Part 12 - Teror

Aku tersentak hingga tubuhku hampir terjatuh ke belakang ketika membuka isi dari kotak misterius ini. Aku terus menggigit bibirku dan menelan salivaku berat. Sambil memandangi isi kotaknya lagi sekilas, tubuhku terjatuh lemas di lantai hingga rasanya aku ingin berteriak menjerit seperti di film horror. Untungnya ibu sedang pergi ke luar kota sehingga tidak mungkin mengetahui kejadian sekarang. Namun di sisi lain juga sebenarnya aku sangat ketakutan ingin seseorang menemaniku saat ini.

Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Dengan sigap aku mengambil ponselku dari saku jaketku untuk menghubungi Adrian. Saat ini hanya Adrian yang satu-satunya bisa menemaniku.

"Halo, Penny. Ada apa?" tanya Adrian lewat telepon.

Aku menelan salivaku ketakutan. "Ada ... yang menerorku. Aku ketakutan ... sekarang di rumah."

"Baiklah aku segera ke sana. Tetaplah di sana, jangan ke mana-mana." Suara Adrian terdengar sangat panik lewat telepon.

Panggilan telepon dimatikan Adrian langsung. Tubuhku masih tidak berdaya, aku menunggu kedatangannya dalam kondisi duduk bersandar lemas pada tembok di lantai.

Sudah beberapa menit telah berjalan, aku masih setia menunggu kedatangannya dekat pintu sambil menopang daguku pada kedua lutut.

Ding...dong...

Terdengar suara bel rumahku dengan nyaring sekaligus ketukan pintu tiba-tiba.

"Penny, ini aku Adrian!" pekik Adrian dari luar terdengar sangat panik.

Senyuman tipis kembali terukir pada wajahku. Akhirnya seseorang yang kutunggu dari tadi mendatangiku juga. Dengan sigap aku membangkitkan tubuhku bergegas membukakan pintu untuk Adrian. Saat aku menyambut kedatangannya, wajahnya terlihat sangat cemas saat melihatku dan napasnya tersengal-sengal seperti melakukan lari marathon walaupun ia mengendarai mobilnya ke sini.

Adrian memasuki rumahku dengan lincah, tangan kanannya langsung menyentuh area wajahku. "Penny, apa yang terjadi sebenarnya? Kamu terluka?"

Aku merinding ketakutan sambil menunjuk kotak dalam kondisi terbuka. "Tadi aku dapat paket misterius tiba-tiba. Karena aku penasaran maka dari itu aku membuka kotaknya dan ternyata isinya itu."

Dengan sigap Adrian memakai sarung tangan karet lalu mengambil kotak dan memeriksa keseluruhan isi kotak misterius. Namun setelah diperiksa penuh ketelitian, tidak ditemukan catatan atau kertas apa pun yang ditinggalkan pelaku.

Sekilas aku menatapnya dari belakang dengan pandangan gugup. "Pasti tidak ada sesuatu semacam catatan di sana, 'kan?"

Adrian menggeleng lesu. "Sudah kuperiksa tidak ada. Isinya hanya bangkai burung saja. Besok kamu harus lapor masalah ini yang menimpamu."

"Aku berharap bukan Ray pelakunya. Ray tidak mungkin melakukan hal begini."

Adrian melepas sarung tangannya, menggenggam sepasang tanganku sambil mengelus lambat laun. "Kamu jangan memikirkan hal lain dulu. Lebih baik kamu tenang dulu karena aku mengamatimu dari tadi tanganmu gemetar dan berkeringat dingin."

Tidak kusangka Adrian memerhatikanku sampai berlebihan. Awalnya kukira mungkin ia tidak akan memedulikanku, ternyata ekspektasiku berbeda dengan realita.

"Aku masih trauma karena kejadian yang menimpaku belakangan ini terus-menerus, terutama hari ini," ucapku semakin gemetar dan keringat dingin.

Adrian menggandeng tanganku menuntunku menduduki sofa ruang tamu. Kami duduk di sofa dengan jarak berdekatan, tapi rasanya aku masih belum bisa tenang.

"Coba kamu tarik napas pelan-pelan, lalu buang secara perlahan. Setelah itu kepalkan tanganmu coba mengetuk meja secara perlahan dan berirama. Pasti dijamin kamu langsung terasa tenang," usul Adrian sambil memperagakkannya padaku.

Aku langsung mencoba mengikuti metode yang diajarkannya barusan. Baru melakukannya, kini aku merasa lebih tenang dari sebelumnya. Tubuhku tidak lemas lagi dan bisa bernapas lega. Memang masalah ini, Adrian yang terbaik mencari solusi untukku.

Berkat Adrian, aku bisa tersenyum lagi. Tidak peduli ia merasa tidak nyaman, aku ingin menunjukkan rasa kebahagiaanku dengan memeluknya erat. "Terima kasih telah menenangkanku, Adrian. Sekarang aku merasa jauh lebih baik."

Aku mengira Adrian akan merasa tidak nyaman. Justru ia sengaja semakin mempererat pelukan mengelus kepalaku. "Aku hanya sekadar membantu. Syukurlah kalau metode yang aku ajarkan sangat efektif untukmu."

"Lain kali kalau pikiranku tidak tenang lagi, pasti aku akan menggunakan metode ini seterusnya."

Adrian menatap arloji mahal miliknya dengan lesu. Melihat hari semakin malam, terpaksa ia mengakhiri perbincangan ini sambil mengambil kotak itu. "Lebih baik kamu beristirahat dulu saja. Besok pagi kita baru mengurus benda ini. Aku bawa saja benda ini supaya kamu tidak ketakutan lagi."

"Baiklah. Selamat malam, Adrian, sampai bertemu besok," ucapku tersenyum hangat padanya.

"Sebenarnya aku ingin menemanimu sepanjang malam."

Suasana semakin canggung. Adrian menyadari dirinya keceplosan langsung berdeham sambil menepuk jidat dengan panik. "Maksudku--"

Aku berpura-pura tidak tahu apa pun. Sebenarnya aku juga merasa canggung karena ucapannya baru saja. "Kamu tidak perlu menemaniku. Aku bisa sendirian."

Aku hanya bisa melihat ekspresinya pasrah.

"Baiklah, Penny. Aku pulang dulu, ya. Ingat kamu tidak boleh sembarang buka pintu untuk orang lain, termasuk polisi."

"Iya, aku tahu. Selamat malam, Adrian."

"Selamat malam juga, Penny," balasnya sambil melambaikan tangan dan meninggalkan rumahku.

Saat aku sedang tertidur, tiba-tiba aku bermimpi aneh. Aku melihat Ray sedang berjalan dan menghampiriku lalu menusukku dengan pisau secara berulang kali.

"Mati, Penny!" umpat Ray dalam mimpiku.

Aku langsung terbangun dan ternyata sudah pagi. Dalam mimpiku, Ray sangat kejam padaku dan membunuhku tanpa berpikir panjang. Rasa sakit di dalam mimpi itu masih terasa sampai sekarang. Gara-gara mimpi aneh itu sekarang tubuhku penuh dengan keringat dingin dan tidak bertenaga. Aku harap itu mimpi saja, jangan sampai jadi kenyataan.

Saat di kantor polisi, aku berjalan lemas dan pikiranku masih terusik dengan mimpi buruk itu.

Melihat tingkahku tidak seperti biasanya, Tania langsung menghampiriku dengan wajah cemas. "Penny, kamu tidak apa-apa? Apakah kamu terluka? Aku dengar dari Jaksa Adrian bahwa kamu diteror semalam."

"Aku tidak terluka. Hanya saja itu mengagetkanku dan menakutiku," balasku berlagak percaya diri.

Bola mata Nathan terbelalak. "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ada orang yang berani menerormu? Apakah Ray menyimpan dendam padamu?"

"Ray tidak mungkin melakukan hal semacam ini," tuturku tegas.

Sontak pada saat bersamaan, Adrian menghampiriku. "Aku sudah melaporkan hal ini dan kotaknya sudah kuserahkan pada tim forensik untuk memeriksa sidik jari pelaku."

"Baiklah, terima kasih banyak Adrian telah membantuku terus," ucapku tersenyum ramah padanya.

"Aku hanya sekadar membantu sahabatku saja karena jika sahabat sedang kesulitan, aku harus membantunya."

Sebenarnya aku masih penasaran dengan Adrian. Padahal aku hanya sahabatnya, tapi ia membantuku banyak. Aku hanya bisa tersenyum ramah saja, menandakan bahwa aku sangat menyukai dirinya yang selalu mencemaskanku.

"Kamu banyak membantuku, Adrian."

"Kalau begitu aku pergi dulu, ya," pamit Adrian sambil menepuk pundakku lalu melambaikan tangannya padaku.

"Hati-hati di jalan," balasku sambil melambaikan tangan padanya.

Setelah Adrian pergi, aku langsung menyuruh rekan timku untuk berkumpul di ruang rapat.

"Apakah kamu menemukan ibunya Ray?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikan sambil menatap Tania.

"Kemarin aku pergi ke rumah sakit dan di sana memang ada ibunya Ray di ruang inap. Setelah aku mengecek ternyata Ray belakangan ini tidak mengunjungi ibunya selama dua minggu," jawab Tania berwajah serius mengerutkan dahinya.

Aku mengepalkan tangan kananku. "Berarti dia selama ini membohongiku kita semua bahwa dia harus pergi ke rumah sakit."

"Selama ini dia izin keluar sebentar karena ingin berbicara dengan Darren." Tania berpikir keras sambil bertopang dagu.

"Coba kita cek CCTV di sepanjang jalan, siapa tahu dia terlihat di CCTV!" usul Nathan dengan ide cemerlangnya.

Saat kami sedang memeriksa rekaman CCTV di jalan, tidak ada satu pun CCTV yang menampakkan Ray sedang berjalan melewati area ini. Aku dan rekan timku telah memeriksa ke berbagai tempat pemantauan CCTV namun tidak ada satu pun tanda-tanda kehadiran Ray.

"Aduh, sepertinya mustahil mencari dia lewat pemantauan rekaman CCTV!" keluh Nathan menggarukkan kepalanya kesal.

"Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat di tempat tidak ada kamera CCTV," tukas Tania berspekulasi.

"Iya, bisa juga karena saat ini dia adalah buronan yang sedang dicari. Pasti dia menghindar kamera CCTV dan mencari tempat yang sepi serta tidak ada patroli polisi," lanjutku berspekulasi cerdas hingga dahiku berkerut.

"Bagaimana kalau kita carinya berpencar? Menurut di peta kota ini, ada beberapa tempat pergudangan kosong yang di sekitar sana tidak ada kamera CCTV dan jarang dilalui oleh banyak orang," usul Nathan terlihat jenius.

"Boleh juga tuh, mari kita berpencar mencari dia sekarang!" ajakku penuh antusias.

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu," pamit Nathan bergegas meninggalkanku dan Tania.

"Mau ke minimarket sebentar, Penny? Seperti biasa kamu harus menemaniku," ajak Tania tertawa kecil.

Aku mengangguk sambil merangkul pundaknya. "Boleh nih sambil beli beberapa camilan."

Saat berbelanja di minimarket, aku melihat Tania membeli banyak camilan sambil menggelengkan kepalaku. Padahal tubuhnya kurus dan kecil tapi bisa makan banyak. Sedangkan aku hanya membeli roti dan susu saja.

"Kamu beli ini saja?" tanya Tania bingung.

"Iya. Biasanya kalau aku mengintai orang belinya hanya ini saja," jawabku santai.

"Kalau aku menjadi dirimu sepertinya tidak akan kenyang hanya makan itu. Aku harus makan banyak supaya energi tubuhku terisi." Tania tertawa puas sambil menghampiri kasir.

"Dasar wanita rakus! Aku pergi duluan ya karena sudah selesai berbelanja. Kamu harus hati-hati ya," pamitku menepuk pundaknya sekilas.

Aku mengunjungi tempat di mana hanya gudang kosong saja dalam kondisi gelap seperti ini dan tidak ada satu pun orang yang melewati area ini. Semakin aku berjalan, tubuhku rasanya sangat merinding dan kakiku gemetar. Tapi biar gimana pun, aku harus tetap kuat untuk menghadapinya karena aku ini seorang detektif walaupun suasana sekarang seperti di film horror dan sebenarnya aku masih belum berpengalaman banyak.

drrt...drrt...

Ponselku tiba-tiba berbunyi di saat kondisi sunyi begini membuatku mengelus dada. Aku menghentikan langkahku sejenak sambil mengambil ponsel dari saku jaketku. Ternyata Adrian yang menghubungiku.

"Penny, aku sudah dihubungi tim forensik katanya kotak itu tidak ditemukan sidik jari. Maaf telah memberi tahu berita buruk kepadamu," kata Adrian lewat telepon.

"Tidak apa-apa, Adrian. Pasti pelakunya menggunakan sarung tangan sehingga sidik jarinya tidak dapat terdeteksi."

PLAKKK

Tiba-tiba ada seseorang yang memukulku dengan keras dari belakang. Kepalaku langsung pusing hingga tubuhku terjatuh ke tanah. Tatapanku sangat buram sehingga tidak bisa mengamati sekelilingku.

"Halo Penny? Ada apa denganmu? Kamu di mana?"

Aku hanya bisa mendengar suara Adrian sangat panik lewat telepon saja. Bahkan aku tidak sanggup menjawabnya lagi hingga kedua mataku terpejam perlahan.

Terpopuler

Comments

Ridho Talita

Ridho Talita

siapa tuh..jd penisirin

2021-07-10

1

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

nah lo... tp detektifnya agak penakut ya..

2021-04-30

1

Dhina ♑

Dhina ♑

#239

2021-03-23

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!