Saat mendengar perkataan itu, rasanya aku ingin marah dan memberontak. Kasus ini ditutup dan hanya berasumsi aneh saja. Padahal kasus ini sudah memakan banyak korban dan tidak mungkin ditutup saja dengan anggapan kecelakaan tabrak lari.
"Maaf Pak John, apa saya tidak salah mendengar barusan? Kasusnya ditutup?" tanyaku mulai kesal.
"Iya, karena kita tidak memiliki bukti akurat yang membuktikan bahwa ini merupakan pembunuhan."
Bagiku masih aneh jika alasan bukti tidak akurat. Terutama waktu kematian Pak Tommy sangat janggal. "Tapi Pak John, menurut saya ini aneh, kenapa Pak Tommy mengalami kecelakaan pada saat setelah kita membebaskannya? Pasti pelaku ingin menghilangkan jejak sehingga dia membunuh korban dengan menabraknya."
Pak John memasang tatapan elang mendekatiku. "Kamu punya bukti bahwa kecelakaan itu merupakan pembunuhan?"
Akhirnya aku tidak berani menjawab dan hanya bisa pasrah. "Saat ini, aku masih belum punya bukti yang akurat."
"Ya sudah, kita tutup kasusnya saja. Akan aku laporkan kepada pihak kejaksaan bahwa ini kasus kecelakaan lalu lintas," lontar Pak John santai seperti tidak terjadi sesuatu yang besar.
Emosiku kini rasanya sudah tidak stabil, rasanya ingin marah dan menangis. Aku meninggalkan ruang rapat dengan membanting pintu sehingga semua orang terkejut melihatku. Aku sudah tidak peduli mereka akan berpikir mengenaiku seperti apa. Aku menghentakkan kaki kasar lalu menduduki kursi kerjaku lemas.
Aku merasa telah gagal dalam menjalankan tugasku sebagai detektif. Kini air mataku mengalir deras tanpa hentinya dari kelopak mataku. Spontan rekan timku langsung menghampiriku untuk menenangkanku sekilas.
Semangatku bangkit kembali berkat dukungan dari rekan timku. Aku mulai mencari tahu mengenai kasus kecelakaan Pak Tommy lagi. Sebenarnya apa yang direncanakan pelaku? Apa yang diinginkan oleh pelaku sampai membuat kekacauan di kota ini? Beberapa hari yang lalu mengapa pelakunya bisa tahu bahwa aku sedang pergi keluar sendirian dan mengejarku?
Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Oh ya benar juga, ada sesuatu yang aku lewatkan selama ini. Aku lupa mengecek kamera CCTV sekitar kantor polisi dan sepanjang jalan yang kulewati.
Saat di ruang pengendalian, aku mengamati rekaman CCTV terfokus saat aku sedang berjalan ke minimarket. Dugaanku benar, pelaku itu mengikutiku sepanjang jalan dan mengejarku. Tapi bagaimana ia bisa tahu? Lalu kulihat rekaman CCTV satu jam sebelum kejadian, dan inilah yang aku lewatkan selama ini. Ternyata ada orang dalam yang bekerja sama dengan pelaku. Berarti apa yang kukerjakan selama ini pasti pelaku tahu dengan persis sehingga pelakunya menghilangkan jejak dengan sempurna. Tapi siapa sih orang di sini yang bekerja sama dengan pelaku? Postur tubuhnya seperti pernah kulihat di mana ya?
Tiba-tiba aku mengingat sesuatu dan membuka rekaman dasbor saat kejadian pembunuhan Alya, ternyata itu benar. Orang yang berbicara dengan pelaku itu bekerja di kantor ini jika dilihat postur tubuh dari belakang mirip. Harus kuberitahu hal penting ini kepada rekan timku.
Di ruang rapat, semuanya tampak kebingungan melihatku karena aku mengadakan rapat tiba-tiba begini setelah suasana hatiku sempat memburuk tadi.
"Ada apa ini? Apakah kamu menemukan sesuatu?" tanya Tania sangat penasaran.
"Sssttt! Kita jangan berbicara terlalu keras," bisikku pelan.
"Ada apa sih sebenarnya?" desak Nathan.
Aku mengamati sekeliling ruang rapat penuh waspada. "Mulai hari ini jika kalian mau laporkan sesuatu tentang kasus ini, kita lakukan di ruang rapat saja. Tapi kalian harus berbisik agar tidak ketahuan."
Terlihat kerutan pada dahi Ray. "Ketahuan apa? Bisa tolong kamu jelaskan?"
"Ada orang di kantor ini yang bersekongkol dengan pembunuhnya, jika dilihat dari rekaman CCTV yang kulihat tadi."
Reaksi Tania terperangah. "Pantesan selama ini pembunuhnya tahu apa yang telah kita lakukan. Kejadian yang dialami Pak Bastian dan Pak Tommy pasti sudah direncanakan oleh pembunuh dari awal karena dapat bocoran informasi dari orang dalam.”
"Lalu rekaman CCTV yang telah menghilang itu pasti pembunuhnya tahu karena kita mengincar rekaman itu dan menghancurkannya terlebih dahulu," lanjut Nathan berspekulasi.
"Lebih baik lagi sih setiap kalian melaporkan sesuatu, laporkan melalui pesan singkat saja agar tidak didengar pelaku apa yang telah kita lakukan," usulku kepada mereka semua.
Kring...kring...
Ponsel Ray tiba-tiba berbunyi di tengah perbincangan serius kami. Ia langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya baiklah aku akan segera ke sana," jawab Ray tergesa-gesa menutup panggilan teleponnya.
"Ada masalah lagi?" tanyaku penasaran.
"Iya ibuku masuk ke rumah sakit, saat ini sedang masalah kritis. Aku izin pergi sebentar ya," kata Ray langsung berlari keluar dari ruang rapat.
"Ish si Ray ini selalu sibuk di saat kita sedang genting!" sungut Nathan berdecak kesal mengerucutkan bibirnya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula ini juga masalah keluarganya, sesekali harus mengunjungi keluarga," jawabku mengulas senyumanku.
drrt...drrt...
Kali ini ponselku yang berbunyi. Ternyata Adrian yang menghubungiku sekarang. Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon darinya.
"Halo, Adrian. Ada apa meneleponku?"
"Ayo kita makan malam bersama!"
"Benarkah?" Mataku langsung membulat sempurna. Tidak kusangka Adrian berinisiatif mengajakku makan malam duluan, apalagi nada bicaranya seolah-olah seperti mengajakku kencan.
"Akan kukirimkan alamatnya padamu sekarang,"
"Baiklah aku segera ke sana." jawabku tersenyum sendiri sambil menutup panggilan teleponnya.
Aku dan Adrian berencana bertemu di "Peaceful Restaurant". Setibanya di sana, aku merapikan penampilanku di dalam mobil lalu menuruni mobilku. Ketika aku memasuki restorannya, Adrian menyapaku dengan senyuman ramah sambil melambaikan tangannya padaku dari tempat duduknya. Aku membalasnya dengan mengukir senyuman ceria pada wajahku sambil melangkahkan kakiku menghampirinya kemudian menduduki kursi tepat di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Adrian dengan tersenyum ramah.
"Aku baik-baik saja, Adrian. Bagaimana denganmu?"
"Syukurlah aku lega mendengarnya setelah apa yang terjadi padamu semalam."
Aku menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Tenang saja. Tubuhku kini sudah kembali kuat seperti biasanya."
"Melihatmu sehat saja aku sudah bersyukur."
Satu kalimat sederhana itu saja sudah membuatku puas. Aku bisa merasakan pipiku sedikit memanas, tapi aku harus mengendalikan sikapku agar tidak terbawa suasana. "Omong-omong, tumben sekali kamu mengajakku makan malam sampai menghubungiku duluan."
"Karena aku ingin makan malam bersamamu sambil berbincang santai denganmu. Lagi pula tidak ada yang ingin menemaniku maka dari itu aku mengajakmu saja."
"Jadi begitu rupanya. Sebenarnya aku juga sama sepertimu sih. Tidak ada yang menemaniku makan malam."
Aku jadi teringat dengan informasi penting yang harus kusampaikan pada Adrian. Terpaksa aku harus mengalihkan pembicaraannya sementara. "Oh ya, aku mau memberitahumu sesuatu yang penting."
"Ada apa? Kamu menemukan sesuatu?" tanya Adrian memajukan kepala.
"Kalau kamu mengunjungi ke kantorku sebaiknya jangan membicarakan mengenai kasus yang kita lagi kerjakan. Karena ada penyusup yang bekerja di kantorku, jadinya kita harus lebih berwaspada."
Raut wajah Adrian berubah drastis dalam sekejap. Awalnya bisa tersenyum, sekarang jadi lesu menatapku. "Apakah kamu baik-baik saja? Kamu tidak dikejar lagi, 'kan? Kalau keadaan begini, kamu bisa dalam bahaya terus.”
"Tenang saja. Aku juga sudah bicarakan ini kepada rekan timku juga." Aku tersenyum simpul berpura-pura tidak terjadi apa pun di hadapannya supaya ia tidak semakin mencemaskanku.
Adrian menghembuskan napas lemas. "Kalau terjadi sesuatu, kamu harus segera menghubungiku ya. Masalahnya itu bisa jadi target pembunuhnya sekarang adalah kamu."
"Iya, aku tahu itu."
"Oh iya, aku mau memberikan sesuatu untukmu," Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan memberikan kotaknya padaku.
Aku menerima kotak kecil itu lalu langsung membuka kotaknya. Isinya berupa sebuah bros bunga Magnolia yang sangat cantik hingga membuat pandanganku bsrbinar memandangi brosnya. "Cantik sekali!"
Rona merah menyala pada pipinya, Adrian menggarukkan kepala sambil menunduk malu. "Kebetulan tadi saat aku dalam perjalanan ke sini, aku mampir sebentar ke toko aksesoris wanita dan menemukan bros ini. Kulihat bros ini sangat cocok jika dipakai olehmu. Maka dari itu aku memutuskan membeli brosnya untukmu."
Aku sangat terharu. Adrian yang biasa suka mementingkan pekerjaan juga ternyata bisa tahu seleraku seperti apa tanpa harus aku memberitahukannya. Bahkan kedua orang tuaku terkadang tidak tahu seleraku. Memang Adrian adalah partner kerjaku yang terbaik selama aku bekerja sebagai detektif.
"Terima kasih, Adrian . Kamu tahu saja seleraku. Bros ini cantik sekali, aku suka sekali! Bros ini akan kujaga sebaik mungkin, karena ini hadiah pemberian spesial darimu," ucapku tersenyum manis.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Anggap saja ini pemberian dariku sebagai sahabat setiamu." Adrian mengukir senyuman hangatnya padaku.
Aku mencoba memasang bros itu pada bajuku lalu memperlihatkan kepadanya. “Bagaimana penampilanku? Apakah terlihat cocok kalau aku memakainya?"
Adrian mengacungkan jempol. "Cocok sekali jika dipakai olehmu. Memang aku tidak salah memilih brosnya untukmu."
"Kamu memang sahabat terbaikku, Adrian!" ungkapku lantang.
Tawa bahagia menghiasi wajah tampannya. “Aku juga menganggapmu sahabat terbaik, Penny.”
Kami berdua saling memandang sambil tertawa bahagia sampai puas menikmati makan malamnya. Menurutku, berbincang dengan Adrian juga kesannya sangat menyenangkan apalagi ia suka bergurau denganku.
“Hari libur nanti kamu ada waktu luang?” tanya Adrian tiba-tiba membuatku tersentak seolah-olah mendengar nada bicaranya seperti sedang mengajak berkencan.
“Sepertinya aku tidak terlalu sibuk, ada apa?”
Adrian berdeham sejenak memasang ekspresi wajah malu. “Maukah kamu … makan di rumahku?”
Aku bergeming. Benar-benar tidak terduga ia mengajakku makan bersama di rumahnya. Padahal status kami bukan sebagai sepasang kekasih. Apakah karena ibunya? Sebaiknya aku tidak cepat mengambil kesimpulan.
“Aku mau.”
Senyuman pada wajah tampannya semakin melebar. “Baiklah, aku akan beritahu ibuku. Nanti kita akan makan bersama di rumahku. Kamu juga ajak ibumu makan bersama kita.”
Sudah kuduga, undangan makan bersama pasti karena orang tua. Adrian merupakan jaksa profesional mustahil mengundangku tanpa sebab.
drrt...drrt...
Ponsel Adrian tiba-tiba berbunyi di tengah perbincangan santai kami. Mengetahui ibunya yang meneleponnya sekarang, ia langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo ibu. Hari libur nanti aku akan mengunjungi ibu. Aku berjanji." ucap Adrian lewat telepon.
"Kalau mau selamatkan ibumu, cepat datang ke sini dan bawa berkas-berkas kasus pembunuhan ini kepadaku." Suara orang asing yang menjawab panggilan tersebut.
Saat mendengar suara itu, tangan Adrian gemetar dan wajahnya sangat pucat. Aku menatapnya seperti itu mulai mencemaskannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maryam Al Bantani
Aku curiga sama si Ray.
2023-10-18
1
senja
ku kira Penny bakal nolak brossnya
2022-03-30
1
senja
biar gak curiga, mending ke Ray, dijenguk jadi tau kl Ibunya beneran sakit atau enggak, kan rekan seTim juga
2022-03-30
1