Mendengar suara teriakan Pak Bastian, aku bergidik ngeri sendiri sampai wajahku memucat sekarang. Yang membuat pikiranku terusik sekarang, bagaimana pembunuh bisa mengetahui Pak Bastian ingin bertemu denganku? Apakah pembicaraan Pak Bastian disadap pembunuh? Aku bersama Adrian langsung bergegas menuju ke TKP pembunuhan Pak Bastian.
Setibanya di sana, aku dan Adrian melewati police line sambil memperlihatkan name tag kami untuk melakukan pemeriksaan mayat korban. Setelah aku melakukan pemeriksaan secara keseluruhan, aku melihat sebuah goresan dan bekas tusukan yang sama dengan Alya. Kepala detektif dan rekan timku juga mendatangi TKP untuk melakukan pemeriksaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak John sambil menatap mayat.
"Saksi mata kasus pembunuhan Alya ingin bertemu dengan saya di kantor polisi, dia ingin mengatakan sesuatu kepada saya. Akan tetapi, di tengah pembicaraan kami melalui telepon, saksi itu dibunuh pembunuh," terangku sedikit gugup, membayangkan suara Pak Bastian diserang masih menghantuiku.
"Sebenarnya apa yang ingin dikatakannya sampai dibunuh seperti itu?" gerutu Tania memijit dahi.
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin dia ingin mengungkapkan kejadian pembunuhan Alya yang sebenarnya.
Tiba-tiba ada satu hal penting terlintas dalam pikiranku. “Aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ayo, kita kembali ke kantor dan mengadakan rapat!" ajakku terburu-buru ingin meninggalkan area TKP.
Adrian tiba-tiba menahanku menyentuh tangan kiriku dengan wajah penuh khawatir. "Kamu yakin bisa mengatasi ini semua setelah mendengar kejadian itu melalui telepon?"
Aku menggeleng sambil melepas sentuhan tangannya pelan. "Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya, lagi pula aku harus mengerjakan pekerjaanku secepatnya agar kasus ini berakhir."
"Kalau seandainya terjadi sesuatu, kamu harus menghubungiku, Penny."
Aku tersenyum padanya, lalu berpamitan dengannya sambil meninggalkan TKP bersama rekan timku.
Setibanya di kantor, aku dan rekan timku langsung memasuki ruang rapat. Terutama aku tidak sabar memberitahukan sesuatu penting itu pada semua anggota timku.
"Kamu menemukan apa sampai serius begitu?" tanya Ray penuh penasaran.
"Jadi begini, saat aku berjalan di sekitar TKP menyadari bahwa ada sebuah mobil yang selalu terparkir di depan minimarket "Fantastic", kebetulan itu mobil pemilik minimarket, jadi aku minta salinan rekaman dasbor mobilnya," lontarku tersenyum cerdas di hadapan mereka.
Lalu aku ambil laptopku dan memutar rekaman CCTV. Semua tampak kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa hingga dahi mereka berkerut.
"Jadi aku menemukan sesuatu yang aneh di sini. Pukul 8 malam, pelaku terekam sedang berjalan di sekitar minimarket. Tapi saksi melihat kejadian pembunuhan tersebut sekitar pukul 10 malam dan sepertinya saat kejadian bukan hanya mereka berdua, tapi ada orang lagi di sana," sambungku menambahkan penjelasan persepsiku.
"Lalu orang yang waktu itu kita lihat bukan pelakunya?" tanya Nathan bingung.
"Bukan, itu adalah kaki tangan pelaku." jawabku dengan tegas.
"Menurutku pelakunya bisa lebih dari satu orang. Seperti halnya saksi mata yang bekerja sama dengan kaki tangan pelaku untuk menutup mulutnya," pikir Tania sambil bertopang dagu.
"Satu-satunya yang kenal dekat dengan pelaku adalah suami dari Alya yaitu Pak Tommy. Ada yang tahu alamat rumah Alya di mana?" tanyaku pada semua rekan timku.
"Aku sudah sempat mencari tahu alamatnya di Apartemen Margonda Lantai 10 No 5," jawab Ray.
"Baiklah. Aku dan Jaksa Adrian yang akan pergi ke sana. Kalian pergi ke TKP mencari bukti lagi," ujarku yang terburu-buru meninggalkan ruang rapat.
Setibanya di apartemen Alya, aku dan Adrian sibuk menunggu respons dari Pak Tommy. Kami terus menekan tombol belnya dan juga mengetuk pintunya. Tangan kananku sudah mulai sakit sampai memerah, tapi aku tetap tidak menyerah terus mengetuk pintu.
Raut wajah Adrian menampakkan sisi empati seketika memandangi tanganku mulai memerah. Aku merasakan sentuhan tangan hangatnya membuat aksiku terhenti sejenak. "Penny, biar aku saja yang mengetuk pintunya. Kamu sebaiknya berdiam diri saja."
"Tidak apa-apa, Adrian. Aku yang melakukannya saja."
"Kalau kamu terus melakukannya, tanganmu bisa kesakitan."
Mendengar perkataannya barusan membuatku merasa sedikit gugup. Ia menunjukkan sikap perhatiannya padaku, walaupun kami hanya sebatas partner kerja. Namun, tetap saja tidak ada sesuatu yang istimewa di antara kami. Bisa jadi ia selalu bersikap begini terhadap rekan kerjanya juga.
Aku juga tidak mungkin membiarkannya melakukannya sendirian. "Nanti tanganmu juga kesakitan, Adrian. Bagaimana kalau kita bergilir saja?"
Setelah berpikir lima detik, kepala Adrian mengangguk. "Hmm boleh juga sih. Tapi kalau kamu merasa lelah, biar aku saja yang melakukannya."
Tiga puluh menit telah berjalan, tetap tidak ada respons sama kali. Tidak ada tanda-tanda orang yang tinggal di sana. Setelah kami mengetuk pintu beberapa kali hingga membuat keributan, pada akhirnya tetangga Alya menghampiri kami.
"Kalian ini siapa? Kenapa dari tadi ribut sekali, mengganggu saja!" bentak tetangga Alya sangat geram.
"Saya Jaksa Adrian. Saya sedang mencari penghuni kediaman ini bernama Tommy. Tapi dari tadi tidak ada respons sama sekali. Apakah Anda tahu dia berada di mana?" sahut Adrian berlagak keren membuat tetangga Alya tidak merasa geram lagi.
Wanita paruh baya itu sedikit salah tingkah, tapi wajahnya tetap datar karena mendengar keributan yang mengganggu aktivitas pribadinya. "Pak Tommy sudah tidak tinggal di sini lagi sejak lama. Mereka sudah berpisah sejak dua bulan yang lalu."
"Begitu rupanya. Baiklah, terima kasih atas informasinya. Maaf telah mengganggu Anda," ucap Adrian sambil mengisyaratkan aku dengan mengibaskan tangan kirinya untuk segera meninggalkan tempat ini bersamanya.
Saat kami sedang berjalan di lorong apartemen, aku memiliki perasaan yang tidak enak seperti ada seseorang yang mengikutiku dan mengawasiku dari belakang. Ah, mungkin hanya perasaanku saja karena sudah kelelahan. Adrian menyadari tingkahku saat ini mulai mencemaskanku lagi.
"Ada apa, Penny?" tanya Adrian.
"Tidak apa-apa, Adrian. Aku hanya merasa diriku berhalusinasi aneh saja," jawabku sambil memijit pelipisku.
Sorot mata Adrian mengamati sekeliling lorong apartemen namun tidak ada tanda seseorang yang melewati area ini. Adrian menatap curiga hingga dahinya berkerut. "Mungkin kamu benar. Kamu jangan bekerja terlalu kelelahan."
"Berarti aku harus beristirahat sejenak dulu."
Keesokan harinya, aku berencana mencari suami Alya selama seharian bersama rekan timku. Pokoknya aku harus mencari orang itu sampai ketemu agar kasus ini dapat terselesaikan dengan cepat.
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah tempat kerja suami Alya yang merupakan tempat jasa pengiriman paket. Di biodata tertulis bahwa ia bekerja sebagai kurir. Setelah menunggu sekitar lebih dari tiga puluh menit, tidak ada tanda-tanda kehadiran suami Alya. Kemudian aku bertanya kepada salah satu rekan kerjanya yang sedang menganggur.
"Permisi maaf mau nanya, apakah Pak Tommy masuk kerja hari ini?" tanyaku kepada salah satu rekan kerjanya.
"Tommy mengundurkan diri sejak seminggu yang lalu, omong-omong Anda siapa?" tanya kurir itu
"Saya Detektif Penny, tapi kenapa dia tiba-tiba mengundurkan diri?"
"Katanya sih, upah di sini kurang besar dan tidak cukup untuk kebutuhan hidup, jadinya dia mengundurkan diri."
"Kalau boleh tahu, biasanya tempat yang sering dikunjungi Pak Tommy dimana ya?"
"Hmm dulu sih kami suka makan di warung atau truk makanan di dekat stasiun TV BYZ."
Kami langsung pergi menuju truk makanan di dekat stasiun TV BYZ. Akan tetapi, usaha kami tidak membawa hasil. Pak Tommy sudah selama seminggu tidak pernah berkunjung ke tempat ini lagi. Hari semakin sore, kami sudah mencari ke seluruh tempat dan masih tidak menemukan Pak Tommy.
"Sepertinya kita jangan terlalu berharap bisa ketemu orang itu deh," keluh Ray mendesah pasrah.
"Kita sudah mencari ke banyak tempat masih tidak menemukannya, sepertinya sangat mustahil menemukannya," lontar Nathan menggarukkan kepalanya kesal.
Melihat semua anggota timku tidak bersemangat karena usaha kami tidak membawa hasil, aku memiliki ide cemerlang membangkitkan semangat mereka. "Kalau begitu, kita beristirahat dulu saja. Bagaimana kalo kita makan malam bersama di "Peaceful Restaurant"?"
"Aku tidak ikutan deh. Aku harus menyelesaikan urusan pribadi dulu," jawab Ray.
"Kalau aku mau makan malam bersama orang tuaku," pamit Tania terburu-buru pergi meninggalkan kantor.
"Maaf ya, Penny. Aku ada reuni sama teman SMA," tolak Nathan.
"Ya sudah deh. Kalian pergi saja, aku makan sendiri saja," gerutuku memanyunkan bibirku.
Helaan napasku yang lesu terus dikeluarkan dari mulutku sambil sorot mataku terfokus pada jalan raya mengendarai mobilku menuju restoran. Di saat situasi begini semua rekan timku sibuk mengurus urusan mereka dan meninggalkanku sendirian. Seandainya saja ada seseorang yang menemaniku makan malam bersama, rasanya aku sangat bersyukur dan bahagia.
Beberapa menit kemudian, aku memarkirkan mobilku di lahan parkir restoran. Ketika aku ingin berjalan memasuki restoran, rasanya aku sangat bahagia karena ada seseorang yang kukenal ingin memasuki restorannya juga sendirian. Pertemuanku dengan Adrian secara tidak sengaja lagi merupakan suatu kebetulan. Tatapan matanya langsung tertuju padaku mengukir senyuman hangatnya padaku.
"Kamu makan di sini sendirian?" tanya Adrian terheran.
"Iya nih. Rekan timku sibuk mengurus urusan pribadi mereka masing-masing sehingga tidak bisa makan malam bersama," jawabku mendesah lesu berwajah cemberut.
Senyuman ceria terpampang pada wajah tampan Adrian. "Kita makan malam bersama saja. Aku juga kesepian tidak ada orang yang ingin makan bersamaku. Semua rekanku juga sibuk.”
Tentunya aku tidak mungkin menolak ajakan darinya makan malam di saat momen langka ini. "Baiklah, aku akan menemanimu juga menikmati makan malamnya."
"Sesama partner kerja harus saling menemani."
Walaupun aku dan Adrian makan malam bersama, seperti biasa perbincangan kami selalu mengenai pekerjaan dan tidak pernah membicarakan hal lain di luar pekerjaan. Namun tetap saja aku merasa nyaman makan malam bersamanya dibandingkan sendirian.
"Omong-omong, kamu sudah bertemu dengan Pak Tommy?" tanya Adrian.
Bibirku memanyun. "Belum nih. Dari pagi sampai sekarang, sudah kucari di semua tempat masih tidak menemukan Pak Tommy.”
"Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat agar kita tidak bisa menemukannya," pikir Adrian sambil bertopang dagu.
Di tengah perbincangan kami, ada seorang pria yang masuk ke restoran dan menduduki di meja sebelah. Kelihatannya seperti tidak asing, aku seperti pernah melihatnya. Untuk memastikan, kubuka ponselku dan melihat foto Pak Tommy. Ternyata dugaanku benar, pria yang duduk di meja sebelah adalah Pak Tommy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Krystal Zu
Mampir juga yukk di karya aku
My Lazy Rich Man dan Cinta Masa Lalu
2022-12-12
1
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
pak tomy mencurigakan
2021-04-25
1
🏵🌸Blooming flower🌹🌷
kok ak malah curiga ke Adrian ya 😁😁
2021-04-24
3