Part 5 - Partner Kerja yang Peduli

Tanpa berpikir panjang aku langsung menghampirinya. Pak Tommy menatapku dengan rasa takut saat melihat name tagku bergantungan pada leherku. Baru saja aku hendak membuka suaraku namun Pak Tommy beranjak dari kursinya menghindariku seperti melihat hantu.

"Jangan mendekat!" pekik Pak Tommy bergegas melarikan diri dari kami keluar dari restoran.

Aku dan Adrian berlari mengejarnya keluar dari restoran sampai berhasil menangkapnya. Karena Pak Tommy berlari sangat lincah hingga kini napasku tersengal-sengal sambil berlarian memegangi perutku.

Menyadari tingkahku saat ini, sambil berlarian Adrian terus menatapku. "Penny, biar aku saja yang menangkapnya. Kamu beristirahat dulu saja. Kalau aku berhasil menangkapnya, nanti aku akan menghubungimu."

Aku suka perhatian yang diberikan Adrian membuatku tersentuh. Namun, aku tetap tidak ingin membiarkannya melakukan sendirian. Apalagi aku seorang detektif dan ia jaksa, sudah pasti pekerjaan seperti ini seharusnya dilakukan detektif. "Aku baik-baik saja, Adrian. Sebaiknya kita berdua mencarinya bersama saja supaya cepat menangkapnya."

"Tapi Penny--"

"Sebaiknya kita berpencar saja supaya tidak membuang waktu," usulku sambil menambahkan kecepatan lariku.

Aku dan Adrian mengejarnya secara berpencar. Saat aku sibuk mengejarnya, aku sudah terlalu lelah, nafasku sudah sesak hingga tubuhku tidak kuat lagi terjatuh di atas tanah dan kehilangan jejak Pak Tommy. Tidak biasanya aku kehabisan stamina secepat ini, mungkin efek samping aku keseringan bangun kesiangan.

Untung saja aku menyarankan Adrian untuk berpencar. Dengan begini, kemungkinan Adrian bisa menangkapnya dengan tangannya sendiri. Sekarang aku hanya bisa mengandalkannya saja. Aku memutuskan beristirahat sejenak di dalam mobilku sambil melemaskan kakiku yang terasa pegal. Kakiku jadi cedera membuatku sedikit kesakitan akibat tadi tidak sengaja terjatuh.

Sudah sepuluh menit berjalan aku menunggu kabar dari darinya mengenai penangkapan Pak Tommy. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Adrian saat melakukan pengejaran.

drrt...drrt...

Melihat nama Adrian yang muncul pada layar ponselku, dengan sigap aku mengangkat panggilan teleponnya.

"Penny, aku sudah menangkap Pak Tommy dan sedang perjalanan ke kantor polisi sekarang," ucap Adrian lewat telepon.

"Baiklah aku segera ke sana," jawabku terburu-buru langsung mematikan panggilan teleponnya dan melajukan mobilku menuju kantor polisi.

Setibanya di kantor polisi, aku bergegas memasuki ruang interogasi untuk menginterogasi Pak Tommy. Tatapan Pak Tommy seolah-olah tidak ingin melihatku sama sekali. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan dan mencurigakan. Justru melihat mimik wajahnya penuh rasa gugup, aku merasa semakin tertantang ingin menggali informasi lebih dalam.

"Kenapa Anda terlihat sangat gugup? Santai saja, hanya interogasi biasa," lontarku sengaja berbasa-basi sambil membuka buku catatanku dan pulpen.

"Kenapa Anda mengincar saya? Memangnya saya ada salah apa?" jawab Pak Tommy dengan berani.

Aku mendengar perkataan itu langsung memukul meja dengan keras hingga tanganku agak terasa sakit. "Ada salah apa? Di saat begini Anda masih pura-pura tidak tahu apa-apa!"

"Kasus pembunuhan mantan istri saya tidak ada hubungannya dengan saya. Kami sudah berpisah sejak lama," lontar Pak Tommy seperti tidak berdosa.

"Jika tidak ada hubungannya, kenapa sebelum mantan istri Anda terbunuh, dia mengucapkan sesuatu mengenai Anda. Pasti Anda mengenal pelakunya, 'kan. Kalau tidak mengenal pelakunya, mengapa Anda tadi langsung kabur begitu saja saat saya menghampiri Anda," tukasku menatap menyeringai.

"Saya langsung kabur karena saya terkejut tiba-tiba melihat seorang detektif menghampiri saya. Lagi pula saya sungguh tidak mengenal pelakunya. Selama ini saya berhubungan dengan pelaku hanya melalui telepon saja. Sayangnya sudah lama pelakunya tidak menghubungiku lagi. Jadi saya hanya mendengar suaranya saja," sergah Pak Tommy membela dirinya.

"Kalau begitu, apakah saya boleh mengecek ponsel Anda?" tanyaku dengan tatapan tajam.

"Silakan saja. Saya jamin nomor orang itu sudah tidak berfungsi lagi karena dia memakai nomor sementara," jawab Pak Tommy.

"Baiklah kalau begitu, saya akan menahan Anda di sini selama 48 jam," ucapku sambil meninggalkan ruang interogasi.

Setelah aku meninggalkan ruang interogasi, aku melihat raut wajah Adrian penuh rasa khawatir. Ia menghampiriku dan membawakan sebuah obat untuk mengobatiku. Tidak kusangka, ternyata selain ia merupakan pria yang berkarisma di mataku, ia juga memiliki sikap yang sangat peduli padaku sampai mengobatiku dengan sukarela.

"Mari duduk dulu, Penny!" ajak Adrian menggenggam tanganku menduduki sebuah kursi kosong.

Adrian membuka tutup obatnya lalu mengoleskan obatnya pada luka di kaki kananku sedikit berdarah menggunakan kapas. "Aku akan mengobatimu perlahan, supaya kamu tidak kesakitan."

Tanpa disadari mungkin senyumanku sekarang terlihat tidak karuan. Dilihat teknik pengobatannya terhadapku, aku suka mengamati mimik wajahnya penuh kecemasan. Apalagi ia sungguh mengobatiku dengan lembut, sehingga aku tidak merasa kesakitan.

"Penny, seharusnya kamu lebih berhati-hati. Jangan bertindak gegabah sampai terjatuh, jadinya kamu tidak terluka sampai begini. Seharusnya dari awal saja aku yang menangkapnya tadi."

"Aku baik-baik saja, Adrian. Ini hanya luka kecil saja, lagi pula aku sudah terbiasa dengan ini," kataku tersipu malu.

"Pokoknya aku tidak mau melihat rekanku terluka begini." Adrian menempelkan perban kecil pada luka di kakiku.

Cara bicaranya jika didengar wanita lain, mungkin jantung mereka semua akan berdebar kencang. Wanita mana lagi yang tidak menyukai sikapnya yang terlalu lembut. Namun, hingga detik ini aku masih menganggap Adrian sebagai partner kerjaku. Aku hanya bisa bersyukur memiliki partner kerja yang sangat peduli padaku, terlebih lagi di saat aku terluka. Ia memperlakukan partner kerja sangat manis, apalagi wanita yang menjadi kekasihnya atau istrinya, aku mengakui wanita itu pasti sangat beruntung.

"Terima kasih telah mengobatiku," ucapku lembut padanya.

"Aku pergi dulu ya. Kamu harus selalu berhati-hati," pamitnya sambil menepuk pundak kananku.

"Kamu juga hati-hati, Adrian."

Ketika Adrian sudah tidak menampakkan dirinya lagi, aku duduk termenung terus memikirkan betapa baik dan perhatiannya seorang partner kerja yang sangat rela menungguku selesai interogasi dan mengobati lukaku. Bahkan teman-temanku tidak pernah bersikap perhatian padaku sampai begitu. Memang Adrian merupakan jaksa terbaik bagiku, dibandingkan para jaksa yang pernah kutemui sombong.

Tiba-tiba Tania mendongakkan kepalanya di hadapanku hingga membuatku tersentak kaget sambil mengelus dadaku.

"Aduh, kamu membuatku kaget saja, Tania!"

"Hei, Penny! Kamu sedang melamun apa sampai tersenyum sendiri," tegur Tania tertawa kecil.

"Aku tidak senyum sendiri kok," bantahku memasang wajah polos.

Tania terus menertawaiku, aku tahu isi pikirannya apa karena ia pasti melihatku dan Adrian tadi. Tangan kanannya merangkul pundakku sambil membantuku beranjak dari bangku. "Ayo kita ke ruang rapat! Pak John telah menunggumu di sana."

Aku bergegas mengikuti Tania memasuki ruang rapat. Perasaanku menjadi tidak enak ketika memasuki ruangan itu. Suasana di sana sangat tegang ditambah ruangannya yang dingin seperti kutub utara.

"Apa yang dikatakan Pak Tommy saat kamu menginterogasinya?" tanya Pak John menatapku tajam.

"Pak Tommy menyangkal bahwa dia sama sekali tidak mengenal wajah pelaku. Dia selama ini berkomunikasi dengan pelaku hanya menelepon saja," jawabku menghembuskan napasku lemas.

"Lalu, ponsel pelaku di mana?"

Nathan memperlihatkan ponsel milik Pak Tommy. “Ini ponselnya. Tapi kata Penny, nomor ini hanya sementara. Apakah percuma kalau kita melacak nomor yang sudah tidak berguna?”

"Kita tetap harus melacaknya. Dengan nomor sementara itu, kita bisa cari pelakunya lebih mudah. Pokoknya cepat lacak nomor sementara itu sekarang juga, rapat sekian sampai di sini," ucap Pak John yang kesal meninggalkan ruang rapat.

Lagi-lagi aku harus lembur, kali ini aku dan rekan timku bekerja tanpa henti-hentinya untuk melacak nomor ponsel itu. Hingga besok pagi, sudah kami hubungi ke seluruh tempat gerai nomor ponsel tapi tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa ada yang membeli nomor sementara.

"Tunggu sebentar! Anda mengatakan bahwa ada yang membeli nomor ini di gerai Anda?" tanya Nathan melalui telepon.

"Kamu menemukannya, Nathan?" tanyaku yang penasaran sambil menghampirinya.

"Iya tapi kata penjualnya, orang membeli nomor sementara itu katanya wajahnya ditutupi memakai masker dan memakai jaket hitam tebal. Tapi sayangnya pelaku itu mengancam penjualnya tidak menyimpan bukti transaksi," lapor Nathan.

"Aduh, keadaan semakin rumit sekarang! Kerja yang bagus Nathan," ucapku menggarukkan kepalaku sambil menepuk pundak Nathan.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan menatap papan yang berisi berbagai foto yang berhubungan dengan kasus ini. Jadi korban Alya dibunuh pada tanggal 12 Januari 2020, menurut rekaman dasbor mobil ada dua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan ini. Tanggal 17 Januari 2020, saksi mata yang bernama Pak Bastian ditemukan tewas saat ingin bertemu denganku, kamera CCTV di sekitar sana sudah dirusak oleh pelaku dan ponsel milik Pak Bastian hilang entah kemana. Sepertinya pelaku sudah tahu dari awal bahwa Pak Bastian ingin bertemu denganku, tapi ia bagaimana bisa tahu ya? Lalu suami Alya yang bernama Pak Tommy menyangkal bahwa ia kenal dekat dengan pelaku. Selama ini, ia berkomunikasi dengan pelaku hanya melalui telepon saja. Sebenarnya hal apa yang telah kulewatkan?

Aku terus berpikir keras hingga dahiku berkerut. Di saat aku sedang sibuk berpikir, Ray menghampiriku tiba-tiba.

"Apakah aku boleh keluar sebentar? Soalnya ada urusan keluarga tiba-tiba," tanya Ray terburu-buru.

"Boleh, tapi jangan terlalu lama. Kerjaan kita masih banyak soalnya," jawabku tegas.

Gara-gara Ray izin keluar sebentar rasanya aku juga ingin beristirahat. Berjalan di luar kantor sambil menghirup udara segar rasanya sangat lega dibandingkan berdiam diri terus di dalam kantor yang udaranya pengap membuatku sesak. Karena aku sudah terlanjur berjalan kaki, aku memutuskan menghampiri sebuah minimarket dekat kantor untuk membeli camilan.

Saat aku sedang melangkahkan kakiku menuju minimarket, rasanya ada seseorang yang sedang mengikutiku dari belakang. Semakin lama langkah kaki orang tersebut semakin besar hingga membuatku bergidik ngeri sambil mempercepat langkah kakiku. Karena orang itu tidak menyerah mengejarku, maka dari itu aku memutuskan berlari menuju tempat yang aman. Perasaan ini seperti saat aku dan Adrian meninggalkan tempat tinggal Alya. Apakah orang yang sedang mengejarku sekarang adalah pelaku sesungguhnya?

Dengan penuh rasa takut aku terus berlari tanpa menoleh ke belakang menuju jalan umum agar orang itu tidak akan menemukanku di tengah kerumunan orang. Akan tetapi, orang itu masih terus mengincarku tanpa menyerah.

Saat ini aku semakin panik. Aku tidak bisa berpikir jernih ingin bersembunyi di mana lagi. Memang seharusnya aku sebagai detektif mengejar pelaku, tapi sejujurnya aku seorang wanita dan belum ada pengalaman menghadapi pelaku kriminal pembunuhan, aku cemas justru nyawaku yang terancam jika menghadapi sendirian.

Aku pergi ke mana saja pasti orang itu bisa menemukanku. Ketika aku sibuk berlarian dengan tatapan fokus ke depan, tiba-tiba ada seorang pria yang menarik tangan kiriku dan membawaku memasuki sebuah toko pakaian. Kedua mataku kini terpejam sambil menarik napasku dengan dalam untuk menenangkan diriku.

"Penny, ini aku."

Ternyata sosok pria yang menolongku barusan adalah Adrian. Aku membuka mataku perlahan bernapas sedikit lega setelah menghadapi situasi mencekam. Namun tatapan matanya kini penuh rasa khawatir padaku.

Terpopuler

Comments

senja

senja

brti tau identitas pelaku

2022-03-30

1

Ridho Talita

Ridho Talita

wadidaw..

2021-06-28

1

Annabelle Lovely Lorenza

Annabelle Lovely Lorenza

jgn2 jaksa Adrian pelakunya..krn dmn2 slu bertemu sm dia..sering di minimarket lgganan lg

2021-04-06

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Kota yang Damai
2 Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3 Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4 Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5 Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6 Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7 Part 7 - The Reason
8 Part 8 - First Gift From Him
9 Part 9 - Terungkap
10 Part 10 - Luka yang Membekas
11 Part 11 - Healed
12 Part 12 - Teror
13 Part 13 - Iblis
14 Part 14 - Masa Kritis
15 Part 15 - Best Gift Ever
16 Part 16 - It's Not Over Yet
17 Part 17 - Our Friendship Is Over
18 Part 18 - Cold Hearted Girl
19 Part 19 - Best Friend
20 Part 20 - Dunia Sempit
21 Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22 Part 22 - Jebakan
23 Part 23 - Interogasi
24 Part 24 - Chip Misterius
25 Part 25 - Versailles
26 Part 26 - Topeng yang Dilepas
27 Part 27 - I'm Right Here For You
28 Part 28 - Keberadaan Ayah
29 Part 29 - Bertemu Ayah
30 Part 30 - Bodyguard
31 Part 31 - Kartu Cadangan
32 Part 32 - Pengejaran
33 Part 33 - Menyusup
34 Part 34 - Kerja Sama Tim
35 Part 35 - Pilihan
36 Part 36 - Melarikan Diri
37 Part 37 - I Promise To Protect You
38 Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39 Part 39 - Akhir Persidangan
40 Part 40 - Be My Girlfriend
41 Part 41 - Date With Him
42 Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43 Part 43 - Pendatang Baru
44 Part 44 - Persaingan yang Ketat
45 Part 45 - Ucapan Menusuk
46 Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47 Part 47 - Menginap
48 Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49 Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50 Part 50 - Bangun Kesiangan
51 Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52 Part 52 - Like Shining Star
53 Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54 Part 54 - Artikel yang Terkubur
55 Part 55 - Sulk
56 Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57 Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58 Part 58 - Sakit Perut
59 Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60 Part 60 - I Need You
61 Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62 Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63 Part 63 - Jealous
64 Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65 Part 65 - Berdebat
66 Part 66 - Strategi Darurat
67 Part 67 - Botol Obat Misterius
68 Part 68 - Rekaman CCTV
69 Part 69 - Tertangkap Basah
70 Part 70 - Merelakannya
71 Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72 Part 72 - Penyakit Josh
73 Part 73 - Tabrak Lari
74 Part 74 - Kejujuran
75 Part 75 - You're My Only Love
76 Part 76 - Tidak Berdaya
77 Part 77 - Motif Pembunuhan
78 Part 78 - Find Him
79 Part 79 - Heart To Heart
80 Part 80 - Aku Memercayaimu
81 Part 81 - Kemenangan
82 Part 82 - Yes Or No
83 Part 83 - Special Surprise
84 Part 84 - Family
85 Part 85 - Two Love Birds
86 Part 86 - My Best Sweetheart
87 Part 87 - Forever Love You
88 Part 88 - Happy Life
89 Part 89 - Only With You
90 Part 90 - My Wish
91 Part 91 - Welcome To Queenstown
92 Part 92 - Eternal Love
93 Special Part 1 - Best Mom and Dad
94 Special Part 2 - I Miss You
95 Special Part 3 - Stick With You
96 Special Part 4 - Let's Play!
97 Special Part 5 - Always Perfect
98 Special Part 6 - Fina In Action
99 Special Part 7 - Because Of You
100 Special Part 8 - Reveal
101 Special Part 9 - Arrest
102 Special Part 10 - In My Heart
103 S2 : Part 1 - Special Day For Us
104 S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105 S2 : Part 3 - My Number One
106 S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107 S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108 S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109 S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110 S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111 S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112 S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113 S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114 S2 : Part 12 - Terbunuh
115 S2 : Part 13 - Diremehkan
116 S2 : Part 14 - Our Strength
117 S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118 S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119 S2 : Part 17 - Super Jealous
120 S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121 S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122 S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123 S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124 S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125 S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126 S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127 S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128 S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129 S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130 S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131 S2 : Part 29 - Saksi Mata
132 S2 : Part 30 - Nightmare
133 S2 : Part 31 - Gosip
134 S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135 S2 : Part 33 - Tersinggung
136 S2 : Part 34 - Care About You
137 S2 : Part 35 - Bad Feeling
138 S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139 S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140 S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141 S2 : Part 39 - Precious Moment
142 S2 : Part 40 - Worrying You
143 S2 : Part 41 - Something Strange
144 S2 : Part 42 - Duel
145 S2 : Part 43 - Mission Planning
146 S2 : Part 44 - Secret Mission
147 S2 : Part 45 - Playing Role
148 S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149 S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150 S2 : Part 48 - My Vitamin
151 S2 : Part 49 - Play With Victoria
152 S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153 S2 : Part 51 - Good Memories
154 S2 : Part 52 - Together Forever
155 Message From Author and Special Thanks
156 Special Anniversary - Visual Character and Other
157 TERBIT CETAK GOOD PARTNER
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Part 1 - Kota yang Damai
2
Part 2 - Kasus Pembunuhan Pertama
3
Part 3 - Kind Hearted Prosecutor
4
Part 4 - Pencarian Pak Tommy
5
Part 5 - Partner Kerja yang Peduli
6
Part 6 - Targetnya Adalah Aku
7
Part 7 - The Reason
8
Part 8 - First Gift From Him
9
Part 9 - Terungkap
10
Part 10 - Luka yang Membekas
11
Part 11 - Healed
12
Part 12 - Teror
13
Part 13 - Iblis
14
Part 14 - Masa Kritis
15
Part 15 - Best Gift Ever
16
Part 16 - It's Not Over Yet
17
Part 17 - Our Friendship Is Over
18
Part 18 - Cold Hearted Girl
19
Part 19 - Best Friend
20
Part 20 - Dunia Sempit
21
Part 21 - Sudah Lama Tak Berkunjung
22
Part 22 - Jebakan
23
Part 23 - Interogasi
24
Part 24 - Chip Misterius
25
Part 25 - Versailles
26
Part 26 - Topeng yang Dilepas
27
Part 27 - I'm Right Here For You
28
Part 28 - Keberadaan Ayah
29
Part 29 - Bertemu Ayah
30
Part 30 - Bodyguard
31
Part 31 - Kartu Cadangan
32
Part 32 - Pengejaran
33
Part 33 - Menyusup
34
Part 34 - Kerja Sama Tim
35
Part 35 - Pilihan
36
Part 36 - Melarikan Diri
37
Part 37 - I Promise To Protect You
38
Part 38 - Masa Kritis Kedua Kalinya
39
Part 39 - Akhir Persidangan
40
Part 40 - Be My Girlfriend
41
Part 41 - Date With Him
42
Part 42 - Keributan di Pagi Hari
43
Part 43 - Pendatang Baru
44
Part 44 - Persaingan yang Ketat
45
Part 45 - Ucapan Menusuk
46
Part 46 - Barang Korban yang Menghilang
47
Part 47 - Menginap
48
Part 48 - Pelaku Mengintaiku
49
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan
50
Part 50 - Bangun Kesiangan
51
Part 51 - Pernyataan Kesaksian
52
Part 52 - Like Shining Star
53
Part 53 - Permintaan Maafku yang Tulus
54
Part 54 - Artikel yang Terkubur
55
Part 55 - Sulk
56
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku
57
Part 57 - Pelaku yang Mengincar Tania
58
Part 58 - Sakit Perut
59
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya
60
Part 60 - I Need You
61
Part 61 - Harga Diri yang Busuk
62
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan
63
Part 63 - Jealous
64
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya
65
Part 65 - Berdebat
66
Part 66 - Strategi Darurat
67
Part 67 - Botol Obat Misterius
68
Part 68 - Rekaman CCTV
69
Part 69 - Tertangkap Basah
70
Part 70 - Merelakannya
71
Part 71 - Perasaan Sebenarnya
72
Part 72 - Penyakit Josh
73
Part 73 - Tabrak Lari
74
Part 74 - Kejujuran
75
Part 75 - You're My Only Love
76
Part 76 - Tidak Berdaya
77
Part 77 - Motif Pembunuhan
78
Part 78 - Find Him
79
Part 79 - Heart To Heart
80
Part 80 - Aku Memercayaimu
81
Part 81 - Kemenangan
82
Part 82 - Yes Or No
83
Part 83 - Special Surprise
84
Part 84 - Family
85
Part 85 - Two Love Birds
86
Part 86 - My Best Sweetheart
87
Part 87 - Forever Love You
88
Part 88 - Happy Life
89
Part 89 - Only With You
90
Part 90 - My Wish
91
Part 91 - Welcome To Queenstown
92
Part 92 - Eternal Love
93
Special Part 1 - Best Mom and Dad
94
Special Part 2 - I Miss You
95
Special Part 3 - Stick With You
96
Special Part 4 - Let's Play!
97
Special Part 5 - Always Perfect
98
Special Part 6 - Fina In Action
99
Special Part 7 - Because Of You
100
Special Part 8 - Reveal
101
Special Part 9 - Arrest
102
Special Part 10 - In My Heart
103
S2 : Part 1 - Special Day For Us
104
S2 : Part 2 - Always Be Happy With You
105
S2 : Part 3 - My Number One
106
S2 : Part 4 - I Will Miss My Daughter
107
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama
108
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans
109
S2 : Part 7 - Insiden Baru Lagi
110
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen
111
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin
112
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan
113
S2 : Part 11 - Kebenaran Tas Sekolah
114
S2 : Part 12 - Terbunuh
115
S2 : Part 13 - Diremehkan
116
S2 : Part 14 - Our Strength
117
S2 : Part 15 - Target Selanjutnya
118
S2 : Part 16 - Target untuk Memancing Kami
119
S2 : Part 17 - Super Jealous
120
S2 : Part 18 - Call With My Daughter
121
S2 : Part 19 - Sweet Like Chocolate
122
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku
123
S2 : Part 21 - Penghilang Stress
124
S2 : Part 22 - Weekend tidak Menyenangkan
125
S2 : Part 23 - Only Him Can Make Me Happy
126
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle
127
S2 : Part 25 - Teman yang Selalu Nyawanya Terancam
128
S2 : Part 26 - Musuh Sebenarnya
129
S2 : Part 27 - Adrian's Mission
130
S2 : Part 28 - Tipuan Maut
131
S2 : Part 29 - Saksi Mata
132
S2 : Part 30 - Nightmare
133
S2 : Part 31 - Gosip
134
S2 : Part 32 - Dissociative Identity Disorder
135
S2 : Part 33 - Tersinggung
136
S2 : Part 34 - Care About You
137
S2 : Part 35 - Bad Feeling
138
S2 : Part 36 - You're My Best Hero
139
S2 : Part 37 - I Love You With All My Heart
140
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!
141
S2 : Part 39 - Precious Moment
142
S2 : Part 40 - Worrying You
143
S2 : Part 41 - Something Strange
144
S2 : Part 42 - Duel
145
S2 : Part 43 - Mission Planning
146
S2 : Part 44 - Secret Mission
147
S2 : Part 45 - Playing Role
148
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart
149
S2 : Part 47 - Mission Accomplished
150
S2 : Part 48 - My Vitamin
151
S2 : Part 49 - Play With Victoria
152
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family
153
S2 : Part 51 - Good Memories
154
S2 : Part 52 - Together Forever
155
Message From Author and Special Thanks
156
Special Anniversary - Visual Character and Other
157
TERBIT CETAK GOOD PARTNER

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!