Setelah membaca surat ancaman itu, aku bergidik ngeri hingga semua barangku terjatuh. Ditambah suasana hujan mengguyur sangat deras disertai petir. Tanganku langsung gemetar dan keringat dingin karena aku teringat dengan kejadian setahun yang lalu saat aku menerima paket misterius berisi bangkai burung. Untung saja aku berdiri di teras rumah sehingga tubuhku tidak basah kuyup.
Dengan sigap aku berlari memasuki rumahku dan menaiki tangga menuju kamarku sambil membawa semua barangku. Aku menutup pintu kamar rapat sehingga ibu tidak akan mencurigai tindakanku barusan. Apalagi aku takut sekali dengan petir. Maka dari itu, aku menduduki ranjang bersandar lemas pada sandaran ranjang sambil menutupi diriku dengan selimut tebal dan menaruh ponselku di meja samping ranjangku.
Hingga sekarang aku masih merinding ketakutan dan terus menggigit bibir bawahku. Apalagi saat ini tidak ada seseorang yang menemaniku tepat di sisiku.
Pikiranku sangat kacau. Tapi ini tidak mungkin, Ray sudah ditangkap dan Darren sudah meninggal. Kenapa masih ada yang menerorku seperti ini?
drrt...drrt...
Sontak ponselku berdering di tengah suasana tegang begini. Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon dari Adrian.
"Penny, apakah kamu mendapat surat ancaman, lalu tidak ada nama pengirimnya?" Suara Adrian terdengar sedikit panik lewat telepon.
Aku membulatkan mata, sungguh di luar dugaan Adrian juga diteror seperti aku. "Kamu juga mendapatkan suratnya? Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah kasusnya sudah berakhir setahun yang lalu?"
"Aku juga tidak tahu. Besok pagi kita harus melaporkan ini. Pokoknya kita harus berwaspada mulai sekarang."
"Iya, kamu juga harus berwaspada. Sepertinya targetnya sekarang kita berdua. Aku tutup teleponnya, ya."
"Tunggu sebentar, Penny!" Suaranya membuat jempolku membeku.
"Ada apa, Adrian?"
"Dari tadi saat aku berbicara denganmu lewat telepon, kamu terdengar sangat ketakutan."
Aku menelan saliva gugup, ia peka juga terhadap suaraku. Tapi, mustahil aku berbicara terang-terangan persoalan rasa takut. "Oh itu aku takut karena surat ancamannya."
Sebenarnya aku sedikit malu di hadapannya karena aku juga takut dengan petir. Aku ingin Adrian berada tepat di sampingku dan menemaniku sepanjang malam, tapi aku tidak ingin merepotkannya lagi.
"Penny, kamu tidak perlu takut. Mari kita selesaikan kasus ini secepatnya supaya kamu tidak ketakutan lagi."
Mendengar suaranya sangat manis, lengkungan bibir akhirnya terbit di sudut bibirku. "Iya, kamu benar."
"Ini sudah malam. Sebaiknya aku tidak mengganggumu tidur. Aku tutup teleponnya dulu, ya. Selamat malam, Penny."
"Selamat malam, Adrian."
Keesokan pagi, aku berangkat lebih awal mendatangi kantor untuk melakukan rapat darurat dengan rekan timku. Setibanya di kantor, kebetulan Nathan dan Tania juga sudah tiba lebih awal. Maka dari itu, aku bergegas memanggil mereka berdua menuju ruang rapat.
Nathan dan Tania berjalan lesu memasuki ruang rapat sambil menatap wajahku tidak enak dilihat membuat tatapan mereka mulai cemas.
"Ada apa, Penny? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Tania bingung mengernyitkan alisnya.
"Kalian pasti masih mengingat kejadian aku diteror setahun yang lalu. Semalam aku menemukan kotak ini di depan rumahku dan ada surat ini." Aku memperlihatkan kotak itu beserta surat ancaman kepada mereka berdua.
Reaksi Nathan dan Tania tersentak. Terutama Tania membaca surat ancaman itu sambil gigit jari. "Bukankah kasus itu sudah selesai dari setahun yang lalu? Kenapa bisa ada kejadian mengerikan lagi?"
"Sepertinya Ray masih menyembunyikan sesuatu dariku. Pasti ada beberapa hal yang sangat penting dan bisa juga itu merupakan kunci utama dari kasus ini," lontarku mulai berpikir keras.
Nathan menggarukkan kepala kesal. "Tapi aku masih tidak mengerti. Kenapa targetnya selalu kamu, Penny? Apa yang diinginkan oleh pelaku yang sebenarnya sampai mengancanmu terus?"
Aku menundukkan kepala sambil memijit dahiku. "Kali ini targetnya bukan hanya aku, tapi Adrian juga sekarang targetnya. Semalam dia mendapatkan benda ini sama sepertiku."
Tatapan Nathan semakin melotot. "Adrian juga mendapatkannya? Ini aneh sekali, padahal sebelumnya targetnya itu kamu. Tapi kenapa sekarang targetnya kalian berdua?"
"Intinya kalian berdua harus berhati-hati mulai sekarang. Aku takut targetnya itu adalah orang-orang terdekatku. Jadi kalau kalian mendapatkan benda aneh seperti ini, kalian harus melaporkan kepadaku!" pintaku tegas kepada mereka.
"Baiklah, Penny." patuh Nathan dan Tania serentak.
Aku menatap arloji pemberian Adrian sambil membawa kotak aneh ini. "Aku akan mengunjungi tim forensik untuk memeriksa sidik jari kotak ini. Kalian jangan mengatakan hal ini kepada kepala detektif. Jika dia tahu maka dia bisa mencegah kita untuk menyelidiki ini."
Setibanya di tempat forensik, aku bertemu dengan Adrian yang sedang berdiskusi dengan salah satu tim forensik untuk mengecek sidik jari kotak itu. Lalu aku menghampiri mereka berdua.
"Apakah sidik jarinya ditemukan?" tanyaku kepada anggota tim forensik tersebut.
"Sidik jarinya tidak ditemukan sama sekali di kotak itu. Ini sama seperti setahun yang lalu, sepertinya pengirim kotak ini menggunakan sarung tangan dan membersihkan kotak ini sampai debu pun tidak terlihat," jawab anggota tim forensik itu.
"Baiklah, terima kasih atas kerja samanya. Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda lagi," ujarku ramah.
Tatapan mataku beralih pada Adrian memasang wajah serius. "Mari kita bicara sebentar di Kafe!"
Setibanya di Kafe, aku memesan minuman kesukaanku yaitu Matcha Latte agar aku terus berfokus dan tidak mengantuk saat sedang bekerja. Adrian juga memesan kopinya sama sepertiku.
"Seperti biasa kamu memesan Matcha Latte juga denganku," ucapku sambil menyesap kopi.
"Karena aku sama sepertimu suka menu kopi ini."
"Memang kopi ini salah satu terbaik bagiku di antara semua."
Kami berdua saling tertawa lepas dan melempar pandangan ceria. Selama bersahabat dengan Adrian, entah kebetulan atau tidak, hampir semua hal yang kusukai sama dengan seleranya juga.
"Omong-omong, kamu ingin membicarakan apa denganku?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraannya.
Aku mulai berpikir keras sambil bertopang dagu. "Menurutmu bukankah ini aneh sekali, kenapa targetnya sekarang kita berdua dan juga kenapa pelakunya tahu alamat rumah kita?"
Adrian bertopang dagu sambil menyesap kopi pelan. "Sepertinya ada sesuatu yang melekat dengan kita yang selama ini kita tidak ketahui."
"Apa mungkin sebenarnya kita ada saling kaitan satu sama lain sejak dulu, seperti kita sebenarnya sudah pernah bertemu sejak dulu tapi entah kapan?"
"Tapi bukankah kita pertama kali bertemu saat di minimarket waktu itu. Lagi pula kalau kita sudah pernah bertemu pasti aku sudah menyimpan nomor kontakmu."
Sontak ada ide cemerlang terlintas pada pikiranku. Kenapa dari tadi aku tidak kepikiran hal ini. "Sepertinya Ray mengetahui masalah ini. Aku harus pergi mengunjungi Ray sebentar. Aku jadi teringat saat interogasi setahun lalu. Saat aku menanyakan mengenai kotak itu dia seperti tidak tahu apa-apa. Aku yakin sekali Ray menyembunyikan sesuatu penting dariku."
"Baiklah kalau ada sesuatu yang penting, jangan lupa kasih tahu aku."
"Kalau begitu aku pergi dulu," pamitku sambil menepuk pundaknya.
Di penjara, aku melihat wajah Ray terlihat sangat berantakan, rambutnya yang sudah lama tidak cukur dan memakai seragam tahanan seperti orang yang tidak memiliki harapan hidup.
"Kunjungan hanya boleh 10 menit," kata salah satu sipir.
"Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanyaku berbasa basi dengannya tersenyum ramah.
Ray memukuli meja sambil menunjuk wajahnya sendiri kusam. "Menurutmu setelah melihat penampilanku yang berantakan apakah aku baik-baik saja?"
"Aku masih tidak terbiasa melihat kamu memakai seragam itu," sahutku dengan nada sarkas.
"Bagaimana kabar ibuku? Apakah ibuku masih baik-baik saja? Lalu keadaan Ryder sekarang bagaimana?" tanya Ray yang masih memiliki hati nurani ingin mengetahui kabar keluarganya.
Untuk berbasa-basi sekaligus tidak memancing amarahnya, aku menceritakannya sekilas. "Walaupun kamu di penjara, tapi kamu masih memiliki hati nuraninya. Tenang saja, selama setahun ini aku selalu mengecek keadaan ibumu. Kondisinya sampai sekarang masih baik-baik saja. Lalu Ryder sekarang hidupnya mandiri, aku juga sesekali mengunjunginya ke kampus."
"Syukurlah, aku mengira mereka berdua tidak akan baik-baik saja tanpa kehadiranku. Omong-omong, kamu tumben mengunjungi setelah satu tahun. Ada apa memangnya?" tanya Ray menatapku curiga.
"Kamu masih ingat saat aku menginterogasimu setahun yang lalu mengenai kotak misterius itu?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikan.
"Iya aku masih mengingatnya dengan baik sampai sekarang, memangnya ada apa lagi? Kenapa kamu mengungkit hal itu lagi?"
"Semalam saat aku pulang ke rumah, aku menemukan sebuah kotak misterius lagi dan isinya seperti berupa ancaman," ucapku dengan fokus.
Reaksi Ray seolah-olah tidak tahu apa pun menyandarkan punggungnya bermalasan pada sandaran kursi. "Lalu apa hubungannya denganku?"
"Apa kamu yang mengirim seseorang untuk menerorku lagi?" tanyaku semakin mencurigainya.
Ray langsung memelototiku. "Mana mungkin sih aku berbuat hal gituan lagi selama di penjara. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Setahun yang lalu itu bukan aku yang menerormu. Tapi orang lain pelakunya. Lalu kejadian semalam itu bukan aku juga pelakunya."
"Kalau bukan kamu pelakunya, lalu siapa lagi?"
"Kalau kamu ingin mendengar jawabannya dariku, kunjungi aku sesering mungkin bila ada waktu luang."
Aku memukul meja cukup kasar melampiaskan kekesalanku. "Aku tidak punya waktu main-main dengan kamu. Cepat katakan padaku! Siapa pelaku yang menerorku selama ini!"
"Maka dari itu, ceritanya sangat panjang. Jika ingin mendengar ceritanya, kau harus mengunjungiku terus. Itu adalah salah satu syaratnya."
Emosiku mulai meledak lagi gara-gara Ray mengatakan hal itu seperti sedang mempermainkanku. Rasanya aku ingin memukulinya dengan kejam sampai puas.
Daripada membuang waktu tidak berguna di sini, aku beranjak dari kursi. "Baiklah, aku pergi dari sini saja. Aku sudah muak denganmu karena kamu menjadikanku sebagai bonekamu. Pokoknya aku tidak mau dipermainkan lagi."
"Kamu pasti sampai sekarang tidak tahu bahwa ayahmu masih hidup sebenarnya. Sepertinya waktu kunjungan sudah selesai, bila kamu ada waktu luang, kamu harus mengunjungiku lagi untuk mendengar pecahan teka-teki itu," ucap Ray beranjak dari kursi kembali menuju ruang tahanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
t@Rie
mampir lg kak
2021-04-02
1
Dhina ♑
#219
2021-03-23
1
YonhiarCY (Hiatus)
ga percaya aku sama Ray, jangan di percaya ya Penny, pliss😭 org jahat itu sangat diragukan sekali😭
2021-02-01
1