Setelah mendengar perkataan Ray membuatku berdiri mematung sekarang, aku membalikkan tubuhku ingin bertanya lebih dalam lagi. Namun ini sudah terlambat, karena waktu kunjungan sudah habis. Aku mengepalkan tanganku kesal karena harus mengunjunginya lagi agar dapat memecahkan teka-teki ini.
Tapi yang membuat pikiranku terusik dari tadi, kenapa Ray bisa tahu bahwa ayah masih hidup? Padahal seingatku ayah sudah menghilang sejak lama dan keberadaannya tidak ditemukan siapa pun. Aku masih tidak percaya dengan perkataannya, mengingat saat aku remaja mendengar kabar hilangnya ayah, aku dan ibu sangat syok sampai tidak bisa tidur nyenyak berminggu-minggu.
Tubuhku rasanya sangat gerah dan ingin berteriak keras untuk meluapkan emosi yang terpendam dalan diriku sekarang. Saat aku mengendarai mobilku kembali menuju kantor, pikiranku sangat kacau dan masih memikirkan hal itu. Tanpa kusadari aku menginjak pedal gas menambah kecepatan mobilnya hingga hampir menabrak mobil orang lain.
Tin...tin...tin...
Bunyi klakson mobil yang hampir ditabrakku barusan sangat mengganggu. Pengemudi mobilnya membuka kaca jendela memelototiku tajam.
"Hei, kalau sedang menyetir yang benar! Kalau sampai kena tabrak gimana? Mau ganti rugi ratusan juta?" hardik pengemudi mobil itu menunjuk-nunjuk aku.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja hampir menabrak mobil Bapak. Lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi," sesalku menundukkan kepalaku bergegas melanjutkan perjalananku lagi. Sebenarnya aku ingin membentaknya balik karena beraninya ia membentak seorang polisi.
Beberapa menit kemudian, aku memarkirkan mobilku di lahan parkir lalu menuruni mobilku bernapas lesu. Langkah kakiku sangat lemas memasuki kantor menghampiri meja kerjaku. Sedangkan Tania yang dari tadi menunggu kedatanganku di meja kerjaku langsung mendekatiku dengan cemas melihat raut wajahku cemberut.
Tania menyentuh pipiku dengan kedua tangan. "Penny, kamu kenapa? Kenapa wajahmu lesu begitu? Apakah terjadi sesuatu buruk padamu?"
Air mataku mulai mengalir deras dari kelopak mataku sambil memeluk Tania erat. "Tania ... aku tidak bisa menghadapi kenyataan ini. Aku masih tidak percaya dengan semua ini."
"Kenapa kamu menangis, Penny? Sebaiknya kita membicarakannya di ruang rapat." Tania melepas pelukan lalu menuntunku menuju ruang rapat.
Di ruang rapat, aku melanjutkan pembicaraanku dengan Tania. Nathan yang dari tadi penasaran denganku juga ikut memasuki ruang rapat.
"Cepat katakan pada kami, Penny! Apa yang terjadi sebenarnya?" Tania menyentuh pundakku dengan kedua tangan.
"Kamu masih ingat mengenai hilangnya ayahku sejak lama?" tanyaku balik menangis terisak-isak.
"Iya, aku masih mengingatnya dengan jelas. Memangnya kenapa?" tanya Tania mulai penasaran mengernyitkan alisnya.
Helaan napas lesu dihembuskan dari mulutku. "Sebenarnya tadi saat aku mengunjungi Ray, dia berkata bahwa ... ayahku masih hidup sampai sekarang."
Nathan dan Tania membulatkan mata dengan sempurna setelah mendengar penjelasanku barusan.
"Apa? Bukankah ayahmu dinyatakan telah menghilang sejak dulu dan tidak dapat ditemukan lagi?" tanya Nathan sambil berkacak pinggang.
Aku menggeleng. "Aku juga tidak tahu kenapa Ray bisa tahu semuanya. Kalau aku ingin mendengar jawaban pecahan teka-tekinya, aku harus mengunjunginya terus-menerus."
"Dasar rubah licik!" ketus Nathan mengepalkan tangannya memukuli meja cukup kuat.
"Tapi bisa saja Ray mempermainkanmu lagi supaya kamu mengunjunginya terus," tambah Tania.
Aku beranjak dari kursi berjalan mondar-mandir sambil berpikir kritis. "Menurutku, kali ini dia serius denganku dilihat dari cara bicaranya dan juga tatapan matanya serius padaku. Lalu kasus pembunuhan yang terjadi secara tiba-tiba di kota ini, orang-orang yang selalu dekat denganku menjadi korbannya dan terluka parah. Pelaku sesungguhnya sengaja melakukannya dan sudah merencanakannya sejak awal supaya memancing emosiku."
"Tapi tidak sepenuhnya persepsimu benar, Penny. Kamu jangan cepat mengambil kesimpulan dulu." Perasaan Tania mulai tidak enak padaku hingga ia melontarkannya sedikit gugup.
Langkah kakiku terhenti. "Tidak! Semua orang yang dekat denganku menjadi korbannya. Seperti halnya dengan tante Desy yang merupakan tetangga dekatku dibunuh secara kejam. Sedangkan Adrian sekarang menjadi target pelakunya karena dia berhubungan dekat denganku. Kalian juga harus berwaspada mulai sekarang karena kalian itu teman dekatku."
"Bukan begitu, Penny. Kamu salah besar," balas Tania menyentuh pundakku namun aku menepisnya pelan.
Pikiranku sudah tidak waras sekarang. Sangat berat sebenarnya mengatakan hal ini pada kedua temanku. Satu-satunya cara agar nyawa sahabat yang kusayangi selalu selamat.
"Aku harus menemui Adrian sekarang dan mengakhiri hubungan pertemanan kita secepatnya!"
"Jangan lakukan itu, Penny!" tegur Tania menjerit.
Aku tidak menghiraukannya lalu bergegas meninggalkan ruang rapat menuju lahan parkir. Sebelum aku menekan tombol starter mobil, aku menelepon Adrian terlebih dahulu.
"Halo, Adrian. Mari kita bertemu sebentar di Kafe dekat kantormu!"
"Baiklah, aku segera ke sana. Tunggu aku."
Tiga puluh menit kemudian setibanya di depan Kafe, aku langsung memasuki Kafe sambil mengamati Adrian yang sedang menungguku di tempat duduk samping kaca jendela sambil minum kopi. Aku bergegas menghampirinya menduduki kursi di hadapannya.
"Maaf, kamu pasti menungguku lama," lirihku memalingkan mataku darinya.
"Aku baru tiba di sini sekitar lima menit yang lalu. Omong-omong, kenapa kamu ingin bertemu denganku tiba-tiba?"
Aku mengambil napasku sejenak, lalu membuangnya perlahan. Sebenarnya mentalku masih belum siap mengucapkan perkataan menyakitkan untuk sahabatku. Apalagi hubunganku dengannya selama ini baik-baik saja dan bahkan seiring berjalan waktu tingkah kami terlihat melebihi sahabat jika orang lain melihat.
"Aku tidak ingin berbasa basi denganmu. Mari kita akhiri hubungan persahabatan kita!" hardikku lantang.
Mendengar perkataanku barusan, Adrian seperti terkena sambaran petir hingga matanya terbelalak masih tidak memercayai perkataanku. "Kenapa ... kamu tiba-tiba mengatakan itu padaku?"
Aku membuang muka. "Aku hanya tidak ingin berteman denganmu lagi."
Rahangnya terasa kaku dibuka sambil terus menggelengkan kepala tidak percaya. "Pasti telah terjadi sesuatu, maka dari itu kamu menjadi seperti ini. Coba kamu ceritakan padaku! Sebenarnya ada masalah apa denganmu? Apakah aku berbuat salah padamu? Aku pasti akan memperbaiki kesalahanku untuk ke depannya."
Terpaksa aku harus mengucapkan perkataan menyakitkan inj. Padahal hatiku sangat keberatan dan bahkan mataku semakin berkaca-kaca jika memikirkannya. Aku tetap berusaha bersikap tegar agar Adrian membenciku karena sikapku keterlaluan. "Sebenarnya, aku bosan berteman denganmu. Setiap aku bersamamu, aku terpaksa berbincang dan mendengarkanmu dengan baik. Lagi pula kamu sia-sia berteman denganku. Karena kamu tidak mendapatkan apa pun dariku selama ini. Adanya aku yang selalu mendapatkan sesuatu darimu."
Napasnya semakin sesak. Tangan kanannya meremas kemeja dipakainya. "Tidak, Penny ... jangan berkata seperti itu. Walaupun aku tidak mendapatkan apa pun darimu, aku tidak pernah merasa dirugikan. Justru aku bahagia setiap kali bersamamu."
Aku beranjak dari kursi dan membuang muka. Aku sudah tidak tahan mendengar perkataannya justru sama seperti yang kurasakan sesungguhnya. "Selamat tinggal, Adrian."
Saat aku membalikkan tubuhku ingin meninggalkannya, Adrian mencegahku menggenggam tanganku. "Kumohon Penny, kamu jangan bersikap seperti ini. Ini tidak seperti dirimu."
"Kalau aku menceritakannya kepadamu, situasi tidak akan pernah berubah sampai seterusnya, Adrian."
"Pasti ada cara lain, Penny. Kumohon jangan karena masalah seperti ini, kamu menjadi sangat dingin kepadaku. Aku pasti akan membantumu menyelesaikan masalahnya."
Aku tidak menghiraukannya lalu menepis tangannya meninggalkannya sendirian.
Di tengah perjalanan menuju rumahku, aku menangis dengan keras untuk melepaskan amarah dan kesedihanku.
Sebenarnya, aku tidak rela mengakhiri hubungan persahabatan dengan Adrian. Selama ini, aku sangat terhibur di dekatnya saat aku sedang bersedih atau pikiranku yang sedang kacau. Hanya Adrian yang bisa menenangkanku walaupun hubungan kami hanya sebatas sahabat, Adrian juga selalu menjadi pendengar baik dan menjadikan aku sebagai teman curhatnya. Selain itu, Adrian menjadi malaikat pelindungku di saat aku sedang mengalami bahaya. Tapi demi keselamatannya, aku memutuskan mengakhiri hubungan pertemanan kami. Aku tidak ingin melihat Adrian terluka parah lagi karena aku. Kondisinya terakhir kali membuatku trauma hingga sekarang.
Setibanya di rumah, aku langsung berlari menuju kamarku dan mengunci pintu kamarku.
"Penny, kamu kenapa? Kenapa kamu seperti ini? Kalau ada masalah pekerjaan, kamu bisa bicara pada ibu dengan baik." Suara ibu terdengar parau di balik pintu.
"Aku ingin sendirian, Bu. Kumohon tinggalkan aku sendirian," sahutku menangis tersedu-sedu.
"Baiklah kalau kamu ingin sendirian, ibu tidak akan mengganggumu. Menangislah sekeras-kerasnya agar kamu merasa lebih baik. Lagi pula tidak ada yang melihatmu menangis juga."
Sepanjang malam, aku terus menangis hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku melepas jam tangan pemberian dari Adrian memeluk erat sambil membaringkan tubuhku di atas ranjang. Rasanya aku merindukan kehangatannya setiap kali bersamaku. Membayangkan setiap momen kebersamaan kami meski sudah tidak ada kaitannya penyelidikan kasus, tapi momen yang kami ciptakan terkesan manis dan bermakan sepanjang hidupku.
Keesokan pagi, aku hampir bangun kesiangan akibat tidak bisa tidur semalam. Dengan sigap aku beranjak dari ranjang langsung merapikan diriku tidak beraturan apalagi mataku bengkak akibat menangis terlalu lama.
Usai itu aku bergegas mengunjungi Ray lagi untuk mendengarkan pecahan teka-teki lagi. Di dalam ruangan khusus kunjungan ini, aku memasang wajah datar karena malas amat berbincang dengannya hanya demi kepentinganku mendapatkan jawaban yang kucari selama belasan tahun.
"Ingat, kunjungan hanya 10 menit!" tegas sipir bertugas.
"Ternyata kamu sungguh mengunjungiku," sambut Ray tersenyum sinis padaku.
"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa ayahku masih hidup?" tanyaku tanpa berbasa basi dengannya.
"Kamu seharusnya menanyakan kabarku dulu, bukan menanyakan hal gituan!" ketus Ray geram.
"Apa benar ayahku masih hidup? Kamu sungguh tidak membohongiku?" tanyaku semakin penasaran.
"Berisik sekali! Baiklah akan aku ceritakan satu per satu dulu."
Aku memukuli meja kasar. "Cepat katakan padaku!"
"Ayahmu bekerja di kota Gangnam. Ayahmu bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Gangnam. Tapi suatu hari, ayahmu menghilang secara tiba-tiba dengan tanpa alasan," ungkap Ray tiba-tiba berhenti menjelaskannya padaku.
Tatapanku memelototinya karena aku merasa tensi darahku naik drastis. "Kenapa kamu berhenti? Cepat lanjutkan penjelasannya! Kenapa ayahku bisa menghilang tiba-tiba?"
"Kalau mau tahu kelanjutannya, besok kamu harus mengunjungiku lagi. Aku ingin memberitahu mengenai petunjuknya. Kamu harus berhati-hati dengan logo bunga Magnolia bersayap," jawab Ray kemudian meninggalkanku.
"Apa maksudmu? Ray!!" pekikku menjerit.
Setelah mengunjungi Ray, aku pergi ke kantorku dan merenungkan mengenai petunjuk itu hingga Tania bingung mengamatiku duduk termenung seperti ini dan menghampiriku.
"Hei, Penny! Kenapa kamu melamun terus dari tadi?"
"Tidak apa-apa kok. Suasana hatiku sedang tidak enak hari ini. Tinggalkan aku sendirian sekarang." Aku mengibaskan tangan kananku lemas.
Tania menepuk pundakku sekilas. "Baiklah, kalau kamu mau curhat, kamu bisa curhat denganku."
Aku duduk termenung di kantor seharian sampai aku tidak berselera untuk makan dan aku tidak berbicara dengan siapa pun hingga malam, kecuali ada kaitannya dengan pekerjaanku. Ini akibat semalam aku memutus hubungan dengan Adrian dan pada akhirnya sangat berdampak padaku. Aku jadi cemas dengan keadaan Adrian. Aku sangat cemas mungkin kondisinya akan sepertiku sekarang.
drrt...drrt...
Telepon kantor polisi tiba-tiba berbunyi hingga membuatku terkejut. Dengan kesal aku langsung mengangkat telepon.
"Pelaku pembunuhan setahun yang lalu bernama Ray ditemukan tewas di penjara."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Ridho Talita
lha piye to....
2021-07-15
1
nanni02😜😺
kok bisa,meninggal di penjara
apa ray bunuh diri atau ada yg membunuhnya?
duh palaku
2021-04-05
1
Dhina ♑
#230
2021-03-23
1