Part 6 - Targetnya Adalah Aku

Walaupun aku sedikit merasa lega sekarang, namun tanganku masih gemetar dan keringat dingin terus mengalir pada wajahku hingga tubuhku terasa kaku. Untungnya saat aku sedang dikejar, Adrian menolongku dengan cepat.

Adrian menatapku dengan penuh rasa khawatir lalu memelukku erat. Aku membulatkan mataku dengan sempurna, sangat terkejut terhadap perlakuan Adrian sungguh tidak terduga. Apalagi aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya hingga membuat perasaanku sangat nyaman berada di dekatnya sekarang. Aku melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya sedikit gugup untuk membalas perlakuannya padaku. Sebenarnya aku tidak terbiasa dipeluk pria lain seperti ini, karena ini pertama kalinya sepanjang hidupku apalagi dipeluk seorang pemuda tampan yang baru saja berkenalan denganku beberapa saat lalu.

Sejenak Adrian melepas pelukan, lalu sorot matanya seperti alat scanner memeriksa kondisi tubuhku agak panik. "Penny, kamu terluka?"

Aku tetap harus menjaga sikap sebagai detektif tidak mudah terbawa perasaan. "Aku baik-baik saja, Adrian. Terima kasih sudah menolongku tadi. Mungkin kalau tadi kamu tidak menolongku, aku tidak bisa membayangkan nasibku seperti apa kalau sampai tertangkap oleh pelakunya."

"Sekarang kamu menjadi targetnya. Maka dari itu, kamu harus selalu berwaspada saat sedang berjalan kaki. Kalau bisa jangan pernah pergi sendirian. Kamu harus mengajak teman-temanmu menemanimu," pesannya dengan nada lembut membuatku semakin malu rasanya.

"Iya, aku mengerti. Ternyata kamu bisa juga cerewet seperti ibuku," ucapku memasang wajah cemberut.

"Aku cerewet begini karena aku tidak ingin melihat partner kerjaku tewas di depan mataku, itu rasanya sangat sakit dan sesak!" ungkap Adrian lantang.

Mendengar ucapannya barusan membuat hatiku merasa tersentuh. Walaupun hanya sebatas partner kerja, ia sungguh perhatian sekali padaku. Melihat partnerku bertingkah berlebihan seperti ini, aku merasa sungkan padanya karena aku selalu membuatnya cemas.

Mengingat aku sudah berada di luar kantor cukup lama, terpaksa aku mengakhiri perbincangan kami. Oh ya, tadi aku bepergian tanpa menyetir mobil. Lagi-lagi aku harus meminta bantuan Adrian, rasanya dosaku hari ini bertambah banyak karena merepotkan orang terus. "Maaf merepotkanmu sekali lagi, bolehkah kamu mengantarku ke kantor polisi lagi? Aku takut pelakunya akan mengincarku lagi."

"Tentu saja boleh. Ayo, naik mobilku! Ini demi keselamatanmu." jawab Adrian dengan penuh semangat menuntunku menuju mobilnya.

Tidak memakan waktu yang banyak, Adrian memberhentikan mobilnya di depan kantor polisi. Sebelum aku menuruni mobil Adrian, aku berpamitan dengannya terlebih dahulu.

"Terima kasih telah mengantarkanku kembali ke sini."

"Tidak masalah. Aku senang mengantarkanmu kembali dalam kondisi selamat," balasnya tersenyum tipis padaku.

Sebenarnya aku ingin berlama dengannya, namun mustahil aku menyita waktunya lagi. Terpaksa aku harus berpamitan dengannya. "Kalau begitu aku masuk ke kantor ya."

Aku menuruni mobil Adrian, lalu memasuki kantor langsung memanggil semua rekan timku memasuki ruang rapat untuk mengadakan rapat darurat. Di dalam ruang rapat, suasana mulai tegang. Padahal aku baru melakukan pemanasan berbasa-basi meregangkan lenganku ke atas sejenak untuk menenangkan pikiranku akibat diikuti penguntit tadi.

"Sepertinya pelakunya mengetahui keberadaanku," ucapku mulai berfokus pada rapat.

"Maksudmu apa, Penny?" tanya Tania dengan nada bingung.

"Tadi saat aku sedang berjalan kaki ke minimarket, aku diikuti seseorang dari belakang kemudian orang itu lari mengejarku," jawabku yang masih agak trauma dengan kejadian tadi.

Semuanya langsung hening dan suasana di dalam ruang rapat semakin tegang. Raut wajah Nathan dan Tania yang memucat dan keringat dingin terus mengalir pada leher mereka.

"Ini pertama kalinya … kamu diikuti atau hari sebelumnya pernah begini juga?" tanya Tania semakin ketakutan.

"Sebenarnya sih saat aku pergi ke tempat tinggal Alya untuk mencari Pak Tommy, aku mulai merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Tapi untungnya ada Jaksa Adrian sehingga pelakunya tidak berani menghadapiku."

"Tapi menurutku, bisa juga pelakunya sudah mengikutimu selama ini. Tidak hanya tadi dan saat kamu berkunjung ke tempat tinggal Alya," pikir Nathan mengernyitkan alis.

"Intinya kita semua tetap waspada saja. Kasus ini bukanlah kasus sederhana, jadi kemungkinan bisa melibatkan banyak korban," pesanku tegas kepada mereka semua.

Tatapan Tania mengamati sekeliling ruang rapat terasa sepi. Sudah pasti, satu rekan timku masih pergi entah ke mana di saat genting begini membuat Tania juga mulai geram. "Aduh, Ray di mana sih? Di situasi begini dia masih bisa keluar."

Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Tadi sih katanya ada urusan jadinya dia harus keluar sebentar."

Saat sedang membicarakan Ray, sontak Ray menampakkan dirinya di sini dengan membawa empat kantong plastik berisi makanan.

"Haha panjang umur kamu, Ray," ledek Nathan tertawa puas.

"Ada apa? Kalian sedang membicarakanku, ya?" tanya Ray dengan tatapan polos.

"Kamu lama sekali sih datangnya. Kamu ngapain aja sebenarnya dari tadi?" gerutu Tania memarahinya berkacak pinggang.

"Aku tadi pulang ke rumah sebentar karena tiba-tiba ada urusan keluarga, lalu sekalian aku belikan makanan untuk kalian. Ta-da!" kata Ray sambil membuka bungkusan makanan.

"Ah, kamu ini buat kita takut saja. Sudahlah ayo kita isi energi saja," selorohku langsung menggenggam sendok mulai menyantap makanannya dengan lahap.

Usai makan, aku melanjutkan mengerjakan pekerjaanku lagi. Hari ini aku lembur lagi hingga kali ini aku tertidur sampai pagi. Pagi harinya, saat aku membuka mataku, semua rekanku melihatku dengan tatapan yang tidak enak dilihat sampai mata mereka terbelalak.

Dengan sigap aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap cermin kecil di atas mejaku. Pantesan saja mereka melihatku sampai melotot begitu. Penampilanku sangat berantakan begini membuatku terkejut sekaligus panik sampai aku tidak sengaja menyenggol berkas-berkasku jatuh berserakan di atas lantai. Spontan aku bergegas memungut berkas-berkasku menaruhnya kembali di atas mejaku lalu aku bergegas berlari ke kamar kecil untuk merapikan diriku.

Ketika penampilanku sudah terlihat sempurna sekarang, aku memutuskan untuk kembali ke meja kerjaku. Di luar kamar kecil, Tania sudah menungguku dari tadi dan menatapku dengan tersenyum sinis.

"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku gugup.

"Oh, jadi begini penampakan Detektif Penny aslinya seperti ini saat tertidur haha," ejek Tania tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

"Ish kamu jangan pernah menceritakan kepada siapa pun mengenai hal ini! Pokoknya ini rahasia kita berempat aja. Aku malu soalnya," sungutku tersipu malu.

"Iya tenang saja. Aku kan suka menjaga rahasia orang. Kalau urusan rahasia, serahkan saja semuanya padaku," patuh Tania sambil menyentuh pundakku.

Di tengah perbincangan kami, sontak Pak John menghampiriku menatapku dengan tajam. Perasaanku selalu saja tidak enak setiap mengamati mimik wajah Pak John seperti ingin membunuhku.

"Detektif Penny, ayo ikut denganku!"

"Baik, Pak," jawabku dengan tegang.

Pak John mengajakku ke sel Pak Tommy ditahan. Ia melepas tahanan Pak Tommy tanpa memberitahu kepadaku terlebih dahulu. Padahal bisa dikatakan penahanan di sel sementara belum sampai 48 jam.

"Pak John, kenapa Pak Tommy dibebaskan? Dia kan ada hubungannya sama pelaku," protesku geram.

"Tidak ada bukti yang akurat untuk menahan dia lebih lama lagi. Lagi pula ini sudah waktunya dia dibebaskan," kata Pak John santai.

"Tapi, kan kita harus mencari tahu lagi mengenai dia," sergahku masih tidak ingin menurutinya.

"Lebih baik kamu fokus sama yang lain saja. Jangan fokus sama satu hal saja! Kasus ini sudah berjalan lama dan masih tidak ada perkembangan saja," celetuk Pak John menaikkan nada bicaranya satu oktaf.

Secara terpaksa aku harus menuruti perintah atasanku dan fokus menyelidiki hal lainnya yang berhubungan dengan kasus ini.

Lima jam kemudian, saat aku sedang berfokus pada layar monitorku, Tania menghampiriku dengan raut wajah panik.

"INI GAWAT, PENNY!" pekik Tania sangat panik hingga membuat gendang telingaku hampir pecah.

"Ada apa sih, Tania? Ada berita apa sampai kamu panik begitu?" tanyaku sangat penasaran.

"Pak Tommy yang tadi pagi dibebaskan, ditemukan tewas di tengah jalan karena kecelakaan tabrak lari," jawab Tania bergidik ngeri.

Reaksi semua anggota timku terkejut. Terutama aku langsung beranjak dari kursi dengan tatapan melotot. "Apa? Di mana kejadiannya?"

"Jalan Flamingo Raya, dia ditemukan tewas pukul 11 siang."

"Ayo kita ke sana sekarang!" ajakku terburu-buru meninggalkan kantor.

Setibanya di TKP, aku langsung memeriksa kondisi mayat Pak Tommy. Kali ini tidak ada bekas goresan ataupun tusukan di seluruh tubuhnya, tidak seperti korban sebelumnya. Di sekitar TKP, tidak ada tanda-tanda mengenai terjadinya pembunuhan. Memang ini terlihat seperti kasus tabrak lari biasa.

Tak lama kemudian, Adrian tiba di sini lalu menghampiriku melakukan pemeriksaannya bersamaku. "Ada apa ini? Kudengar katanya ini kasus tabrak lari.”

"Iya aku terima laporan memang ini kasus tabrak lari. Sudah kuselidiki tadi tidak ada tanda-tanda bekas goresan maupun tusukan di seluruh tubuh korban," jawabku mulai fokus pada penyelidikannya.

"Menurutku ini bukan kasus tabrak lari biasa. Apalagi dilihat dari waktunya seperti ada sesuatu yang tidak beres," ujar Adrian berpikir keras sampai dahinya berkerut.

"Aku juga memiliki persepsi yang sama sepertimu. Apalagi dia dibebaskan tiba-tiba sebelum 48 jam berakhir."

Adrian ikut berpikir kritis, sorot matanya mengamati sekelilingnya terutama kamera CCTV jalan di hadapannya membuat ada ide cemerlang terlintas pada pikirannya. "Ayo, kita lihat rekaman CCTV di sepanjang jalan!"

Aku dan Adrian melihat rekaman CCTV di sepanjang jalan. Memang di rekaman CCTV tersebut terlihat Pak Tommy sedang berjalan seperti biasa dan tiba-tiba ditabrak sebuah truk besar. Di sekitar TKP dalam rekaman CCTV, tidak ada tanda-tanda terjadi insiden pembunuhan.

"Menurutku ada yang aneh di sini. Kejadian saat siang hari, biasanya siang hari itu jarang adanya sebuah kecelakaan. Lagi pula ini kebetulan sekali, kenapa saat Pak Tommy dibebaskan langsung terjadi seperti ini?" ucapku menatap curiga melipat kedua tanganku di depan dada.

"Sepertinya pelaku yang menabrak Pak Tommy itu merupakan pelaku pembunuhan kasus Alya dan Pak Bastian. Pelaku sengaja menabrak Pak Tommy untuk menghilangkan jejak," kata Adrian.

"Tapi kenapa pelaku kali ini tidak hapus rekaman CCTV?"

"Mungkin pelakunya merasa tidak ada gunanya merusak CCTV karena wajahnya tertutup semua dan dia tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti sebelumnya supaya tidak ketahuan."

"Untungnya ada jejak rekaman CCTV, jadi kita bisa melacak plat truk itu dengan mudah," ujarku sedikit lega sambil menunjuk foto plat truk pada layar monitor.

"Aku akan menyuruh rekan-rekanku untuk melacak plat truk itu."

"Kalau begitu aku juga menyuruh rekanku untuk melacaknya juga."

Terpopuler

Comments

Ka

Ka

kok saya curiga sama si ray

2023-10-24

1

senja

senja

gak ada rem juga

2022-03-30

1

Dinalova

Dinalova

saya curiga dengan pak jonh

2022-03-26

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!