Part 16 - It's Not Over Yet

Setelah membaca surat ancaman itu, aku bergidik ngeri hingga semua barangku terjatuh. Ditambah suasana hujan mengguyur sangat deras disertai petir. Tanganku langsung gemetar dan keringat dingin karena aku teringat dengan kejadian setahun yang lalu saat aku menerima paket misterius berisi bangkai burung. Untung saja aku berdiri di teras rumah sehingga tubuhku tidak basah kuyup.

Dengan sigap aku berlari memasuki rumahku dan menaiki tangga menuju kamarku sambil membawa semua barangku. Aku menutup pintu kamar rapat sehingga ibu tidak akan mencurigai tindakanku barusan. Apalagi aku takut sekali dengan petir. Maka dari itu, aku menduduki ranjang bersandar lemas pada sandaran ranjang sambil menutupi diriku dengan selimut tebal dan menaruh ponselku di meja samping ranjangku.

Hingga sekarang aku masih merinding ketakutan dan terus menggigit bibir bawahku. Apalagi saat ini tidak ada seseorang yang menemaniku tepat di sisiku.

Pikiranku sangat kacau. Tapi ini tidak mungkin, Ray sudah ditangkap dan Darren sudah meninggal. Kenapa masih ada yang menerorku seperti ini?

drrt...drrt...

Sontak ponselku berdering di tengah suasana tegang begini. Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon dari Adrian.

"Penny, apakah kamu mendapat surat ancaman, lalu tidak ada nama pengirimnya?" Suara Adrian terdengar sedikit panik lewat telepon.

Aku membulatkan mata, sungguh di luar dugaan Adrian juga diteror seperti aku. "Kamu juga mendapatkan suratnya? Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah kasusnya sudah berakhir setahun yang lalu?"

"Aku juga tidak tahu. Besok pagi kita harus melaporkan ini. Pokoknya kita harus berwaspada mulai sekarang."

"Iya, kamu juga harus berwaspada. Sepertinya targetnya sekarang kita berdua. Aku tutup teleponnya, ya."

"Tunggu sebentar, Penny!" Suaranya membuat jempolku membeku.

"Ada apa, Adrian?"

"Dari tadi saat aku berbicara denganmu lewat telepon, kamu terdengar sangat ketakutan."

Aku menelan saliva gugup, ia peka juga terhadap suaraku. Tapi, mustahil aku berbicara terang-terangan persoalan rasa takut. "Oh itu aku takut karena surat ancamannya."

Sebenarnya aku sedikit malu di hadapannya karena aku juga takut dengan petir. Aku ingin Adrian berada tepat di sampingku dan menemaniku sepanjang malam, tapi aku tidak ingin merepotkannya lagi.

"Penny, kamu tidak perlu takut. Mari kita selesaikan kasus ini secepatnya supaya kamu tidak ketakutan lagi."

Mendengar suaranya sangat manis, lengkungan bibir akhirnya terbit di sudut bibirku. "Iya, kamu benar."

"Ini sudah malam. Sebaiknya aku tidak mengganggumu tidur. Aku tutup teleponnya dulu, ya. Selamat malam, Penny."

"Selamat malam, Adrian."

Keesokan pagi, aku berangkat lebih awal mendatangi kantor untuk melakukan rapat darurat dengan rekan timku. Setibanya di kantor, kebetulan Nathan dan Tania juga sudah tiba lebih awal. Maka dari itu, aku bergegas memanggil mereka berdua menuju ruang rapat.

Nathan dan Tania berjalan lesu memasuki ruang rapat sambil menatap wajahku tidak enak dilihat membuat tatapan mereka mulai cemas.

"Ada apa, Penny? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Tania bingung mengernyitkan alisnya.

"Kalian pasti masih mengingat kejadian aku diteror setahun yang lalu. Semalam aku menemukan kotak ini di depan rumahku dan ada surat ini." Aku memperlihatkan kotak itu beserta surat ancaman kepada mereka berdua.

Reaksi Nathan dan Tania tersentak. Terutama Tania membaca surat ancaman itu sambil gigit jari. "Bukankah kasus itu sudah selesai dari setahun yang lalu? Kenapa bisa ada kejadian mengerikan lagi?"

"Sepertinya Ray masih menyembunyikan sesuatu dariku. Pasti ada beberapa hal yang sangat penting dan bisa juga itu merupakan kunci utama dari kasus ini," lontarku mulai berpikir keras.

Nathan menggarukkan kepala kesal. "Tapi aku masih tidak mengerti. Kenapa targetnya selalu kamu, Penny? Apa yang diinginkan oleh pelaku yang sebenarnya sampai mengancanmu terus?"

Aku menundukkan kepala sambil memijit dahiku. "Kali ini targetnya bukan hanya aku, tapi Adrian juga sekarang targetnya. Semalam dia mendapatkan benda ini sama sepertiku."

Tatapan Nathan semakin melotot. "Adrian juga mendapatkannya? Ini aneh sekali, padahal sebelumnya targetnya itu kamu. Tapi kenapa sekarang targetnya kalian berdua?"

"Intinya kalian berdua harus berhati-hati mulai sekarang. Aku takut targetnya itu adalah orang-orang terdekatku. Jadi kalau kalian mendapatkan benda aneh seperti ini, kalian harus melaporkan kepadaku!" pintaku tegas kepada mereka.

"Baiklah, Penny." patuh Nathan dan Tania serentak.

Aku menatap arloji pemberian Adrian sambil membawa kotak aneh ini. "Aku akan mengunjungi tim forensik untuk memeriksa sidik jari kotak ini. Kalian jangan mengatakan hal ini kepada kepala detektif. Jika dia tahu maka dia bisa mencegah kita untuk menyelidiki ini."

Setibanya di tempat forensik, aku bertemu dengan Adrian yang sedang berdiskusi dengan salah satu tim forensik untuk mengecek sidik jari kotak itu. Lalu aku menghampiri mereka berdua.

"Apakah sidik jarinya ditemukan?" tanyaku kepada anggota tim forensik tersebut.

"Sidik jarinya tidak ditemukan sama sekali di kotak itu. Ini sama seperti setahun yang lalu, sepertinya pengirim kotak ini menggunakan sarung tangan dan membersihkan kotak ini sampai debu pun tidak terlihat," jawab anggota tim forensik itu.

"Baiklah, terima kasih atas kerja samanya. Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda lagi," ujarku ramah.

Tatapan mataku beralih pada Adrian memasang wajah serius. "Mari kita bicara sebentar di Kafe!"

Setibanya di Kafe, aku memesan minuman kesukaanku yaitu Matcha Latte agar aku terus berfokus dan tidak mengantuk saat sedang bekerja. Adrian juga memesan kopinya sama sepertiku.

"Seperti biasa kamu memesan Matcha Latte juga denganku," ucapku sambil menyesap kopi.

"Karena aku sama sepertimu suka menu kopi ini."

"Memang kopi ini salah satu terbaik bagiku di antara semua."

Kami berdua saling tertawa lepas dan melempar pandangan ceria. Selama bersahabat dengan Adrian, entah kebetulan atau tidak, hampir semua hal yang kusukai sama dengan seleranya juga.

"Omong-omong, kamu ingin membicarakan apa denganku?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraannya.

Aku mulai berpikir keras sambil bertopang dagu. "Menurutmu bukankah ini aneh sekali, kenapa targetnya sekarang kita berdua dan juga kenapa pelakunya tahu alamat rumah kita?"

Adrian bertopang dagu sambil menyesap kopi pelan. "Sepertinya ada sesuatu yang melekat dengan kita yang selama ini kita tidak ketahui."

"Apa mungkin sebenarnya kita ada saling kaitan satu sama lain sejak dulu, seperti kita sebenarnya sudah pernah bertemu sejak dulu tapi entah kapan?"

"Tapi bukankah kita pertama kali bertemu saat di minimarket waktu itu. Lagi pula kalau kita sudah pernah bertemu pasti aku sudah menyimpan nomor kontakmu."

Sontak ada ide cemerlang terlintas pada pikiranku. Kenapa dari tadi aku tidak kepikiran hal ini. "Sepertinya Ray mengetahui masalah ini. Aku harus pergi mengunjungi Ray sebentar. Aku jadi teringat saat interogasi setahun lalu. Saat aku menanyakan mengenai kotak itu dia seperti tidak tahu apa-apa. Aku yakin sekali Ray menyembunyikan sesuatu penting dariku."

"Baiklah kalau ada sesuatu yang penting, jangan lupa kasih tahu aku."

"Kalau begitu aku pergi dulu," pamitku sambil menepuk pundaknya.

Di penjara, aku melihat wajah Ray terlihat sangat berantakan, rambutnya yang sudah lama tidak cukur dan memakai seragam tahanan seperti orang yang tidak memiliki harapan hidup.

"Kunjungan hanya boleh 10 menit," kata salah satu sipir.

"Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanyaku berbasa basi dengannya tersenyum ramah.

Ray memukuli meja sambil menunjuk wajahnya sendiri kusam. "Menurutmu setelah melihat penampilanku yang berantakan apakah aku baik-baik saja?"

"Aku masih tidak terbiasa melihat kamu memakai seragam itu," sahutku dengan nada sarkas.

"Bagaimana kabar ibuku? Apakah ibuku masih baik-baik saja? Lalu keadaan Ryder sekarang bagaimana?" tanya Ray yang masih memiliki hati nurani ingin mengetahui kabar keluarganya.

Untuk berbasa-basi sekaligus tidak memancing amarahnya, aku menceritakannya sekilas. "Walaupun kamu di penjara, tapi kamu masih memiliki hati nuraninya. Tenang saja, selama setahun ini aku selalu mengecek keadaan ibumu. Kondisinya sampai sekarang masih baik-baik saja. Lalu Ryder sekarang hidupnya mandiri, aku juga sesekali mengunjunginya ke kampus."

"Syukurlah, aku mengira mereka berdua tidak akan baik-baik saja tanpa kehadiranku. Omong-omong, kamu tumben mengunjungi setelah satu tahun. Ada apa memangnya?" tanya Ray menatapku curiga.

"Kamu masih ingat saat aku menginterogasimu setahun yang lalu mengenai kotak misterius itu?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikan.

"Iya aku masih mengingatnya dengan baik sampai sekarang, memangnya ada apa lagi? Kenapa kamu mengungkit hal itu lagi?"

"Semalam saat aku pulang ke rumah, aku menemukan sebuah kotak misterius lagi dan isinya seperti berupa ancaman," ucapku dengan fokus.

Reaksi Ray seolah-olah tidak tahu apa pun menyandarkan punggungnya bermalasan pada sandaran kursi. "Lalu apa hubungannya denganku?"

"Apa kamu yang mengirim seseorang untuk menerorku lagi?" tanyaku semakin mencurigainya.

Ray langsung memelototiku. "Mana mungkin sih aku berbuat hal gituan lagi selama di penjara. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Setahun yang lalu itu bukan aku yang menerormu. Tapi orang lain pelakunya. Lalu kejadian semalam itu bukan aku juga pelakunya."

"Kalau bukan kamu pelakunya, lalu siapa lagi?"

"Kalau kamu ingin mendengar jawabannya dariku, kunjungi aku sesering mungkin bila ada waktu luang."

Aku memukul meja cukup kasar melampiaskan kekesalanku. "Aku tidak punya waktu main-main dengan kamu. Cepat katakan padaku! Siapa pelaku yang menerorku selama ini!"

"Maka dari itu, ceritanya sangat panjang. Jika ingin mendengar ceritanya, kau harus mengunjungiku terus. Itu adalah salah satu syaratnya."

Emosiku mulai meledak lagi gara-gara Ray mengatakan hal itu seperti sedang mempermainkanku. Rasanya aku ingin memukulinya dengan kejam sampai puas.

Daripada membuang waktu tidak berguna di sini, aku beranjak dari kursi. "Baiklah, aku pergi dari sini saja. Aku sudah muak denganmu karena kamu menjadikanku sebagai bonekamu. Pokoknya aku tidak mau dipermainkan lagi."

"Kamu pasti sampai sekarang tidak tahu bahwa ayahmu masih hidup sebenarnya. Sepertinya waktu kunjungan sudah selesai, bila kamu ada waktu luang, kamu harus mengunjungiku lagi untuk mendengar pecahan teka-teki itu," ucap Ray beranjak dari kursi kembali menuju ruang tahanan.

Terpopuler

Comments

t@Rie

t@Rie

mampir lg kak

2021-04-02

1

Dhina ♑

Dhina ♑

#219

2021-03-23

1

YonhiarCY (Hiatus)

YonhiarCY (Hiatus)

ga percaya aku sama Ray, jangan di percaya ya Penny, pliss😭 org jahat itu sangat diragukan sekali😭

2021-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!