di rumah, aku langsung melanjutkan penyelidikan kasus pembunuhan Ray. Kamarku saat ini sangat berantakan penuh dengan kumpulan foto-foto kasus yang terjadi saling berkaitan. Aku mengambil berbagai warna spidol untuk menggambar skema motif pelaku yang ada di pikiranku. Tepat sebelum Ray diracuni, Ray mengatakan kepadaku bahwa ayahku masih hidup saat ini. Lalu ia juga berkata bahwa aku harus berhati-hati dengan logo bunga Magnolia bersayap. Apakah logo ini merupakan kunci dari kasus pembunuhan ini?
Dengan sigap aku membuka laptopku dan mencari logo tersebut. Aku menelusuri internet melakukan pencarian logo tersebut namun tidak ditemukan hasilnya. Aku menggarukkan kepalaku kesal dengan situasi sekarang.
Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Apa mungkin ibu masih menyimpan dokumen-dokumen ayah dulu? Besok pagi aku harus mencari dokumen ayah di ruang penyimpanan sekaligus membantu ibu membersihkan rumah.
Keesokan paginya, usai membersihkan diriku dan sarapan, aku langsung pergi menuju ruang penyimpanan dan mencari dokumen milik ayah. Namun dokumennya tidak ada walaupun aku sudah mencarinya di mana pun. Ibu yang melihatku sedang mencari dokumen ayah hingga membuat rumah sangat berantakan langsung menghembuskan napasnya kasar menatapku tajam seperti ingin menerkamku.
"Penny! Bukankah kamu ingin membantu ibu membereskan rumah! Kenapa kamu yang membuat rumah ini menjadi semakin berantakan!" Ibu memarahiku hingga telingaku terasa panas sekarang.
"Maaf Bu, nanti aku akan membereskannya kembali seperti semula. Aku sedang mencari dokumen ayah tapi tidak ada di ruang penyimpanan," sahutku lemas sambil menyeka keringat yang melekat pada wajahku.
"Ibu sudah membuangnya sejak dulu. Lagi pula ayahmu tidak pernah membawa pulang dokumen yang penting."
Aku ingin berteriak kencang, namun mustahil aku membentak ibu. "Yah! Ibu gimana sih, masa dokumen ayah dibuang begitu saja!"
"Ayahmu sudah menghilang sejak lama. Kenapa kamu tiba-tiba membutuhkan dokumennya sekarang?" tanya ibumelipat kedua tangannya di depan dada.
"Siapa tahu kasus yang sedang aku selidiki sekarang itu berhubungan dengan ayah," jawabku dengan polos. Aku tidak ingin mengatakan kepada ibu mengenai hal yang sebenarnya terlebih dahulu sebelum aku mendapatkan bukti yang kuat.
Ibu menjitak kepalaku sambil memberikan sapu untukku. "Ada-ada saja kamu ini! Daripada kamu memikirkan hal yang aneh lebih baik kamu membantu ibu membersihkan rumah sekarang!"
Aku memutar bola mata menggenggam gagang sapu lemas. "Iya, Bu. Aku bantu ibu sekarang supaya ibu tidak darah tinggi."
"Kamu barusan bilang apa pada ibu? Ibu akan darah tinggi?"
Aku tertawa kikuk. "Tidak, Bu. Mungkin tadi hanya angin lewat saja."
Aku membulatkan mataku dengan sempurna mengamati banyak kertas berserakan di lantai hingga membuat ibu marah padaku tadi. Saat aku sedang menyapu, tidak sengaja tubuhku terjatuh ke lantai. Namun aku merasa ada sesuatu yang melekat pada kakiku. Dengan sigap aku mengambil selembar kertas itu dan ternyata adalah foto yang sama seperti milik Pak Colin di restoran. Tapi ini aneh sekali. Kenapa foto ini bisa ada di rumahku? Padahal ini diambil tepat sebelum ayahku menghilang. Aku berlari dan memanggil ibu lagi.
"Ibu! Ibu!" teriakku memanggil ibu.
"Aduh, Penny! Kamu berisik sekali! Sampai sekarang kamu masih belum selesai membereskannya?"
"Ibu mendapatkan foto ini dari mana?" tanyaku sambil menunjukkan foto kepada ibu.
"Oh, foto ini. Teman ayahmu yang bernama Colin yang memberikan foto ini saat kamu masih remaja."
Raut wajah ibu kembali murka melihat rumah ini masih berantakan. "Sudahlah, kamu lanjutkan bereskan semua sampah berserakan daripada kamu bermalasan terus!"
Dua jam kemudian, aku memasuki kamarku dan melanjutkan penyelidikanku lagi hingga larut malam. Foto ini, sepertinya ada sesuatu dibalik semua ini. Apakah kasus penggelapan dana ayahnya Adrian juga berhubungan dengan hilangnya ayahku juga? Kalau sungguh saling berkaitan satu sama lain, bisa jadi Pak Colin menjadi target pelaku juga. Pak Colin bisa dalam bahaya suatu hari nanti.
drrt...drrt...
Ponselku berbunyi tiba-tiba saat aku sedang di tengah fokus bekerja. Aku mengambil ponselku dan mengangkat panggilan teleponnya dari Pak Colin.
"Halo Pak, ada apa menelepon saya?"
"Ada ... yang menerobos masuk restoran saya," Suara Pak Colin terdengar ketakutan lewat telepon.
"Apa? Bapak tunggu di sana dulu. Saya akan ke sana sekarang juga," ucapku panik sambil menutup panggilan teleponnya.
Aku langsung berlari keluar rumah dan mengendarai mobilku menuju ke sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
🤍
Hadir dengan boom like..
2021-09-08
1
W⃠🦃𝖆𝖑𝖒𝖊𝖎𝖗𝖆 Rh's😎
awas pak colin kenapa napa
2021-02-15
1
S Anonymous
Mendarat 5 like lagi👍
2021-02-15
1