Part 10 - Luka yang Membekas

Adrian kembali menghampiri ibunya dengan tangisan tersedu-sedu sambil memeluk tubuh ibunya kini sudah tidak terasa hangat. Tangannya sangat gemetar menyentuh mayat ibunya dan napasnya sesak karena trauma dialaminya tadi. Spontan aku menghampirinya dan memeluknya dengan hangat untuk menenangkannya. Ini merupakan hal yang sangat wajar bagi seorang anak yang melihat ibunya meninggal di hadapannya menangis tanpa henti-hentinya. Apalagi mengingat karakter tante Desy yang sangat perhatian terhadap anaknya dan bahkan perhatian terhadapku juga walaupun hubungan kami hanya tetangga.

"Ibumu pasti sudah masuk ke surga dengan karakternya sangat baik hati," lirihku menangis terisak.

Tangisan Adrian semakin pecah sambil memukul pahanya sendiri berkali-kali melampiaskan kebodohannya membuat orang yang paling disayanginya meninggalkannya tepat di depan mata. "Ini semua salahku. Gara-gara aku yang terlalu ambisius, ibuku menjadi berakhir seperti ini."

Aku menahan kepalan tangannya dan mempererat pelukan untuk menenangkan kondisi mentalnya. "Ini bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu, Adrian. Kamu melakukan ini untuk mengungkap kebenaran di balik kasus pembunuhan ini. Kamu berperan sangat besar demi kota ini. Ibumu pasti bangga melihatmu dari atas sana."

Akhirnya netra gagahnya kembali sedikit percaya diri seketika menatapku. Syukurlah teknik penghiburanku sangat sederhana berhasil membuat dirinya kembali tersenyum tipis. Aku bisa merasakan sentuhan hangat tangannya melekat di kepalaku. "Terima kasih telah menghiburku, Penny. Suasana hatiku membaik berkat dirimu. Memang aku tidak salah menganggapmu sebagai sahabat setiaku."

Di tengah perbincangan kami, salah satu anggota tim forensik menghampiri Adrian. "Maaf, Jaksa Adrian, kami harus membawa jasad ibumu untuk diautopsi."

Adrian menghapus air matanya menggunakan lengan jas sambil membangkitkan tubuhnya dan mengulurkan tangan padaku. "Iya silakan. Ayo Penny, kita pergi dari sini!" jawab Adrian yang masih lemas.

Aku berdiri dengan lemas dan berjalan dengan kaki pincang hingga tubuhku kembali terjatuh.  Kakiku terluka parah akibat bertarung dengan Darren tadi. Adrian melihatku terjatuh langsung berjongkok di hadapanku memasang tatapan cemas.

"Kakimu terluka parah. Ayo, kita pergi ke rumah sakit sekarang!" ajak Adrian sambil menatap luka kakiku.

Aku menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Aku masih bisa berdiri. Aku harus segera ke kantor."

"Kamu terluka parah, jangan terlalu memaksakan dirimu. Ayo, aku antarkan ke rumah sakit sekarang!" Dengan lincah Adrian menggendong tubuhku tanpa peduli dilihat petugas kepolisian lain, tapi bagiku agak memalukan karena lagi-lagi digendongnya.

Di rumah sakit, luka kakiku diperban dan dokter mengatakan bahwa luka sobekan di kakiku lumayan parah sehingga aku harus menginap di rumah sakit selama dua hari. Selama dua hari ini aku tidak bisa pergi ke mana pun dan harus mengurungkan diri di sini. Rasanya pasti sangat membosankan karena aku tidak bisa berbuat apa pun, sedangkan kasus ini semakin rumit mustahil aku hanya diam. Aku ingin beranjak dari ranjang namun tubuhku dicegah oleh Adrian.

"Kamu harus istirahat di sini dulu selama dua hari. Lihat tuh lukamu sangat parah," tegur Adrian sangat cemas melihat kondisiku.

"Aku harus pergi ke kantor polisi untuk memberitahukan hal ini kepada rekan timku," balasku keras kepala melawannya.

Kedua tangannya menyentuh pundakku. "Jangan keras kepala! Di sini keamanannya lebih terjamin. Kamu tidak akan diculik karena penjagaan di luar kamarmu sangat ketat."

Aku mendesah pasrah terpaksa menuruti perintahnya sekarang. Memang sih Adrian bermaksud menunjukkan sikap kepeduliannya padaku. Tapi ini sangat berlebihan menurutku.

"Baiklah. Tapi kamu jangan beritahu ibuku mengenai kejadian ini, ya. Ibuku bisa membunuhku kalau tahu aku terluka seperti ini," bisikku pelan mendekati daun telinganya.

"Iya tenang saja, aku pergi dulu ya. Aku harus mengurus hal lain dulu," pamitnya bersiap-siap meninggalkanku.

"Hati-hati, Adrian."

Adrian menghentikan langkah kakinya sejenak lalu menolehkan kepalanya menghadapku. "Penny, kamu bisa mengurus dirimu sendiri?"

"Bisa Adrian. Kamu tidak perlu mencemaskanku. Sebaiknya kamu cepat urus urusanmu dulu."

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya."

Satu jam telah berlalu sendirian di kamar ini bisa dikatakan cukup luas rasanya membosankan, meski Adrian yang menanggung biaya rawat inap rumah sakit. Untungnya Tania dan Nathan menjengukku dan membawakan makanan untukku.

"Penny? Kamu baik-baik saja? Di mana lukanya? Aduh aku sangat mencemaskanmu!" Tania sangat cemas melihat kakiku diperban dengan panik.

Aku terus menggelengkan kepala sambil menggerakkan kakiku. "Kamu ini berlebihan sekali. Aku baik-baik saja. Lihat aku masih bisa menggerakkan kakiku."

"Kamu tahu tidak, Penny? Tania ini setelah mendengar kabar bahwa kamu masuk ke rumah sakit, dia mencemaskanmu terus sampai susah makan," lapor Nathan masih bisa tertawa puas.

"Ish kamu ini tidak ada berperasaan! Masa iya temanmu sendiri masuk ke rumah sakit, kamu masih bersikap baik-baik saja," omel Tania kesal sambil memukul lengan kiri Nathan.

"Sudahlah kalian berisik sekali! Omong-omong, kalian bawakan aku makanan apa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan aneh ini sambil menatap bungkusan makanan.

"Aku bawakan bubur nih. Buburnya spesial kubuatkan untukmu, Penny," ucap Tania sambil membukakan tempat makanannya.

"Aku mau cicip buburnya dulu.”

Seketika aku memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut, rasanya sangat pas sehingga perutku semakin menggoda ingin menghabiskan dalam sekejap. “Mmm ... enak sekali! Wah, aku tidak menyangka bahwa kamu pandai masak juga, Tania!"

"Wah, aku jadi semangat memasak nih! Lain kali akan kubawakan masakan buatanku untuk kalian berdua," seru Tania girang.

Sekarang bukan saatnya bersantai terus. Aku tidak boleh melupakan hal penting yang harus kulaporkan pada dua rekan timku. "Omong-omong, aku mau minta bantuan kalian berdua."

"Kalau mau minta bantuan, serahkan padaku dan Tania. Kami berdua siap membantu," tawar Nathan sambil menepuk pundak Tania.

"Apakah ada kabar mengenai Ray?" tanyaku kepada mereka berdua.

"Kami belum mendapat kabar darinya sejak pembicaraan kita yang terakhir kali di kantor. Omong-omong apakah benar Ray bersekongkol dengan pembunuh? Aku mendengar itu dari Jaksa Adrian," tanya Tania yang lemas.

Semuanya langsung terdiam sejenak, suasana langsung tegang ditambah AC di kamar yang sangat dingin. Aku langsung teringat dengan kejadian sangat menakutkan itu. Kejadian waktu itu sekarang menjadi luka yang membekas di hatiku, rasanya aku ingin menangis dan teriak. Terutama melihat orang yang kusayangi yaitu tante Desy meninggal tepat di hadapanku.

"Penny? Kamu kenapa?" tanya Nathan cemas sambil menatap raut wajahku kembali bersedih.

Aku baru tersadar dari lamunanku. "Oh, maafkan aku. Pikiranku sedang kacau sejak kejadian itu. Waktu itu kalimat yang terakhir yang dikatakan si pembunuh bahwa kita harus berwaspada dengan Ray. Jadinya aku sangat yakin bahwa Ray adalah orang yang bersekongkol dengan pembunuh."

"Aku masih tidak percaya. Ray yang selama ini teman dekat kita itu bersekongkol dengan pembunuh. Dasar pengkhianat, aku rasanya ingin membunuhnya," ketus Nathan geram mengepalkan tangan kanannya.

"Maka dari itu, kalian harus berwaspada mulai sekarang. Aku minta bantuan kepada kalian berdua karena kalian satu-satunya yang kupercayai di kantor. Aku mau kalian mencari informasi mengenai latar belakang Ray dan lacak keberadaannya," pintaku  kepada mereka berdua.

"Baiklah serahkan saja kepadaku dan Tania," patuh Nathan menepuk pundakku.

"Kalau begitu bolehkah kalian meninggalkanku sendiri di sini? Aku ingin sendirian sekarang," ucapku bernapas lesu.

"Ya sudah, kalau begitu aku dan Nathan pergi dulu ya. Kamu harus beristirahat yang cukup," pamit Tania sambil meninggalkan kamar bersama Nathan.

Setelah Tania dan Nathan pergi meninggalkanku, aku masih merenung dan memikirkan kejadian yang menimpaku waktu itu hingga kepalaku sakit sekali. Perkataan yang diucapkan Darren menghantuiku terus sampai sekarang. Lalu aku memutuskan untuk tidur dan berusaha melupakan itu. Namun hingga pukul 11 malam, aku masih tidak bisa tertidur karena pikiranku sangat terusik dan rasanya aku ingin seseorang menemaniku tepat di sebelahku. Tapi tidak mungkin ada yang ingin menemaniku larut malam begini.

Tak lama kemudian, Adrian memasuki kamarku dengan raut wajah sedih. Aku sedikit terkejut karena aku tidak menyangka ia akan menemaniku di saat begini. Apalagi sebenarnya aku tidak memintanya menemaniku. Dilihat dari wajahnya yang tidak bersemangat, aku baru ingat ia selama seharian mengurus berjaga di rumah duka. Pasti Adrian sangat sedih karena masih ingat kejadian yang menimpa ibunya sehingga membuatnya trauma seperti sekarang.

"Sedang apa kamu ke sini? Bukankah kamu harusnya di rumah duka?" tanyaku cemas sambil memposisikan tubuhku dalam kondisi duduk bersandar.

"Tidak apa-apa. Sepupuku dan saudara ibuku berjaga di sana. Aku hanya ingin membutuhkan teman ngobrol saja, maka dari itu aku ke sini menjengukmu," jawab Adrian menghembuskan napas lesu sambil menarik kursinya tepat di sebelah ranjangku.

Senyuman tipis terbit pada sudut bibirku. "Sebenarnya pikiranku juga sedang kacau sekarang. Aku sampai tidak bisa tertidur. Aku juga membutuhkan teman ngobrol untuk menemaniku di sini, untung saja kau datang."

"Kamu masih memikirkan tentang mantan pacarmu?" tanya Adrian gugup.

Mataku mulai berkaca-kaca membayangkan sosok pengkhianat yang pernah menjalin hubungan denganku berkata lancang masih membuatku sakit hati. "Aku masih tidak percaya saja. Kenapa dia melakukan hal ini di hadapanku? Kenapa dia bilang kepadaku bahwa tidak ada kenangan indah selama berpacaran denganku? Kalau begitu kenapa dia terus memaksaku untuk berpacaran dengannya kalau dia juga bosan sama seperti halnya denganku? Kenapa harus aku? Sebenarnya walaupun aku tidak pernah memiliki perasaan padanya sama sekali, aku merasa dikhianati dengan kejam. Sejak kejadian itu, luka itu membekas di hatiku. Gara-gara aku, ibumu jadi kena juga. Ini semua salahku. Maafkan aku, Adrian."

Lengan kekarnya mendekap tubuhku erat sambil mengelus kepalaku perlahan. "Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu. Ini semua salah mantan pacarmu yang psikopat. Kamu sebaiknya jangan memikirkan hal itu lagi, coba pikirkan hal lain yang membuat kamu bahagia. Aku juga sebenarnya masih tidak rela dengan kepergian ibuku. Tapi aku tetap harus merelakannya dan memikirkan hal yang membuatku bahagia. Yang terpenting aku harus menangkap dalang bedebah yang membunuh ibuku dan menjebak ayahku."

Berkat mendengar perkataannya, lukaku perlahan sedikit demi sedikit menghilang. Apalagi ia memelukku erat begini membuatku ingin berada di dekatnya lebih lama. "Kamu tidak marah denganku, 'kan?"

"Kamu tidak ada salahnya buat apa aku marah?" balasnya santai sambil menyeka air mataku dengan sapu tangannya.

"Maksudku kamu tidak marah padaku karena aku mau kamu menemaniku sepanjang malam sampai besok pagi," kataku dengan malu.

Adrian tertawa gemas sambil mengelus dahiku sejenak. Lagi-lagi jantungku agak berdebar karena perlakuan sederhana ini. "Aku mengira karena hal apa sampai serius begitu. Kalau itu permintaan dari sahabat setiaku, pasti akan aku jalankan. Lagi pula melihat kondisimu seperti ini, aku tahu kamu pasti membutuhkan seseorang menemanimu tidur tanpa kamu meminta bantuanku."

Melihat perlakuan sahabatku yang saat ini sangat peduli padaku dan memperlakukanku dengan hangat rasanya hatiku kini sangat tenang dan nyaman ketika berada di sisinya. Apalagi ia sudah bertekad menemaniku sebelum aku memintanya menemaniku di sini. "Kenapa kamu menganggapku sebagai sahabatmu? Padahal kita kan baru bertemu."

"Karena menurutku kamu adalah wanita yang baik hati."

"Bukankah semua orang kalau baru pertama kali bertemu itu pasti kesan pertamanya baik di depan mata orang itu."

Tatapan Adrian seketika mengamatiku penuh bermakna. Sepasang tangannya menggenggam sepasang tanganku sambil mengelus lambat laun. "Penny, apakah kamu masih mengingat pertama kali kita bertemu? Kamu sangat ramah dan baik hati padaku. Dilihat dari tatapan matamu padaku waktu itu, aku percaya bahwa kamu adalah wanita yang sangat baik dan pengertian. Maka dari itu aku sudah memercayaimu sepenuhnya sejak dulu. Lagi pula kita sudah beberapa kali bertemu tidak sengaja, setiap kali kita bertemu, aku merasa sangat nyaman ketika menjadi sahabat setiamu.”

Mendengar isi hatinya itu, bahkan ungkapannya itu berhasil membuat luka dalam hatiku langsung tersembuhkan. Adrian memang sangat pantas menjadi sahabat setiaku. "Terima kasih telah memercayaiku. Aku juga berpikir hal yang sama denganmu Adrian. Dilihat dari kepribadianmu, kamu terlihat seperti pria sempurna dan berhati lembut seperti malaikat."

Setelah kami berbincang panjang lebar, Adrian menemaniku sepanjang malam hingga besok pagi.

Terpopuler

Comments

senja

senja

bilang "hati lembut seperti malaikat" atas dasar apa?

2022-03-30

1

Berdo'a saja

Berdo'a saja

aku lanjut baca Thor karena hp aku hilang jadi novel mu ikut hilang syukur aku ingat dg akunku akhirnya dapat ada yg like komenku ketemu deh

2021-09-07

1

KumiKimut

KumiKimut

semangat kak!!! buat karya lagi donk..

tetap semangat !!❤️❤️👍👍

2021-09-06

2

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!