Tanpa berpikir panjang aku langsung menghampirinya. Pak Tommy menatapku dengan rasa takut saat melihat name tagku bergantungan pada leherku. Baru saja aku hendak membuka suaraku namun Pak Tommy beranjak dari kursinya menghindariku seperti melihat hantu.
"Jangan mendekat!" pekik Pak Tommy bergegas melarikan diri dari kami keluar dari restoran.
Aku dan Adrian berlari mengejarnya keluar dari restoran sampai berhasil menangkapnya. Karena Pak Tommy berlari sangat lincah hingga kini napasku tersengal-sengal sambil berlarian memegangi perutku.
Menyadari tingkahku saat ini, sambil berlarian Adrian terus menatapku. "Penny, biar aku saja yang menangkapnya. Kamu beristirahat dulu saja. Kalau aku berhasil menangkapnya, nanti aku akan menghubungimu."
Aku suka perhatian yang diberikan Adrian membuatku tersentuh. Namun, aku tetap tidak ingin membiarkannya melakukan sendirian. Apalagi aku seorang detektif dan ia jaksa, sudah pasti pekerjaan seperti ini seharusnya dilakukan detektif. "Aku baik-baik saja, Adrian. Sebaiknya kita berdua mencarinya bersama saja supaya cepat menangkapnya."
"Tapi Penny--"
"Sebaiknya kita berpencar saja supaya tidak membuang waktu," usulku sambil menambahkan kecepatan lariku.
Aku dan Adrian mengejarnya secara berpencar. Saat aku sibuk mengejarnya, aku sudah terlalu lelah, nafasku sudah sesak hingga tubuhku tidak kuat lagi terjatuh di atas tanah dan kehilangan jejak Pak Tommy. Tidak biasanya aku kehabisan stamina secepat ini, mungkin efek samping aku keseringan bangun kesiangan.
Untung saja aku menyarankan Adrian untuk berpencar. Dengan begini, kemungkinan Adrian bisa menangkapnya dengan tangannya sendiri. Sekarang aku hanya bisa mengandalkannya saja. Aku memutuskan beristirahat sejenak di dalam mobilku sambil melemaskan kakiku yang terasa pegal. Kakiku jadi cedera membuatku sedikit kesakitan akibat tadi tidak sengaja terjatuh.
Sudah sepuluh menit berjalan aku menunggu kabar dari darinya mengenai penangkapan Pak Tommy. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Adrian saat melakukan pengejaran.
drrt...drrt...
Melihat nama Adrian yang muncul pada layar ponselku, dengan sigap aku mengangkat panggilan teleponnya.
"Penny, aku sudah menangkap Pak Tommy dan sedang perjalanan ke kantor polisi sekarang," ucap Adrian lewat telepon.
"Baiklah aku segera ke sana," jawabku terburu-buru langsung mematikan panggilan teleponnya dan melajukan mobilku menuju kantor polisi.
Setibanya di kantor polisi, aku bergegas memasuki ruang interogasi untuk menginterogasi Pak Tommy. Tatapan Pak Tommy seolah-olah tidak ingin melihatku sama sekali. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan dan mencurigakan. Justru melihat mimik wajahnya penuh rasa gugup, aku merasa semakin tertantang ingin menggali informasi lebih dalam.
"Kenapa Anda terlihat sangat gugup? Santai saja, hanya interogasi biasa," lontarku sengaja berbasa-basi sambil membuka buku catatanku dan pulpen.
"Kenapa Anda mengincar saya? Memangnya saya ada salah apa?" jawab Pak Tommy dengan berani.
Aku mendengar perkataan itu langsung memukul meja dengan keras hingga tanganku agak terasa sakit. "Ada salah apa? Di saat begini Anda masih pura-pura tidak tahu apa-apa!"
"Kasus pembunuhan mantan istri saya tidak ada hubungannya dengan saya. Kami sudah berpisah sejak lama," lontar Pak Tommy seperti tidak berdosa.
"Jika tidak ada hubungannya, kenapa sebelum mantan istri Anda terbunuh, dia mengucapkan sesuatu mengenai Anda. Pasti Anda mengenal pelakunya, 'kan. Kalau tidak mengenal pelakunya, mengapa Anda tadi langsung kabur begitu saja saat saya menghampiri Anda," tukasku menatap menyeringai.
"Saya langsung kabur karena saya terkejut tiba-tiba melihat seorang detektif menghampiri saya. Lagi pula saya sungguh tidak mengenal pelakunya. Selama ini saya berhubungan dengan pelaku hanya melalui telepon saja. Sayangnya sudah lama pelakunya tidak menghubungiku lagi. Jadi saya hanya mendengar suaranya saja," sergah Pak Tommy membela dirinya.
"Kalau begitu, apakah saya boleh mengecek ponsel Anda?" tanyaku dengan tatapan tajam.
"Silakan saja. Saya jamin nomor orang itu sudah tidak berfungsi lagi karena dia memakai nomor sementara," jawab Pak Tommy.
"Baiklah kalau begitu, saya akan menahan Anda di sini selama 48 jam," ucapku sambil meninggalkan ruang interogasi.
Setelah aku meninggalkan ruang interogasi, aku melihat raut wajah Adrian penuh rasa khawatir. Ia menghampiriku dan membawakan sebuah obat untuk mengobatiku. Tidak kusangka, ternyata selain ia merupakan pria yang berkarisma di mataku, ia juga memiliki sikap yang sangat peduli padaku sampai mengobatiku dengan sukarela.
"Mari duduk dulu, Penny!" ajak Adrian menggenggam tanganku menduduki sebuah kursi kosong.
Adrian membuka tutup obatnya lalu mengoleskan obatnya pada luka di kaki kananku sedikit berdarah menggunakan kapas. "Aku akan mengobatimu perlahan, supaya kamu tidak kesakitan."
Tanpa disadari mungkin senyumanku sekarang terlihat tidak karuan. Dilihat teknik pengobatannya terhadapku, aku suka mengamati mimik wajahnya penuh kecemasan. Apalagi ia sungguh mengobatiku dengan lembut, sehingga aku tidak merasa kesakitan.
"Penny, seharusnya kamu lebih berhati-hati. Jangan bertindak gegabah sampai terjatuh, jadinya kamu tidak terluka sampai begini. Seharusnya dari awal saja aku yang menangkapnya tadi."
"Aku baik-baik saja, Adrian. Ini hanya luka kecil saja, lagi pula aku sudah terbiasa dengan ini," kataku tersipu malu.
"Pokoknya aku tidak mau melihat rekanku terluka begini." Adrian menempelkan perban kecil pada luka di kakiku.
Cara bicaranya jika didengar wanita lain, mungkin jantung mereka semua akan berdebar kencang. Wanita mana lagi yang tidak menyukai sikapnya yang terlalu lembut. Namun, hingga detik ini aku masih menganggap Adrian sebagai partner kerjaku. Aku hanya bisa bersyukur memiliki partner kerja yang sangat peduli padaku, terlebih lagi di saat aku terluka. Ia memperlakukan partner kerja sangat manis, apalagi wanita yang menjadi kekasihnya atau istrinya, aku mengakui wanita itu pasti sangat beruntung.
"Terima kasih telah mengobatiku," ucapku lembut padanya.
"Aku pergi dulu ya. Kamu harus selalu berhati-hati," pamitnya sambil menepuk pundak kananku.
"Kamu juga hati-hati, Adrian."
Ketika Adrian sudah tidak menampakkan dirinya lagi, aku duduk termenung terus memikirkan betapa baik dan perhatiannya seorang partner kerja yang sangat rela menungguku selesai interogasi dan mengobati lukaku. Bahkan teman-temanku tidak pernah bersikap perhatian padaku sampai begitu. Memang Adrian merupakan jaksa terbaik bagiku, dibandingkan para jaksa yang pernah kutemui sombong.
Tiba-tiba Tania mendongakkan kepalanya di hadapanku hingga membuatku tersentak kaget sambil mengelus dadaku.
"Aduh, kamu membuatku kaget saja, Tania!"
"Hei, Penny! Kamu sedang melamun apa sampai tersenyum sendiri," tegur Tania tertawa kecil.
"Aku tidak senyum sendiri kok," bantahku memasang wajah polos.
Tania terus menertawaiku, aku tahu isi pikirannya apa karena ia pasti melihatku dan Adrian tadi. Tangan kanannya merangkul pundakku sambil membantuku beranjak dari bangku. "Ayo kita ke ruang rapat! Pak John telah menunggumu di sana."
Aku bergegas mengikuti Tania memasuki ruang rapat. Perasaanku menjadi tidak enak ketika memasuki ruangan itu. Suasana di sana sangat tegang ditambah ruangannya yang dingin seperti kutub utara.
"Apa yang dikatakan Pak Tommy saat kamu menginterogasinya?" tanya Pak John menatapku tajam.
"Pak Tommy menyangkal bahwa dia sama sekali tidak mengenal wajah pelaku. Dia selama ini berkomunikasi dengan pelaku hanya menelepon saja," jawabku menghembuskan napasku lemas.
"Lalu, ponsel pelaku di mana?"
Nathan memperlihatkan ponsel milik Pak Tommy. “Ini ponselnya. Tapi kata Penny, nomor ini hanya sementara. Apakah percuma kalau kita melacak nomor yang sudah tidak berguna?”
"Kita tetap harus melacaknya. Dengan nomor sementara itu, kita bisa cari pelakunya lebih mudah. Pokoknya cepat lacak nomor sementara itu sekarang juga, rapat sekian sampai di sini," ucap Pak John yang kesal meninggalkan ruang rapat.
Lagi-lagi aku harus lembur, kali ini aku dan rekan timku bekerja tanpa henti-hentinya untuk melacak nomor ponsel itu. Hingga besok pagi, sudah kami hubungi ke seluruh tempat gerai nomor ponsel tapi tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa ada yang membeli nomor sementara.
"Tunggu sebentar! Anda mengatakan bahwa ada yang membeli nomor ini di gerai Anda?" tanya Nathan melalui telepon.
"Kamu menemukannya, Nathan?" tanyaku yang penasaran sambil menghampirinya.
"Iya tapi kata penjualnya, orang membeli nomor sementara itu katanya wajahnya ditutupi memakai masker dan memakai jaket hitam tebal. Tapi sayangnya pelaku itu mengancam penjualnya tidak menyimpan bukti transaksi," lapor Nathan.
"Aduh, keadaan semakin rumit sekarang! Kerja yang bagus Nathan," ucapku menggarukkan kepalaku sambil menepuk pundak Nathan.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan menatap papan yang berisi berbagai foto yang berhubungan dengan kasus ini. Jadi korban Alya dibunuh pada tanggal 12 Januari 2020, menurut rekaman dasbor mobil ada dua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan ini. Tanggal 17 Januari 2020, saksi mata yang bernama Pak Bastian ditemukan tewas saat ingin bertemu denganku, kamera CCTV di sekitar sana sudah dirusak oleh pelaku dan ponsel milik Pak Bastian hilang entah kemana. Sepertinya pelaku sudah tahu dari awal bahwa Pak Bastian ingin bertemu denganku, tapi ia bagaimana bisa tahu ya? Lalu suami Alya yang bernama Pak Tommy menyangkal bahwa ia kenal dekat dengan pelaku. Selama ini, ia berkomunikasi dengan pelaku hanya melalui telepon saja. Sebenarnya hal apa yang telah kulewatkan?
Aku terus berpikir keras hingga dahiku berkerut. Di saat aku sedang sibuk berpikir, Ray menghampiriku tiba-tiba.
"Apakah aku boleh keluar sebentar? Soalnya ada urusan keluarga tiba-tiba," tanya Ray terburu-buru.
"Boleh, tapi jangan terlalu lama. Kerjaan kita masih banyak soalnya," jawabku tegas.
Gara-gara Ray izin keluar sebentar rasanya aku juga ingin beristirahat. Berjalan di luar kantor sambil menghirup udara segar rasanya sangat lega dibandingkan berdiam diri terus di dalam kantor yang udaranya pengap membuatku sesak. Karena aku sudah terlanjur berjalan kaki, aku memutuskan menghampiri sebuah minimarket dekat kantor untuk membeli camilan.
Saat aku sedang melangkahkan kakiku menuju minimarket, rasanya ada seseorang yang sedang mengikutiku dari belakang. Semakin lama langkah kaki orang tersebut semakin besar hingga membuatku bergidik ngeri sambil mempercepat langkah kakiku. Karena orang itu tidak menyerah mengejarku, maka dari itu aku memutuskan berlari menuju tempat yang aman. Perasaan ini seperti saat aku dan Adrian meninggalkan tempat tinggal Alya. Apakah orang yang sedang mengejarku sekarang adalah pelaku sesungguhnya?
Dengan penuh rasa takut aku terus berlari tanpa menoleh ke belakang menuju jalan umum agar orang itu tidak akan menemukanku di tengah kerumunan orang. Akan tetapi, orang itu masih terus mengincarku tanpa menyerah.
Saat ini aku semakin panik. Aku tidak bisa berpikir jernih ingin bersembunyi di mana lagi. Memang seharusnya aku sebagai detektif mengejar pelaku, tapi sejujurnya aku seorang wanita dan belum ada pengalaman menghadapi pelaku kriminal pembunuhan, aku cemas justru nyawaku yang terancam jika menghadapi sendirian.
Aku pergi ke mana saja pasti orang itu bisa menemukanku. Ketika aku sibuk berlarian dengan tatapan fokus ke depan, tiba-tiba ada seorang pria yang menarik tangan kiriku dan membawaku memasuki sebuah toko pakaian. Kedua mataku kini terpejam sambil menarik napasku dengan dalam untuk menenangkan diriku.
"Penny, ini aku."
Ternyata sosok pria yang menolongku barusan adalah Adrian. Aku membuka mataku perlahan bernapas sedikit lega setelah menghadapi situasi mencekam. Namun tatapan matanya kini penuh rasa khawatir padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
senja
brti tau identitas pelaku
2022-03-30
1
Ridho Talita
wadidaw..
2021-06-28
1
Annabelle Lovely Lorenza
jgn2 jaksa Adrian pelakunya..krn dmn2 slu bertemu sm dia..sering di minimarket lgganan lg
2021-04-06
1