Part 8 - First Gift From Him

Saat mendengar perkataan itu, rasanya aku ingin marah dan memberontak. Kasus ini ditutup dan hanya berasumsi aneh saja. Padahal kasus ini sudah memakan banyak korban dan tidak mungkin ditutup saja dengan anggapan kecelakaan tabrak lari.

"Maaf Pak John, apa saya tidak salah mendengar barusan? Kasusnya ditutup?" tanyaku mulai kesal.

"Iya, karena kita tidak memiliki bukti akurat yang membuktikan bahwa ini merupakan pembunuhan."

Bagiku masih aneh jika alasan bukti tidak akurat. Terutama waktu kematian Pak Tommy sangat janggal. "Tapi Pak John, menurut saya ini aneh, kenapa Pak Tommy mengalami kecelakaan pada saat setelah kita membebaskannya? Pasti pelaku ingin menghilangkan jejak sehingga dia membunuh korban dengan menabraknya."

Pak John memasang tatapan elang mendekatiku. "Kamu punya bukti bahwa kecelakaan itu merupakan pembunuhan?"

Akhirnya aku tidak berani menjawab dan hanya bisa pasrah. "Saat ini, aku masih belum punya bukti yang akurat."

"Ya sudah, kita tutup kasusnya saja. Akan aku laporkan kepada pihak kejaksaan bahwa ini kasus kecelakaan lalu lintas," lontar Pak John santai seperti tidak terjadi sesuatu yang besar.

Emosiku kini rasanya sudah tidak stabil, rasanya ingin marah dan menangis. Aku meninggalkan ruang rapat dengan membanting pintu sehingga semua orang terkejut melihatku. Aku sudah tidak peduli mereka akan berpikir mengenaiku seperti apa. Aku menghentakkan kaki kasar lalu menduduki kursi kerjaku lemas.

Aku merasa telah gagal dalam menjalankan tugasku sebagai detektif. Kini air mataku mengalir deras tanpa hentinya dari kelopak mataku. Spontan rekan timku langsung menghampiriku untuk menenangkanku sekilas.

Semangatku bangkit kembali berkat dukungan dari rekan timku. Aku mulai mencari tahu mengenai kasus kecelakaan Pak Tommy lagi. Sebenarnya apa yang direncanakan pelaku? Apa yang diinginkan oleh pelaku sampai membuat kekacauan di kota ini? Beberapa hari yang lalu mengapa pelakunya bisa tahu bahwa aku sedang pergi keluar sendirian dan mengejarku?

Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Oh ya benar juga, ada sesuatu yang aku lewatkan selama ini. Aku lupa mengecek kamera CCTV sekitar kantor polisi dan sepanjang jalan yang kulewati.

Saat di ruang pengendalian, aku mengamati rekaman CCTV terfokus saat aku sedang berjalan ke minimarket. Dugaanku benar, pelaku itu mengikutiku sepanjang jalan dan mengejarku. Tapi bagaimana ia bisa tahu? Lalu kulihat rekaman CCTV satu jam sebelum kejadian, dan inilah yang aku lewatkan selama ini. Ternyata ada orang dalam yang bekerja sama dengan pelaku. Berarti apa yang kukerjakan selama ini pasti pelaku tahu dengan persis sehingga pelakunya menghilangkan jejak dengan sempurna. Tapi siapa sih orang di sini yang bekerja sama dengan pelaku? Postur tubuhnya seperti pernah kulihat di mana ya?

Tiba-tiba aku mengingat sesuatu dan membuka rekaman dasbor saat kejadian pembunuhan Alya, ternyata itu benar. Orang yang berbicara dengan pelaku itu bekerja di kantor ini jika dilihat postur tubuh dari belakang mirip. Harus kuberitahu hal penting ini kepada rekan timku.

Di ruang rapat, semuanya tampak kebingungan melihatku karena aku mengadakan rapat tiba-tiba begini setelah suasana hatiku sempat memburuk tadi.

"Ada apa ini? Apakah kamu menemukan sesuatu?" tanya Tania sangat penasaran.

"Sssttt! Kita jangan berbicara terlalu keras," bisikku pelan.

"Ada apa sih sebenarnya?" desak Nathan.

Aku mengamati sekeliling ruang rapat penuh waspada. "Mulai hari ini jika kalian mau laporkan sesuatu tentang kasus ini, kita lakukan di ruang rapat saja. Tapi kalian harus berbisik agar tidak ketahuan."

Terlihat kerutan pada dahi Ray. "Ketahuan apa? Bisa tolong kamu jelaskan?"

"Ada orang di kantor ini yang bersekongkol dengan pembunuhnya, jika dilihat dari rekaman CCTV yang kulihat tadi."

Reaksi Tania terperangah. "Pantesan selama ini pembunuhnya tahu apa yang telah kita lakukan. Kejadian yang dialami Pak Bastian dan Pak Tommy pasti sudah direncanakan oleh pembunuh dari awal karena dapat bocoran informasi dari orang dalam.”

"Lalu rekaman CCTV yang telah menghilang itu pasti pembunuhnya tahu karena kita mengincar rekaman itu dan menghancurkannya terlebih dahulu," lanjut Nathan berspekulasi.

"Lebih baik lagi sih setiap kalian melaporkan sesuatu, laporkan melalui pesan singkat saja agar tidak didengar pelaku apa yang telah kita lakukan," usulku kepada mereka semua.

Kring...kring...

Ponsel Ray tiba-tiba berbunyi di tengah perbincangan serius kami. Ia langsung mengangkat panggilan teleponnya.

"Iya baiklah aku akan segera ke sana," jawab Ray tergesa-gesa menutup panggilan teleponnya.

"Ada masalah lagi?" tanyaku penasaran.

"Iya ibuku masuk ke rumah sakit, saat ini sedang masalah kritis. Aku izin pergi sebentar ya," kata Ray langsung berlari keluar dari ruang rapat.

"Ish si Ray ini selalu sibuk di saat kita sedang genting!" sungut Nathan berdecak kesal mengerucutkan bibirnya.

"Tidak apa-apa. Lagi pula ini juga masalah keluarganya, sesekali harus mengunjungi keluarga," jawabku mengulas senyumanku.

drrt...drrt...

Kali ini ponselku yang berbunyi. Ternyata Adrian yang menghubungiku sekarang. Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon darinya.

"Halo, Adrian. Ada apa meneleponku?"

"Ayo kita makan malam bersama!"

"Benarkah?" Mataku langsung membulat sempurna. Tidak kusangka Adrian berinisiatif mengajakku makan malam duluan, apalagi nada bicaranya seolah-olah seperti mengajakku kencan.

"Akan kukirimkan alamatnya padamu sekarang,"

"Baiklah aku segera ke sana." jawabku tersenyum sendiri sambil menutup panggilan teleponnya.

Aku dan Adrian berencana bertemu di "Peaceful Restaurant". Setibanya di sana, aku merapikan penampilanku di dalam mobil lalu menuruni mobilku. Ketika aku memasuki restorannya, Adrian menyapaku dengan senyuman ramah sambil melambaikan tangannya padaku dari tempat duduknya. Aku membalasnya dengan mengukir senyuman ceria pada wajahku sambil melangkahkan kakiku menghampirinya kemudian menduduki kursi tepat di hadapannya.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Adrian dengan tersenyum ramah.

"Aku baik-baik saja, Adrian. Bagaimana denganmu?"

"Syukurlah aku lega mendengarnya setelah apa yang terjadi padamu semalam."

Aku menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Tenang saja. Tubuhku kini sudah kembali kuat seperti biasanya."

"Melihatmu sehat saja aku sudah bersyukur."

Satu kalimat sederhana itu saja sudah membuatku puas. Aku bisa merasakan pipiku sedikit memanas, tapi aku harus mengendalikan sikapku agar tidak terbawa suasana. "Omong-omong, tumben sekali kamu mengajakku makan malam sampai menghubungiku duluan."

"Karena aku ingin makan malam bersamamu sambil berbincang santai denganmu. Lagi pula tidak ada yang ingin menemaniku maka dari itu aku mengajakmu saja."

"Jadi begitu rupanya. Sebenarnya aku juga sama sepertimu sih. Tidak ada yang menemaniku makan malam."

Aku jadi teringat dengan informasi penting yang harus kusampaikan pada Adrian. Terpaksa aku harus mengalihkan pembicaraannya sementara. "Oh ya, aku mau memberitahumu sesuatu yang penting."

"Ada apa? Kamu menemukan sesuatu?" tanya Adrian memajukan kepala.

"Kalau kamu mengunjungi ke kantorku sebaiknya jangan membicarakan mengenai kasus yang kita lagi kerjakan. Karena ada penyusup yang bekerja di kantorku, jadinya kita harus lebih berwaspada."

Raut wajah Adrian berubah drastis dalam sekejap. Awalnya bisa tersenyum, sekarang jadi lesu menatapku. "Apakah kamu baik-baik saja? Kamu tidak dikejar lagi, 'kan? Kalau keadaan begini, kamu bisa dalam bahaya terus.”

"Tenang saja. Aku juga sudah bicarakan ini kepada rekan timku juga." Aku tersenyum simpul berpura-pura tidak terjadi apa pun di hadapannya supaya ia tidak semakin mencemaskanku.

Adrian menghembuskan napas lemas. "Kalau terjadi sesuatu, kamu harus segera menghubungiku ya. Masalahnya itu bisa jadi target pembunuhnya sekarang adalah kamu."

"Iya, aku tahu itu."

"Oh iya, aku mau memberikan sesuatu untukmu," Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan memberikan kotaknya padaku.

Aku menerima kotak kecil itu lalu langsung membuka kotaknya. Isinya berupa sebuah bros bunga Magnolia yang sangat cantik hingga membuat pandanganku bsrbinar memandangi brosnya. "Cantik sekali!"

Rona merah menyala pada pipinya, Adrian menggarukkan kepala sambil menunduk malu. "Kebetulan tadi saat aku dalam perjalanan ke sini, aku mampir sebentar ke toko aksesoris wanita dan menemukan bros ini. Kulihat bros ini sangat cocok jika dipakai olehmu. Maka dari itu aku memutuskan membeli brosnya untukmu."

Aku sangat terharu. Adrian yang biasa suka mementingkan pekerjaan juga ternyata bisa tahu seleraku seperti apa tanpa harus aku memberitahukannya. Bahkan kedua orang tuaku terkadang tidak tahu seleraku. Memang Adrian adalah partner kerjaku yang terbaik selama aku bekerja sebagai detektif.

"Terima kasih, Adrian . Kamu tahu saja seleraku. Bros ini cantik sekali, aku suka sekali! Bros ini akan kujaga sebaik mungkin, karena ini hadiah pemberian spesial darimu," ucapku tersenyum manis.

"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Anggap saja ini pemberian dariku sebagai sahabat setiamu." Adrian mengukir senyuman hangatnya padaku.

Aku mencoba memasang bros itu pada bajuku lalu memperlihatkan kepadanya. “Bagaimana penampilanku? Apakah terlihat cocok kalau aku memakainya?"

Adrian mengacungkan jempol. "Cocok sekali jika dipakai olehmu. Memang aku tidak salah memilih brosnya untukmu."

"Kamu memang sahabat terbaikku, Adrian!" ungkapku lantang.

Tawa bahagia menghiasi wajah tampannya. “Aku juga menganggapmu sahabat terbaik, Penny.”

Kami berdua saling memandang sambil tertawa bahagia sampai puas menikmati makan malamnya. Menurutku, berbincang dengan Adrian juga kesannya sangat menyenangkan apalagi ia suka bergurau denganku.

“Hari libur nanti kamu ada waktu luang?” tanya Adrian tiba-tiba membuatku tersentak seolah-olah mendengar nada bicaranya seperti sedang mengajak berkencan.

“Sepertinya aku tidak terlalu sibuk, ada apa?”

Adrian berdeham sejenak memasang ekspresi wajah malu. “Maukah kamu … makan di rumahku?”

Aku bergeming. Benar-benar tidak terduga ia mengajakku makan bersama di rumahnya. Padahal status kami bukan sebagai sepasang kekasih. Apakah karena ibunya? Sebaiknya aku tidak cepat mengambil kesimpulan.

“Aku mau.”

Senyuman pada wajah tampannya semakin melebar. “Baiklah, aku akan beritahu ibuku. Nanti kita akan makan bersama di rumahku. Kamu juga ajak ibumu makan bersama kita.”

Sudah kuduga, undangan makan bersama pasti karena orang tua. Adrian merupakan jaksa profesional mustahil mengundangku tanpa sebab.

drrt...drrt...

Ponsel Adrian tiba-tiba berbunyi di tengah perbincangan santai kami. Mengetahui ibunya yang meneleponnya sekarang, ia langsung mengangkat panggilan teleponnya.

"Halo ibu. Hari libur nanti aku akan mengunjungi ibu. Aku berjanji." ucap Adrian lewat telepon.

"Kalau mau selamatkan ibumu, cepat datang ke sini dan bawa berkas-berkas kasus pembunuhan ini kepadaku." Suara orang asing yang menjawab panggilan tersebut.

Saat mendengar suara itu, tangan Adrian gemetar dan wajahnya sangat pucat. Aku menatapnya seperti itu mulai mencemaskannya.

Terpopuler

Comments

Maryam Al Bantani

Maryam Al Bantani

Aku curiga sama si Ray.

2023-10-18

1

senja

senja

ku kira Penny bakal nolak brossnya

2022-03-30

1

senja

senja

biar gak curiga, mending ke Ray, dijenguk jadi tau kl Ibunya beneran sakit atau enggak, kan rekan seTim juga

2022-03-30

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!