Walaupun aku sedikit merasa lega sekarang, namun tanganku masih gemetar dan keringat dingin terus mengalir pada wajahku hingga tubuhku terasa kaku. Untungnya saat aku sedang dikejar, Adrian menolongku dengan cepat.
Adrian menatapku dengan penuh rasa khawatir lalu memelukku erat. Aku membulatkan mataku dengan sempurna, sangat terkejut terhadap perlakuan Adrian sungguh tidak terduga. Apalagi aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya hingga membuat perasaanku sangat nyaman berada di dekatnya sekarang. Aku melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya sedikit gugup untuk membalas perlakuannya padaku. Sebenarnya aku tidak terbiasa dipeluk pria lain seperti ini, karena ini pertama kalinya sepanjang hidupku apalagi dipeluk seorang pemuda tampan yang baru saja berkenalan denganku beberapa saat lalu.
Sejenak Adrian melepas pelukan, lalu sorot matanya seperti alat scanner memeriksa kondisi tubuhku agak panik. "Penny, kamu terluka?"
Aku tetap harus menjaga sikap sebagai detektif tidak mudah terbawa perasaan. "Aku baik-baik saja, Adrian. Terima kasih sudah menolongku tadi. Mungkin kalau tadi kamu tidak menolongku, aku tidak bisa membayangkan nasibku seperti apa kalau sampai tertangkap oleh pelakunya."
"Sekarang kamu menjadi targetnya. Maka dari itu, kamu harus selalu berwaspada saat sedang berjalan kaki. Kalau bisa jangan pernah pergi sendirian. Kamu harus mengajak teman-temanmu menemanimu," pesannya dengan nada lembut membuatku semakin malu rasanya.
"Iya, aku mengerti. Ternyata kamu bisa juga cerewet seperti ibuku," ucapku memasang wajah cemberut.
"Aku cerewet begini karena aku tidak ingin melihat partner kerjaku tewas di depan mataku, itu rasanya sangat sakit dan sesak!" ungkap Adrian lantang.
Mendengar ucapannya barusan membuat hatiku merasa tersentuh. Walaupun hanya sebatas partner kerja, ia sungguh perhatian sekali padaku. Melihat partnerku bertingkah berlebihan seperti ini, aku merasa sungkan padanya karena aku selalu membuatnya cemas.
Mengingat aku sudah berada di luar kantor cukup lama, terpaksa aku mengakhiri perbincangan kami. Oh ya, tadi aku bepergian tanpa menyetir mobil. Lagi-lagi aku harus meminta bantuan Adrian, rasanya dosaku hari ini bertambah banyak karena merepotkan orang terus. "Maaf merepotkanmu sekali lagi, bolehkah kamu mengantarku ke kantor polisi lagi? Aku takut pelakunya akan mengincarku lagi."
"Tentu saja boleh. Ayo, naik mobilku! Ini demi keselamatanmu." jawab Adrian dengan penuh semangat menuntunku menuju mobilnya.
Tidak memakan waktu yang banyak, Adrian memberhentikan mobilnya di depan kantor polisi. Sebelum aku menuruni mobil Adrian, aku berpamitan dengannya terlebih dahulu.
"Terima kasih telah mengantarkanku kembali ke sini."
"Tidak masalah. Aku senang mengantarkanmu kembali dalam kondisi selamat," balasnya tersenyum tipis padaku.
Sebenarnya aku ingin berlama dengannya, namun mustahil aku menyita waktunya lagi. Terpaksa aku harus berpamitan dengannya. "Kalau begitu aku masuk ke kantor ya."
Aku menuruni mobil Adrian, lalu memasuki kantor langsung memanggil semua rekan timku memasuki ruang rapat untuk mengadakan rapat darurat. Di dalam ruang rapat, suasana mulai tegang. Padahal aku baru melakukan pemanasan berbasa-basi meregangkan lenganku ke atas sejenak untuk menenangkan pikiranku akibat diikuti penguntit tadi.
"Sepertinya pelakunya mengetahui keberadaanku," ucapku mulai berfokus pada rapat.
"Maksudmu apa, Penny?" tanya Tania dengan nada bingung.
"Tadi saat aku sedang berjalan kaki ke minimarket, aku diikuti seseorang dari belakang kemudian orang itu lari mengejarku," jawabku yang masih agak trauma dengan kejadian tadi.
Semuanya langsung hening dan suasana di dalam ruang rapat semakin tegang. Raut wajah Nathan dan Tania yang memucat dan keringat dingin terus mengalir pada leher mereka.
"Ini pertama kalinya … kamu diikuti atau hari sebelumnya pernah begini juga?" tanya Tania semakin ketakutan.
"Sebenarnya sih saat aku pergi ke tempat tinggal Alya untuk mencari Pak Tommy, aku mulai merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Tapi untungnya ada Jaksa Adrian sehingga pelakunya tidak berani menghadapiku."
"Tapi menurutku, bisa juga pelakunya sudah mengikutimu selama ini. Tidak hanya tadi dan saat kamu berkunjung ke tempat tinggal Alya," pikir Nathan mengernyitkan alis.
"Intinya kita semua tetap waspada saja. Kasus ini bukanlah kasus sederhana, jadi kemungkinan bisa melibatkan banyak korban," pesanku tegas kepada mereka semua.
Tatapan Tania mengamati sekeliling ruang rapat terasa sepi. Sudah pasti, satu rekan timku masih pergi entah ke mana di saat genting begini membuat Tania juga mulai geram. "Aduh, Ray di mana sih? Di situasi begini dia masih bisa keluar."
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Tadi sih katanya ada urusan jadinya dia harus keluar sebentar."
Saat sedang membicarakan Ray, sontak Ray menampakkan dirinya di sini dengan membawa empat kantong plastik berisi makanan.
"Haha panjang umur kamu, Ray," ledek Nathan tertawa puas.
"Ada apa? Kalian sedang membicarakanku, ya?" tanya Ray dengan tatapan polos.
"Kamu lama sekali sih datangnya. Kamu ngapain aja sebenarnya dari tadi?" gerutu Tania memarahinya berkacak pinggang.
"Aku tadi pulang ke rumah sebentar karena tiba-tiba ada urusan keluarga, lalu sekalian aku belikan makanan untuk kalian. Ta-da!" kata Ray sambil membuka bungkusan makanan.
"Ah, kamu ini buat kita takut saja. Sudahlah ayo kita isi energi saja," selorohku langsung menggenggam sendok mulai menyantap makanannya dengan lahap.
Usai makan, aku melanjutkan mengerjakan pekerjaanku lagi. Hari ini aku lembur lagi hingga kali ini aku tertidur sampai pagi. Pagi harinya, saat aku membuka mataku, semua rekanku melihatku dengan tatapan yang tidak enak dilihat sampai mata mereka terbelalak.
Dengan sigap aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap cermin kecil di atas mejaku. Pantesan saja mereka melihatku sampai melotot begitu. Penampilanku sangat berantakan begini membuatku terkejut sekaligus panik sampai aku tidak sengaja menyenggol berkas-berkasku jatuh berserakan di atas lantai. Spontan aku bergegas memungut berkas-berkasku menaruhnya kembali di atas mejaku lalu aku bergegas berlari ke kamar kecil untuk merapikan diriku.
Ketika penampilanku sudah terlihat sempurna sekarang, aku memutuskan untuk kembali ke meja kerjaku. Di luar kamar kecil, Tania sudah menungguku dari tadi dan menatapku dengan tersenyum sinis.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku gugup.
"Oh, jadi begini penampakan Detektif Penny aslinya seperti ini saat tertidur haha," ejek Tania tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Ish kamu jangan pernah menceritakan kepada siapa pun mengenai hal ini! Pokoknya ini rahasia kita berempat aja. Aku malu soalnya," sungutku tersipu malu.
"Iya tenang saja. Aku kan suka menjaga rahasia orang. Kalau urusan rahasia, serahkan saja semuanya padaku," patuh Tania sambil menyentuh pundakku.
Di tengah perbincangan kami, sontak Pak John menghampiriku menatapku dengan tajam. Perasaanku selalu saja tidak enak setiap mengamati mimik wajah Pak John seperti ingin membunuhku.
"Detektif Penny, ayo ikut denganku!"
"Baik, Pak," jawabku dengan tegang.
Pak John mengajakku ke sel Pak Tommy ditahan. Ia melepas tahanan Pak Tommy tanpa memberitahu kepadaku terlebih dahulu. Padahal bisa dikatakan penahanan di sel sementara belum sampai 48 jam.
"Pak John, kenapa Pak Tommy dibebaskan? Dia kan ada hubungannya sama pelaku," protesku geram.
"Tidak ada bukti yang akurat untuk menahan dia lebih lama lagi. Lagi pula ini sudah waktunya dia dibebaskan," kata Pak John santai.
"Tapi, kan kita harus mencari tahu lagi mengenai dia," sergahku masih tidak ingin menurutinya.
"Lebih baik kamu fokus sama yang lain saja. Jangan fokus sama satu hal saja! Kasus ini sudah berjalan lama dan masih tidak ada perkembangan saja," celetuk Pak John menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
Secara terpaksa aku harus menuruti perintah atasanku dan fokus menyelidiki hal lainnya yang berhubungan dengan kasus ini.
Lima jam kemudian, saat aku sedang berfokus pada layar monitorku, Tania menghampiriku dengan raut wajah panik.
"INI GAWAT, PENNY!" pekik Tania sangat panik hingga membuat gendang telingaku hampir pecah.
"Ada apa sih, Tania? Ada berita apa sampai kamu panik begitu?" tanyaku sangat penasaran.
"Pak Tommy yang tadi pagi dibebaskan, ditemukan tewas di tengah jalan karena kecelakaan tabrak lari," jawab Tania bergidik ngeri.
Reaksi semua anggota timku terkejut. Terutama aku langsung beranjak dari kursi dengan tatapan melotot. "Apa? Di mana kejadiannya?"
"Jalan Flamingo Raya, dia ditemukan tewas pukul 11 siang."
"Ayo kita ke sana sekarang!" ajakku terburu-buru meninggalkan kantor.
Setibanya di TKP, aku langsung memeriksa kondisi mayat Pak Tommy. Kali ini tidak ada bekas goresan ataupun tusukan di seluruh tubuhnya, tidak seperti korban sebelumnya. Di sekitar TKP, tidak ada tanda-tanda mengenai terjadinya pembunuhan. Memang ini terlihat seperti kasus tabrak lari biasa.
Tak lama kemudian, Adrian tiba di sini lalu menghampiriku melakukan pemeriksaannya bersamaku. "Ada apa ini? Kudengar katanya ini kasus tabrak lari.”
"Iya aku terima laporan memang ini kasus tabrak lari. Sudah kuselidiki tadi tidak ada tanda-tanda bekas goresan maupun tusukan di seluruh tubuh korban," jawabku mulai fokus pada penyelidikannya.
"Menurutku ini bukan kasus tabrak lari biasa. Apalagi dilihat dari waktunya seperti ada sesuatu yang tidak beres," ujar Adrian berpikir keras sampai dahinya berkerut.
"Aku juga memiliki persepsi yang sama sepertimu. Apalagi dia dibebaskan tiba-tiba sebelum 48 jam berakhir."
Adrian ikut berpikir kritis, sorot matanya mengamati sekelilingnya terutama kamera CCTV jalan di hadapannya membuat ada ide cemerlang terlintas pada pikirannya. "Ayo, kita lihat rekaman CCTV di sepanjang jalan!"
Aku dan Adrian melihat rekaman CCTV di sepanjang jalan. Memang di rekaman CCTV tersebut terlihat Pak Tommy sedang berjalan seperti biasa dan tiba-tiba ditabrak sebuah truk besar. Di sekitar TKP dalam rekaman CCTV, tidak ada tanda-tanda terjadi insiden pembunuhan.
"Menurutku ada yang aneh di sini. Kejadian saat siang hari, biasanya siang hari itu jarang adanya sebuah kecelakaan. Lagi pula ini kebetulan sekali, kenapa saat Pak Tommy dibebaskan langsung terjadi seperti ini?" ucapku menatap curiga melipat kedua tanganku di depan dada.
"Sepertinya pelaku yang menabrak Pak Tommy itu merupakan pelaku pembunuhan kasus Alya dan Pak Bastian. Pelaku sengaja menabrak Pak Tommy untuk menghilangkan jejak," kata Adrian.
"Tapi kenapa pelaku kali ini tidak hapus rekaman CCTV?"
"Mungkin pelakunya merasa tidak ada gunanya merusak CCTV karena wajahnya tertutup semua dan dia tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti sebelumnya supaya tidak ketahuan."
"Untungnya ada jejak rekaman CCTV, jadi kita bisa melacak plat truk itu dengan mudah," ujarku sedikit lega sambil menunjuk foto plat truk pada layar monitor.
"Aku akan menyuruh rekan-rekanku untuk melacak plat truk itu."
"Kalau begitu aku juga menyuruh rekanku untuk melacaknya juga."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Ka
kok saya curiga sama si ray
2023-10-24
1
senja
gak ada rem juga
2022-03-30
1
Dinalova
saya curiga dengan pak jonh
2022-03-26
1