Aku tersentak hingga tubuhku hampir terjatuh ke belakang ketika membuka isi dari kotak misterius ini. Aku terus menggigit bibirku dan menelan salivaku berat. Sambil memandangi isi kotaknya lagi sekilas, tubuhku terjatuh lemas di lantai hingga rasanya aku ingin berteriak menjerit seperti di film horror. Untungnya ibu sedang pergi ke luar kota sehingga tidak mungkin mengetahui kejadian sekarang. Namun di sisi lain juga sebenarnya aku sangat ketakutan ingin seseorang menemaniku saat ini.
Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Dengan sigap aku mengambil ponselku dari saku jaketku untuk menghubungi Adrian. Saat ini hanya Adrian yang satu-satunya bisa menemaniku.
"Halo, Penny. Ada apa?" tanya Adrian lewat telepon.
Aku menelan salivaku ketakutan. "Ada ... yang menerorku. Aku ketakutan ... sekarang di rumah."
"Baiklah aku segera ke sana. Tetaplah di sana, jangan ke mana-mana." Suara Adrian terdengar sangat panik lewat telepon.
Panggilan telepon dimatikan Adrian langsung. Tubuhku masih tidak berdaya, aku menunggu kedatangannya dalam kondisi duduk bersandar lemas pada tembok di lantai.
Sudah beberapa menit telah berjalan, aku masih setia menunggu kedatangannya dekat pintu sambil menopang daguku pada kedua lutut.
Ding...dong...
Terdengar suara bel rumahku dengan nyaring sekaligus ketukan pintu tiba-tiba.
"Penny, ini aku Adrian!" pekik Adrian dari luar terdengar sangat panik.
Senyuman tipis kembali terukir pada wajahku. Akhirnya seseorang yang kutunggu dari tadi mendatangiku juga. Dengan sigap aku membangkitkan tubuhku bergegas membukakan pintu untuk Adrian. Saat aku menyambut kedatangannya, wajahnya terlihat sangat cemas saat melihatku dan napasnya tersengal-sengal seperti melakukan lari marathon walaupun ia mengendarai mobilnya ke sini.
Adrian memasuki rumahku dengan lincah, tangan kanannya langsung menyentuh area wajahku. "Penny, apa yang terjadi sebenarnya? Kamu terluka?"
Aku merinding ketakutan sambil menunjuk kotak dalam kondisi terbuka. "Tadi aku dapat paket misterius tiba-tiba. Karena aku penasaran maka dari itu aku membuka kotaknya dan ternyata isinya itu."
Dengan sigap Adrian memakai sarung tangan karet lalu mengambil kotak dan memeriksa keseluruhan isi kotak misterius. Namun setelah diperiksa penuh ketelitian, tidak ditemukan catatan atau kertas apa pun yang ditinggalkan pelaku.
Sekilas aku menatapnya dari belakang dengan pandangan gugup. "Pasti tidak ada sesuatu semacam catatan di sana, 'kan?"
Adrian menggeleng lesu. "Sudah kuperiksa tidak ada. Isinya hanya bangkai burung saja. Besok kamu harus lapor masalah ini yang menimpamu."
"Aku berharap bukan Ray pelakunya. Ray tidak mungkin melakukan hal begini."
Adrian melepas sarung tangannya, menggenggam sepasang tanganku sambil mengelus lambat laun. "Kamu jangan memikirkan hal lain dulu. Lebih baik kamu tenang dulu karena aku mengamatimu dari tadi tanganmu gemetar dan berkeringat dingin."
Tidak kusangka Adrian memerhatikanku sampai berlebihan. Awalnya kukira mungkin ia tidak akan memedulikanku, ternyata ekspektasiku berbeda dengan realita.
"Aku masih trauma karena kejadian yang menimpaku belakangan ini terus-menerus, terutama hari ini," ucapku semakin gemetar dan keringat dingin.
Adrian menggandeng tanganku menuntunku menduduki sofa ruang tamu. Kami duduk di sofa dengan jarak berdekatan, tapi rasanya aku masih belum bisa tenang.
"Coba kamu tarik napas pelan-pelan, lalu buang secara perlahan. Setelah itu kepalkan tanganmu coba mengetuk meja secara perlahan dan berirama. Pasti dijamin kamu langsung terasa tenang," usul Adrian sambil memperagakkannya padaku.
Aku langsung mencoba mengikuti metode yang diajarkannya barusan. Baru melakukannya, kini aku merasa lebih tenang dari sebelumnya. Tubuhku tidak lemas lagi dan bisa bernapas lega. Memang masalah ini, Adrian yang terbaik mencari solusi untukku.
Berkat Adrian, aku bisa tersenyum lagi. Tidak peduli ia merasa tidak nyaman, aku ingin menunjukkan rasa kebahagiaanku dengan memeluknya erat. "Terima kasih telah menenangkanku, Adrian. Sekarang aku merasa jauh lebih baik."
Aku mengira Adrian akan merasa tidak nyaman. Justru ia sengaja semakin mempererat pelukan mengelus kepalaku. "Aku hanya sekadar membantu. Syukurlah kalau metode yang aku ajarkan sangat efektif untukmu."
"Lain kali kalau pikiranku tidak tenang lagi, pasti aku akan menggunakan metode ini seterusnya."
Adrian menatap arloji mahal miliknya dengan lesu. Melihat hari semakin malam, terpaksa ia mengakhiri perbincangan ini sambil mengambil kotak itu. "Lebih baik kamu beristirahat dulu saja. Besok pagi kita baru mengurus benda ini. Aku bawa saja benda ini supaya kamu tidak ketakutan lagi."
"Baiklah. Selamat malam, Adrian, sampai bertemu besok," ucapku tersenyum hangat padanya.
"Sebenarnya aku ingin menemanimu sepanjang malam."
Suasana semakin canggung. Adrian menyadari dirinya keceplosan langsung berdeham sambil menepuk jidat dengan panik. "Maksudku--"
Aku berpura-pura tidak tahu apa pun. Sebenarnya aku juga merasa canggung karena ucapannya baru saja. "Kamu tidak perlu menemaniku. Aku bisa sendirian."
Aku hanya bisa melihat ekspresinya pasrah.
"Baiklah, Penny. Aku pulang dulu, ya. Ingat kamu tidak boleh sembarang buka pintu untuk orang lain, termasuk polisi."
"Iya, aku tahu. Selamat malam, Adrian."
"Selamat malam juga, Penny," balasnya sambil melambaikan tangan dan meninggalkan rumahku.
Saat aku sedang tertidur, tiba-tiba aku bermimpi aneh. Aku melihat Ray sedang berjalan dan menghampiriku lalu menusukku dengan pisau secara berulang kali.
"Mati, Penny!" umpat Ray dalam mimpiku.
Aku langsung terbangun dan ternyata sudah pagi. Dalam mimpiku, Ray sangat kejam padaku dan membunuhku tanpa berpikir panjang. Rasa sakit di dalam mimpi itu masih terasa sampai sekarang. Gara-gara mimpi aneh itu sekarang tubuhku penuh dengan keringat dingin dan tidak bertenaga. Aku harap itu mimpi saja, jangan sampai jadi kenyataan.
Saat di kantor polisi, aku berjalan lemas dan pikiranku masih terusik dengan mimpi buruk itu.
Melihat tingkahku tidak seperti biasanya, Tania langsung menghampiriku dengan wajah cemas. "Penny, kamu tidak apa-apa? Apakah kamu terluka? Aku dengar dari Jaksa Adrian bahwa kamu diteror semalam."
"Aku tidak terluka. Hanya saja itu mengagetkanku dan menakutiku," balasku berlagak percaya diri.
Bola mata Nathan terbelalak. "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ada orang yang berani menerormu? Apakah Ray menyimpan dendam padamu?"
"Ray tidak mungkin melakukan hal semacam ini," tuturku tegas.
Sontak pada saat bersamaan, Adrian menghampiriku. "Aku sudah melaporkan hal ini dan kotaknya sudah kuserahkan pada tim forensik untuk memeriksa sidik jari pelaku."
"Baiklah, terima kasih banyak Adrian telah membantuku terus," ucapku tersenyum ramah padanya.
"Aku hanya sekadar membantu sahabatku saja karena jika sahabat sedang kesulitan, aku harus membantunya."
Sebenarnya aku masih penasaran dengan Adrian. Padahal aku hanya sahabatnya, tapi ia membantuku banyak. Aku hanya bisa tersenyum ramah saja, menandakan bahwa aku sangat menyukai dirinya yang selalu mencemaskanku.
"Kamu banyak membantuku, Adrian."
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya," pamit Adrian sambil menepuk pundakku lalu melambaikan tangannya padaku.
"Hati-hati di jalan," balasku sambil melambaikan tangan padanya.
Setelah Adrian pergi, aku langsung menyuruh rekan timku untuk berkumpul di ruang rapat.
"Apakah kamu menemukan ibunya Ray?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikan sambil menatap Tania.
"Kemarin aku pergi ke rumah sakit dan di sana memang ada ibunya Ray di ruang inap. Setelah aku mengecek ternyata Ray belakangan ini tidak mengunjungi ibunya selama dua minggu," jawab Tania berwajah serius mengerutkan dahinya.
Aku mengepalkan tangan kananku. "Berarti dia selama ini membohongiku kita semua bahwa dia harus pergi ke rumah sakit."
"Selama ini dia izin keluar sebentar karena ingin berbicara dengan Darren." Tania berpikir keras sambil bertopang dagu.
"Coba kita cek CCTV di sepanjang jalan, siapa tahu dia terlihat di CCTV!" usul Nathan dengan ide cemerlangnya.
Saat kami sedang memeriksa rekaman CCTV di jalan, tidak ada satu pun CCTV yang menampakkan Ray sedang berjalan melewati area ini. Aku dan rekan timku telah memeriksa ke berbagai tempat pemantauan CCTV namun tidak ada satu pun tanda-tanda kehadiran Ray.
"Aduh, sepertinya mustahil mencari dia lewat pemantauan rekaman CCTV!" keluh Nathan menggarukkan kepalanya kesal.
"Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat di tempat tidak ada kamera CCTV," tukas Tania berspekulasi.
"Iya, bisa juga karena saat ini dia adalah buronan yang sedang dicari. Pasti dia menghindar kamera CCTV dan mencari tempat yang sepi serta tidak ada patroli polisi," lanjutku berspekulasi cerdas hingga dahiku berkerut.
"Bagaimana kalau kita carinya berpencar? Menurut di peta kota ini, ada beberapa tempat pergudangan kosong yang di sekitar sana tidak ada kamera CCTV dan jarang dilalui oleh banyak orang," usul Nathan terlihat jenius.
"Boleh juga tuh, mari kita berpencar mencari dia sekarang!" ajakku penuh antusias.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu," pamit Nathan bergegas meninggalkanku dan Tania.
"Mau ke minimarket sebentar, Penny? Seperti biasa kamu harus menemaniku," ajak Tania tertawa kecil.
Aku mengangguk sambil merangkul pundaknya. "Boleh nih sambil beli beberapa camilan."
Saat berbelanja di minimarket, aku melihat Tania membeli banyak camilan sambil menggelengkan kepalaku. Padahal tubuhnya kurus dan kecil tapi bisa makan banyak. Sedangkan aku hanya membeli roti dan susu saja.
"Kamu beli ini saja?" tanya Tania bingung.
"Iya. Biasanya kalau aku mengintai orang belinya hanya ini saja," jawabku santai.
"Kalau aku menjadi dirimu sepertinya tidak akan kenyang hanya makan itu. Aku harus makan banyak supaya energi tubuhku terisi." Tania tertawa puas sambil menghampiri kasir.
"Dasar wanita rakus! Aku pergi duluan ya karena sudah selesai berbelanja. Kamu harus hati-hati ya," pamitku menepuk pundaknya sekilas.
Aku mengunjungi tempat di mana hanya gudang kosong saja dalam kondisi gelap seperti ini dan tidak ada satu pun orang yang melewati area ini. Semakin aku berjalan, tubuhku rasanya sangat merinding dan kakiku gemetar. Tapi biar gimana pun, aku harus tetap kuat untuk menghadapinya karena aku ini seorang detektif walaupun suasana sekarang seperti di film horror dan sebenarnya aku masih belum berpengalaman banyak.
drrt...drrt...
Ponselku tiba-tiba berbunyi di saat kondisi sunyi begini membuatku mengelus dada. Aku menghentikan langkahku sejenak sambil mengambil ponsel dari saku jaketku. Ternyata Adrian yang menghubungiku.
"Penny, aku sudah dihubungi tim forensik katanya kotak itu tidak ditemukan sidik jari. Maaf telah memberi tahu berita buruk kepadamu," kata Adrian lewat telepon.
"Tidak apa-apa, Adrian. Pasti pelakunya menggunakan sarung tangan sehingga sidik jarinya tidak dapat terdeteksi."
PLAKKK
Tiba-tiba ada seseorang yang memukulku dengan keras dari belakang. Kepalaku langsung pusing hingga tubuhku terjatuh ke tanah. Tatapanku sangat buram sehingga tidak bisa mengamati sekelilingku.
"Halo Penny? Ada apa denganmu? Kamu di mana?"
Aku hanya bisa mendengar suara Adrian sangat panik lewat telepon saja. Bahkan aku tidak sanggup menjawabnya lagi hingga kedua mataku terpejam perlahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Ridho Talita
siapa tuh..jd penisirin
2021-07-10
1
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
nah lo... tp detektifnya agak penakut ya..
2021-04-30
1
Dhina ♑
#239
2021-03-23
1