Part 15 - Best Gift Ever

Di dalam ruang interogasi, suasana sudah mulai tegang dan aku mulai fokus dengan interogasinya. Biasanya di kantor itu kuanggap Ray sebagai rekanku tapi sekarang aku menganggapnya sebagai musuh terbesarku.

"Tanggal 12 Januari 2020, korban yang bernama Alya ditemukan tidak bernyawa di pinggir sungai dan di rekaman dasbor terekam dua orang yang sedang berbicara di sekitar TKP. Apakah benar Anda adalah salah satu dari mereka?" selidikku menggunakan bahasa formal sambil menunjukkan rekamannya.

"Iya, itu saya ada di sana," jawab Ray berwajah datar.

"Lalu korban yang bernama Bastian merupakan orang yang ingin bertemu dengan saya dan sedang menuju ke kantor polisi kemudian ditusuk tiba-tiba, apakah itu ulah Anda lagi?" tanyaku lagi.

Ray memukuli meja kasar. "SUDAH SAYA BILANG, BUKAN SAYA YANG MEMBUNUHNYA! TAPI DARREN YANG MEMBUNUHNYA! SAYA HANYA MENYURUH DIA LAKUKAN APA SAJA."

"MENYURUH SAMA SAJA DENGAN MELAKUKAN!" teriakku balik sangat geram padanya sambil mengepalkan tanganku.

"INI SEMUA SALAH MANTAN PACAR ANDA YANG BODOH JADI SAYA TERTANGKAP!" bentak Ray memelototiku tajam.

Aku memukuli meja menggunakan tumpukan berkas beberapa kali. "Harap tenang! Ini ruang interogasi, jangan berteriak dengan keras!"

"Lihat saja! Saya tidak akan membusuk di penjara seumur hidup!"

Sebenarnya ada satu hal yang ingin kupastikan lagi persoalan kasus aku diteror beberapa hari lalu. Kalau sampai Ray sungguh mengaku, aku akan pastikan akan menyimpan dendam seumur hidupku. "Satu pertanyaan lagi, kotak yang berisi mayat burung, apakah Anda yang mengirimkannya pada saya?"

"Saya lelah menjawab pertanyaan dari Anda yang banyak, kalau mau menangkap saya silakan."

"Kalau Anda tidak menjawabnya berarti Anda yang mengirimkan kotaknya pada saya. Mari kita akhiri interogasinya sampai di sini." Aku membereskan semua peralatanku lalu meninggalkan ruang interogasi.

Di luar ruang interogasi, aku disambut Nathan dan Tania yang sedang menungguku dari tadi.

"Apakah interogasinya berjalan lancar?" tanya Tania.

Aku tersenyum percaya diri. "Iya, dia mengakui semua tindakannya. Dia tidak akan pernah lolos lagi karena kita sudah mendapatkan bukti yang akurat."

Nathan menghembuskan napas lesu. "Aku masih tidak rela dengan kenyataan ini."

"Aku ke rumah sakit dulu, ya. Aku ingin menjenguk Adrian lagi," pamitku meninggalkan mereka berdua.

Sebelum pergi ke rumah sakit, aku mengambil powerbank di meja kerjaku. Lalu aku melihat sekelompok orang dari kejaksaan yang sedang menyita barang-barang di meja Ray hingga kosong. Kini suasananya sangat berbeda, sekarang meja itu sangat kosong dan tidak ada kehadiran orang lagi. Kemudian aku berjalan keluar kantor polisi dan melihat Ray sedang berjalan dikawal beberapa petugas polisi untuk dibawa ke penjara.

Setibanya di rumah sakit, aku bergegas memasuki kamar Adrian lalu melihatnya yang sedang serius membaca berkas kasus. Melihat dirinya meski berpenampilan memakai seragam pasien sudah membuatku memukau. Dalam kondisi apa pun, wajah tampannya selalu menawan terutama saat sedang serius.

Aku menempati kursi di samping ranjang. "Kamu sedang apa? Bukankah kamu harus beristirahat?"

"Aku sedang menelusuri kasus ayahku. Aku baik-baik saja sekarang, tubuhku sudah tidak lemah lagi," jawabnya santai sambil menutup map dipegangnya.

"Kamu masih mencari tahu mengenai kasus ayahmu? Aku salut padamu yang tidak menyerah demi ayahmu, apalagi di saat kamu masih sakit begini."

Adrian merapikan semua berkas kasus di meja samping ranjang. "Omong-omong, tadi kamu interogasi Ray apakah dia mengakui perbuatannya?"

"Dia sih tadi bilang bukan dia yang membunuhnya, tapi tetap saja karena kita memiliki bukti bahwa dia yang menyuruh Darren untuk membunuh, dia tidak akan bisa lolos lagi."

Adrian tertawa puas. "Baguslah. Berarti sekarang semuanya sudah berakhir. Akhirnya beban kita berkurang juga."

"Aku juga bisa tidur nyenyak di rumah, tidak usah bekerja lembur lagi dan tidak usah menghadapi bahaya lagi," tambahku sangat girang sekarang.

Satu tahun kemudian...

Situasi di kota Magnolia sejak kasus pembunuhan itu berakhir sampai sekarang masih tetap dalam kondisi damai. Ray divonis hukuman penjara seumur hidup. Masyarakat di sana seperti biasa menjalankan aktivitasnya dengan penuh sukacita. Terutama aku yang kembali seperti dulu lagi menjadi kebo yang suka dimarahi ibu setiap pagi.

"Pagi anak nakal. Waktunya bangun, ini sudah jam berapa! Kamu ini dari dulu sampai sekarang sama saja tidak berubah sifat malasnya!" gerutu ibu memukuli lengan kiriku.

Aku mengucek mataku bermalasan dan menguap dibalik selimut. "Hoam. Aduh ibu beri aku waktu lima menit saja untuk tidur lagi! Aku masih ngantuk nih."

"Ya sudah. Kalau begitu ibu makan porsi makananmu. Padahal ibu masak makanan kesukaanmu karena hari ini adalah hari ulang tahunmu," ancam ibu tersenyum licik.

Mataku langsung terbuka lebar. Aku bergegas memposisikan tubuhku menduduki ranjang. Betapa bodohnya aku melupakan hari ulang tahunku sendiri. "Astaga ibu! Kenapa tidak bilang padaku dari awal bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku! Aku harus bersiap-siap dulu secepatnya."

"Kamu sendiri saja yang malas. Ya sudah, ibu menunggumu di ruang makan."

Sedangkan aku tidak ingin berdiam diri lalu bergegas beranjak dari ranjang berlari menuju kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke kantor. Penampilanku saat ini sudah sempurna karena aku memakai kosmetik lebih tebal dari biasanya ditambah gaya pakaianku terlihat lebih profesional karena hari ini adalah hari istimewa bagiku.

Aku bergegas memasuki mobilku melajukan dengan kecepatan rata-rata menuju kantor. Beberapa menit kemudian setibanya di sana, aku memasuki kantorku tersenyum ceria sambil menyapa setiap orang yang berpapasan denganku. Ketika aku menaruh tas kerja di meja kerjaku, kedua teman dekatku menghampiriku sambil menatapku iri.

"Ehem! Yang hari ini sedang ulang tahun tumben cantik sekali penampilannya. Pasti kamu memakai kosmetik, kan, bedaknya terlihat dengan jelas tuh," ledek Tania dengan nada iri sambil menyipitkan mata curiga.

Aku tersipu malu menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Aku hanya iseng memakai kosmetik hari ini karena hari ini adalah hari yang spesial."

Sedangkan Nathan berlagak tidak mengenalku mendongakkan kepala tepat di hadapanku. "Ini siapa, ya? Kok terlihat sangat asing, ya?"

"Ish kalian berdua berlebihan sekali sih! Padahal wajahku terlihat sama saja seperti biasa," sungutku bibirku mengerucut.

Tania mencubit pipiku lembut. "Iya deh, pokoknya kamu sangat cantik hari ini. Jangan cemberut begitu nanti jadi tidak terlihat cantik lagi."

"Nanti malam kita makan malam bersama di "Peaceful Restaurant" untuk merayakan ulang tahunmu, 'kan?" tanya Nathan tersenyum licik.

Aku merangkul pundak mereka. "Iya tenang jadi kok, hari ini aku yang traktir kalian semua."

"Nanti aku dan Tania menyusul ke restorannya. Kami harus mengurus urusan dulu."

"Iya, tapi kalau kalian berdua datangnya lama, nanti kalian yang traktir makanannya," ancamku tersenyum licik sambil berkacak pinggang pada mereka berdua.

Malam harinya, aku menunggu sendirian di restoran sampai teman-temanku datang. Aku duduk termenung sambil terus mengamati sekelilingku karena mulai merasa bosan kalau hanya berdiam diri saja. Seandainya saja ada seseorang mendatangiku lebih awal, pasti aku tidak merasa kesepian. Saat ini aku hanya bisa mendesah lesu memanyunkan bibirku.

Tidak sampai lima menit menunggu, senyuman bahagia terukir pada wajahku memandangi sosok sahabat setiaku mendatangiku lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Aku tidak menyangka keinginanku terkabul secepat gini. Adrian menduduki kursi di sebelahku sambil memberikan sebuah paper bag untukku. Apalagi penampilannya hari ini terlihat sangat tampan membuat jantungku berdebar.

"Selamat ulang tahun sahabat setiaku, Penny. Ini hadiah dariku. Semoga kamu suka hadiahnya," ucapnya tersenyum manis padaku.

Senyumanku semakin mengambang seketika menerima paper bag darinya. "Wah terima kasih banyak, Adrian! Nanti saat Nathan dan Tania datang baru aku membukanya supaya adil."

"Omong-omong, hari ini penampilanmu cantik sekali, Penny," puji Adrian sedikit terdengar gugup mengatakannya.

Ini pertama kalinya aku mendengar kalimat pujian itu terdengar sangat manis di telingaku. Nada bicaranya bagaikan Adrian sedang memuji kecantikan kekasihnya sendiri. Padahal aku hanya sahabatnya meski kami sudah bersahabat cukup lama. Namun, tidak ada tanda-tanda ia sungguh memiliki perasaan istimewa terhadapku, tebakanku sejak awal memang benar, ia pasti sudah berpacaran dengan wanita lain.

Aku bertekad bulat jual mahal menganggap pujiannya itu hanya diberikan sebagai seorang sahabat. Meski terkadang aku tidak mengerti maksud perkataannya terkesan ambigu bagiku.

"Aduh hari ini kenapa semua orang berlebihan padaku! Padahal wajahku terlihat sama saja seperti biasa," keluhku tersipu malu sambil memegangi pipiku.

"Memang kamu hari ini cantik, Penny."

Senyumanku pasti semakin tidak karuan karena dipuji olehnya dua kali dalam waktu yang sama. Aku tidak terlalu berharap banyak. Yang pastinya aku sangat bahagia mendengar pujian dari sahabatku sendiri, seumur hidupku aku tidak pernah dipuji sampai berlebihan begini.

"Terima kasih, Adrian."

Mata kami saling bertemu dengan pandangan berbinar apalagi jarak kami terlihat berdekatan sekarang. Entah kenapa menatap senyumannya sekarang dan caranya memandangiku berbeda dari biasanya. Terutama tangan kanannya terus membelai rambutku lambat laun.

Tak lama kemudian, Tania dan Nathan mendatangiku merusak suasana sudah terlanjur manis. Mereka berdua menduduki kursi di hadapanku sambil menaruh sebuah paper bag berukuran besar di atas meja.

"Maaf Penny. Kamu pasti telah menunggu lama karena kami berdua mendatangiku lama," sesal Nathan bernapas tersengal-sengal sambil menyeka keringatnya menggunakan sapu tangannya.

"Tidak, ayo sekarang kita makan bersama!" sahutku.

"Oh iya, Penny ini hadiah dari aku dan Nathan. Tadi sebenarnya kami berdua pergi mencari hadiah untukmu." Tania menggeser paper bag untukku.

Aku mulai membuka bungkusan hadiah darinya. "Baiklah kalau begitu aku buka sekarang."

Di saat begini kedua temanku yang usil masih bisa mempersulitku. Mereka berdua membungkus kotak hadiah menggunakan lakban berlapis-lapis sehingga aku sulit membukanya. Setelah aku berhasil membukanya yang tidak terlalu menguras tenagaku banyak, ternyata isinya adalah topi dan jaket denim.

Aku langsung memeluk mereka sekilas. "Wah terima kasih banyak, kalian memang teman terbaikku!"

Bibir Adrian memanyun. "Aku punya juga dibuka dong."

"Aku tidak mungkin lupa. Sekarang aku ingin membuka hadiah istimewa dari sahabat setiaku," balasku membuka hadiah dari Adrian.

Di dalam paper bag hanya ada sebuah kotak kecil yang terlihat mewah. Dengan sigap aku langsung membuka kotaknya berdecak kagum memandangi isi kotaknya adalah sebuah jam tangan mahal asli. Apalagi sejak dulu aku sangat menginginkan model jam tangan ini. Tangan kananku terus meraba tali jam tangan ini terbuat dari bahan kulit mahal berkualitas tinggi.

"Adrian, kamu sungguh memberikan jam tangan asli untukku?"

"Iya, ini kubelikan spesial untukmu," jawabnya santai.

Aku memeluknya girang. "Pasti sangat mahal, terima kasih, Adrian. Akan kupakai terus setiap harinya. Ini sungguh hadiah ulang tahunku yang terbaik di antara semua!"

"Wah, jam tangannya dipasang alat pelacak lagi tidak tuh!" sindir Nathan tertawa puas.

"Ish untuk apa aku pasang alat pelacak lagi!" sungut Adrian bibirnya mengerucut.

Aku langsung memakai jam tangan pemberian spesial dari Adrian pada tangan kiriku lalu memperlihatkan kepada mereka.

"Jam tangannya memang sangat cocok untukmu, Penny," puji Tania.

"Kamu terlihat keren, Penny," puji Nathan mengacungkan jempolnya padaku.

"Aku memang tidak salah memilihnya untukmu. Kamu semakin terlihat sempurna," puji Adrian dengan pandangan berbinar.

"Aku akan merawat jam tangan ini dengan baik sampai seterusnya," balasku tersenyum sendiri sambil menatap jam tangannya terus.

Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba pemilik restoran ini menghampiriku dan memberiku sepotong kue.

"Selamat ulang tahun pelanggan setia restoran saya. Sebagai bentuk aspirasi karena Anda sering berkunjung ke sini maka saya memberikan Anda hadiah sepotong kue ini. Saya harap Anda menyukainya," ucap pemilik restoran ramah.

"Terima kasih banyak, Pak. Kuenya sangat enak, saya suka sekali," balasku sopan sambil mencicipi kue.

"Selama ini saya belum perkenalkan diri. Nama saya Colin," ucap Pak Colin berjabat tangan denganku.

"Saya Penny, senang berkenal dengan Anda. Bapak bisa bergabung dengan kami makan bersama," ujarku dengan ramah.

"Baiklah, saya akan bergabung dengan kalian."

Setelah berbincang cukup lama, aku berpamitan dengan teman-temanku dan Pak Colin. Setibanya di rumahku, aku menemukan sebuah kotak tepat di depan rumahku yang tertulis:

"Selamat ulang tahun, Detektif Penny."

Ini terlihat sangat aneh. Kotak misterius itu tidak tertulis nama pengirimnya. Dengan penuh penasaran aku membuka kotak itu dan isinya hanya ada selembar kertas saja dan isinya adalah...

"Ini masih belum berakhir, pertempuran sebenarnya baru mulai."

Terpopuler

Comments

Ridho Talita

Ridho Talita

lanjut...lanjuut

2021-07-13

1

Deazy Tirana

Deazy Tirana

Waduhhh2....Cp tuchh🤔

2021-04-29

1

nanni02😜😺

nanni02😜😺

aduh jgn" si rey udah bebas nih dari penjara

2021-04-05

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!