Di dalam ruang interogasi, suasana sudah mulai tegang dan aku mulai fokus dengan interogasinya. Biasanya di kantor itu kuanggap Ray sebagai rekanku tapi sekarang aku menganggapnya sebagai musuh terbesarku.
"Tanggal 12 Januari 2020, korban yang bernama Alya ditemukan tidak bernyawa di pinggir sungai dan di rekaman dasbor terekam dua orang yang sedang berbicara di sekitar TKP. Apakah benar Anda adalah salah satu dari mereka?" selidikku menggunakan bahasa formal sambil menunjukkan rekamannya.
"Iya, itu saya ada di sana," jawab Ray berwajah datar.
"Lalu korban yang bernama Bastian merupakan orang yang ingin bertemu dengan saya dan sedang menuju ke kantor polisi kemudian ditusuk tiba-tiba, apakah itu ulah Anda lagi?" tanyaku lagi.
Ray memukuli meja kasar. "SUDAH SAYA BILANG, BUKAN SAYA YANG MEMBUNUHNYA! TAPI DARREN YANG MEMBUNUHNYA! SAYA HANYA MENYURUH DIA LAKUKAN APA SAJA."
"MENYURUH SAMA SAJA DENGAN MELAKUKAN!" teriakku balik sangat geram padanya sambil mengepalkan tanganku.
"INI SEMUA SALAH MANTAN PACAR ANDA YANG BODOH JADI SAYA TERTANGKAP!" bentak Ray memelototiku tajam.
Aku memukuli meja menggunakan tumpukan berkas beberapa kali. "Harap tenang! Ini ruang interogasi, jangan berteriak dengan keras!"
"Lihat saja! Saya tidak akan membusuk di penjara seumur hidup!"
Sebenarnya ada satu hal yang ingin kupastikan lagi persoalan kasus aku diteror beberapa hari lalu. Kalau sampai Ray sungguh mengaku, aku akan pastikan akan menyimpan dendam seumur hidupku. "Satu pertanyaan lagi, kotak yang berisi mayat burung, apakah Anda yang mengirimkannya pada saya?"
"Saya lelah menjawab pertanyaan dari Anda yang banyak, kalau mau menangkap saya silakan."
"Kalau Anda tidak menjawabnya berarti Anda yang mengirimkan kotaknya pada saya. Mari kita akhiri interogasinya sampai di sini." Aku membereskan semua peralatanku lalu meninggalkan ruang interogasi.
Di luar ruang interogasi, aku disambut Nathan dan Tania yang sedang menungguku dari tadi.
"Apakah interogasinya berjalan lancar?" tanya Tania.
Aku tersenyum percaya diri. "Iya, dia mengakui semua tindakannya. Dia tidak akan pernah lolos lagi karena kita sudah mendapatkan bukti yang akurat."
Nathan menghembuskan napas lesu. "Aku masih tidak rela dengan kenyataan ini."
"Aku ke rumah sakit dulu, ya. Aku ingin menjenguk Adrian lagi," pamitku meninggalkan mereka berdua.
Sebelum pergi ke rumah sakit, aku mengambil powerbank di meja kerjaku. Lalu aku melihat sekelompok orang dari kejaksaan yang sedang menyita barang-barang di meja Ray hingga kosong. Kini suasananya sangat berbeda, sekarang meja itu sangat kosong dan tidak ada kehadiran orang lagi. Kemudian aku berjalan keluar kantor polisi dan melihat Ray sedang berjalan dikawal beberapa petugas polisi untuk dibawa ke penjara.
Setibanya di rumah sakit, aku bergegas memasuki kamar Adrian lalu melihatnya yang sedang serius membaca berkas kasus. Melihat dirinya meski berpenampilan memakai seragam pasien sudah membuatku memukau. Dalam kondisi apa pun, wajah tampannya selalu menawan terutama saat sedang serius.
Aku menempati kursi di samping ranjang. "Kamu sedang apa? Bukankah kamu harus beristirahat?"
"Aku sedang menelusuri kasus ayahku. Aku baik-baik saja sekarang, tubuhku sudah tidak lemah lagi," jawabnya santai sambil menutup map dipegangnya.
"Kamu masih mencari tahu mengenai kasus ayahmu? Aku salut padamu yang tidak menyerah demi ayahmu, apalagi di saat kamu masih sakit begini."
Adrian merapikan semua berkas kasus di meja samping ranjang. "Omong-omong, tadi kamu interogasi Ray apakah dia mengakui perbuatannya?"
"Dia sih tadi bilang bukan dia yang membunuhnya, tapi tetap saja karena kita memiliki bukti bahwa dia yang menyuruh Darren untuk membunuh, dia tidak akan bisa lolos lagi."
Adrian tertawa puas. "Baguslah. Berarti sekarang semuanya sudah berakhir. Akhirnya beban kita berkurang juga."
"Aku juga bisa tidur nyenyak di rumah, tidak usah bekerja lembur lagi dan tidak usah menghadapi bahaya lagi," tambahku sangat girang sekarang.
Satu tahun kemudian...
Situasi di kota Magnolia sejak kasus pembunuhan itu berakhir sampai sekarang masih tetap dalam kondisi damai. Ray divonis hukuman penjara seumur hidup. Masyarakat di sana seperti biasa menjalankan aktivitasnya dengan penuh sukacita. Terutama aku yang kembali seperti dulu lagi menjadi kebo yang suka dimarahi ibu setiap pagi.
"Pagi anak nakal. Waktunya bangun, ini sudah jam berapa! Kamu ini dari dulu sampai sekarang sama saja tidak berubah sifat malasnya!" gerutu ibu memukuli lengan kiriku.
Aku mengucek mataku bermalasan dan menguap dibalik selimut. "Hoam. Aduh ibu beri aku waktu lima menit saja untuk tidur lagi! Aku masih ngantuk nih."
"Ya sudah. Kalau begitu ibu makan porsi makananmu. Padahal ibu masak makanan kesukaanmu karena hari ini adalah hari ulang tahunmu," ancam ibu tersenyum licik.
Mataku langsung terbuka lebar. Aku bergegas memposisikan tubuhku menduduki ranjang. Betapa bodohnya aku melupakan hari ulang tahunku sendiri. "Astaga ibu! Kenapa tidak bilang padaku dari awal bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku! Aku harus bersiap-siap dulu secepatnya."
"Kamu sendiri saja yang malas. Ya sudah, ibu menunggumu di ruang makan."
Sedangkan aku tidak ingin berdiam diri lalu bergegas beranjak dari ranjang berlari menuju kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke kantor. Penampilanku saat ini sudah sempurna karena aku memakai kosmetik lebih tebal dari biasanya ditambah gaya pakaianku terlihat lebih profesional karena hari ini adalah hari istimewa bagiku.
Aku bergegas memasuki mobilku melajukan dengan kecepatan rata-rata menuju kantor. Beberapa menit kemudian setibanya di sana, aku memasuki kantorku tersenyum ceria sambil menyapa setiap orang yang berpapasan denganku. Ketika aku menaruh tas kerja di meja kerjaku, kedua teman dekatku menghampiriku sambil menatapku iri.
"Ehem! Yang hari ini sedang ulang tahun tumben cantik sekali penampilannya. Pasti kamu memakai kosmetik, kan, bedaknya terlihat dengan jelas tuh," ledek Tania dengan nada iri sambil menyipitkan mata curiga.
Aku tersipu malu menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Aku hanya iseng memakai kosmetik hari ini karena hari ini adalah hari yang spesial."
Sedangkan Nathan berlagak tidak mengenalku mendongakkan kepala tepat di hadapanku. "Ini siapa, ya? Kok terlihat sangat asing, ya?"
"Ish kalian berdua berlebihan sekali sih! Padahal wajahku terlihat sama saja seperti biasa," sungutku bibirku mengerucut.
Tania mencubit pipiku lembut. "Iya deh, pokoknya kamu sangat cantik hari ini. Jangan cemberut begitu nanti jadi tidak terlihat cantik lagi."
"Nanti malam kita makan malam bersama di "Peaceful Restaurant" untuk merayakan ulang tahunmu, 'kan?" tanya Nathan tersenyum licik.
Aku merangkul pundak mereka. "Iya tenang jadi kok, hari ini aku yang traktir kalian semua."
"Nanti aku dan Tania menyusul ke restorannya. Kami harus mengurus urusan dulu."
"Iya, tapi kalau kalian berdua datangnya lama, nanti kalian yang traktir makanannya," ancamku tersenyum licik sambil berkacak pinggang pada mereka berdua.
Malam harinya, aku menunggu sendirian di restoran sampai teman-temanku datang. Aku duduk termenung sambil terus mengamati sekelilingku karena mulai merasa bosan kalau hanya berdiam diri saja. Seandainya saja ada seseorang mendatangiku lebih awal, pasti aku tidak merasa kesepian. Saat ini aku hanya bisa mendesah lesu memanyunkan bibirku.
Tidak sampai lima menit menunggu, senyuman bahagia terukir pada wajahku memandangi sosok sahabat setiaku mendatangiku lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Aku tidak menyangka keinginanku terkabul secepat gini. Adrian menduduki kursi di sebelahku sambil memberikan sebuah paper bag untukku. Apalagi penampilannya hari ini terlihat sangat tampan membuat jantungku berdebar.
"Selamat ulang tahun sahabat setiaku, Penny. Ini hadiah dariku. Semoga kamu suka hadiahnya," ucapnya tersenyum manis padaku.
Senyumanku semakin mengambang seketika menerima paper bag darinya. "Wah terima kasih banyak, Adrian! Nanti saat Nathan dan Tania datang baru aku membukanya supaya adil."
"Omong-omong, hari ini penampilanmu cantik sekali, Penny," puji Adrian sedikit terdengar gugup mengatakannya.
Ini pertama kalinya aku mendengar kalimat pujian itu terdengar sangat manis di telingaku. Nada bicaranya bagaikan Adrian sedang memuji kecantikan kekasihnya sendiri. Padahal aku hanya sahabatnya meski kami sudah bersahabat cukup lama. Namun, tidak ada tanda-tanda ia sungguh memiliki perasaan istimewa terhadapku, tebakanku sejak awal memang benar, ia pasti sudah berpacaran dengan wanita lain.
Aku bertekad bulat jual mahal menganggap pujiannya itu hanya diberikan sebagai seorang sahabat. Meski terkadang aku tidak mengerti maksud perkataannya terkesan ambigu bagiku.
"Aduh hari ini kenapa semua orang berlebihan padaku! Padahal wajahku terlihat sama saja seperti biasa," keluhku tersipu malu sambil memegangi pipiku.
"Memang kamu hari ini cantik, Penny."
Senyumanku pasti semakin tidak karuan karena dipuji olehnya dua kali dalam waktu yang sama. Aku tidak terlalu berharap banyak. Yang pastinya aku sangat bahagia mendengar pujian dari sahabatku sendiri, seumur hidupku aku tidak pernah dipuji sampai berlebihan begini.
"Terima kasih, Adrian."
Mata kami saling bertemu dengan pandangan berbinar apalagi jarak kami terlihat berdekatan sekarang. Entah kenapa menatap senyumannya sekarang dan caranya memandangiku berbeda dari biasanya. Terutama tangan kanannya terus membelai rambutku lambat laun.
Tak lama kemudian, Tania dan Nathan mendatangiku merusak suasana sudah terlanjur manis. Mereka berdua menduduki kursi di hadapanku sambil menaruh sebuah paper bag berukuran besar di atas meja.
"Maaf Penny. Kamu pasti telah menunggu lama karena kami berdua mendatangiku lama," sesal Nathan bernapas tersengal-sengal sambil menyeka keringatnya menggunakan sapu tangannya.
"Tidak, ayo sekarang kita makan bersama!" sahutku.
"Oh iya, Penny ini hadiah dari aku dan Nathan. Tadi sebenarnya kami berdua pergi mencari hadiah untukmu." Tania menggeser paper bag untukku.
Aku mulai membuka bungkusan hadiah darinya. "Baiklah kalau begitu aku buka sekarang."
Di saat begini kedua temanku yang usil masih bisa mempersulitku. Mereka berdua membungkus kotak hadiah menggunakan lakban berlapis-lapis sehingga aku sulit membukanya. Setelah aku berhasil membukanya yang tidak terlalu menguras tenagaku banyak, ternyata isinya adalah topi dan jaket denim.
Aku langsung memeluk mereka sekilas. "Wah terima kasih banyak, kalian memang teman terbaikku!"
Bibir Adrian memanyun. "Aku punya juga dibuka dong."
"Aku tidak mungkin lupa. Sekarang aku ingin membuka hadiah istimewa dari sahabat setiaku," balasku membuka hadiah dari Adrian.
Di dalam paper bag hanya ada sebuah kotak kecil yang terlihat mewah. Dengan sigap aku langsung membuka kotaknya berdecak kagum memandangi isi kotaknya adalah sebuah jam tangan mahal asli. Apalagi sejak dulu aku sangat menginginkan model jam tangan ini. Tangan kananku terus meraba tali jam tangan ini terbuat dari bahan kulit mahal berkualitas tinggi.
"Adrian, kamu sungguh memberikan jam tangan asli untukku?"
"Iya, ini kubelikan spesial untukmu," jawabnya santai.
Aku memeluknya girang. "Pasti sangat mahal, terima kasih, Adrian. Akan kupakai terus setiap harinya. Ini sungguh hadiah ulang tahunku yang terbaik di antara semua!"
"Wah, jam tangannya dipasang alat pelacak lagi tidak tuh!" sindir Nathan tertawa puas.
"Ish untuk apa aku pasang alat pelacak lagi!" sungut Adrian bibirnya mengerucut.
Aku langsung memakai jam tangan pemberian spesial dari Adrian pada tangan kiriku lalu memperlihatkan kepada mereka.
"Jam tangannya memang sangat cocok untukmu, Penny," puji Tania.
"Kamu terlihat keren, Penny," puji Nathan mengacungkan jempolnya padaku.
"Aku memang tidak salah memilihnya untukmu. Kamu semakin terlihat sempurna," puji Adrian dengan pandangan berbinar.
"Aku akan merawat jam tangan ini dengan baik sampai seterusnya," balasku tersenyum sendiri sambil menatap jam tangannya terus.
Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba pemilik restoran ini menghampiriku dan memberiku sepotong kue.
"Selamat ulang tahun pelanggan setia restoran saya. Sebagai bentuk aspirasi karena Anda sering berkunjung ke sini maka saya memberikan Anda hadiah sepotong kue ini. Saya harap Anda menyukainya," ucap pemilik restoran ramah.
"Terima kasih banyak, Pak. Kuenya sangat enak, saya suka sekali," balasku sopan sambil mencicipi kue.
"Selama ini saya belum perkenalkan diri. Nama saya Colin," ucap Pak Colin berjabat tangan denganku.
"Saya Penny, senang berkenal dengan Anda. Bapak bisa bergabung dengan kami makan bersama," ujarku dengan ramah.
"Baiklah, saya akan bergabung dengan kalian."
Setelah berbincang cukup lama, aku berpamitan dengan teman-temanku dan Pak Colin. Setibanya di rumahku, aku menemukan sebuah kotak tepat di depan rumahku yang tertulis:
"Selamat ulang tahun, Detektif Penny."
Ini terlihat sangat aneh. Kotak misterius itu tidak tertulis nama pengirimnya. Dengan penuh penasaran aku membuka kotak itu dan isinya hanya ada selembar kertas saja dan isinya adalah...
"Ini masih belum berakhir, pertempuran sebenarnya baru mulai."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Ridho Talita
lanjut...lanjuut
2021-07-13
1
Deazy Tirana
Waduhhh2....Cp tuchh🤔
2021-04-29
1
nanni02😜😺
aduh jgn" si rey udah bebas nih dari penjara
2021-04-05
1